Viola Denada Danuarta, itulah namanya, seorang gadis berparas cantik memiliki darah keturunan Belanda. Ia adalah anak kedua dari keluarga Danuarta yang cukup berpengaruh.
Namun, memiliki ekonomi yang serba berkecukupan tak bisa membuat seorang Viola bahagia. Karena ujian nya ada di kisah asmara nya.
Di kali kelima dia menunggu sang kekasih, tepatnya didepan kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan, dia kembali di bohongi dan di hianati oleh sang tuanangngan.
Setelah dia memutuskan untuk melupakan segalanya tentang laki-laki itu dia malah mengalami kecelakaan hebat, pada akhirnya kecelakaan tersebut merenggut ingatan Viola selama tiga tahun terakhir, tak hanya itu dia juga di nyatakan lumpuh sementara.
****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab#19
Caffein
"Jadi apa yang ingin kau ceritakan padaku?" ucap Sekar tidak sabar sambil menunggu pesanan mereka sampai.
"Aku," Viola menghentikan kalimat nya.
"Aku apa Viola?" lanjut Sekar lagi.
"Sekar, aku akan menikah seminggu lagi," kata Viola dengan wajah sedih nya.
"Hah! Kau akan menikah!" ucap Sekar refleks, dia bahkan sampai berdiri dari duduknya.
"Astaga, pelan kan suara mu," kata Viola sambil menarik tangan Sekar agar dia kembali menduduki kursi nya.
Beberapa orang malah sudah melirik ke arah mereka.
"Tidak mungkin Viola, bagaimana kau bisa tiba-tiba mengatakan hal seperti ini kepada ku? Kau tidak mungkin sudah memulihkan ingatanmu dan ingin kembali menikah dengan Liam kan?" ucap Sekar khawatir.
"Tidak, aku sama sekali belum Ingat apapun, hanya saja, ini perjodohan yang di atur kakak dan juga papa ku, aku tidak bisa menolak nya karena aku sudah berjanji untuk patuh dengan mereka, lagipula mereka bilang perjodohan ini sudah terjadi saat aku masih dalam kandungan mama ku," jelas Viola sambil memegang tangan Sekar.
Sekar pun terdiam sejenak, dia tidak menyangka kalau pada akhirnya sahabat baik nya itu akan menikah dengan cara seperti ini, ya itu di jodohkan, ada rasa sedih karena Viola yang akan menikah dengan orang yang tidak dia cintai, namun ada juga rasa bahagia karena dengan begitu Viola tidak akan jatuh ke lubang hitam milik Liam lagi.
"Katakan sesuatu," melihat Sekar yang diam, Viola pun risih.
"Aku hampir tidak bisa berkata-kata, namun jika kau sudah menyetujui nya, aku akan selalu mendoakan mu agar kau bahagia, aku tidak ingin kau menikah dengan laki-laki seperti kakak sepupu ku, dan keluarga mu mungkin melakukan ini untuk kebahagiaan mu," ucap Sekar dengan bijaksana.
"Ya, begitu lah katanya," jawab Viola pelan.
"Tapi, bisakah aku tau siapa calon suami mu?" ucap Sekar lagi.
"Calon suamiku?" lirih Viola.
Sekarang mengangguk antusias mendengarkan ucapan Viola, dia seolah-olah tak sabar ingin tau.
"Seminggu lagi, datang ke gereja xx, kau akan tau siapa suamiku," kata Viola lagi.
"Astaga, kenapa harus merahasiakan nya kepada ku? Ini menyebalkan, tapi terima kasih sudah mengundang ku," kata Sekar dengan senyum yang mengembang.
"Pernikahan ini di lakukan secara sembunyi-sembunyi, tidak ada banyak orang yang akan datang, karena aku tidak melakukan resepsi," ucap Viola lagi.
"Maksud mu kau tidak melakukan resepsi? Hanya pemberkatan saja?" Lanjut Sekar.
"Ya, karena papa ku bilang setelah kaki ku sembuh total, baru akan mengadakan pesta, ini hal bagus karena aku juga ingin ingatanku sepenuhnya kembali, dan menyelesaikan masalahku dengan beberapa orang," ungkap Viola lagi.
"Aku mengerti, dan ini hal yang bagus," kata Sekar.
Sekar juga tidak ingin Liam tau tentang Viola yang akan menikah dengan orang lain, Sekar khawatir Liam yang setelah bulan terkahir seperti orang gila mencari keberadaan Viola.
SEMINGGU KEMUDIAN.
Terlihat sebuah ruangan yang tidak asing bagi orang-orang yang beragama Kristen, ya itu, sebuah gereja, tempat di mana mereka beribadah, di sini lah Zehan dan Viola akan melangsungkan pernikahan mereka, di mana seorang pemimpin ibadah di gereja tersebut sendiri lah yang akan memberkati mereka berdua.
