Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.
Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.
SALAM DARI AUTHOR 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 11 : SCOOPY MERAH
Aroma parfum maskulin mahal milik Raditya Evan Baskara seolah masih tertinggal di indra penciuman Kalea Azzahra Putri saat ia melangkah keluar dari Cafe Luminia. Kalea menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia mengentakkan kakinya yang terbalut high heels 5 sentimeter menuju sudut area parkir umum di samping kafe. Di sana, terparkir sebuah sepeda motor Honda Scoopy berwarna merah marun yang tampak mengilat bersih.
Motor Scoopy merah itu adalah harta paling berharga bagi Kalea. Kendaraan itu dibelinya secara tunai dari hasil keringatnya sendiri sejak pertama kali meniti karier dari posisi bawah di industri perhotelan. Nasib Kalea memang tidak seberuntung Fitri yang langsung dihadiahi mobil sedan mewah saat lulus kuliah kedokteran, atau Shinta yang selalu difasilitasi kamera dan peralatan mahal oleh Hermawan untuk keperluan kontennya. Sebagai anak yang selalu diberi label "anak haram" di rumah, Kalea harus berjuang sendirian tanpa dukungan finansial sepeser pun dari keluarga Wijaya.
Kalea memakai helm pelindung kepalanya dengan gerakan tegas. Ia menyalakan mesin motor, lalu menarik tuas gas membelah kepadatan jalanan kota Jakarta siang itu. Angin kencang menerpa blazer marunnya, membawa sisa pening di kepalanya terbang bersama kenangan pahit jamuan makan malam tadi malam.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, motor Scoopy merah itu berbelok memasuki area lobi megah Hotel Grand Luminance. Hotel bintang lima dengan arsitektur kaca yang menjulang tinggi itu adalah tempat Kalea membuktikan martabatnya sebagai seorang wanita yang mandiri dan berwibawa.
Kalea memarkirkan motornya di area khusus karyawan, melepaskan helm, lalu merapikan jilbab voal hitamnya di kaca spion motor. Ia menarik napas dalam-dalam, mengunci wajah pucatnya dengan topeng profesionalitas yang tegas, lalu melangkah lebar memasuki gedung hotel menuju lantai eksekutif tempat ruang kerjanya berada.
Saat baru saja melangkah di koridor lantai atas, sebuah suara bariton yang berwibawa namun ramah memanggil namanya dari arah depan. Pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas hitam mahal itu adalah Surya Atmadja Hardian (52 tahun), pemilik sekaligus Direktur Utama Hotel Grand Luminance yang menjadi bos langsung Kalea.
"Kalea, syukurlah kamu sudah kembali ke hotel," sapa Surya sambil menghentikan langkahnya. Matanya yang jeli langsung tertangkap pada perban kasa yang menempel di dahi Kalea serta sudut bibir sang manajer yang sedikit membengkak. Kening Surya berkerut cemas. "Ya Tuhan, Kalea... ada apa dengan wajahmu? Kemarin kamu izin sakit karena dahi bocor, sekarang kenapa sudut bibirmu juga terluka seperti itu? Apa kamu habis mengalami kecelakaan beruntun?"
Kalea tersenyum profesional, mencoba menutupi rasa canggungnya. "Selamat siang, Pak Surya. Mohon maaf atas keterlambatan saya siang ini. Wajah saya tidak apa-apa, Pak. Ini hanya kecelakaan kecil di rumah semalam saat saya kurang hati-hati di area tangga. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kinerja saya di hotel tidak akan terganggu sama sekali."
Surya menghela napas panjang, menatap Kalea dengan pandangan kebapakan yang penuh rasa sangsi. Pria paruh baya itu sudah menganggap Kalea seperti anaknya sendiri karena kagum atas kedisplinan dan ketangguhan wanita bermata biru tersebut sejak awal bekerja. "Kalea, saya ini bosmu sekaligus orang tua keduamu di tempat ini. Jangan membohongi saya dengan alasan tangga. Luka di bibirmu itu terlihat seperti bekas tamparan keras, bukan benturan pembatas tangga. Apa ada masalah berat di keluargamu?"
Kalea menelan salivanya dengan berat, matanya yang biru jernih sempat meredup sedetik sebelum kembali berkilat tegas. "Pak Surya... saya benar-benar berterima kasih atas perhatian Bapak. Namun, masalah keluarga saya biar saya selesaikan sendiri di luar jam kerja. Saya berjanji, seluruh agenda rapat koordinasi staf dan evaluasi pelayanan tamu VIP minggu ini akan selesai tepat waktu tanpa ada kesalahan sepeser pun."
