NovelToon NovelToon
Perjodohan Yang Tak Terduga

Perjodohan Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami / Aliansi Pernikahan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Falco Kaiseradler

Bercerita tentang seorang pemuda yang bekerja di sebuah kantor dan dijodohkan oleh bos pemilik perusahaan dengan putri dari bos tersebut. Tapi.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Falco Kaiseradler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertikaian Anak-anak

Visha terbangun dengan sensasi remuk redam di sekujur tubuhnya, pinggang dan kakinya terasa begitu lemas hingga ia nyaris tidak bisa merasakannya akibat permainan liar yang mereka lakukan semalam. Meskipun rasa nyeri menjalar di setiap persendian, sebuah senyum puas penuh kenikmatan terukir manis di bibirnya.

Dengan sisa tenaga yang ada, Visha memeluk tubuh suaminya yang masih tertidur lelap dengan lebih erat, lalu membenamkan wajahnya ke dada bidang pria itu, menghirup aroma tubuh yang kini begitu ia cintai.

Sementara itu, di lantai bawah, Tasha, Misha, Masha, dan Sasha yang sudah rapi mengenakan seragam sekolah mereka tengah berkumpul di meja makan, menunggu kehadiran Fadli dan Visha untuk sarapan.

Namun, suasana pagi itu terasa berbeda; wajah mereka semua memerah padam, tatapan mereka linglung, dan mata mereka terlihat sayu seperti kurang tidur. Pikiran mereka seolah terjebak dalam lingkaran setan, terus-menerus memutar ulang suara desahan dan irama genjotan dari kamar Visha yang mereka intip semalam, serta bayang-bayang mimpi basah mereka sendiri yang terasa begitu nyata.

"Kalian kenapa? Kok mukanya pada tegang dan merah begitu?" Lamunan liar mereka seketika buyar saat suara Visha memecah keheningan.

Mereka serentak menoleh dan terbelalak melihat Visha yang sedang digendong ala tuan putri oleh Fadli menuruni tangga; anehnya, Visha tidak mengenakan seragam sekolah, melainkan hanya pakaian santai rumah.

"Loh? Mbak Visha kok masih belum ganti seragam? Memangnya tidak sekolah?" tanya Tasha dengan nada heran.

"Enggak, aku izin dulu enggak masuk hari ini. Kakiku sakit banget, lemas sampai enggak bisa jalan, hehe," Visha menjawab dengan wajah yang merona merah dan senyum canggung yang menyiratkan banyak hal.

"Ya gimana enggak sakit, orang kemarin malam aja mainnya buas dan keras banget kayak gitu," celetuk Sasha dengan polos namun menusuk.

"Kok kamu bisa tahu, Sasha?" tanya Visha dengan kening berkerut bingung, menatap adik bungsunya.

Seketika, wajah Tasha, Misha, Masha, dan Sasha langsung berubah menjadi semerah kepiting rebus karena tertangkap basah.

"Jadi kalian kemarin ngintip kami? Pantesan kami sempat dengar suara-suara aneh di luar pintu kemarin," kata Visha sambil menggelengkan kepala, ia sama sekali tidak marah, melainkan tertawa kecil melihat betapa malunya adik-adiknya itu.

Setelah mereka selesai menyantap sarapan dalam suasana yang canggung namun hangat, Fadli kemudian mengantar Tasha, Misha, Masha, dan Sasha ke sekolah, sementara Visha dibiarkan beristirahat di rumah. Usai memastikan keempat istrinya masuk gerbang sekolah, Fadli segera kembali ke rumah untuk merawat Visha karena ia masih dalam masa cuti kantor.

Sementara itu di sekolah, Erik yang merasa sangat bersalah karena telah membohongi Visha kemarin berniat untuk meminta maaf, tetapi hatinya mencelos saat Bu Indah mengatakan bahwa Visha izin tidak masuk sekolah hari ini karena sakit.

