NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Malam itu terasa begitu sunyi.

Angin berhembus pelan menyapu helaian rambut panjang Nayla yang tergerai bebas. Gadis itu masih berdiri di balkon rumah Luna, mengenakan piyama biru kebesarannya, dengan kedua tangan bertumpu pada pagar besi. Tatapannya kosong, menembus gelapnya langit yang hanya dihiasi cahaya bulan.

Dingin.

Sepi.

Dan entah kenapa… menyakitkan.

“Nayla, meskipun gue bukan senja yang lo tunggu, gue bisa jadi langit yang selalu ada buat nemenin lo di tiap waktu.”

Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya.

Suara Endra. Suara yang dulu terasa begitu hangat, kini justru seperti luka yang terus terbuka.

“Endra… lo di mana?” gumam Nayla lirih.

Tak ada jawaban. Hanya suara angin malam yang berdesir pelan, seakan ikut menertawakan nasibnya.

Sudut matanya mulai basah.

Ia merindukan Endra. Sangat.

Meski laki-laki itu sudah menyakitinya, melukainya, bahkan meninggalkannya di jalan seperti barang tak berharga… Nayla tetap saja merindukannya.

Bodoh?

Iya.

Tapi begitulah cinta pertamanya.

Nayla menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang mulai jatuh. Tapi percuma. Air itu tetap mengalir, hangat di pipinya yang dingin.

“Kenapa sih hidup gue kayak gini…” bisiknya serak.

Dari atas balkon itu, pandangannya tertuju pada rumah besar keluarga Raharja. Rumah yang selama hampir 17 tahun ia anggap sebagai rumahnya.

Rumah yang kini terasa begitu asing.

Lampu-lampu sebagian besar sudah padam. Kamar Jevan gelap. Kamar Devan juga.

Namun satu ruangan masih menyala.

Kamar utama.

Dari sana, melalui tirai tipis yang tertutup, Nayla bisa melihat bayangan dua sosok.

Papanya.

Dan mamanya.

Siluet itu begitu jelas. Papanya berdiri, menunjuk-nunjuk dengan gerakan penuh emosi. Sedangkan mamanya… duduk, bahunya bergetar, menangis.

Nayla menggigit bibirnya.

“Maaf ya… gue sering lihat mereka berantem.”

Suara itu membuat Nayla tersentak.

Ia menoleh.

Luna.

Gadis itu berdiri di sana, memeluk tubuhnya sendiri, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin malam.

“Sering?” Nayla mengernyit.

Luna mengangguk pelan.

“Iya… gue sering ke balkon malem-malem. Kadang lihat bintang… kadang lihat rumah lo. Dan ya… mereka sering banget berantem. Tapi gue nggak pernah cerita ke siapa-siapa, sumpah,” katanya cepat, bahkan mengangkat dua jarinya seperti bersumpah.

Nayla terdiam.

Dadanya terasa sesak.

Jadi… bukan hanya dia yang tahu?

Bahkan orang luar pun menyadari bahwa keluarganya tidak baik-baik saja.

“Gue kira… gue doang yang tahu,” gumam Nayla pelan.

Luna menatapnya hati-hati. “Lo baru sadar?”

Nayla tersenyum tipis. Senyum pahit.

“Iya… gue baru sadar akhir-akhir ini. Selama ini gue terlalu sibuk… bertahan.”

Hening sejenak.

Angin kembali berhembus.

“Nay…” Luna memanggil pelan.

“Hm?”

“Lo kuat banget ya.”

Nayla tertawa kecil.

Kuat?

Kalau saja Luna tahu…

“Nggak kok. Gue cuma… belum mati aja,” jawabnya santai, tapi nadanya menusuk.

Luna langsung menatapnya tajam. “Jangan ngomong gitu!”

Nayla mengangkat bahu.

“Fakta, Lun.”

Air matanya kembali jatuh.

“Semua orang kayaknya pengen gue hilang.”

“Nggak semua,” potong Luna cepat.

Nayla menoleh.

“Gue nggak,” lanjut Luna, suaranya lebih pelan tapi tegas.

Hening lagi.

Nayla menatap Luna cukup lama.

Dan entah kenapa… dadanya terasa hangat.

“Lo baik banget sih,” gumam Nayla.

“Ya emang,” sahut Luna santai.

Keduanya tertawa kecil.

Meski tawa itu… tetap terasa pahit.

“Nayla,” Luna kembali serius. “Lo tinggal di sini aja ya.”

Nayla langsung menggeleng.

“Gue nggak bisa.”

“Kenapa? Rumah gue luas, kamar banyak. Nyokap gue juga baik. Bokap gue pasti setuju.”

Nayla tersenyum, tapi kali ini matanya kembali berkaca-kaca.

“Gue bukan siapa-siapa, Lun.”

“Lo temen gue!”

“Tapi bukan keluarga lo.”

“Ya jadiin keluarga!”

Nayla tertawa kecil, lalu menggenggam tangan Luna.

“Thanks ya… tapi gue nggak mau jadi beban.”