Surya menepuk pundak Kalea dengan lembut, mengagumi profesionalitas mutlak dari manajernya yang berjiwa baja ini. "Baiklah, saya pegang janjimu, Kalea. Tapi ingat, jika tekanan di rumahmu sudah melampaui batas dan kamu membutuhkan bantuan hukum atau perlindungan, pintu ruangan saya selalu terbuka untukmu. Jangan menanggung semuanya sendirian."
"Terima kasih banyak, Pak Surya. Saya sangat menghargai kebaikan Bapak. Kalau begitu, saya izin ke ruangan saya dulu untuk mempersiapkan berkas laporan kuartal," pamit Kalea dengan anggukan hormat.
"Silakan, Kalea. Jangan lupa minum obatmu," pungkas Surya sebelum melangkah pergi menuju lift eksekutif.
Kalea mengembuskan napas lega setelah bosnya berlalu. Ia melangkah cepat menuju ruang kerjanya. Namun, belum sempat jemarinya menyentuh gagang pintu kayu ek yang mewah, sebuah suara seruan heboh yang sangat absurd memotong gerakannya dari arah belakang.
"KALEAAA!!! YA AMPUN SAHABATKU YANG PALING CANTIK DIAPAIN SAMPAI JADI PERBANAN BEGINI SEPERTI MUMMI MAU DIKUBUR?!"
Kalea memutar bola matanya pasrah. Suara cempreng berisik bernada delapan oktav itu hanya milik satu orang di dunia ini: Zaskia Murni Lestari (24 tahun). Zaskia adalah rekan kerja Kalea yang menjabat sebagai Manajer Hubungan Masyarakat (Humas/PR) di hotel tersebut. Lebih dari sekadar rekan kerja, Zaskia adalah sahabat karib Kalea sejak zaman putih abu-abu di SMA. Zaskia adalah satu-satunya orang asing yang paling Kalea percaya di dunia ini selain Bi Minah. Masalahnya, jika Kalea dan Zaskia sudah berkumpul di satu ruangan, aura manajer terhormat mereka akan langsung menguap berganti dengan tingkah laku yang sangat absurd, konyol, dan tidak waras.
Zaskia berlari kecil dengan high heels-nya yang tinggi, langsung menubruk tubuh Kalea dan menangkup wajah sahabatnya itu dengan heboh, meneliti dahi dan bibir Kalea dari jarak dekat. "Heh, Mata Biru! Jelaskan pada sahabat baikmu yang luar biasa ini sekarang juga! Siapa yang berani menodai wajah sucimu ini, hah?! Apa si Fandi bajingan itu berulah lagi di rumah nerakamu?"
Kalea dengan kasar menepis tangan Zaskia sambil mendengus sebal, membuka pintu ruangannya lalu menyeret sahabatnya itu masuk ke dalam agar suara berisiknya tidak terdengar oleh staf yang lain. "Zaskia, pelankan suaramu, bodoh! Ini di kantor, jaga wibwamu sebagai manajer humas!"
Zaskia langsung duduk di atas meja kerja Kalea dengan santai, melipat kakinya menyilang. "Biarin! Wibwaku sudah hanyut di sungai Ciliwung sejak melihat dahimu diperban begitu! Cepat cerita, siapa yang bikin luka ini? Biar aku panggil pasukan ojek online untuk meratakan rumahnya!"
Kalea mendudukkan diri di kursi kebesarannya, melepaskan blazer marunnya dengan lesu. "Semalam Papa menamparku dua kali karena si Fandi brengsek itu memfitnahku di meja makan. Dan dahi ini... dahi ini terluka kemarin karena didorong Mama sampai membentur dinding beton."
"APA?!" Zaskia melompat dari meja, matanya mendelik melotot kesetanan. "Astagfirullah hal adzim! Itu orang tua atau reog sih?! Tega banget sama anak sendiri! Terus, kenapa kamu tidak tusuk saja mata si Fandi itu pakai garpu makan malam, Kalea?! Sifat bar-barmu ke mana, hah?"
"Aku sudah menendang tulang kering kakinya di bawah meja sampai dia jatuh tersungkur dan mengaduh seperti babi mau disembelih!" ketus Kalea dengan senyuman puas yang mendadak muncul di bibirnya.