Acara pun berlangsung dengan orang seadanya, di mana hanya ada keluarga Viola ya itu Pandu, papa Arman, Sekar yang datang bersama dengan Hans, papa Kusuma dan juga Zehan.
Viola duduk di kursi roda dengan gaun putih sederhana, sementara Zehan memakai jas putih yang cukup membuat nya terlihat seperti pangeran tampan dengan wajahnya itu.
"Kalian siap?" ucap pendeta tersebut yang akan menikahkan mereka.
"Viola menatap Zehan sekilas dan kemudian kembali menundukkan kepalanya.
Sementara itu, sedari tadi Zehan selalu melirik Viola secara diam-diam.
"Aku akan menikah dengan nya? Apakah ini bukan mimpi? Dan apakah yang sedang dia pikirkan sekarang?" batin Zehan.
Sementara itu Viola.
"Dia pasti melakukan ini karena paksaan dari papa nya, jika tidak, bagaimana mungkin seorang laki-laki tampan dan sombong seperti nya mau menikah dengan orang cacat seperti ku?" ucap Viola dalam hatinya.
Pemberkatan pun segera berlangsung dalam waktu tiga puluh menit.
Maaf, author tidak melakukan ini secara detail karena takut ada kesalahan dalam penulisan, jadi kita langsung sah aja ya.
Setelah mengucapkan janji suci di depan orang-orang yang hadir dan juga pendeta, Viola dan Zehan pun akhirnya resmi menjadi pasutri muda, (pasangan suami istri muda).
"Aku tidak menyangka dia akhirnya menikah dengan pewaris terkaya kota ini," ucap Sekar kepada Hans.
"Ini adalah hal terbaik untuk Viola, dan jangan sampai Liam mengetahui ini, dia akan gila," sambung Hans.
"Semoga dengan begitu Viola tidak berada dalam masalah lagi," batin Pandu sambil menatap nanar sang adik.
"Tidak menyangka sekarang aku sudah jadi seorang istri, benar-benar seperti kilatan petir," batin Viola sambil menahan gemuruh di hatinya.
"Zehan, saat ini kau sudah resmi menjadi seorang suami, jadilah suami yang baik," kata papa Kusuma.
"Sayang, kau sudah resmi menjadi seorang istri, setelah ini kau dan Zehan harus pergi ke kantor catatan sipil untuk mengurus akte pernikahan kalian," ucap papa Arman.
"Iya pa, aku tau," jawab Viola sambil menatap sang papa dengan mata berkaca-kaca.
"Selamat untuk pernikahan kalian," kata Pandu sambil menatap Viola, rasanya dia sendiri ingin menangis dan memeluk sang adik kesayangannya yang terpaksa harus menikah dengan laki-laki yang notabene nya adalah sahabat kakak nya sendiri.
Menurut author yang paling apes di sini ya si Pandu, karena sahabat nya malah jadi adik iparnya, sedangkan usia mereka sama.
"Terima kasih, kak," kata Zehan sambil mengedipkan mata ke arah Pandu.
"Diam kau aku tidak bicara dengan mu," kata Pandu yang rasanya seperti ingin menendang Zehan.
"Bisa-bisa nya dia seperti itu, tidak terlibat seperti seorang yang di paksa menikah," bisik Sekar ke telinga Viola.
Ya sedari tadi Sekar memegang kursi roda Viola.
"Biarkan," jawab Viola dengan suara kecil, seolah-olah dia tidak mempedulikan nya.
"Baiklah, semuanya sudah selesai, Zehan, jangan buang-buang waktu, sekarang bawa lah Viola ke mobil mu, pergi ke kantor catatan sipil, papa ingin kalian segera mendapatkan surat nikah," kata papa Kusuma tak ingin terlalu banyak basa-basi.
"Baik pa," jawab Zehan.
Mereka pun akhirnya bubar dari gereja tersebut, Hans dan Sekar pamit pulang, papa Arman, papa Kusuma dan Pandu memutuskan untuk menunggu Viola dan Zehan di mansion Danuarta, karena ada beberapa hal penting yang harus mereka bicarakan kepada pasangan baru itu.
Sementara itu ...
Di sepanjang perjalanan menuju kantor catatan sipil, mobil Zehan hanya ada kesunyian, baik Viola maupun Zehan, mereka sama sekali terlihat tidak punya niat untuk memecahkan keheningan tersebut.
"Aku sudah menjadi seorang istri? Apakah setelah menerima surat nikah dari kantor catatan sipil aku benar-benar akan jadi seorang istri?" Pikir Viola.
"Apa yang dia pikirkan?" batin Zehan yang sesekali melirik ke arah sang istri yang terlihat begitu cantik bahkan hanya dengan riasan tipis.
