Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Jahanam
Rian dan Anne yang melihat pemandangan itu seketika terdiam. Tangis raungan mereka terhenti di tenggorokan. Ada rasa malu, sesal, sekaligus takjub yang teramat besar saat melihat wanita yang selama ini mereka cap "mandul dan dingin", kini justru menjadi satu-satunya sosok yang memberikan kehangatan sejati pada anak yang lahir dari hasil pengkhianatan terhadap dirinya. Bramantyo yang berdiri di sudut ruangan hanya mampu menghela napas panjang, menatap tajam ke arah Rian dengan pandangan yang mengisyaratkan betapa berharganya mutiara yang telah pria itu buang ke dalam lumpur.
****
Sementara di tempat lain yang dipenuhi oleh kemewahan yang palsu, atmosfer yang sama sekali berbeda sedang bergolak hebat.
Di dalam kamar sebuah hotel kelas melati di pinggiran kota—tempat pelarian sementara yang terpaksa ia sewa setelah diusir secara memalukan dari restoran VVIP semalam—Suci Wahyuni sedang berdiri di depan sebuah cermin buram. Kamar itu sempit, berbau pengap kertas dinding yang lembap, bertolak belakang dengan kemewahan yang biasa ia nikmati di rumah keluarga Mahesa.
Penampilan Suci tampak mengerikan. Gaun malam hitamnya yang lengket akibat tumpahan cocktail semalam tergeletak begitu saja di atas lantai seperti seonggok sampah. Ia kini hanya mengenakan jubah mandi putih milik hotel yang longgar, rambutnya yang kusut masai dibiarkan tergerai liar di sekitar bahunya.
Sepasang matanya merah, bukan karena menangisi anaknya yang ia tinggalkan, melainkan karena amarah, harga diri yang diinjak-injak, dan rasa malu yang teramat sangat atas perlakuan Kenzi Hutama semalam.
“Wanita murahan paling hina di muka bumi...”
Kata-kata dingin Kenzi terus berputar-putar di dalam otaknya bagai kaset rusak, membakar setiap jengkal kesadarannya hingga hangus menjadi abu dendam. Suci mencengkeram pinggiran wastafel dengan sangat kuat hingga kuku-kuku jarinya yang dipulas warna merah menyala memutih. Rasa sakit di bahunya akibat dorongan kasar Kenzi semalam tidak sebanding dengan rasa sakit atas penolakan mutlak pria oriental itu terhadap pesonanya.
"Kurang ajar kamu, Kenzi Hutama!" jerit Suci, suaranya berdesis tajam bagai suara ular beludak di tengah semak belukar. Ia menyambar sebuah gelas pajangan di atas meja rias, lalu membantingnya ke arah cermin hingga kaca itu retak seribu, menciptakan pantulan wajahnya yang terbelah-belah mengerikan.
Suci menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan ritme yang kacau. Alih-alih merasa ciut atau menyerah setelah dihina sebagai wanita paling hina, kegagalan itu justru menyalut api keserakahan yang jauh lebih besar dan beringas di dalam jiwa kriminalnya.
Ia menolak untuk kalah. Ia menolak untuk kembali hidup melarat di rumah petak seperti sebelum ia bertemu Rian. Baginya, mundur berarti kematian. Rian sudah hancur dan akan segera menjadi gembel, artinya sekoci tua itu sudah tenggelam sepenuhnya. Satu-satunya jalan baginya untuk tetap berdiri di atas takhta kemewahan adalah dengan menaklukkan Kenzi Hutama—bagaimanapun caranya, dengan taktik sekotor apa pun yang tersedia di dunia ini.
Suci melangkah mendekati jendela kamar hotel yang buram, menatap lurus ke arah lampu-lampu kota yang gemerlap di kejauhan, membayangkan gedung menara kembar Hutama Group yang menjulang angkuh menantang langit.
Sebuah senyuman penuh konspirasi, sebuah seringai iblis yang lebih dingin dan pekat dari malam-malam sebelumnya, perlahan-lahan kembali terukir di bibirnya yang pucat. Matanya berkilat jahanam penuh tekad yang nekat dan berbahaya.
"Kamu pikir kamu bisa membuangku begitu saja, Kenzi?" bisik Suci pada kegelapan malam, suaranya sarat akan racun yang mematikan. "Kamu menganggapku hina? Baik. Aku akan menunjukkan padamu seberapa jauh wanita hina ini bisa merangkak untuk menghancurkan hidupmu."