"Bwahaha! Serius kamu tendang?!" Zaskia langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya, memukul-mukul lengan sofa kerja Kalea dengan heboh. "Bagus! Itu baru sahabat absurdku! Sumpah, andai aku ada di sana, sudah aku siram mukanya pakai minyak jelantah panas!"
"Jangan bahas si brengsek itu lagi, Kia. Kepalaku sudah mau pecah," sela Kalea sambil memijat pelipisnya. Ia kemudian teringat masalah utamanya. "Masalahnya sekarang... aku punya utang seratus delapan puluh juta rupiah dateline satu minggu."
Tawa Zaskia langsung terhenti seketika. Wajah absurdnya berubah melongo bodoh. "Hah? Seratus delapan puluh juta? Kamu habis kalah judi online atau ketipu investasi bodong apa, Kalea?"
Kalea menghela napas pasrah, menatap sahabatnya dengan pandangan nanar. "Kemarin di parkiran rumah sakit, tas gajiku dicopet. Aku kalut, lalu aku melepas sepatu high heels-ku dan melemparnya ke arah copet. Sialnya meleset, dan sepatu sebelah kiriku terbang menghantam kaca depan mobil Mercedes-Benz milik Direktur Utama rumah sakit itu sampai retak seribu dan bolong di tengah!"
Zaskia kembali terdiam selama tiga detik, memproses cerita tidak masuk akal tersebut, sebelum akhirnya ia kembali meledakkan tawa yang jauh lebih keras dan tidak beradab dari sebelumnya. "BUHAHAHA! YA ALLAH, KALEA!!! KAMU PELEMPAR JAVELIN ATAU MANAJER HOTEL SIH?! KOK BISA-BISANYA SEPATU TERBANG SAMPAI MENGHANCURKAN MERCY ORANG?! ANJIR, ABSURD BANGET HIDUPMU!!!"
"ZASKIA DIAM!!! JANGAN TERTAWA, SIALAN!!!" bentak Kalea, melemparkan kotak tisu di mejanya tepat mengenai wajah absurd Zaskia.
Zaskia menangkap kotak tisu itu sambil menyeka air mata akibat terlalu banyak tertawa. "Aduh, maaf, maaf. Sumpah itu lucu banget! Terus, siapa nama Direktur Utama yang apes mobilnya kamu hancurkan itu?"
"Raditya Evan Baskara," jawab Kalea ketus. "Pria raksasa sombong."
Mendengar nama lengkap Radit, mata Zaskia mendadak berbinar heboh laksana melihat diskon besar-besaran di mal. Ia langsung merayap mendekati kursi Kalea, mengguncang-guncang bahu sahabatnya itu dengan antusiasme yang gila. "DEMI APA KAMU KETEMU DOKTER RADIT BASKARA?! Heh, Mata Biru! Kamu tahu tidak, dr. Raditya Evan Baskara itu adalah jomblo elit paling legendaris di kalangan sosialita Jakarta! Dia kaya raya, genius, punya lesung pipi yang mematikan, dan tidak pernah tersentuh perempuan mana pun! Itu bukan musibah, Kalea... itu namanya dapet durian runtuh beserta pohon-pohonnya sekalian!"
Kalea mendelik jijik, mendorong wajah Zaskia menjauh dari hadapannya. "Durian runtuh matamu peyang! Tadi siang di kafe seberang, laki-laki sombong itu mengancam akan melaporkan aku ke polisi jika dalam satu minggu aku tidak bisa membayar seratus delapan puluh juta tunai! Dan kamu tahu apa kesepakatan gilanya? Jika aku tidak bisa bayar, dia memaksa aku menjadi pacar pura-puranya untuk menghindari perjodohan ibunya!"
Zaskia memegangi pipinya dengan kedua tangan, mulutnya terbuka membentuk huruf O besar dengan ekspresi super absurd yang dramatis. "WHAT?! PACAR PURA-PURA?! ANJIR, INI MAREKAD KISAH NOVEL YANG NYATA!!! Kalea, turuti saja dia sekarang juga! Jangan bayar utangnya! Pura-pura miskin saja selama satu minggu ini biar kamu resmi jadi pacarnya! Lumayan kan dapat dokter tampan kaya raya, bisa ada pelindung dari keluargamu yang kejam itu, aaahhh so sweet!!!"
