kisah seorang dokter internship yang bertemu dengan seorang polisi yang menurutnya sangat menjengkelkan dan terjebak pernikahan dengannya akibat kejadian suatu malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nad Nanad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
Dean menatap Anna yang masih kesal ditempatnya,
"Apa liat-liat?" Ucap Anna bertambah kesal.
"Gak, saya lagi liatin dinding." Jawab Dean mengalihkan perhatiannya.
"Tuhkan udah gak perhatian lagi sama Anna, malah perhatiin dinding yaudah Anna mau pulang ke bang Satya aja." Ucap Anna tiba-tiba menangis dan membuat Dean semakin bingung harus berbuat apa.
"Eh nggak, saya tadi bukan liatin dinding tapi liatin istri saya yang cantik." Ujar Dean berusaha menghibur Anna dengan ekspresi wajah yang diimut-imutkan.
"Kenapa liat-liat? Nantangin hah?" Ucap Anna lagi yang membuat Dean melongo membuka mulutnya.
"Kemasukan lalat baru tau rasa." Ucap Anna lagi melempari Dean dengan sisir yang ada di nakas sebelah tempat tidurnya.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Dean sambil mendekati Anna.
"Gak usah deket-deket, Awww." Anna meringis kesakitan lagi yang membuat Dean tidak menghiraukan perkataan Anna yang menyuruhnya untuk tidak mendekat, ia malah semakin mendekat ke arahnya.
"Sakit lagi?" Tanya Dean mendekatkan wajahnya ke wajah Anna yang ada di depannya.
Mata mereka bersitatap sejenak lalu Anna menunduk untuk menghindari kontak mata yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat padahal mereka sudah sering bersama seperti ini entah kenapa ia selalu merasa gugup bila ada di dekat pria itu.
"Gak usah deket-deket, kak Dean jelek bau." Ucap Anna mendorong Dean menjauh darinya.
Dean mengendus baju yang dikenakannya dan aroma parfum masih tercium jelas disana, lantas apa yang membuat Anna mengatainya bau.
"Yakin? Saya masih wangi loh ganteng lagi." Jawab Dean mengedipkan sebelah matanya.
"Idih sok kegantengan." Jawab Anna memutar bola matanya malas tapi ia tidak bisa menyangkal bahwa pria di hadapannya memang sangat tampan ia berkata seperti tadi untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Yaudah iya saya yang salah, terus sekarang kamu mau apa?" Ucap Dean berusaha mengalah. Nampak Anna tengah berfikir,
"Anna mau kak Dean, Eh maksudnya mau ... he apa ya gak jadi." Ucap Anna menggaruk kepalanya tak tau harus berkata apa.
"Kalo emang cinta saya itu gak usah gengsi, nanti saya diambil orang gimana?" Ucap Dean pada Anna yang terdiam, ia baru menyadari bahwa ia telah benar-benar jatuh cinta pada pria dihadapannya itu sejak pertama bertemu namun rasa gengsinya mengalahkan semua itu.
"Kak Dean mandi dulu ihh bau." Ucap Anna lagi berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ini masih siang dek Anna, lagi pula saya masih wangi."
"Cerewet! mending kak Dean keluar! Ngomong mulu dari tadi." Ucap Anna lalu menarik selimutnya dan berbaring.
Dean pun menuruti perkataan Anna untuk keluar dari kamar dan memutuskan untuk memeriksa laporan keuangan restorannya, tak lama kemudian Anna memanggilnya kembali.
"Kak Dean sini." ucap Anna setengah berteriak, Dean mengusap wajahnya ia berusaha sabar untuk meladeni istrinya yang kadang kelakuannya seperti bocah.
"Iya kenapa lagi tuan putri." Jawab Dean yang sudah ada di depan pintu kamar sambil menyender di daun pintu.
"Sini!" Pinta Anna lalu Dean berjalan ke arahnya kemudian duduk di sampingnya.
Anna lalu mendekat ke Dean.
"Mau ngapain?" Tanya Dean saat Anna sudah semakin dekat dengannya.
"Isshh jangan pikirin macem-macem." Jawab Anna memukul lengan Dean dengan pelan.
Anna mulai membisikkan sesuatu di telinga Dean dan membuat Dean melongo tak percaya tentang apa yang diperintahkan Anna untuknya.
"Serius dek? Gak ada yang lainnya gitu selain yang itu?"
"Pokoknya itu, kalo gak mau kak Dean nanti malam tidur di sofa." Jawab Anna sambil menunjuk sofa panjang yang berada di pojok kamar.
Dean mengalah lalu segera menyambar jaket dan kunci motornya menuju minimarket terdekat untuk membeli sesuatu yang diminta Anna.
Sesampainya di sana, ia mulai melangkahkan kakinya masuk namun agak ragu,
Ia lalu memperhatikan sekelilingnya mencari barang itu lalu seorang karyawan datang menghampirinya.
