Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.
Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:
"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."
Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?
Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 - Sekat Tipis
Koridor Lotus Medical Center yang tadinya sepi kini terasa terlalu sempit. Udara di antara Nami dan wanita itu mendadak berat.
"Jadi kau perempuan murahan yang tiba-tiba merayu bibiku agar bisa menikah dengan Max?"
Suara itu rendah, tapi setiap katanya menancap tepat di tulang rusuk Nami. Darah Nami berdesir. Ia mundur satu langkah, tapi punggungnya sudah mentok ke dinding.
Siapa? Bagaimana dia tahu?
Otak Nami kosong. Yang bisa ia tangkap hanya sorot mata di balik kacamata hitam itu—tajam, penuh kebencian yang sudah lama dipelihara.
Wanita itu maju lagi, menurunkan kacamatanya. Nami baru sadar, di kerah blazernya tersemat sebuah nametag kecil yang berlapis emas.
NADIA TANUWIJAYA
Direktur Operasional, Tanuwijaya Group
Nami membeku. Perusahaan keluarga Max. Marga Tanuwijaya.
Jadi ini… keluarganya Max? Bukan hanya sekadar kerabat jauh. Wanita ini punya kuasa, punya nama, dan jelas punya hak untuk marah.
"Lihat dirimu," Nadia mendesis, memindai jas dokter Nami yang kusut dan flat shoes yang sudah pudar.
"Kau pikir dengan merayu Bibi Sofia, kau bisa masuk ke keluarga kami? Kau pikir Max akan jatuh cinta dengan residen miskin sepertimu?"
Nami ingin membalas. Ingin bilang kalau ini bukan rayuan. Ini pernikahan kontrak!
Tapi lidahnya kelu. Mengaku? Berarti ia menjerumuskan Max juga. Diam? Berarti ia membiarkan Nadia menginjak-injak harga dirinya.
Nadia melangkah lebih dekat, menurunkan suaranya sampai hanya Nami yang bisa dengar.
"Batalkan pernikahan itu. Kalau tidak… aku pastikan kariermu di rumah sakit ini berakhir. Aku punya banyak cara membuat seorang dokter residen menghilang."
Tanpa menunggu jawaban, Nadia menaikkan lagi kacamatanya, berbalik, dan pergi dengan ketukan hak tinggi yang menggema seperti vonis.
Nami terpaku. Lututnya lemas. Di kejauhan, bel lift berbunyi. Jumat semakin dekat, dan sekarang, tiba-tiba ia punya seorang musuh: Nadia Tanuwijaya.
Nami mengepalkan tangan kuat-kuat. Ia sadar, ia mengambil risiko besar ini demi nominal angka yang ditawarkan Max untuk melunasi seluruh utang dan membiayai hidupnya.
Memang benar ada rasa iba di hatinya saat melihat kondisi Nyonya Sofia yang sakit keras, tapi makian Nadia barusan adalah tamparan kasar. Dunia elite Tanuwijaya tidak selembut wajah ibu Max. Dunia itu dingin, dan bersiap menguliti siapa saja yang dianggap asing, termasuk dirinya.
Sisa jam dinasnya sore ini terasa berjalan seperti neraka. Fokusnya terbelah. Di satu sisi, ia harus memeriksa grafik rekam medis pasien dengan ketelitian penuh sebagai seorang residen kardiologi. Di sisi lain, harga dirinya yang koyak terus menuntut jawaban.
Nami tertawa—atau lebih tepatnya, mengeluarkan suara tawa tipis yang getir di dalam ruang dokter yang sepi. Tidak ada lucu-lucunya. Ia mengorbankan masa depannya untuk sebuah sandiwara, namun ia tidak menyangka badai di dalam keluarga Max akan datang secepat ini, bahkan sebelum janji suci diucapkan.
Pukul delapan malam, Nami melangkah masuk ke dalam apartemen mewah Max. Ruangan itu luas, namun terasa mencekam dan hampa. Ia sengaja tidak menyalakan semua lampu, hanya membiarkan pendar temaram dari area dapur bersih menerangi sudut ruangan.
Nami duduk di sofa, namun pikirannya tidak bisa diam. Ia menatap ke arah pintu utama, menghitung setiap detik yang berlalu dengan rasa cemas yang bercampur dengan kemarahan yang kian menumpuk.
Setiap sudut tempat ini mengingatkannya pada kontrak gila yang sudah ia tandatangani. Kontrak yang malam ini terasa seperti jerat tali di lehernya.
Pernikahannya dengan Max tinggal menghitung hari, tidak mungkin ia membatalkannya, kan?
Hingga tepat pukul sembilan malam, bunyi klik halus dari kunci digital memecah kesunyian.
Pintu utama terbuka, menampilkan sosok Max yang baru kembali dengan setelan kerja yang terlalu rapi meski sudah seharian bekerja.
