Laura Scarlett adalah seorang gadis yang tidak diinginkan oleh keluarganya, sehingga mereka membuangnya begitu saja sejak kecil, Laura scarlett tumbuh menjadi seorang gadis cantik ceria dan lembut dia di asuh oleh suami istri Johanson yang berasal dari estonia meskipun dia berasal dari British Utara yang kental.
Suatu hari ayahnya di serang sekelompok perompak, ketakutannya semakin nyata dan dia begitu benci dengan perompak, tetapi sayangnya nasib mempertemukannya dengan seorang perompak bernama Sean Nicholas Hoult bermata safir yang terang, seorang perompak yang membuat hatinya dan tubuhnya hanyut dalam gairah dan kesengsaraan.
Kisah perjalanan hidup dan cinta laura Scarlett bersama dengan pria yang membuat hidupnya sengsara tetapi juga mencintainya
Whisper of the Sea 2
Leona Lewstin adalah seorang gadis yang hidup di sebuah pulau hilang atau di sebut pulau berhantu oleh para bajak laut. Suatu ketika dia melihat seorang pria yang tidak sadarkan diri berada di bibir pantai, dia lantas menolong pria bernama Edmund Alexander, yang tidak sadarkan diri setelah ombak menggulungnya, apakah menolongnya adalah pilihan yang tepat bagi Leona?
Bijak dalam membaca, Warning !!! bukan bacaan untuk di bawah umur ya!!!
~Vote Coment and like di tunggu ya tmn2 readers, so author lebih semangat nulisnya☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayzani01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vol 19
~Laura Scarlett Johansson
Sudah dua hari ini aku termenung, dan mendiami Sean wajah bingungnya terpampang jelas di wajahnya, ketika dia bertanya padaku aku hanya diam, aku hanya memandangnya dan tidak menjawabnya sama sekali, meskipun begitu kulihat dia begitu sibuk, pagi-pagi sekali dia sudah pergi dan kembali ke kapal ketika sudah sangat larut.
Hari ini aku begitu malas untuk berjalan-jalan, aku hanya duduk di anjungan kapal melihat mereka semua yang sibuk mengangkut barang.
Mataku kemudian terbelalak menatap peti yang tidak terlalu besar, rembo yang kurang hati-hati menjatuhkan peti itu dan menumpahkan semua isinya, dan Kilauan yang begitu indah, perhiasan mahal bernilai tinggi terhampar di lantai kapal.
"Kau begitu ceroboh, ck ck kau tidak bisa mengangkut peti kecil itu?" Teriak Al dari belakangnya. Rembo tertawa canggung sambil menatapku dan menunduk sopan, dia mulai memungut semua perhiasan itu dan akhirnya pergi.
Sesuatu yang berkilau membuatku melihat dari bawah kakiku dan menemukan gelang indah terbuat dari emas, aku segera mengambilnya dan menyembunyikanya dari balik bajuku. Aku melirik kekiri dan ke kanan tidak ada seorangpun di sana.
Siang itu aku duduk kembali di anjungan dengan makanan yang tertata rapi, aku mulai mengiris makananku dan seseorang duduk dihadapanku. Sean menyilangkan tangannya menatapku penuh dengan tanda tanya.
Wangi yang menguar dari tubuhnya begitu berbeda seperti biasanya, seperti wangi seorang wanita yang menempel di tubuhnya.
"Ini untukmu." Dia meletakkan sebotol parfum dengan botol unik di depanku dan menunggu reaksiku. Aku mengambilnya dan menatapnya, "Apa ini?" tanyaku.
"Sebotol parfum untukmu." Aku mengendusnya dan sama sekali tidak menyukai baunya.
"Kau suka?" tanyanya. Aku hanya mengangguk tanpa menunjukkan reaksi apapun.
"Ada apa Laura? kau sakit?" tanyanya lagi sambil memegang keningku.
"Aku sedikit demam." Gumamku pelan, dia lalu berdiri menghampiriku dan memegang keningku.
"Tubuhmu hangat." Gumamnya pelan, dia terus mengamatiku meskipun begitu aku mencoba tidak terlihat mencurigakan. Suara langkah kaki mendekati kami aku berbalik dan melihat wanita yang kemarin berjalan, wangi parfumnya terbawa angin langsung menabrak hidungku, wanginya persis sama dengan bau dari tubuh Sean.
"Aku tidak tahu jika kau memiliki seseorang yang istimewa Sean?" dia tersenyum mengejek melihatku. Aku hanya menatapnya dengan tenang.
"Apa yang kau lakukan di sini Emy?" bentaknya.
"Aku berpikir, apa yang membuatmu pergi dariku begitu cepatnya, kau memiliki seseorang yang menghangatkanmu setiap malamnya selama di kapal, dan kau melarangku ikut denganmu." kata wanita itu tajam.