Suci memutar otaknya, mulai merancang sebuah konspirasi baru yang jauh lebih matang. Ia tahu, jika rayuan maut fisiknya tidak mempan pada pria sekaku Kenzi, maka ia harus menggunakan cara-cara di balik layar. Ia akan mencari tahu rahasia bisnis Hutama Group, mencari kelemahan Sintia yang kini berada di samping Kenzi, atau memanfaatkan skandal apa pun untuk menjebak pria oriental tampan itu ke dalam jeratan yang tidak akan bisa ia hindari di depan publik.
****
"Sintia... kamu pikir kamu sudah menang karena berhasil mengambil rumah dan perusahaan Rian? Kamu pikir kamu bisa duduk manis menjadi Nyonya Besar di samping Kenzi?" Suci tertawa kecil, suara tawanya terdengar sumbang dan dipenuhi kedengkian yang telah mendarah daging di dalam tulang sumsumnya. "Permainan ini belum selesai, Sintia Arunika. Aku bersumpah demi sisa hidupku... aku akan merebut Kenzi Hutama dari tanganmu. Aku akan membuatmu merasakan kembali bagaimana rasanya didepak, dicampakkan, dan merangkak menjadi gembel miskin yang tak punya apa-apa lagi di dunia ini!"
Malam itu, di bawah saksi bisu langit ibu kota yang pekat, sang ular telah selesai merawat lukanya. Di atas puing-puing penolakan yang memalukan, ia kembali mengasah taring-taring berbisanya, bersiap meluncurkan serangan baru yang jauh lebih kejam, lebih terstruktur, dan siap mematuk siapa saja yang berdiri di tengah jalurnya menuju takhta emas yang ia dambakan. Badai yang sesungguhnya baru saja bergeser arah, dan kali ini, pusarannya siap menelan seluruh kedamaian yang baru saja Sintia dapatkan dari tangan pengadilan.
****
Gedung Menara Kembar Hutama Group menjulang angkuh menantang langit ibu kota, memantulkan kilau kemewahan dari ribuan panel kaca temper yang melapisi tubuhnya. Di lantai paling atas, di mana kekuasaan absolut bersemayam, atmosfer terasa begitu steril dan ketat. Sejak insiden memalukan di restoran rooftop beberapa malam lalu, Kenzi Hutama telah mengeluarkan perintah mutlak yang tidak bisa diganggu gugat kepada seluruh jajaran keamanan gedung: nama Suci Wahyuni dimasukkan ke dalam daftar cekal tertinggi. Wajah wanita itu dipajang di pusat pemantauan CCTV, dan setiap petugas dilarang keras membiarkannya menginjakkan kaki, bahkan sekadar di pelataran parkir terbawah sekalipun.
Namun, keputusasaan seorang wanita yang didorong oleh keserakahan dan dendam kesumat acap kali melahirkan kecerdikan yang teramat iblis.
Pagi-pagi sekali, di saat sif kerja petugas kebersihan berganti, sebuah taktik kotor dilancarkan di ruang loker bawah tanah yang sepi. Suci Wahyuni telah mengintai sejak subuh. Dengan topi rajut yang ditarik dalam dan masker medis yang menutupi wajahnya, ia membuntuti seorang petugas kebersihan wanita bertubuh sintal yang baru saja hendak mengganti pakaian sipilnya dengan seragam biru khas Hutama Group.
BUGH!
Hantaman keras menggunakan botol kaca tebal mendarat telak di tengkuk petugas asli tersebut. Wanita malang itu ambruk seketika ke atas lantai semen, pingsan tanpa sempat mengeluarkan teriakan. Suci menyeringai puas. Tanpa membuang waktu, dengan tangan yang gemetar karena adrenalin yang memuncak, ia menelanjangi tubuh petugas yang tak berdaya itu. Ia mengenakan seragam biru yang sedikit kedodoran, mengikat rambut hitamnya ke dalam topi kerja, dan menyematkan kartu identitas curian itu di dadanya.
Saat Suci melangkah keluar dari ruang loker sambil mendorong troli pembersih, wajahnya tertutup masker medis sepenuhnya. Ia melewati pos penjagaan bawah tanah dengan kepala menunduk, berpura-pura sibuk memeriksa catatan kerja. Para penjaga yang lengah sama sekali tidak menyadari bahwa di balik seragam biru yang kusam itu, sepasang mata elang penuh bisa sedang berkilat jahanam, siap merayap naik menuju takhta tertinggi.