Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
BAB 19
Angin malam yang sedingin es menghantam wajahku saat kami akhirnya tiba di puncak tebing. Di depan kami, di bawah pendaran cahaya bulan yang pucat, terhampar lautan hutan pinus yang sangat luas. Semuanya tertutup oleh selimut salju putih yang tebal dan tak tersentuh.
Kami tidak punya banyak waktu untuk mengagumi pemandangan.
Begitu panggung lift kayu itu berhasil ditarik ke atas, aku segera menyuruh Mila membantuku membongkarnya.
Dengan instruksiku, Mila melepas tali-tali tambang dan memisahkan papan lantai kayu utamanya. Menggunakan sisa tali yang ada, kami mengikat barang-barang bawaan dan peti emas kami di atas papan datar tersebut, mengubahnya menjadi sebuah kereta derek salju sederhana.
Tentu saja, hanya Goran dan Mila yang menarik tali gerobaknya. Sedangkan aku? Otot kecilku ini bahkan tidak akan sanggup menarik peti emas itu sejengkal pun. Sebagai gantinya, aku bertugas memegang obor kayu yang baru saja dihidupkan Goran, menerangi jalan setapak di antara pohon-pohon pinus raksasa.
Aku menatap Goran yang sedang memegang tali penariknya. Aku masih khawatir dengan kondisi pria raksasa itu.
"Apa kau merasa ada yang tak enak, Goran?" tanyaku khawatir. "Lukamu baru saja menutup. Kita bisa istirahat dulu sebentar jika kau masih merasa terlalu lemah untuk berjalan jauh."
Mendengar pertanyaanku, Goran malah mendengus geli. Tanpa aba-aba, ia melepas tali penariknya sejenak, membungkuk, dan langsung mengangkat tubuhku dengan satu tangannya. Sedetik kemudian, aku sudah didudukkan di atas pundaknya yang lebar layaknya seekor burung beo.
"Lihat!" ucap Goran santai. "Aku bahkan masih bisa menaruhmu di pundakku sambil menarik kereta ini. Tidak usah terlalu khawatir, Anak Bangsawan."
"Itu tidak relevan!" gerutuku, mencengkeram jubah kulitnya agar tidak jatuh. "Ukuranku ini cuma sebesar lenganmu!"
Goran mengerutkan kening tebalnya. "Apa itu... relevan?"
Aku menepuk jidatku pelan. "Lupakan saja. Ayo jalan."
Kami pun terus melangkah menembus jantung Hutan Atas. Jam demi jam berlalu. Di sisiku, Mila yang ikut menarik kereta salju itu sama sekali tidak terlihat kelelahan. Sebaliknya, kepala gadis berambut keemasan itu terus berputar ke kanan dan ke kiri. Matanya berbinar-binar penuh takjub. Ini adalah pertama kalinya ia melihat dunia luar selain batu tebing dan air terjun tempat tinggal kami.
"Sepertinya sudah mau pagi..." gumam Goran memecah keheningan, melihat langit di ufuk timur yang mulai berubah warna menjadi biru kelabu.
"Brrrrr... i-iya..." balasku dengan gigi yang bergemeretak hebat.
Mila menoleh ke atas pundak ayahnya. "Kakak kedinginan, ya?"
"Kenapa kalian tidak kedinginan juga?!" protesku dengan suara bergetar. Tanganku yang memegang obor sudah mulai kebas.
Goran tertawa keras hingga bahunya berguncang. "Hahaha! Anak Bangsawan memang lemah. Padahal sekarang tidak sedang badai salju dan kita berjalan terlindungi di antara pohon-pohon besar. Kenapa kau sangat kedinginan seperti itu? Bahkan wajahmu mulai membiru, padahal kau yang dari tadi memegang obor berapi."
"Ka-kalian saja yang tidak normal!" gerutuku kesal. "Kita jalan di malam hari! Di musim dingin! Lagian aku ini berasal dari wilayah timur yang sangat panas, jadi tubuhku tidak terbiasa, kau tahu?!"
Tentu saja, aku hanya menggerutu di dalam hati menyadari betapa absurdnya daya tahan ayah dan anak ini.
"Turunkan aku!" pintaku akhirnya.
"Baiklah," Goran menurunkan tubuhku ke atas salju. "Kau mau ngapain?"
Tanpa menjawab, aku langsung berlari ke arah kereta salju, membongkar sedikit tumpukan barang, dan mencari dua lembar kulit hewan tambahan. Aku melilitkannya ke leher dan tubuhku hingga aku terlihat seperti gulungan karpet berbulu yang berjalan.
"Sepertinya ini sudah waktunya kita mencari tempat untuk istirahat," ucapku dari balik tumpukan bulu. "Meskipun sudah mau pagi, kita hanya tidur beberapa saat saja semalam."
Goran mengangguk setuju. "Kau benar. Mila, coba kau panjat pohon-pohon pinus di depan itu dan lihat apa yang ada di sekitar kita!"
"Oke!" sahut Mila riang.
Gadis itu segera melepas tali penarik dari tangannya, berlari menuju pohon pinus terdekat, dan mulai memanjat batang kasarnya dengan kelincahan seekor tupai.
Goran menatap kelebat putrinya yang menghilang di balik dahan, lalu menoleh padaku.
"Oke itu apa sih?" tanyanya dengan dahi berkerut. "Apa yang sebenarnya kau ajarkan ke Mila?"
