Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Terjebak
Bab 19
"Kamu, yakin dengan cara ini?” tanya Jarwo mengundang kemarahan majikannya.
“Ck, punya asisten kok beg0. Kamu tinggal ikuti aja rencanaku. Kalau dengan cara pelan-pelan bikin Cahaya jatuh cinta, kelamaan,” pekik Adit.
“Tapi, mas. Saya ragu ini akan berhasil. Bagaimana kalau Pakde Wira malah murka? Cahaya bisa saja malah menuntut mas Adit.”
“Sudahlah, ikuti rencana ini. Kalau kamu masih berisik, nggak usah kerja denganku. Sana pulang dan bertani saja,” usir Adit.
Jarwo pun mengalah, ia ikut apa rencana Adit dan sekarang sudah bersiap di lokasi. Sejak tadi ia merasa cara ini tidak akan berhasil.
“Hah, kita lihat saja. Otak si Adit itu bisa diandalkan atau tidak.”
Sedangkan di rumah, Aya heran karena Adit begitu terburu-buru.
“Ini sudah malam, nggak usah kelamaan dandan."
“Ck, tapi nggak mungkin aku keluar dengan kondisi begini Mas.” Aya meninggalkan Adit, bukan untuk berganti pakaian. Ia membuka ponselnya mengirim live lokasi pada Edward. Mengambil sweater dan melapisi piyama yang dipakai. Men-silent ponsel dan memasukan ke dalam kantong sweater nya.
“Aku nggak tahu Mas Adit akan ajak kemana, kirim ke om Edward aja untuk jaga-jaga pulangnya. Nggak usah nunggu sampe beres, aku bakal kabur."
Dua puluh menit berkendara, merasa aneh dengan lokasi yang dituju mereka.
“Ini ….”
“Resto, kita bicara di dalam.”
Daerah yang baru saja ia datangi, tidak mengenal tempat itu. Kawasan di mana banyak tempat nongkrong, seperti café. Adit memasuki area hotel, memang ada banner nama restoran di sana.
“Nggak bisa ditempat lain aja, mas? Padahal bicara di rumah juga nggak masalah.”
“Patuh saja, ini demi kebaikan kamu dan mbakmu. Aku ingin kita santai, makan sambil bicara dari hati ke hati.”
“Ngobrol sama kamu, aku nggak perlu pakai hati. Sudah jelas, perjodohan kita tidak akan berhasil. Aku nggak cinta sama kamu, mas.”
Adit menghela nafas setelah memarkir mobilnya. “KAlau gitu anggap saja makan malam ini salam perpisahan. Aku mundur kalau setelah ini kamu serius tidak ingin meneruskan pernikahan kita, Cahaya.”
Resto tujuan mereka masih berada di lantai yang sama dengan lobby. Bahkan Adit sudah reservasi private room.
“Mas, aku nggak bisa lama. Mbak Andin sebentar lagi pulang, dia pasti marah aku tidak ada di rumah dan tidak izin.”
“Duduk Cahaya, nanti aku kabari mbakmu kalau kamu keluar denganku."
Tidak begitu minat, Aya menyebutkan makanan dan minuman dengan asal dari lembaran buku menu, bukan karena ingin menikmati makanan itu.
"Mas mau bicara apa?"
"Sabarlah, makanan kita belum sampai."
"Sekarang aja mas, aku nggak bisa lama."
"Sayang sekali, seharusnya kita bisa jadi pasangan serasi. Aku yakin rumah tangga kita akan bahagia, apa kamu tidak bisa pertimbangkan lagi hubungan kita? Aku sayang kamu, Cahaya." Adit menyentuh tangan Aya di atas meja, yang langsung ditarik ke atas pangkuan.
"Mas, cinta itu tidak bisa dipaksa."
Obrolan mereka terhenti karena pelayan membawakan minum serta makanan pembuka. Aya meraih gelas minumnya, menghadapi Adit membuat tenggorokannya mendadak kemarau.
Sempat mengernyitkan dahi karena rasa minumannya aneh, lemon tea ice tapi agak pahit.
***
"Aya," gumam Edward mendapati pesan yang masuk. "Lokasi!" Edward langsung menghubungi Aya, tidak paham dengan isi pesan itu. Namun, tidak dijawab. Saat ia mengklik tautan lokasi yang dikirim, titik keberadaan itu berjalan menjauh dari lokasi yang Edward tahu tempat tinggal Aya.
"Mau kemana dia."
"Aku belum hafal wilayah sini Om, jalanan di Jakarta bikin aku mumet."
Khawatir gadis itu tersesat, ia pun berinisiatif menyusul. Dengan setelan rumahan, training dan kaos meninggalkan rumah mengikuti jalur maps lokasi Aya.
Sudah meninggalkan kawasan perumahan tempat tinggalnya, Edward heran dengan lokasi Aya. Titiknya tidak bergerak lagi, sepertinya sudah tiba dan tempat itu ternyata ....
"Hotel."
Melaju kendaraannya dengan cepat, sempat menghubungi tapi lagi-lagi tidak dijawab. Kakak dan ipar Aya tidak ada di rumah, dengan siapa gadis itu pergi.
Berlagak akan makan malam sebagai tamu hotel, Edward mencari keberadaan Aya. Langkahnya tertuju ke area private room sesuai titik yang semakin dekat. Hanya berjarak beberapa meter.
Di depan sana, ia mengenali pria yang menghentikan troll makanan. Entah sedang mencampurkan apa pada hidangan.
"Jarwo? Adit, Aya pasti bersamanya."
Gegas melangkah. "Tunggu!" Edward berteriak menghentikan langkah pelayan yang mendorong troli.
"hei, pergi! Anda tidak ada urusan di sini." Jarwo mengusir Edward bahkan sambil mendorong.
"Kalau ternyata makanan ini mengandung obat, aku pastikan kamu mendekam dipenjara."
"Bapak ini bilang, hanya memberikan obat nafsu makan," ujar pelayan dengan terbata.
Edward mengambil alih troli, Jarwo menyerangnya tapi berhasil dibalas. Merasa terdesak dengan situasi dan rencana yang berantakan, Jarwo mengambil pisau steak di troli mengarahkan ke wajah Edward.
"Mundur!"
"Kau duluan yang menyerang, ini kriminal."
"Aku membela diri," seru Jarwo.
"Membela diri karena terdesak, minggir atau ...."
Sret
Jarwo meny4betkan pisau, Edward yang sigap kembali menghindar lalu menendang perut Jarwo membuatnya oleng. Tidak melewatkan kesempatan itu, ia dorong pintu dan ....
"Aya!"
😛😛
ini mana nih rombongan kk Darma...
kapan surat penangkapan nya datang
janji setelah ini kau masuk penjara yg bener itu 🤣🤣🤣