"Zaskia Murni Lestari!!! Keluar dari ruanganku sekarang juga sebelum aku menusuk mulut absurdmu itu pakai pulpen?!" teriak Kalea dengan wajah yang mendadak memerah merona karena malu sekaligus kesal mendengar bualan sahabat tidak warasnya itu.
"Hahaha! Iya, iya, aku keluar! Tapi serius ya Kalea, pikirkan baik-baik. Daripada kamu tersiksa di rumah nerakamu terus-menerus, kesepakatan dengan Dokter Radit itu bisa jadi jalur kilatmu untuk balas dendam dan keluar dari belenggu takdir keluarga Wijaya! Bye, Mata Biru kesayanganku!" goda Zaskia sambil berlari keluar kamar dan menutup pintu dengan cepat sebelum sebuah kamus bahasa inggris tebal yang dilempar Kalea menghantam kepalanya.
BUM!
Kamus itu menghantam daun pintu. Kalea bersandar pada kursinya dengan napas terengah-engah, namun perlahan, kata-kata absurd Zaskia tentang 'jalur kilat untuk balas dendam' mendadak berputar-putar di dalam kepalanya, memicu sebuah pemikiran baru yang mulai meraba jalinan takdir masa depannya bersama Raditya Evan Baskara.
...****************...
Sementara Kalea Azzahra Putri sedang menumpahkan segala kekesalannya bersama Zaskia Murni Lestari di kantor hotel, atmosfer yang sangat berbeda terjadi di gedung bedah sentral Rumah Sakit Pusat Harapan Medika. Setelah menyelesaikan makan siang kilat pasca-pertemuan dengan Kalea di kafe seberang jalan, Raditya Evan Baskara langsung dihadapkan pada panggilan darurat darurat medis.
Seorang pasien pria paruh baya bernama Tuan krisna haryadi baru saja dilarikan ke IGD dengan kondisi syok hemoragik akibat cedera aorta perut pasca-kecelakaan lalu lintas beruntun di jalan tol. Sebagai seorang Dokter Spesialis Bedah Umum dan Traumatologi genius, Radit langsung mengambil alih komando tindakan. Pria berusia 29 tahun itu kini berdiri di depan wastafel steril ruang operasi nomor tiga. Ia menggosok kedua tangannya dengan cairan antiseptik hingga bersih sempurna, lalu melangkah masuk ke ruang operasi dengan kedua tangan terangkat di depan dada.
Dua perawat instrumen dengan sigap memakaikan gaun operasi steril berwarna hijau tua dan sarung tangan lateks bebas kuman ke tangan kekar Radit. Masker bedah hitam menutupi sebagian wajah tampannya, menyisakan sepasang mata elang yang menatap tajam ke arah monitor pemantau tanda vital pasien yang terus berbunyi dengan ritme cepat dan tidak stabil.
"Dokter Radit, kondisi Tuan Krisna semakin memburuk. Tekanan darahnya terus merosot di angka delapan puluh per lima puluh, dan laju jantungnya sudah mencapai seratus empat puluh kali per menit," lapor dr. Anton, dokter residen bedah yang menjadi asisten pertama Radit siang itu.
Radit melangkah mendekati meja operasi, mengambil posisi di sisi kanan pasien. "Bagaimana dengan pasokan darah darurat dari bank darah?" tanya Radit dengan suara baritonnya yang berat, terdengar sangat tenang namun penuh penekanan berwibawa di balik maskernya.
"Empat kantong darah golongan O-negatif sudah siap dan sedang ditransfusikan secara cepat, Dok," jawab perawat sirkuler dengan sigap.
"Bagus. Berikan pisau bedah nomor sepuluh," perintah Radit kepada perawat instrumen di sebelahnya. Klik. Gagang pisau bedah logam itu berpindah ke jemari tangan kanan Radit yang sangat stabil tanpa getaran sepeser pun.
Radit menatap area perut pasien yang sudah disterilkan dengan cairan iodin. "Anton, siapkan suction bertekanan tinggi. Begitu saya melakukan insisi mid-line, perut pasien pasti akan dipenuhi oleh genangan darah akibat ruptur aorta. Kita harus bekerja sangat cepat sebelum otak pasien kekurangan suplai oksigen. Mengerti?"
"Mengerti, Dokter Radit," jawab Anton dengan nada suara yang tegang.
"Tindakan dimulai. Suction siap," ucap Radit. Dengan gerakan tangan yang luar biasa cekatan, presisi, dan mantap, Radit menyayat kulit perut pasien dari bawah tulang dada hingga mendekati pusar.
