Judul: My alter ego
Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.
Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Penyusup di Terang Benderang
Permukaan tablet digital di tangan Hira masih berkedip dengan warna merah menyala. Kalimat ancaman itu terus terpampang, mengunci seluruh sistem antarmuka hingga tidak ada satu pun menu yang bisa diakses.
{Seseorang benar-benar mengawasiku dari sudut yang tidak terlihat.}
Jari jempol Hira melayang beberapa milimeter di atas tombol eksekusi fisik tablet tersebut. Detak jantungnya memompa darah dengan ritme yang sangat cepat, mengirimkan gelombang kejut ke seluruh saraf tubuhnya.
{Siapa bajingan ini? Keamanan tingkat eksekutif baru saja kutembus, tapi dia bisa masuk ke dalam skrip bayanganku seolah pintu depan sedang terbuka lebar.}
Tangan Hira bergerak perlahan. Jempolnya menyentuh ikon silang kecil di sudut atas layar, membatalkan peluncuran skrip bayangan yang siap menjerat Teran Honigan.
Kotak peringatan merah itu seketika menghilang. Antarmuka kembali normal, namun sebuah jendela obrolan anonim mendadak terbuka di bagian tengah layar.
[Keputusan yang cerdas. Aku menunggumu di meja nomor empat, area kafe sayap kanan.]
Hira memasukkan tablet itu ke dalam tas tangannya. Napas ditarik dalam-dalam, mengatur ulang ekspresi wajahnya menjadi topeng porselen yang luar biasa dingin dan mematikan.
Pintu baja lift perlahan bergeser terbuka. Area dasar gedung raksasa ini masih dipenuhi hiruk-pikuk karyawan dan tamu VIP yang berlalu-lalang.
Sepatu hak tinggi merah marun itu mengetuk lantai pualam. Bunyi ketukannya tajam, membelah keramaian dengan dominasi absolut. Beberapa staf yang berpapasan langsung menundukkan kepala, memutar arah jalan mereka enggan bertatap mata dengan sang Eksekutif Independen.
Hira mengabaikan mereka semua. Pandangannya menyapu area sayap kanan gedung. Deretan meja bundar berkaca tebal dan kursi rotan tertata rapi di depan sebuah konter kopi premium.
Matanya langsung terkunci pada meja nomor empat.
Seorang pria muda duduk bersandar santai di sana. Usianya mungkin baru menginjak awal dua puluhan. Rambutnya sedikit berantakan, menutupi sebagian dahi. Pakaiannya sangat kontras dengan aturan formal gedung ini; sebuah jaket hoodie hitam kebesaran dan celana jeans pudar.
Tangan pria itu sibuk memutar-mutar sebuah ponsel yang bentuknya sudah dimodifikasi secara ekstrem. Ponsel itu tebal, dikelilingi cangkang logam dengan kabel-kabel halus yang menyembul dari port pengisian daya. Sebuah layar sekunder berukuran kecil menempel di bagian belakang, menampilkan deretan angka hijau yang bergerak liar.
Hira berjalan mendekati meja tersebut. Posturnya memancarkan aura ancaman yang begitu pekat, membuat dua orang karyawan di meja sebelah buru-buru membereskan dokumen mereka dan menyingkir pergi dengan wajah menunduk.
Kursi rotan di seberang pria itu ditarik perlahan oleh Hira.
"Duduklah, Nyonya Lione. Waktumu hanya tersisa kurang dari dua menit sebelum jariku tidak sengaja menekan tombol kirim ke ponsel bos besarmu."
Pria itu menaruh ponsel modifikasinya di atas meja kaca. Sepasang mata cokelat gelap menatap Hira dari balik poni yang berantakan. Senyumnya terlihat sangat malas, meremehkan, sekaligus penuh kemenangan.
Hira menyilangkan kakinya. Tangan kirinya diletakkan di atas paha dengan rileks, sementara tangan kanannya menopang dagu.
"Kau punya keberanian yang cukup mengesankan untuk ukuran anak magang divisi IT."
"Aku bukan karyawan di gedung rongsokan ini."
