NovelToon NovelToon
Suami Yang Tak Di Inginkan

Suami Yang Tak Di Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20 : Revan Marah

Baru setelah itu ia menuruni tangga. Di ruang tamu, Kevin masih duduk santai sambil menonton televisi. Begitu melihat Revan turun, pria itu langsung menoleh.

"Gimana?"

Revan mengangkat alis. "Gimana apanya?"

"Lo masih hidup?"

Revan terkekeh pelan. "Masih lah."

"Nggak dilempar pakai laptop?"

"Belum."

Kevin langsung tertawa. "Nah berarti aman."

Tak lama kemudian Ibu Farah keluar dari dapur membawa sepiring buah. "Wah, sudah selesai ngobrolnya?"

"Iya Tante."

"Gimana Queen?"

Revan terdiam sejenak. "Masih marah."

Ibu Farah menghela napas. "Kebiasaan tuh anak."

"Mungkin Tante perlu memberi dia waktu."

Farah menatap Revan cukup lama. Lalu wanita itu tersenyum kecil. "Kamu baik sekali ya, Nak."

Revan hanya menggeleng.."Saya hanya tidak ingin Queen merasa dipaksa."

Mendengar itu, senyum Ibu Farah sedikit memudar. Karena sebenarnya ia juga mulai menyadari bahwa caranya memang terlalu mendadak.

Namun sebagai seorang ibu, ia hanya ingin yang terbaik untuk putrinya.

Tak lama kemudian Revan berpamitan pulang. "Saya permisi dulu, Tante."

"Hati-hati ya Nak."

"Iya."

Kevin ikut mengantar sampai halaman depan. Matahari sudah hampir tenggelam ketika keduanya berjalan keluar rumah.

"Van."

"Hm?"

"Makasih ya."

Revan menoleh. "Untuk apa?"

"Udah mau ngertiin Queen."

Revan terdiam.

Kevin melanjutkan. "Dia memang keras kepala."

"Itu gue tahu."

"Tapi sebenarnya hatinya lembut."

Revan hanya mengangguk pelan.

Kevin tersenyum kecil. "Gue harap semuanya bisa baik-baik aja."

Revan tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian ia hanya berkata singkat. "Gue juga."

Setelah itu ia masuk ke mobilnya. Mesin mobil menyala. Namun anehnya, Revan tidak langsung menjalankan kendaraan itu. Tangannya masih berada di atas setir. Pikirannya kembali mengingat percakapan di kamar tadi.

"Kalau dalam seminggu ini kamu bisa menyelesaikan skripsimu, saya akan bicara dengan Mama kamu."

Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya. Padahal sekarang, saat mengingatnya kembali, ada sesuatu yang terasa tidak nyaman di dalam dadanya. Revan memejamkan mata sesaat.

Jika Queen benar-benar berhasil menyelesaikan skripsinya. Jika ia berhasil membujuk Ibu Farah, maka besar kemungkinan pernikahan itu akan dibatalkan atau setidaknya ditunda.

Bukankah itu yang seharusnya ia inginkan? Queen mendapatkan kebebasan memilih. Queen tidak dipaksa. Queen bisa menentukan hidupnya sendiri.

Itu hal yang benar, tapi mengapa saat membayangkan kemungkinan Queen tidak akan menjadi istrinya, ada perasaan aneh yang muncul dalam dirinya. Perasaan yang selama ini berusaha ia abaikan.

Revan menghela napas panjang. "Astaga... kenapa begini sih."

Ia bahkan tidak pernah benar-benar mengenal Queen di luar hubungan dosen dan mahasiswa. Namun sejak pertama kali membimbing skripsi gadis itu, kehidupannya perlahan menjadi lebih ramai. Sudut bibirnya terangkat tipis saat teringat wajah kesal Queen beberapa menit lalu.

Di satu sisi, ia tidak rela melihat Queen dipaksa menikah dengannya. Tapi di sisi lain, ia juga tidak bisa memungkiri bahwa dirinya tidak sepenuhnya ikhlas jika pernikahan itu benar-benar batal.

