NovelToon NovelToon
Takluknya Boss Kecil Mafia

Takluknya Boss Kecil Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: NoorBee

Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Detak jantung

Keesokan paginya di lantai eksekutif gedung pencakar langit Mahesa Group, atmosfer kerja Aruna mendadak berubah tegang. Bukan karena laporan bulanan yang bermasalah, melainkan karena panggilan mendadak dari ruangan Direktur Pemasaran. Nareswari Mahesa, sang tiran pemasaran global sekaligus atasan langsung Aruna memanggilnya ke kubikel mewah yang menghadap langsung ke lanskap kota.

Namun, begitu pintu ditutup, aura formal itu menguap begitu saja. Nareswari duduk santai di balik meja kerja marmernya, menopang dagu sembari menatap Aruna dengan senyum meledek yang sangat lebar.

"Aruna Sophie Erros," panggil Nareswari, nadanya sengaja dibuat dramatis sebelum ia terkekeh pelan.

" Gw baru saja mendengar kabar paling menggemparkan dari Ethan semalam. Dan tebak apa? Ethan itu dapat ceritanya langsung dari Evan."

Wajah Aruna seketika memanas. Sifat perfeksionis dan analisis fotografisnya mendadak lumpuh total.

" Nares... itu..."

"Santai, Runa, jangan kaku begitu kalau lagi berdua," potong Nareswari sembari mengibaskan tangannya, memanggil Aruna dengan nama kecil akrabnya.

 "Jadi benar kah? Manajer pemasaran yang terkenal sedingin es dan judesnya setengah mati ini mendadak takluk dalam satu malam oleh Gavin Sterling? Berondong sembilan belas tahun yang tampannya ilegal itu?" goda Nares terkekeh

Aruna menunduk, meremas jemarinya dengan wajah yang sudah memerah padam hingga ke leher.

"Itu taktik darurat yah Nares. Situasinya... di luar kendali."

Nareswari tertawa lepas, sangat puas meledek adik sepupu tunangannya tersebut.

"Taktik darurat sampai dikasih karpet merah sama Om Fiki? Hebat lo, ya. Tapi sudahlah, gw gak akan ngegodain lo lebih jauh. "

" Yuk, Kita makan siang. Kakak kembarku, Narendra, meminta kita menghadiri undangan privat." tanpa banyak yanya, aruna berdiri dan pergi bersama nares.

***

Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan VIP bersama Nareswari, pasokan udara di paru-paru Aruna seketika tersedak. Pemandangan di depannya benar-benar gila.

Di satu sisi meja panjang maut itu, duduk Narendra Mahesa, sang CEO tertinggi Mahesa Group yang terkenal kaku, dingin, dan bertangan besi.

Di sebelahnya duduk Dominic Alexsie Sterling, sang penguasa dunia bawah Asia Tenggara yang auranya tidak kalah mengintimidasi.

Dua kutub raksasa yang kaku, dingin, dan mematikan sedang duduk berdampingan tanpa ekspresi.Sementara di kutub berseberangan, duduk Gavin Alexander Sterling yang sudah rapi mengenakan kemeja kasual, bersebelahan dengan Evan Erros yang tampak sibuk mengunyah camilan pembuka tanpa beban.

Di ujung meja, Ethan Erros duduk dengan setelan jas rapi, bertindak sebagai jembatan diplomatik di antara kedua kubu ekstrem tersebut.

"Nah! Ini dia dua Medusa kita sudah datang!" seru Evan lantang memecah keheningan, melambaikan tangannya dengan watak petakilannya yang tidak kenal takut mati.

Gavin langsung berdiri, dengan sangat jentelmen menarik kursi di sebelahnya untuk Aruna.

"Sini duduk, Kak Calon Istri. Jangan kaku begitu, muka Kak Dom emang udah bawaan pabrik kayak tugu monas, kok."

Uhuk!

Ethan Erros langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar celetukan berani mati dari Gavin di depan dua bos besar itu.

Dominic Sterling hanya melirik adiknya dengan netra dingin yang tajam, sementara Narendra Mahesa menyesap kopinya tanpa ekspresi, menciptakan aura mencekam yang sanggup membuat pelayan restoran gemetar ketakutan.

"Alex," panggil Dominic, suara baritonnya yang rendah bergema penuh otoritas mutlak.

 "Jika mulutmu tidak bisa diam, aku bisa menyuruh Max menjahitnya bersamaan dengan luka bahumu yang lepas "

"Waduh, kejam amat, Kak," sahut Gavin dengan senyum miring menyebalkan andalannya, sama sekali tidak gentar dengan ancaman sang kakak mafia.

Aruna yang duduk di antara mereka hanya bisa memejamkan mata dalam-dalam, menahan rasa malu yang membakar hingga ke ubun-ubun. Di satu sisi, ia harus menghadapi aura dominan dari CEO-nya Narendra sekaligis kaka masa kecilnya, bahkan dari mereka bayi, lalu ada Kaka sepupunya Ethan, dan calon kakak iparnya Dominic. Di sisi lain, ia disiksa oleh kelakuan petakilan tanpa urat malu dari pacar berondongnya Gavin dan abang sepupunya sendiri Evan.