Suasana hati Erik seketika menjadi kacau balau dan gundah gulana. Saat teman-temannya bertanya apa yang terjadi, Erik menceritakan versi ceritanya sendiri seolah-olah Fadli adalah sosok kakak jahat yang memaksa Visha pulang dengan kasar saat mereka bertemu di mall kemarin.

Sepanjang hari, Erik mencoba mendekati Tasha, Misha, dan Masha untuk bertanya mengenai keadaan Visha, tetapi ketiga saudari itu selalu menghindar dan membuang muka setiap kali melihat Erik mendekat.

Hingga saat jam pulang sekolah tiba, Tasha, Misha, Masha, dan Sasha langsung berlari memeluk Fadli yang sudah berdiri menunggu di gerbang penjemputan. Rutinitas memeluk itu memang hal biasa bagi mereka. Namun kali ini, Visha yang sudah merasa sedikit lebih baik turut serta menjemput dan menunggu di dalam mobil.

Erik yang sedari tadi memang sudah menunggu momen ini, langsung berlari mendatangi mereka dan melabrak Fadli dengan penuh emosi.

"Mas! Mas apain Visha?! Kemarin Mas bikin Visha sampai nangis ketakutan gitu, dan sekarang Visha malah enggak masuk sekolah! Apa yang Mas lakukan pada Visha?!" Erik langsung memberondong Fadli dengan tuduhan keras yang membuat murid-murid lain dan orang tua di sekitar gerbang menoleh kaget.

"Mas itu terlalu overprotective! Posesif! Harusnya Mas biarin lah Visha jalan sama temen-temennya! Bukannya malah dikurung di rumah kaya sekarang! Kakak macam apa Mas ini?!" Erik terus menerus memaki Fadli dengan nada tinggi tanpa tahu kebenarannya, dan ia bahkan tidak menyadari keberadaan Visha di dalam mobil.

"Jaga mulutmu, Erik! Mas Fadli enggak pernah ngurung aku atau ngelarang aku! Aku beneran sakit!" Visha yang murka mendengar suaminya dimaki-maki langsung memaksakan diri keluar dari mobil dengan bantuan Misha dan Masha karena kakinya masih gemetar.

"Visha? Kamu baik-baik saja kan? Kamu kenapa? Sakit apa? Apa yang dilakuin kakak kamu ini ke kamu?" Erik yang melihat kondisi Visha yang lemah langsung panik dan mencoba mendekat sambil menatap tajam ke arah Fadli.

"Jangan deket-deket! Jangan pernah berani ngajak aku bicara lagi!" sentak Visha dengan tatapan mata yang sangat dingin dan tajam.

"Kenapa, Vi? Kamu takut kakak kamu nyakitin kamu lagi? Dia marahin kamu kalau kamu deket sama aku? Gausah takut, kami semua bakalan melindungi kamu dari orang gila itu," Erik menunjuk wajah Fadli dengan penuh kebencian.

Visha yang sudah terlalu lelah dan muak berurusan dengan drama Erik langsung menghela napas panjang, lalu tanpa ragu ia menarik kerah baju Fadli dan mencium bibir suaminya itu dengan mesra tepat di depan mata Erik dan semua orang yang ada di depan gerbang sekolah.

"Mas Fadli bukan kakak kami, tapi dia SUAMI SAH kami! Jadi jangan pernah deketin aku lagi!" Visha mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memamerkan cincin kawin yang berkilau di jari manisnya. Tasha, Misha, Masha, dan Sasha pun serentak menunjukkan cincin serupa di jari mereka.

Erik mematung, matanya terbelalak nyaris keluar saat melihat Visha mencium Fadli, namun egonya menolak untuk menerima kenyataan itu.

"Keparat! Kau ternyata pedofil ya?! Berani-beraninya kau mencuci otak dan memaksa Visha serta adik-adiknya untuk menikah! Kau sakit jiwa!" Erik semakin menjadi-jadi menghina Fadli, mengabaikan fakta yang baru saja diucapkan oleh Visha.