"Ada yang bisa saya bantu pak?"
Dean membalikkan badannya dan mendapati seorang wanita yang menggunakan seragam berwarna merah dengan garis-garis kuning.
"Hmm saya cari pembalut buat istri saya." Ucap Dean malu-malu.
"Disebelah sini pak, Silahkan!" Jawab wanita itu mengarahkan Dean disalah satu rak yang berisi pembalut dengan berbagai merk. Hingga dia tidak tau harus membeli yang mana, dia memutuskan mengirimi Anna pesan.
Anna
^^^[Mau yang mana?]^^^
^^^[Mengirim foto]^^^
[Yang warna hitam itu]
^^^[Sekalian mau apa?]^^^
[Camilan banyakin]
Setelah selesai berbelanja, Dean kemudian berjalan ke kasir untuk membayar semuanya.
"Buka bisnis jualan pembalut ya pak?". Tanya kasir itu tersenyum heran karena hampir semua pembalut yang ada di rak itu dibeli Dean.
"Eh nggak, ini buat istri saya." Jawab Dean sedikit malu dengan pertanyaan kasir itu.
Sambil menunggu barang yang dibelinya dihitung, Dean duduk di salah satu kursi yang berada di sana itu lalu tak sengaja melihat seseorang yang selama ini sangat ia benci, orang itu sepertinya ingin masuk ke minimarket itu juga.
Dengan sigap Dean menghampirinya,
"Mas Dean?" Ucap orang itu terkejut melihat Dean yang berdiri di hadapannya.
"Kenapa kaget? Takut? Setelah kamu hancurkan hidup adik saya kamu takut berhadapan dengan saya? Kau berani merusak hidup adik saya berarti kaupun berani menantang saya." Ucap Dean dengan kemarahan yang sudah di ubun-ubun.
"Maafkan saya mas, saya gak bermaksud ninggalin Yasmin waktu itu tapi ..."
"Tapi apa hah?" Dean mencengkeram kerah kemeja orang itu.
"Saya ninggalin Yasmin karena saya ingi melanjutkan pendidikan saya ke luar negeri mas."
"Jika kamu memang orang berpendidikan tidak mungkin akan melakukan hal serendah ini, dengan merenggut kehormatan seorang gadis SMA lalu meninggalkannnya sendiri dalam keadaan mengandung begitu?"
"Saya bisa saja membunuhmu disini jika saya mau." Ucap Dean lagi semakin memperkuat cengkramannya.
Tiba-tiba Handphone Dean berdering nampak panggilan telepon dari Anna. Ia lalu melepaskan cengkramannya pada orang itu dan mengangkat teleponnya.
"Kita bicara nanti saja, ada yang harus saya urus." Ucap Dean lalu menutup teleponnya membuat Anna merasa bingung kenapa sikap Dean tidak seperti biasanya apakah ia marah karena ia memintanya membeli pembalut? Ia jadi merasa bersalah.
Orang tadi berusaha melarikan diri saat Dean sedang mengangkat teleponnya yang membuat Dean semakin marah karena orang yang menghacurkan hidup adiknya itu lepas lagi.
"Adittttt!!!!"
Setelah Dean sampai di rumahnya, ia meletakkan barang belanjaannya di depan Anna dan ekspresi wajahnya membuat Anna takut.
"Kak Dean kenapa?" Tanya Anna berusaha menepis rasa takutnya.
"Saya gak apa-apa." Jawab Dean dingin
"Kak Dean marah gara-gara Anna?"
"Sudah saya bilang saya gak apa-apa dan saya gak marah sama kamu." Ucap Dean menaikkan nada bicaranya satu oktaf yang membuat Anna menarik selimutnya kembali dan menangis di dalamnya, Dean tidak seperti biasanya bahkan pria itu membentak Anna.
Dean yang menyadari istrinya sedang menangis, ia menjadi merasa bersalah gara-gara kemarahannya pada Aditya, orang yang membuat ia kehilangan adik kesayangannya ia jadi melampiaskan semuanya pada Anna.
Dean masuk ke dalam selimut, lalu memeluk Anna dari belakang yang memangis sesenggukan, ia merasa bersalah tak seharusnya ia bersikap seperti itu pada Anna yang bahkan tak tau apa-apa soal masalahnya dengan Aditya.
"Maafkan saya, saya tidak bermaksud membentak kamu."
"Anna yang harusnya minta maaf sama kak Dean, Kak Dean pasti malu kan gara-gara Anna? Anna janji gak akan minta aneh-aneh lagi sama Kak Dean."
"Jangan bicara seperti itu, saya gak suka saya bahkan rela jika harus menyerahkan nyawa saya demi kamu." Ucap Dean mempererat pelukannya.
To Be Continued ...
thor...
knpa g dilanjutin kisahnya Dean sm Anna
👍🤗