Sreeet...
Seketika, darah segar menyembur keluar dari rongga perut pasien yang mengalami trauma hebat. Suara mesin monitor penanda detak jantung mendadak berbunyi melengking panjang. Pip-pip-pip-pip!
"Dokter! Pasien mengalami cardiac arrest! Detak jantungnya berhenti!" teriak dokter spesialis anestesi yang berjaga di kepala meja operasi dengan wajah panik.
"Anton, lakukan resusitasi jantung paru (RJP) sekarang! Pompa dadanya!" perintah Radit dengan suara menggelegar, namun matanya tidak beralih satu senti pun dari dalam rongga perut pasien. Tangannya bergerak secepat kilat menggunakan kedua telapak tangannya untuk menekan area pembuluh darah utama yang bocor. "Perawat instrumen, siapkan klem vaskular Satinsky ukuran besar! Cepat!"
"Ini klemnya, Dok!" perawat menyerahkan alat medis berbentuk gunting panjang tersebut dengan tangan gemetar.
"Saya akan melakukan clamping pada aorta proksimal untuk menghentikan perdarahan sistemik. Anton, terus pompa dadanya! Jangan berhenti sampai saya bilang cukup!" bentak Radit, memberikan instruksi mutlak laksana seorang jenderal di medan perang. Sifat perfeksionis dan ketegasannya membuat seluruh tenaga medis di dalam ruangan itu mendadak bekerja dengan ritme dua kali lebih cepat.
Radit memasukkan klem logam itu menembus genangan darah di dalam perut, mengandalkan intuisi anatomi tubuhnya yang sangat genius. Klik. Klem berhasil mengunci pembuluh darah utama yang robek.
"Perdarahan terkendali! Bersihkan sisa darah dengan suction!" seru Radit. "Bagaimana dengan jantungnya?"
Dokter anestesi menatap monitor dengan binar mata lega yang mendadak muncul. "Detak jantung kembali normal! Tekanan darah merangkak naik ke sembilan puluh per enam puluh. Kerja bagus, Dokter Radit!"
Radit menghela napas pendek di balik maskernya. Setitik keringat yang muncul di pelipisnya langsung diseka dengan cekatan oleh perawat menggunakan kain kasa steril. "Jangan lengah. Perjuangan belum selesai. Anton, ambil posisi. Saya akan mulai melakukan teknik penjahitan vaskular pada dinding aorta yang robek menggunakan benang Prolene 4-0. Pegang pinset ini dengan stabil."
"Baik, Dokter Radit. Tangan saya siap," jawab Anton, mencoba meniru ketenangan mentornya.
Selama hampir dua jam berikutnya, ruang operasi itu dipenuhi oleh rentetan dialog medis yang sangat intens antara Radit dan para asistennya. Radit memimpin setiap detail tindakan mulai dari penjahitan pembuluh darah, pembersihan jaringan yang mati, hingga memastikan tidak ada satu pun alat medis yang tertinggal di dalam perut pasien sebelum melakukan penutupan lapisan kulit lapis demi lapis.
"Hitung jumlah kasa dan instrumen sekarang," perintah Radit menjelang simpul jahitan terakhir.
"Kasa lengkap dua puluh lembar, instrumen lengkap, Dok," jawab perawat instrumen setelah menghitung ulang dengan teliti.
"Bagus. Operasi selesai. Kondisi pasien stabil," ucap Radit sambil meletakkan gunting jahitnya ke atas nampan stainless steel. Suara dentingan logam itu menandakan keberhasilan mutlak dari pertaruhan nyawa siang itu.
Radit melangkah keluar dari ruang operasi, melepaskan gaun hijau dan sarung tangan lateksnya, lalu membuangnya ke tempat sampah medis. Ia berjalan menuju ruang transisi untuk mencuci wajahnya dengan air dingin sebelum mengganti pakaiannya kembali menggunakan kemeja biru dongker dan jas dokter putih kebanggaannya.
Begitu Radit mendorong pintu kaca otomatis pembatas ruang steril untuk menuju ruang kerjanya, ia langsung dihadang oleh kerumunan orang yang sudah menunggunya dengan wajah pucat dan mata sembap di koridor depan. Mereka adalah keluarga dari Tuan Krisna—sang istri yang mengenakan pakaian paruh baya yang elegan, didampingi oleh dua anak laki-laki dewasanya yang tampak sangat cemas.