"Lepasin mereka sekarang juga, bajingan!" Erik mengepalkan tangannya dan mencoba menerjang untuk memukul Fadli.

"PLAKKKKK!!!"

Namun, sebelum tinju itu mendarat, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Erik. Tasha, yang sedari tadi diam, bergerak secepat kilat dan menampar kakak kelasnya itu dengan sekuat tenaga. Dia tidak peduli status senioritas Erik; baginya, tidak ada yang boleh menghina suami tercintanya.

"Tutup mulut busukmu, Erik! Kami tidak menikah karena terpaksa! Kami sendiri yang memilih dan memohon untuk menikahi Mas Fadli! Kami semua yang jatuh cinta kepada dia terlebih dahulu, paham?!" bentak Tasha dengan napas memburu, air mata amarah menggenang di pelupuk matanya.

"Jadi, jangan pernah sekali-kali kau menghina suami kami yang sangat kami sayangi dan hormati seperti itu!" lanjutnya dengan suara yang menggelegar.

Visha, Misha, Masha, dan Sasha sempat terkejut bukan main saat mereka melihat sisi lain Tasha. Mereka memang juga marah, tapi Tasha biasanya adalah sosok yang paling tenang dan sabar. Melihat Tasha sampai menampar seseorang demi membela Fadli membuat mereka sangat terkesan sekaligus bangga, namun mereka segera memegangi Tasha agar tidak menyerang lagi.

Sementara itu, Fadli sendiri sebenarnya tidak terlalu memasukkan hati perkataan dan hinaan Erik. Di matanya, Erik hanyalah bocah ingusan yang sedang tantrum karena patah hati. Ia menanggapi ledakan emosi itu dengan ketenangan seorang pria dewasa.

"Tasha, sudah, sabar. Tenangkan dirimu. Kita pulang saja yuk," Fadli mengusap punggung Tasha dengan lembut, mencoba meredakan emosi istrinya dan mengajak mereka masuk mobil agar tidak menjadi tontonan lebih lama lagi.

Tasha, Misha, Masha, dan Sasha menurut dan langsung masuk ke dalam mobil. Namun, Visha menggunakan kesempatan terakhir itu untuk melayangkan serangan penghabisan kepada Erik yang masih memegang pipinya yang merah akibat tamparan dari Tasha.

"Oh iya Erik, kamu memang benar akan satu hal. Aku memang sakit hari ini karena perbuatan Mas Fadli," ucap Visha dengan nada yang tiba-tiba melunak, membuat Erik mengangkat wajahnya penuh harap.

Tapi sedetik kemudian, Visha menghancurkan harapan itu hingga menjadi debu.

"Aku sakit dan lemas karena Mas Fadli menggenjot aku dengan sangat keras, sangat liar, dan penuh gairah sepanjang malam. Dan asal kamu tahu, rasanya sangat, sangat nikmat," Visha sengaja memasang ekspresi penuh kenikmatan dan mendesah pelan saat mengingat kejadian semalam, menatap mata Erik lekat-lekat.

"Hatiku, tubuhku, pikiranku, dan jiwaku semuanya sudah menjadi milik Mas Fadli seutuhnya. Jadi tolong, jauhi aku dan enyah dari hidupku, Erik," setelah melontarkan kalimat pamungkas itu, Visha seolah bisa mendengar suara hati Erik yang hancur berkeping-keping, lalu ia berbalik dan masuk ke dalam mobil dengan anggun.

Fadli, yang melihat wajah Erik yang pucat pasi dan kosong, sejujurnya merasa sedikit kasihan dan simpati. Sebelum menyusul istri-istrinya, ia menepuk pundak Erik pelan dan berbicara dengan nada sopan namun tegas.

"Maafkan aku, Anak Muda. Carilah wanita lain," ucapnya singkat. Setelah itu, Fadli langsung masuk ke kursi kemudi dan membawa kelima istrinya pulang, meninggalkan Erik yang terpaku sendirian dalam kehancuran di gerbang sekolah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!