"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Tamparan di Sisi Ranjang Sepuh
"Sangat berisiko untuk usianya sekarang," tegas Dokter Hermawan. Ia membetulkan letak kacamata paruh bayanya. "Untuk saat ini, tolong pastikan Nenek Aisyah tidak boleh banyak pikiran, tidak boleh emosi sama sekali, dan yang paling penting ... harus ada yang menemaninya selama dua puluh empat jam penuh. Jangan biarkan beliau sendirian."
Sebelum Elang sempat membuka mulut untuk memberikan instruksi kepada pelayan, Alin sudah melangkah satu blok lebih maju ke depan Dokter Hermawan.
"Saya yang akan menjaga Nenek di sini semalaman ini, Dok," ucap Alin dengan nada suara yang teramat lembut, tenang, namun penuh penekanan yang mutlak. Ia melirik Elang sekilas dengan tatapan dingin yang tak terbaca. "Dan secepatnya, besok pagi-pagi sekali, kami yang akan membawa Nenek ke rumah sakit untuk pemeriksaan EKG itu. Dokter tidak perlu khawatir."
Dokter Hermawan tersenyum tipis, tampak lega melihat kesiapan sang cucu menantu. "Terima kasih, Alin. Kalau begitu, saya pamit dulu untuk menyiapkan surat rujukannya. Tolong obat yang saya berikan tadi segera diminumkan setelah Nenek tenang."
"Mari, Dokter, biar Mbok antarkan keluar," sela Mbok Darmi buru-buru, memandu Dokter Hermawan melangkah meninggalkan kamar bawah yang sarat akan ketegangan tersebut.
Begitu pintu kamar kembali tertutup rapat dan menyisakan kesunyian yang mencekam, Nenek Aisyah perlahan membuka sepasang matanya yang sayu. Tatapan matanya yang semula redup mendadak berkilat penuh kekecewaan, duka, dan amarah yang teramat mendalam saat manik matanya menangkap sosok Elang yang berdiri di sisi kanannya.
"Nenek ... minum air hangatnya dulu ya? Elang bantu," ucap Elang lirih, melangkah satu langkah mendekat ke tepi ranjang, mengulurkan kedua tangannya berniat membantu menyangga punggung sang nenek.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kanan Elang. Tangan Nenek Aisyah yang gemetar, kurus, dan tampak lemah itu mendadak memiliki kekuatan yang luar biasa untuk melayangkan pukulan tepat di wajah cucu laki-laki kesayangannya. Suara tamparan itu menggema nyaring di dalam kamar bawah yang sunyi.
Elang tersentak kaku, kepalanya tertoleh ke kiri akibat hantaman tersebut. Pipi kanannya mendadak memerah pias, namun ia tidak berani membalas atau memprotes. Ia hanya bisa berdiri membeku dengan sepasang mata yang melebar shock, menatap sang nenek yang kini bernapas dengan terengah-engah menahan luapan murka.
"Suami berengsek!" seru Nenek Aisyah dengan suara yang parau, pecah, dan bergetar hebat menahan tangis kekecewaan yang mendalam. Telunjuknya yang gemetar menunjuk tepat di depan dada Elang. "Di mana hatimu, Elang?! Di mana harga dirimu sebagai laki-laki?! Kamu menodai pernikahan yang Nenek usahakan dengan membawa perempuan ular itu ke rumah kalian?!"
"Nenek, dengarkan penjelasanku dulu—"
"Tutup mulutmu! Nenek tidak sudi mendengar alasan apa pun dari mulut kotormu itu!" potong Nenek Aisyah histeris, dadanya naik turun dengan sangat cepat, membuat garis pernapasannya kian tersendat berbunyi lirih.
Melihat kondisi Nenek Aisyah yang mendadak kembali kritis akibat emosi yang meledak, Alin tidak tinggal diam. Ia segera bergerak cepat, duduk di tepi kasur sisi kiri, lalu merengkuh lembut bahu ringkih wanita tua itu ke dalam pelukannya. Tangan kanan Alin yang halus dengan telaten mengusap-usap dada kiri Nenek Aisyah, mencoba menenangkan detak jantung yang berdegup tidak beraturan di balik kebaya sepuhnya.
"Nenek ... Alin mohon, demi Alin, jangan emosi seperti ini, Nek. Ingat pesan dokter," bisik Alin dengan nada suara yang teramat lembut, hangat, dan sarat akan buaian penenang. Ia mengecup pelan pelipis Nenek Aisyah, membiarkan rambut panjangnya yang terikat bergoyang menyentuh pipi pias sang nenek. "Ingat kata Dokter Hermawan tadi, Nek. Nenek tidak boleh banyak pikiran. Alin ada di sini, Alin tidak ke mana-mana. Alin ada di samping Nenek sekarang."
Nenek Aisyah mencengkeram erat ujung tunik abu-abu milik Alin, menenggelamkan wajah pucatnya di ceruk leher cucu menantunya sambil terisak parah. "Nduk ... Alin ... maafkan Elang ... maafkan keluarga Nenek yang sudah memberimu luka sedalam ini ...."
"Sudah, Nek ... tidak apa-apa. Jangan dipikirkan lagi ya? Sekarang Nenek harus istirahat agar besok pagi kita bisa ke rumah sakit dengan kondisi yang lebih baik," bujuk Alin lagi, suaranya begitu tulus dan meneduhkan, sangat kontras dengan tatapan mata barbarnya saat menantang Elang di luar kamar tadi.
Alin mendongakkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke arah Elang yang masih berdiri mematung di seberang ranjang dengan pipi yang memerah dan tangan yang mengepal kuat di dalam saku celana. Tatapan mata Alin begitu dingin, tajam, dan penuh kemenangan, seolah ingin mempertegas pada suaminya yang arogan itu: Lihat, di kamar ini, Mas Elang yang seorang CEO hebat sama sekali tidak punya kuasa apa pun.
Bersambung ...