Pria itu memajukan tubuhnya. Siku lengannya bertumpu di atas meja kaca, mendekatkan wajahnya ke arah Hira.
"Panggil saja Kael. Dan aku adalah orang yang baru saja menyelamatkan nyawamu dari amukan Teran Honigan."
Hira tertawa pelan. Suara tawanya terdengar sangat renyah, seolah baru saja mendengar lelucon usang yang sangat klise di sebuah pesta murahan.
"Menyelamatkanku? Kau menyusup masuk ke dalam senjataku, mengancam akan membongkar penyamaranku, dan kau menyebutnya penyelamatan?"
Kael mendecak pelan. Jari telunjuknya mengetuk layar ponsel modifikasinya. Sebuah proyeksi hologram berukuran kecil muncul tepat di atas meja, menampilkan barisan kode skrip bayangan milik Hira.
"Skrip ini memang cantik. Sangat rapi. Kau ingin memantulkan persetujuan ilegal itu kembali ke server pribadi Teran. Ide yang brilian."
Kael mematikan proyeksi tersebut dengan satu jentikan jari.
"Sayangnya, kau tidak tahu kalau server pribadi Teran memiliki penjaga gerbang otomatis. Begitu skripmu mengetuk pintunya dengan anomali data, alarm senyap akan berbunyi di ruangan Teran. Dia akan tahu kau mengkhianatinya bahkan sebelum kau keluar dari lift tadi."
Di dalam pikiran Hira, sebuah kilat pemahaman menyambar dengan sangat cepat.
{Penjaga gerbang otomatis? Sistem ini jauh lebih rumit dari yang terlihat di permukaan.}
Alter ego itu menyeringai di dalam sana. Rasa tertantang membanjiri seluruh jaringan sarafnya bagaikan aliran listrik bertegangan tinggi.
{Menarik sekali. Permainan ini memiliki lapisan rahasia yang bahkan tidak tercatat di dokumen eksekutif mana pun.}
Wajah Hira sama sekali tidak menunjukkan rasa terkejut. Matanya tetap menatap lurus, mengintimidasi sosok pria berjaket hitam di depannya tanpa berkedip.
"Kalau begitu, aku harus berterima kasih karena kau sudah bersusah payah menjadi malaikat pelindungku siang ini, Kael?"
"Tidak perlu basa-basi."
Kael menyandarkan punggungnya kembali ke kursi.
"Aku sudah mengintai server pribadi Teran selama enam bulan. Ada buku besar yang mencatat seluruh aliran dana politisi kotor yang dicuci melalui perusahaan ini. Aku hampir menembus enkripsi terakhirnya hari ini."
Mata cokelat pria itu menajam, kehilangan kesan malasnya seketika. Ketamakan seorang oportunis kini terlihat jelas di wajahnya.
"Tapi tindakan sembronomu dengan skrip bayangan itu nyaris membuat seluruh sistem masuk ke mode penguncian total. Kalau itu sampai terjadi, usahaku selama setengah tahun akan hangus terbakar."
Hira mengusap tepi meja kaca dengan ujung jarinya. Gerakannya sangat pelan, menghitung setiap kemungkinan yang ada di kepalanya.
"Kau ingin buku besar itu untuk dirimu sendiri. Teran punya banyak musuh di luar sana yang bersedia membayar triliunan rupiah untuk daftar nama politisi korup tersebut."
"Tepat sekali."
Kael merogoh saku jaketnya. Sebuah perangkat kecil berbentuk seperti koin hitam pekat dikeluarkan dan didorong perlahan melintasi meja, berhenti tepat di depan Hira.
"Masukkan ini ke port tabletmu saat kau mengesahkan dokumen palsu Teran nanti malam. Alat ini akan memodifikasi skrip bayanganmu dari dalam."
Hira melirik sekilas ke arah koin hitam tersebut, lalu kembali menatap manik mata Kael.
"Modifikasi seperti apa yang kau harapkan dari barang rongsokan ini?"