"Dokter! Bagaimana kondisi suami saya, Dok?!" tanya sang istri, Ny. Haryadi, langsung merosot berlutut di depan Radit sambil menangis histeris, mencengkeram ujung jas dokter putih milik Radit dengan tangan gemetar. "Tolong katakan kalau suami saya selamat, Dokter... Saya mohon..."
Radit dengan sigap membungkukkan tubuh jangkungnya, memegang kedua bahu wanita paruh baya itu dengan gerakan yang sangat sopan dan lembut untuk membantunya berdiri kembali. Wajah kaku dan dingin sang Direktur Utama mendadak melunak penuh empati medis. "Ibu, tolong tenang dulu. Berdirilah, Bu. Jangan seperti ini."
Kedua anak laki-laki pasien langsung membantu ibunya berdiri. "Dokter, saya mohon penjelasannya. Bagaimana hasil operasi Papa saya tadi?" tanya anak tertua dengan suara yang parau menahan tangis.
Radit menegakkan kembali tubuhnya yang setinggi 185 sentimeter, menatap lurus ke arah mata keluarga pasien dengan pandangan yang sangat tenang namun meyakinkan. "Bapak, Ibu, sekalian... proses operasinya berjalan dengan sangat lancar dan berhasil mutlak. Memang tadi sempat terjadi situasi kritis di mana jantung Tuan Krisna berhenti berdetak selama beberapa menit akibat perdarahan hebat dari pembuluh darah utama perutnya yang robek."
Ny. Haryadi kembali memekik tertahan, menutup mulutnya dengan saputangan. "Ya Allah... Suami saya..."
"Namun, Ibu tidak perlu khawatir lagi," sambung Radit dengan senyuman tipis yang sangat menenangkan, memperlihatkan lesung pipinya yang dalam secara samar. "Tim medis kami berhasil menghentikan perdarahan dan menjahit kembali pembuluh darah yang rusak tepat pada waktunya. Saat ini detak jantung dan tekanan darah Tuan Krisna sudah sepenuhnya stabil. Beliau sedang dipindahkan ke ruang ICU pasca-operasi untuk pemantauan intensif selama dua puluh empat jam ke depan."
Mendengar penjelasan detail dan menenangkan dari mulut sang Dokter Bedah, Ny. Haryadi langsung menangis sejadi-jadinya, namun kali ini adalah tangisan penuh rasa syukur yang luar biasa. Ia berkali-kali membungkuk hormat kepada Radit. "Alhamdulillah ya Allah... Terima kasih banyak, Dokter Radit! Terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawa suami saya! Kebaikan Dokter tidak akan pernah bisa kami lupakan seumur hidup!"
"Terima kasih banyak, Dok. Anda benar-benar dokter yang luar biasa genius seperti yang orang-orang katakan," sahut anak laki-lakinya sambil menjabat tangan Radit dengan sangat erat dan penuh rasa hormat yang mendalam.
"Sudah menjadi kewajiban saya dan seluruh tim medis rumah sakit ini untuk mengupayakan yang terbaik untuk kesembuhan pasien, Pak, Bu," balas Radit dengan nada suara baritonnya yang melembut. "Sekarang, Ibu dan keluarga lebih baik istirahat dan makan dulu di kantin depan. Kondisi Tuan Krisna sudah aman di bawah penjagaan dokter jaga ICU. Jika nanti pasien sudah siuman dari efek obat bius, perawat akan langsung memanggil keluarga masuk."
"Baik, Dokter Radit. Terima kasih sekali lagi, Dok. Kami izin ke ruang tunggu ICU dulu," pamit Ny. Haryadi sambil menyeka sisa air matanya dengan senyuman lega.
Radit menatap kepergian keluarga pasien tersebut dengan helaan napas panjang yang lega. Kepuasan setelah menyelamatkan nyawa manusia kembali mengalir di dalam dadanya. Namun, begitu suasana koridor kembali sunyi, pikiran Raditya Evan Baskara mendadak terlempar kembali pada taruhan waktu satu minggu yang baru saja ia buat bersama Kalea Azzahra Putri tadi siang. Pria kaku yang buta akan cinta itu merogoh ponsel di saku jas dokternya, menatap nama kontak 'Manajer Bar-bar Mata Biru' dengan senyuman misterius yang mendadak terukir lebar di bibir tampannya.