****

Dua minggu lebih sudah ketenangan telah berlalu sejak jamuan makan siang yang menegangkan itu. Selama dua minggu ini pun, hubungan Aruna dengan Gavin berangsur-angsur semakin membaik. Keduanya selalu menyempatkan waktu di tengah kesibukan masing-masing untuk bertemu dan berkomunikasi dengan sangat baik. Bahkan di akhir pekan, mereka akan bermain ke rumah Fiki Erros.

Namun, sampai saat ini, Aruna masih belum mau diajak untuk bertemu dengan orang tua Gavin. Ia merasa mentalnya belum cukup kuat untuk melangkah masuk lebih jauh ke dalam dunia lain yang gelap itu.

Pagi ini, Aruna kembali mengenakan blazer dengan potongan tegas dan sepatu hak tingginya. Ia mencoba fokus pada rapat strategi pemasaran di lantai 24 gedung pencakar langit Mahesa Group. Namun, sejak Max membeberkan profesi asli Gavin, fokus Aruna tidak pernah bisa sepenuhnya kembali lurus pada tumpukan berkas kantor.

Setiap kali melihat ke luar jendela besar yang menampilkan pemandangan jalanan kota yang padat, detak jantung Aruna berpacu sedikit lebih cepat. Dan tepat pada pukul dua siang ini, kekhawatiran terbesarnya terbukti nyata.

Sebuah notifikasi bergetar panjang di jam tangan pintar khusus pemberian Dominic yang melingkar di pergelangan tangannya, disusul oleh layar ponsel pintar khusus di dalam laci meja kerjanya yang mendadak menyala merah pekat. Jalur terenkripsi itu menampilkan sebuah pesan teks singkat dari sistem proteksi rahasia keluarga Sterling.

Sistem Proteksi ST:

"Deteksi Ancaman Level Dua. Dua unit mobil SUV perak dengan pelat nomor palsu teridentifikasi stasioner di area parkir basement 2 dan lobi utama gedung kantor Anda sejak pukul 11.00 WIB. Visual target terkonfirmasi sisa-sisa kelompok Barat. Aset Aruna diinstruksikan untuk tetap berada di dalam ruangan kerja. Tim evakuasi sedang menuju posisi Anda."

Telapak tangan Aruna mendadak sedingin es. Ia buru-buru melangkah menuju dinding kaca ruang kerjanya, menatap ke arah area drop-off lobi di bawah sana.

Dari ketinggian lantai 24, ia samar-samar bisa melihat sebuah mobil SUV perak dengan kaca film super gelap terparkir di posisi yang tidak semestinya, seolah-olah sedang menunggu mangsa keluar dari gedung.Sisa-sisa kelompok Barat ternyata tidak sepenuhnya bersih setelah penyergapan berdarah Gavin di pelabuhan malam itu. Sadar bahwa mereka tidak bisa menyentuh Dominic atau Gavin yang dijaga ketat, mereka kini mengalihkan target pada titik lemah baru Gavin yang baru saja terendus, Aruna.

Di tengah kepanikan yang mulai merayap di dada, ponsel pribadi Aruna di atas meja berdenting nyaring. Sebuah panggilan video masuk dari Gavin. Aruna dengan cepat menggeser tombol hijau.Di layar ponsel, Gavin tidak lagi memakai kaus kasual golfnya. Ia sedang berada di dalam mobil yang melaju kencang, mengenakan kemeja hitam legam dengan rahang kaku yang menegang menahan amarah. Tatapan sepasang mata phoenix-nya berkilat mematikan, persis seperti sosok predator malam di pelabuhan.

"Kak Aruna, lo udah baca notifikasi dari ponsel pintar Kak Dom?" suara bariton Gavin terdengar sangat tegas, berwibawa, dan protektif, menghilangkan seluruh nada manja berondongnya.

"U-udah, Gavin. Mereka... mereka benar-benar di bawah?" suara Aruna sedikit bergetar. Egonya sebagai manajer tangguh Mahesa Group runtuh begitu saja di hadapan ancaman nyata dunia hitam.

"Jangan keluar dari ruangan Kakak. Jangan sentuh lift atau turun ke lobi," perintah Gavin tanpa menerima bantahan sedikit pun.

"Kelompok Barat sengaja mau memancing gue keluar lewat Kakak. Mereka salah besar."Gavin menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam emosinya yang membakar agar tidak membuat Aruna semakin ketakutan. Sebuah senyum miring yang sedingin es terukir di bibir tipisnya.

"Gue sama Max udah dua blok dari gedung Kakak. Ada Four dan Tim ST1 Kak Dom juga udah mengepung area basement. Gue bakal pastikan bajingan-bajingan di bawah itu nggak akan pernah bisa lihat matahari terbit besok pagi."