"Skripmu akan tetap berjalan. Jejak ilegal itu akan memantul ke server Teran tanpa memicu penjaga gerbang. Sebagai bonus, alat ini akan membuka pintu belakang bagiku untuk mengunduh buku besar itu dengan aman tanpa jejak."
Pria berjaket hitam itu tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya.
"Kau dapat balas dendammu, Teran masuk penjara, dan aku menjadi pria yang sangat kaya raya. Simbiosis mutualisme yang sempurna."
Hira terdiam selama beberapa saat.
Sebuah tawaran kerja sama yang sangat menjanjikan di atas kertas. Tidak ada celah yang terlihat jelas. Kael memegang kunci untuk menyempurnakan rencana penghancuran Teran Honigan yang sempat tertunda.
Namun, darah di dalam tubuh Hira justru mendidih oleh amarah yang tertahan hebat.
{Dia mendikte kita. Dia memberikan perintah seolah kita adalah anjing suruhan yang harus patuh.}
Sang alter ego menggeram pelan di sudut pikiran terdalamnya.
{Tidak ada yang boleh memberikan perintah kepadaku. Tidak Teran. Tidak juga mantan suamiku. Dan tentu saja tidak tikus jalanan ini.}
Hira mengambil koin hitam tersebut. Permukaannya terasa kasar, dipenuhi ukiran sirkuit mikro yang sangat rumit dan padat.
"Bagaimana jika aku menolak menggunakannya?"
Senyum di wajah Kael perlahan memudar. Matanya menatap tajam, mencoba mencari tanda-tanda gertakan di wajah tenang wanita itu.
"Maka tangkapan layar skrip ilegalmu akan mendarat di ponsel Teran detik ini juga. Kau akan diseret keluar dari gedung ini oleh petugas keamanan dengan tangan diborgol sebelum matahari terbenam."
"Begitukah?"
Tangan kanan Hira perlahan mengepal, menyembunyikan koin hitam itu rapat-rapat di dalam genggamannya.
Hira mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak wajah mereka kini hanya terpaut beberapa jengkal di atas meja kaca.
"Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang mengklaim dirinya sebagai peretas jenius independen."
Kael mengerutkan keningnya. Tangan pria itu secara refleks bergerak maju menuju ponsel modifikasinya yang tergeletak di atas meja.
Gerakan Hira jauh lebih cepat.
Tangan kirinya menyambar gelas kopi panas milik Kael yang masih tersisa setengah, lalu menumpahkannya tepat ke atas ponsel modifikasi tersebut dengan satu gerakan memutar.
Cairan cokelat pekat itu langsung merendam layar dan celah-celah sirkuit yang terbuka. Bunyi desisan nyaring terdengar seketika, disusul percikan api kecil dari bagian baterai yang korslet.
Kael membelalakkan matanya maksimal. Tubuhnya tersentak mundur dengan kasar hingga kursi rotannya berderit nyaring di atas lantai pualam.
"Apa yang kau lakukan, wanita gila?!"
Pria itu berusaha menyelamatkan ponselnya, mengusap layarnya dengan panik menggunakan lengan jaketnya. Suhu panas dan cairan lengket telah membuat benda itu mati total. Asap tipis berbau tembaga terbakar mengepul dari sela-sela mesinnya.
Hira tetap duduk bersandar santai di kursinya. Tangan kirinya meletakkan gelas kosong itu kembali ke atas meja dengan gerakan elegan.
"Peralatan murahan selalu rentan terhadap cairan panas, Kael. Tangkapan layar itu ada di dalam perangkatmu. Dan sekarang, senjatamu sudah berubah menjadi tumpukan sampah plastik."
Napas Kael memburu. Wajahnya yang tadi terlihat meremehkan kini dipenuhi kepanikan dan amarah yang tak terbendung. Matanya menatap nanar ke arah ponsel modifikasinya yang sudah hangus.
"Kau baru saja menghancurkan satu-satunya aksesku ke dalam server Teran! Tanpa modifikasiku, kau juga akan mati konyol di tangan bosmu sendiri malam ini!"
"Aku akan mencari cara lain untuk menembus penjaga gerbang itu."