Pria itu melepaskan jam tangan mahalnya dengan gerakan mekanis yang biasa, bersiap melangkah ke dapur sebelum langkahnya diadang oleh Nami yang sudah berdiri dengan melipat tangan di dada. Matanya menatap Max tajam.
"Aku perlu bicara," cetus Nami tanpa basa-basi.
Max menghentikan langkahnya, menatap Nami tanpa emosi. "Kalau ini soal denda guling lima puluh juta, aku sedang tidak ingin berdebat."
"Ini soal... Nadia Tanuwijaya," potong Nami cepat. "Dia mendatangiku di rumah sakit siang tadi."
Gerakan tangan Max yang hendak melonggarkan dasi mendadak terhenti. Sepasang mata elangnya menegang sedetik, sebelum kembali berubah sebeku es. "Apa yang dia katakan padamu?"
"Aku bersedia ikut kontrak ini untuk kesepakatan kita, bukan untuk dijadikan sasaran makian keluargamu!" Suara Nami naik satu oktav, bergetar menahan amarah yang dipendam sejak siang.
"Siapa Nadia? Dia memakiku dan merendahkan harga diriku, Max. Aku tahu aku mengambil ini karena aku butuh uangmu, tapi itu tidak memberinya hak untuk menginjakku!"
Max mendengarkan dengan wajah datar seperti biasa. Tapi rahangnya yang mengeras menunjukkan ada sesuatu yang terusik di dalam sana. Pria itu melangkah maju. Satu langkah, dua langkah, mengikis jarak dengan presisi yang menuntut.
Nami refleks mundur, namun ruang geraknya habis. Punggungnya membentur pinggiran meja konter dapur yang keras. Ia terperangkap.
Max tidak berhenti. Ia terus maju hingga jarak di antara mereka terpangkas habis. Kedua tangan kekar pria itu bertumpu di atas marmer meja konter, tepat di sisi kiri dan kanan pinggang Nami, mengunci tubuh gadis itu sepenuhnya di dalam kukungan fisiknya.
Aroma parfum maskulin yang tajam langsung menyerang indra penciuman Nami, pekat dan menyesakkan.
Nami menahan napas, dadanya naik turun dengan cepat akibat debaran yang mendadak menggila. Posisi ini terlalu intim. Terlalu berbahaya.
Dari jarak sedekat ini, Max bisa melihat dengan jelas bagaimana kedua manik mata Nami bergerak gelisah, menatapnya dengan campuran rasa marah dan gugup yang amat transparan.
Max menundukkan kepalanya sedikit, memaksa Nami untuk menatap langsung ke dalam manik mata elangnya yang hitam legam. Jarak wajah mereka begitu dekat, hingga embusan napas hangat Max yang teratur menerpa permukaan kulit wajah Nami.
Melihat kilat kekesalan yang berpadu dengan rona merah yang perlahan menjalar di pipi Nami, sebuah sudut di bibir Max berkedut tipis. Ia tersenyum sangat samar, hampir tak terlihat.
Menarik. Di dunia Max, semua orang bicara dengan naskah penuh kepalsuan. Tapi perempuan di hadapannya ini melabraknya tanpa saringan, begitu blak-blakan menunjukkan semua emosinya tanpa rasa takut.
Dan entah sejak kapan, Max menyadari satu hal baru: ia senang mengerjai Nami. Ada kepuasan aneh yang menggelitik egonya setiap kali melihat wajah jengkel dan salah tingkah dari dokter residen ini.
"Lalu kau membalas makiannya?" tanya Max. Suaranya berubah—rendah, serak, dan sengaja ia buat bergetar samar tepat di depan bibir Nami, hanya untuk melihat sejauh mana gadis itu bisa bertahan dalam kuasanya.
"Aku... aku tidak sempat bicara! Dia mendatangiku, memakiku, lalu pergi," jawab Nami, suaranya mencicit kecil.
Keberaniannya yang berapi-api tadi mendadak menguap, digantikan oleh rasa panas yang menjalar hebat dari leher hingga ke seluruh wajahnya.
Max tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari bibir Nami yang sedikit terbuka dan napasnya yang memburu. Sudut matanya menggelap, menikmati dominasi dan ketegangan yang mendadak mengunci kewarasan mereka di udara apartemen yang sunyi.
"Tenang," bisik Max dingin, namun matanya mengunci manik mata Nami dengan intensitas yang sanggup melelehkan es. "Karena Nadia tidak akan bisa menyentuhmu seujung kuku pun selama kau berada di sampingku, Dokter Namira. Fokus saja pada tugasmu, sisanya biar aku yang urus."
Nami membeku, memegangi pinggiran konter dengan jari-jari yang memutih. Ketegangan di antara mereka merayap naik, begitu pekat dan panas, menyisakan sekat tipis napas yang saling berburu di dalam kesunyian yang membekukan.