"Mmm... anggap saja itu sebuah kalimat singkat untuk menyatakan setuju," jawabku sekenanya.
Dari atas pohon, suara cempreng Mila tiba-tiba memecah kesunyian hutan.
"Ayah! Di depan sana ada danau beku!" teriaknya sambil melongok ke bawah.
"Hmm, danau ya?" Goran memegang dagunya. "Ada apa lagi di sana?"
"Sepertinya aku melihat bukit batu kecil di dekat pinggiran danau itu!"
"Oke!! Turunlah!" seru Goran lantang ke atas pohon.
Aku langsung menoleh cepat ke arah pria raksasa itu dengan mata membelalak. "Kenapa kau jadi ikut-ikutan?"
Goran hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. "Aku akui, kata itu memang terdengar mudah dan enak untuk diucapkan."
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala pelan. Rasanya percuma mendebat mereka di tengah hawa dingin yang membekukan otak ini.
Setelah Mila turun, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju bukit kecil yang berada di samping danau beku tersebut. Beruntungnya kami, tebakan Mila sangat tepat. Di salah satu sisi bukit batu itu, terdapat sebuah mulut goa yang lumayan besar, menghadap langsung ke arah danau yang memutih.
"Beruntungnya kita, ada goa untuk kita beristirahat," ucap Goran lega.
Mila langsung melepaskan tali keretanya. "Aku juga mulai lapar! Ayo masuk, Ayah!"
Gadis kecil itu baru saja hendak berlari masuk ketika tangan besar Goran dengan cepat menarik kerah belakang bajunya.
"Tunggu dulu," tegur Goran tegas. "Apa yang Ayah katakan kalau kita menemukan goa di tengah hutan?"
Mila mengerjapkan matanya, mengingat-ingat. "Oh iya! Pasti ada hewan liar di dalamnya."
"Benar. Di musim dingin seperti ini, biasanya di dalam sana ada beruang yang sedang tidur pulas," jelas Goran. "Jadi biarkan Ayah masuk dulu. Oh iya, apa kita punya senja..."
Sebelum Goran menyelesaikan kalimatnya, aku sudah menyodorkan sebuah pedang pendek dari besi yang kuambil dari tumpukan barang di kereta.
Goran menatap pedang di tanganku dengan alis terangkat. "Sigap juga kau, Anak Bangsawan. Padahal aku belum selesai bertanya."
"Sudah kubilang, aku sudah menyiapkan semua yang kita butuhkan," balasku cepat sambil merapatkan mantel buluku. "Dan cepatlah masuk, aku sudah tak tahan ingin menghangatkan diri! Aku juga harus mengecek kondisi tubuh besarmu lagi setelah ini!"
Goran tertawa kecil menerima pedang itu. "Oke, oke. Kalian tunggu di sini sebentar."
Pria raksasa itu melangkah mendekati mulut goa. Karena tingginya yang hampir mencapai tiga meter, Goran harus menunduk cukup rendah untuk bisa masuk ke dalam kegelapan goa tersebut.
Aku dan Mila menunggu di luar dalam keheningan yang menegangkan. Samar-samar dari dalam goa, terdengar suara geraman berat yang terputus mendadak, disusul suara hantaman pelan. Tidak ada raungan panjang. Tidak ada pertarungan sengit.
Beberapa saat kemudian, Goran melangkah keluar dari dalam goa.
Jubah kulitnya berlumuran darah segar. Namun yang membuat mataku nyaris melotot keluar adalah apa yang sedang ditariknya menggunakan satu tangan. Seekor beruang cokelat berukuran sangat besar, setidaknya dua kali lipat ukuran tubuh pria dewasa normal, diseretnya keluar seolah itu hanya guling kapas.
Aku menelan ludah melihat pemandangan absurd itu. Masya Allah, batinku takjub sekaligus ngeri. Seumur hidup, sepertinya aku tidak akan pernah terbiasa melihat kekuatan murni keluarga ini.
Aku segera berlari menghampiri Goran, disusul Mila yang menarik kereta salju di belakangku.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyaku cemas, memindai tubuhnya mencari luka baru. "Apa dia sempat menyerangmu?"
Goran menggeleng santai sambil melepaskan bangkai beruang itu di atas salju. "Tidak, aku baik-baik saja. Beruang ini sedang tidur sangat pulas, jadi lebih mudah membunuhnya."
Pria itu menunjuk ke arah dalam goa dengan dagunya. "Di dalam sudah tidak ada apa-apa lagi, jadi kalian berdua masuklah. Aku akan menguliti beruang ini dulu di luar, nanti kita bisa memakan dagingnya sama-sama."
Aku mengangguk lega. Aku dan Mila segera masuk ke dalam goa yang ternyata cukup dalam dan kering itu. Kami mulai membongkar isi kereta salju, menata alas tidur, dan menyusun batu untuk membuat perapian.
Tak lama kemudian, api unggun menyala hangat, menerangi dinding-dinding goa. Kami bertiga duduk melingkar, memakan potongan daging beruang panggang yang gurih dan mengenyangkan.
Saat aku melihat ke arah mulut goa, langit di luar sudah sepenuhnya terang. Pagi hari pertama kami di dunia luar telah tiba, namun bagi kami, ini adalah waktu yang tepat untuk akhirnya memejamkan mata dan beristirahat.
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