Hira berdiri dari kursinya. Jemarinya merapikan kerah blusnya dengan ketenangan absolut.
"Dan koin hitam ini."
Hira membuka genggaman tangan kanannya, memamerkan perangkat kecil milik Kael yang masih utuh.
"Akan kujadikan cinderamata manis untuk hari pertama kerjaku."
Hira memasukkan koin hitam itu ke dalam saku celananya. Tubuhnya memutar arah, bersiap untuk pergi dari area kafe yang mulai memanas tersebut.
Kael menggebrak meja dengan kedua tangannya. Urat di leher pria itu menonjol keluar menahan murka.
"Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, Hira!"
Pria berjaket hitam itu berteriak tertahan, berusaha mengontrol pita suaranya agar tidak menarik perhatian dua petugas keamanan di seberang lobi utama.
"Sistem Teran akan menelanmu hidup-hidup! Kau akan datang merangkak dan mengemis bantuanku sebelum tengah malam tiba!"
Ayunan kaki Hira tidak terhenti sedikit pun. Sepatu hak tinggi merah marunnya terus melangkah mantap menjauhi meja nomor empat tersebut, seakan teriakan Kael hanyalah hembusan angin lalu.
Senyum miring yang sangat mematikan terukir jelas di bibir Hira. Rasa puas karena berhasil menghancurkan arogansi seorang peretas yang sok berkuasa terasa sangat luar biasa manis di lidahnya.
Tiba-tiba, getaran kasar dan panjang merambat dari dalam tas tangannya.
Hira menghentikan langkahnya sejenak. Tangan lentiknya merogoh ke dalam tas, menarik keluar ponsel pribadinya.
Sebuah pesan masuk muncul melayang di layar beranda. Pengirimnya tidak memiliki nama kontak, hanya rentetan angka acak yang terdaftar dari luar negeri.
Mata Hira menyipit tajam saat membaca setiap kata dari pesan tersebut.
[Menyiram perangkat kerasku dengan kopi panas? Sangat kasar, Eksekutif. Tapi sayang sekali, ponsel rongsokan di meja itu hanyalah terminal bayangan. Layar utamaku tersimpan rapi di tempat yang jauh lebih aman.]
Darah di dalam tubuh Hira mendadak terasa sedingin es.
[Mari kita buat kesepakatan baru. Kau bawa flash drive baja milik Teran ke alamat yang akan kukirimkan sebentar lagi. Jika kau tidak datang sendirian dalam waktu satu jam, bersiaplah melihat wajah cantikmu di siaran berita malam sebagai buronan penggelapan pajak nasional.]
Pesan itu berkedip dua kali, lalu menghilang dari layar dalam hitungan detik, terhapus bersih oleh sistem perusak otomatis tanpa meninggalkan jejak memori sedikit pun.
Sebuah titik lokasi GPS merah menyala muncul menggantikan pesan tersebut. Tempatnya berada di sebuah kawasan pelabuhan industri terbengkalai di ujung utara kota, puluhan kilometer dari gedung pencakar langit ini.
{Dia memancing kita keluar dari wilayah kekuasaan kita.}
Alter ego itu berbisik pelan. Suaranya tidak lagi dipenuhi tawa kemenangan, melainkan kewaspadaan insting pembunuh yang baru saja diaktifkan.
{Ini bukan lagi sekadar permainan digital yang aman di balik meja kerja. Bajingan ini menantang kita secara fisik di wilayah antah berantah.}
Hira menggenggam ponselnya erat-erat. Rahangnya mengeras sempurna, menolak tunduk pada rasa takut sekecil apa pun.
Panggung eksekusi baru saja dipindahkan dari ruang direksi yang mewah dan wangi, menuju jalanan aspal yang gelap, kotor, dan tidak bisa diprediksi.
"Tantangan diterima, Kael."
Hira memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Kaki panjangnya melangkah cepat menuju pintu keluar utama gedung raksasa tersebut, menyongsong teriknya matahari kota yang seolah sedang bersiap membakar siapa saja yang lengah.
lg seru nih
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
kodammu luar biasa!
🤝
ampe qu ulang baca part 1 hlo
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