“Lo bukan beban!”

“Buat gue… iya.”

Luna terdiam.

Ia tahu… Nayla bukan tipe orang yang mudah diyakinkan.

“Nayla? Luna?”

Suara lembut itu membuat keduanya menoleh.

Seorang wanita berdiri di ambang pintu balkon.

Ibunya Luna.

Wanita itu tersenyum hangat.

“Tante…” sapa Nayla pelan.

Wanita itu mengangguk.

“Ayo masuk. Udah dingin di luar.”

Luna langsung mengangguk. “Iya mi.”

Tapi Nayla masih diam.

Tatapannya kembali melirik ke arah rumah Raharja.

Rumah itu kini benar-benar gelap.

Seolah… tidak pernah ada kehidupan di dalamnya.

“Nay?” panggil Luna lagi.

Nayla tersadar.

“Iya… ayo.”

Mereka masuk ke dalam.

Begitu melewati pintu, kehangatan langsung menyambut.

Berbeda sekali dengan dinginnya balkon tadi.

Bahkan… berbeda dengan rumahnya sendiri.

Di ruang makan kecil, sudah tersedia dua gelas susu hangat.

Aroma manisnya langsung menusuk indera penciuman Nayla.

“Mami buatin susu,” kata Luna riang.

“Iya dong,” sahut ibunya sambil tersenyum. “Nayla juga minum ya.”

Nayla mengangguk pelan.

“Terima kasih, tante.”

Wanita itu mengusap lembut kepala Nayla.

Sentuhan sederhana itu…

Membuat Nayla hampir menangis lagi.

Sudah lama… ia tidak merasakan sentuhan seperti ini dari seorang ibu.

“Ayo diminum, nanti masuk angin,” ujar wanita itu lagi.

Nayla duduk.

Tangannya memegang gelas hangat itu.

Perlahan… ia menyesapnya.

Hangat.

Manis.

Dan entah kenapa… menenangkan.

“Enak?” tanya Luna.

Nayla mengangguk.

“Iya.”

Luna tersenyum puas.

Melihat itu, Nayla jadi ikut tersenyum.

Untuk pertama kalinya hari ini… senyum itu terasa sedikit tulus.

Setelah beberapa saat, mereka kembali ke kamar Luna.

Kamar itu cukup luas, dengan dua tempat tidur.

“Nay, lo tidur di sini aja ya,” kata Luna.

“Lo?”

“Gue di sebelah. Tenang aja.”

Nayla mengangguk.

Ia duduk di pinggir ranjang, menatap kosong ke depan.

Luna memperhatikannya.

“Lo masih kepikiran ya?”

Nayla menghela napas panjang.

“Iya.”

“Endra?”

Nayla terdiam.

Beberapa detik kemudian, ia mengangguk pelan.

“Gue… kangen dia.”

Luna mengerucutkan bibirnya.

“Padahal dia nyakitin lo.”

“Iya… tapi gue tetep kangen.”

“Dasar bucin,” gumam Luna.

Nayla tersenyum tipis.

“Mungkin.”

Hening lagi.

“Lo mau balikan?” tanya Luna hati-hati.

Nayla menggeleng.

“Gue nggak tahu.”

“Masih cinta?”

Nayla menunduk.

“Iya.”

Jawaban jujur itu keluar begitu saja.

Tanpa bisa ditahan.

Luna mendesah pelan.

“Cinta tuh emang nyebelin ya.”

“Banget.”

Keduanya tertawa kecil.

Tapi lagi-lagi… tawa itu terasa getir.

Nayla kemudian berbaring.

Menatap langit-langit kamar.

Pikirannya kembali berkelana.

Ke Endra.

Ke papanya.

Ke mamanya.

Ke semua luka yang ia alami.

Dan satu hal yang paling menyakitkan…

Statusnya.

“Anak haram.”

Kata itu kembali terngiang.

Dadanya terasa sesak.

Air matanya kembali mengalir.

Pelan.

Diam-diam.

“Nay…”

Suara Luna terdengar pelan.

“Hm?”

“Lo nggak sendiri.”

Nayla menoleh.

Luna sudah berbaring di sebelah, menatapnya.

“Ada gue.”

Nayla menatapnya lama.

Dan untuk pertama kalinya malam itu…

Ia merasa… tidak benar-benar sendirian.

“Makasih, Lun,” bisiknya.

Luna tersenyum.

“Tidur ya.” Nayla mengangguk. Ia memejamkan matanya,namun seperti biasa tidur tidak langsung datang Pikirannya masih penuh.

Hingga akhirnya satu per satu kenangan muncul dan di antara semuanya wajah Endra tetap paling jelas.

“Nayla…” Seolah suara itu benar-benar memanggilnya.

Dan tanpa sadar air mata Nayla kembali jatuh. Malam itu di kamar sederhana milik Luna untuk pertama kalinya Nayla menangis tanpa harus menyembunyikan suaranya. Dan untuk pertama kalinya juga tangis itu tidak terasa sendirian.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!