Perasaan itu membuatnya menghela napas lagi. Kini pria yang selalu tenang itu merasa berada dalam posisi yang sulit. Karena kali ini yang sedang ia hadapi bukan skripsi. Melainkan perasaannya sendiri. Dan itu jauh lebih rumit daripada semua revisi yang pernah dikerjakan Queen.

Hari-hari berikutnya berjalan cukup cepat.

Anehnya, sejak percakapan dengan Revan hari itu, Queen benar-benar berubah. Gadis itu mulai rajin datang ke kampus lagi. Ia bahkan mengurangi waktu tidur siangnya. Laptop yang biasanya hanya terbuka setengah jam kini hampir selalu menyala di atas meja belajarnya.

Kevin sampai beberapa kali memergokinya mengetik sampai tengah malam. "Lo kesambet apa?"

Queen langsung mendelik. "Gue lagi nyelametin hidup gue."

"Hah?"

"Kalau skripsi ini nggak selesai, Mama bakal nikahin gue."

Kevin langsung tertawa sampai hampir tersedak minuman. Meski begitu, Queen benar-benar bekerja keras.

Hari pertama, bab empat selesai. Hari kedua, revisi dosen penguji berkurang setengah. Hari ketiga, data penelitian selesai dirapikan. Hari keempat, draft skripsinya hampir selesai seluruhnya.

Dan kini, hari kelima. Queen hanya memiliki dua hari tersisa.

Sore itu, Queen baru saja keluar dari kampus setelah bimbingan. Ponselnya bergetar... Nathan.

Seketika wajah Queen sedikit cerah. "Akhirnya."

Sudah beberapa hari terakhir Nathan memang sulit dihubungi. Namun Queen memilih mengabaikan rasa kesalnya.

Panggilan langsung diterima. "Halo."

"Sayang."

Queen tersenyum kecil.

"Kamu sibuk?"

"Nggak."

"Jalan yuk."

Queen terdiam sesaat. Jujur saja, beberapa hari terakhir hidupnya hanya berisi kampus, skripsi, revisi, dan ancaman pernikahan. Ia bahkan hampir tidak punya waktu untuk Nathan.

"Oke."

"Serius?"

"Iya."

Nathan langsung terdengar senang. "Kalau gitu aku jemput."

Malam mulai turun. Namun ternyata Nathan tidak mengajak Queen makan malam seperti biasanya. Mobil mereka justru berhenti di depan sebuah club malam.

Queen mengernyit. "Nathan."

"Hm?"

"Kita ke sini?"

Nathan tersenyum. "Sekali-kali kita senang-senang."

"Tapi aku masih ada skripsi."

"Kamu udah ngerjain terus dari kemarin."

Queen berpikir sejenak. Mungkin memang tidak ada salahnya istirahat sebentar. Akhirnya ia ikut masuk.

Di sisi lain, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Di rumah Queen, Ibu Farah mulai mondar-mandir di ruang tamu.

"Kevin."

"Iya Ma."

"Queen ko belum pulang ya? Biasanya jam segini udah sampai."

Kevin mulai menghubungi ponsel adiknya. Tidak aktif. Dicoba lagi, tetap tidak aktif.

Ibu Farah semakin gelisah. "Telepon teman-temannya."

Kevin akhirnya menghubungi Anggi. Tak lama kemudian sambungan tersambung.

"Halo Nggi."

"Halo Kak Kevin."

"Queen sama kamu?"

"Nggak."

"Kamu tahu dia ke mana?"

"Oh... tadi habis kuliah dia pergi sama Nathan."

Kevin langsung mengernyit. "Pergi ke mana?"

"Nggak tahu Kak."

Sambungan berakhir.

Kevin langsung menatap ibunya. "Dia sama Nathan."

Wajah Ibu Farah langsung berubah tidak enak. Entah kenapa ia punya firasat buruk. Kevin terdiam beberapa saat. Lalu mengambil keputusan. Ia mencari satu nama di kontak ponselnya.

Revan.

Sementara itu, di club malam. Musik berdentum keras. Lampu warna-warni memenuhi ruangan. Queen yang awalnya hanya duduk akhirnya ikut minum beberapa gelas karena terus dibujuk Nathan.

"Ayo sayang santai aja."

"Nggak ah."

"Sedikit aja."