"Kenapa suamiku harus laki-laki sombong ini?" ucap Viola dalam hatinya untuk yang kesekian kali.
Beberapa waktu pun berlalu begitu cepat.
Setelah mendapatkan surat atau akta nikah dari kantor catatan sipil, Zehan dan Viola pun kembali mansion Danuarta, di mana orang tua mereka sudah menunggu.
"Nona muda, selamat ya, kini kau sudah jadi seorang istri," kata bi Sirah yang saat itu menunggu kepulangan Viola di depan pintu masuk mansion.
"Iya bi," jawab Viola tampa senyum di bibir nya.
"Kalau gitu masuk ya non, tuan dan yang lainnya sudah menunggu di ruang keluarga," ucap bi Sirah hendak mendorong kursi roda Viola.
"Tunggu bi, biar aku saja," ucap Zehan yang saat itu buru-buru mengambil alih.
"Ah, iya tuan muda, silahkan," kata bi Sirah sedikit canggung.
Tak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di ruang keluarga, di mana Zehan dan Viola sudah di tunggu oleh papa Arman, Pandu dan papa Kusuma.
"Kalian akhirnya kembali, di mana akta nikah itu?" ucap papa Kusuma tak sabar.
Tampa banyak bicara Zehan dan Viola mengeluarkan akta nikah mereka lalu meletakkan nya di meja tepat di depan kedua orang tua itu.
"Nah, mereka sudah mendapatkan nya, untuk Viola biarkan aku yang menyimpan," kata papa nya Viola segera mengambil surat nikah Viola.
"Untuk Zehan juga akan aku simpan," kata papa Kusuma melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan oleh papa Arman.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa malah kalian yang menyimpan nya?" ucap Pandu penasaran dengan tingkah laku dua orang tua tersebut.
"Itu karena dalam keluarga Danuarta dan keluarga Wijaya, tidak ada yang namanya perceraian setelah pernikahan, aku khawatir mereka berdua yang belum stabil ini melakukan tindakan bodoh saat menghadapi pertengkaran kecil dalam rumah tangga," jawab papa Kusuma.
"Tidak seperti itu juga pa," lirih Zehan.
"Sudah-sudah, jangan ada yang membantah, sekarang yang lebih penting masih belum di bahas," kata papa Arman lagi.
"Apa lagi pa? Sepertinya aku sangat lelah dan ingin istirahat," kata Viola merasa kesal.
"Nanti Viola, setelah ini kau bisa istirahat dengan baik," kata papa Arman sambil menatap wajah Viola.
Viola pun tak bisa berbuat apa-apa kecuali patuh.
"Karena kalian sudah menikah, papa dan papa mertua mu sepakat untuk membeli sebuah rumah mewah untuk kalian tinggal bersama," kata papa Arman memulai penjelasan nya.
"Apa? Rumah baru? Untuk tinggal bersama?" ucap Viola kaget.
"Iya, kalian sudah menikah dan kalian harus tinggal bersama di rumah baru," sambung papa Kusuma.
"Tidak, aku tidak mau, aku tidak mau pa, kak Pandu tolong jelaskan kepada papa," ucap Viola terlibat panik.
"Viola, maafkan kakak, tapi yang di ucapkan papa dan om Kusuma itu benar, jika kalian tinggal serumah, itu lebih mudah untuk kalian jadi lebih dekat satu sama lain," sambung Pandu.
Viola seketika terdiam, inilah hal yang paling di takuti oleh nya ketika pernikahan dua keluarga kaya terjadi, mereka akan otomatis di belikan rumah baru untuk di tinggali bersama.
Itu artinya Viola akan berpisah dengan papa dan kakak nya.
****
gimana dengan sekretaris nya yang galak itu ya🤔
siap siap gak bisa jalan besok nya Vio 😆😆😆😆
malah lari,bukannya hadapi istri🤦🏻♀️
lebih telak lagi kalau vio sadar dia malah tidak ingat kamu suaminya,malah ingat Liam kekasih nya🤣🤣🤣🤣kapok😏
tragis bener nasib mu Vio...
Bener2 bodoh plus ogeb pemikiran si Liam ini 🤣🤣🤣🤣
yang ada Viola bakalan koma atau meninggal...
Liam bakalan masuk bui ini karena kasus tabrakan yng di sengaja
kalau viola salah paham kamu bakalan dipisahkan sama Pandu.
udah tau gimana gila nya kk ipar mu itu.mending dibicarakan deh.bukannya suami istri itu harus saling komunikasi
Mereka lebih dari seorang Liam..
apalagi Zehan sekarang suaminya Vio.
siap2 Liam di hajar Zehan kalau coba menyakiti atau menculik istrinya
hadapi ulat bulu dengan elegan
istrimu sedang cemburu Zehan...
kesian Zehan sih udah suami istri malah udah cinta tapi gak bisa nyentuh Viola...