"Gavin, jangan nekat! Bahu kamu baru sembuh kemarin!" pekik Aruna cemas, melupakan keselamatannya sendiri demi memikirkan luka jahitan Gavin yang bisa saja robek kembali.

"Demi menjaga Kakak, jahitan lepas seratus kali pun gue nggak peduli, Kak," balas Gavin.

Tatapannya melembut sesaat menatap wajah panik Aruna di layar ponsel, sebelum kembali berubah menjadi sedingin predator saat mobilnya mulai memasuki area gedung Mahesa Group.

"Kunci pintu ruangan Kakak dari dalam. Dalam lima menit, badai di bawah selesai."

Klik. Sambungan video terputus sepihak.

Aruna buru-buru melangkah ke pintu ruang kerjanya, memutar gerendel kunci hingga berbunyi klik ganda, lalu bersandar di balik daun pintu yang dingin dengan napas memburu. Di luar sana, di bawah megahnya gedung tempat ia bertengger mencari nafkah, berondong berusia sembilan belas tahun yang ia tiduri karena ketidaksengajaan kini sedang memimpin pertempuran bawah tanah yang berdarah demi memastikan dunianya tetap aman berputar.

Bzzz... Bzzz...

Ponsel Pintar hitam terenkripsi pemberian Dominic di atas meja kerja Aruna kembali bergetar panjang. Aruna yang sedang bersandar kaku di balik pintu ruang kerjanya yang terkunci langsung terlonjak panik. Dengan langkah gemetar, ia menyambar gawai tersebut. Di layarnya, huruf "D" kembali menyala terang. Aruna menggeser tombol hijau, menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan napas memburu.

"T-Tuan Dom?"

"Duduklah dengan tenang, Aruna. Jangan menatap ke luar jendela," suara berat, bariton, dan dipenuhi otoritas dari Dominic langsung terdengar di seberang telepon. Suaranya begitu datar, stabil, dan dingin, seolah ia tidak sedang membahas penyergapan bersenjata yang sedang berlangsung di bawah gedung kantornya.

"Aku meneleponmu hanya untuk memastikan detak jantungmu tidak merusak fokus kerjamu."

"Bagaimana saya bisa tenang?!" cicit Aruna, air matanya mulai menggenang di pelupuk karena kombinasi rasa takut dan cemas yang luar biasa.

"Gavin di bawah... dia baru saja sembuh dari jahitan bahunya! Kelompok Barat ada di basement, Tuan Dom!"

Di seberang telepon, terdengar suara dentingan halus cangkir porselen yang diletakkan di atas meja marmer. Dominic tampaknya sedang menikmati kopi sorenya di kantor pribadinya dengan sangat santai.

"Alex tidak akan mati hanya karena luka goresan kemarin, Aruna. Darah Sterling tidak selemah itu," jawab Dominic dingin, namun jika Aruna jeli, ada secercah nada menenangkan yang terselubung di balik ketegasannya.

"Saat ini, Max dan adik bungsuku sudah memasuki zona mati di basement dua. Max memimpin dari sayap kanan, dan Alex... dia yang memegang kendali eksekusi. Kamu aman di lantai dua puluh empat. Anggap ini hanya simulasi untukmu, karena kejadian seperti ini pasti akan ada di depanmu kelak."

****

1
Jingga
Menarik, fresh, menghibur
Alam2719
Thor, sehari up tiga kali yah????
QueenBee: di usahkan tiga kali yah, pagi, siang sama malam🙏🙏
total 1 replies
Alam2719
gw juga kecewa kalau jadi papa fiki
Alam2719
Thor, ganteng amat si gavin!!
QueenBee: iyah aku juga merasa dia ganteng banget🤣
total 1 replies
Musafa87
Thor thor, visul yang lain dong, 🤣🤣🤣
QueenBee: hahahaha.... oke aku usahakan yah kaaaa 😍
total 2 replies
Musafa87
Gavin lo ganteng amat!!!! sesuai ekspektasi gw 😍😍😍😍😍
QueenBee: terimakasih kaaa
total 1 replies
HD1
aruna run 🤣
hayroco
berondong obses🤣
hayroco
berondong meresahkan
Anonymous333
ih seru thor!!!
Anonymous333
vin, tokcer amat lo 🤣
Jingga
sumpah, seru 🤣🤣🤣
Jingga
anjrit, hamil 🤣🤣🤣🤣
Jingga
cantik banget cewenya 😍
Bocil323
thor kapan up lagi, rame dong 🤣🤣🤣
Bocil323
ighhh ko gemes 😍😍😍
Bocil323
wkwkwkwkwkkw malah di restuin sama om fiki 🤣🤣🤣
Bocil323
please banget, mau satu berondong yang kaya gini!!!
Bocil323
evan rey, usil banget loh 🤣🤣🤣
Bocil323
aaaahhhhh!!! asli bagus banget, suka banget!!!!! karakter cowonya kuat, dan cewenya cantik banget!!! dom juga kepala mafia tapi secy banget kata gw mah!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!