Dan sedikit itu akhirnya menjadi terlalu banyak. Kepala Queen mulai terasa berat. Pandangannya sedikit kabur. Nathan tersenyum melihat kondisi gadis itu.

Empat puluh menit kemudian. Sebuah mobil hitam berhenti mendadak di depan club. Revan turun lebih dulu. Disusul Kevin dari sisi lain.

Mereka masuk dengan langkah cepat. Suasana bising langsung menyambut.

Kevin mengerutkan wajah. "Astaga."

Sedangkan Revan terus menyapu ruangan dengan pandangannya. Lalu, mata pria itu langsung membeku.

Di sudut ruangan, Queen terlihat setengah sadar. Tubuhnya sempoyongan. Sedangkan Nathan sedang memegang pinggangnya sambil membawanya menuju koridor VIP. Arah menuju kamar hotel di lantai atas.

Wajah Revan langsung berubah dingin. "Van..."

Kevin juga melihatnya, detik berikutnya. Revan berjalan cepat. Nathan yang sedang fokus pada Queen bahkan tidak sempat bereaksi.

BUGH!

Satu pukulan keras mendarat tepat di wajahnya. Nathan langsung terjatuh.

"Aargh!"

Beberapa orang menoleh kaget.

Queen yang setengah mabuk ikut terkejut. "Eh?"

Nathan memegang rahangnya. "Apa-apaan lo!"

Namun sebelum sempat berdiri, Revan sudah menarik kerah bajunya. Mata pria itu penuh amarah.

"Lo mau bawa dia ke mana?"

Nathan membeku, ia berusaha melepaskan diri. "Dia pacar gue!"

BUGH!

Pukulan kedua mendarat. Nathan kembali terjatuh, bberapa pengunjung mulai menjauh.

Kevin buru-buru maju. "Van!"

Namun Revan masih menatap Nathan tajam. "Kalau lo pacar yang baik..." Suara Revan terdengar rendah dan berbahaya. "Lo nggak akan buat dia sampai mabuk kaya gini."

Nathan tidak mampu menjawab. Karena memang Queen sudah hampir tidak sadar. Kevin yang melihat kondisi adiknya langsung menghampiri.

"Queen."

"Hm..."

Queen menatap Kevin dengan mata setengah tertutup. "Kak Kevin?"

"Iya."

Queen langsung memeluk lengan kakaknya. "Kepalaku pusing."

Kevin menghela napas panjang. "Iya gue tahu."

Sementara itu Nathan masih terduduk di lantai. Wajahnya pucat, sedangkan Revan berdiri di depannya dengan tatapan yang membuat siapa pun enggan mendekat.

Kevin akhirnya berkata tegas. "Van. Biar gue urus Queen."

Revan masih terlihat menahan emosi. Namun akhirnya mengangguk.

Kevin langsung membantu Queen berdiri. "Ayo pulang."

Queen mengangguk lemah, sedangkan di belakang mereka, Nathan hanya bisa menatap dengan wajah hancur. Kini Kevin mulai bertanya-tanya, mungkin selama ini Mamanya tidak sepenuhnya salah tentang Nathan.

1
Amoera
Queen jangan khianatin pak Revan. kasian dia. lagian mau aja sama sih mokondo🤣
Arditya
cie... akhirnya nikah juga🤭
It's me Sky: hhheeee🤣
total 1 replies
Arditya
sejauh ini keren banget thoor👍
Siska Amelia
good
It's me Sky: terimakasih kaka🙏
total 1 replies
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉






Saling support sabi kali ya😉
It's me Sky: wihh makasih kakak/Smile/
total 1 replies
Reichan Muhammad
ya ampun torrr keren bgttt kmu punya 4 novel yg on going semua
It's me Sky: iya kakak, selama lagi ada ide jalan terus🤭
total 1 replies
Arditya
jadi inget inggit dan mas Arya, tapi ini kemasannya beda top lah thoor👍
It's me Sky: wkwkwkwkwk🤭
total 1 replies
Arditya
wajah di baca ini cerita menarik banget, remajanya dapet kisahnya fresh. suka sma Revan dan Queen. sukses thoor/Smile/
It's me Sky: makasih bnyk/Hey/
total 1 replies
Arditya
seru banget thoor😍
It's me Sky: wihhh makasihhh/Tongue/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!