"Ugh sepertinya kapten dalam masalah." Gumam rembo menatap mereka dari kejauhan.
"Sudahlah Emy, apa yang kau inginkan." kata Sean bertanya padanya tapi matanya masih terpaku padaku, aku tidak memandang mereka berdua, hanya menatap lautan aku muak mendengar kisah cinta Sean dan wanita itu.
"Aku ingin berbicara denganmu Sean." gumam wanita itu manja. Sean bersedekap.
"Kau ingin membicarakan apa?" tanya Sean.
"Tidak di sini, aku ingin berbicara di bilik itu."
Emy melihat bilik Laura dan memilih untuk berbicara di sana.
"Kumohon Sean, Hem?" matanya menatap Sean mengiba.
"Baiklah, tapi sebaiknya kau cepat Emy, aku banyak kerjaan." Sean melirikku seperti berharap aku mengatakan sesuatu padanya. Mereka masuk kedalam bilik tempatku, aku mencoba menahan genangan air mataku, aku tidak ingin lagi berada di sini, Sean lebih memilih wanita itu karena dia tunangannya.
Beberapa menit kemudian mereka berdua Keluar, aku mencoba tidak memikirkan jika mereka berada di bilik itu bercinta kilat saling memuaskan. Mata wanita itu tajam menatapku, "Ikut denganku, Sean ingin aku mengajakmu mengelilingi kota ini dan mengganti pakaianmu", Dia mendengus melihat pakaian yang kukenakan, dress ini merupakan pemberian lori kepadaku.
Aku berdiri dan mengikutinya tanpa berbicara sedikitpun. Sean mengamatiku dari kejauhan, aku turun dari kapal dan menghindari tatapan Sean yang menatapku.
"Emy akan membawamu berbelanja Laura, kau harus mengikutinya dan jangan sampai kau tersesat." Dia mencekal tanganku, tanpa perlawanan aku hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun.
Dia melepaskan lenganku dan wanita itu mengecup bibir Sean dihadapanku.
"Kami pergi sean." Sepertinya Sean terkejut dia lalu memperhatikan reaksiku, tetapi aku tidak menatap mereka. Dan terus melangkah menjauhi mereka berdua.
"Sebentar, aku ingin berbicara dengan Laura, Emy." Wanita itu mengedikkan bahunya. Sean Manarik tanganku, membawaku ketempat yang sedikit privat.
"Kau baik-baik saja Laura? tanyanya. Laura mundur sedikit.
"ya, aku baik-baik saja." Suara laura sangat tenang, tidak ada emosi sedikitpun.
"em..Kau tidak marah kepadaku?" Laura tersenyum tipis.
"Tidak, aku harus pergi." Sebelum Laura pergi Sean menarik tubuhnya dan menciumnya lembut. Laura tidak membalas ciuman sean dan hanya menatapnya. Wajah Sean terlihat terkejut, mata safirnya bergoyang memperhatikan wajahku yang datar.
Aku pergi dan berbalik sebentar menatapnya dari kejauhan. Selamat tinggal Sean, kita tidak akan bertemu lagi.
Suasana yang begitu ramai, hiruk-pikuk orang-orang di tengah kota Cambridges yang begitu sibuk, aku mengikutinya melewati beberapa toko, aku melihatnya tersenyum miring, wanita bernama Emy mengajakku ke sebuah butik, dia membeli beberapa potong pakaian tanpa sedikitpun berbicara padaku, setelah pakaiannya di bungkus dia lalu memberikannya padaku.
"Ini untukmu." Dia menyilangkan kedua tangannya lalu menatapku.
"Kau tentu sangat menikmatinya bukan? menjadi penghangat Sean jika dibutuhkan, aku tidak keberatan karena pada akhirnya dia akan bersamaku." Dia menaikkan bibirnya angkuh menatap Laura dengan pandangan merendahkan.
Laura mengangkat bahunya, tanda tidak perduli dia berjalan mendekati Emy, dan mendorong keras bungkusan yang diberikan kepadanya.
"Angkat barangmu sendiri miss tidak tahu malu ! Jangan berlagak di depanku karena aku tidak mengenalmu!" bentak Laura kepada Emy.
Matanya membulat, wajahnya berubah menjadi sebuah seringai. "Ap..apa yang baru saja kau katakan?" Dia memegang kedua pinggangnya.
Laura berbalik, dia tersenyum sinis, "berhenti berlagak sok, wanita jalang sepertimu sudah banyak kulihat di desaku."
Tanpa menunggu kemarahanya yang sebentar lagi meledak, Laura keluar dari toko itu meninggalkannya. Entah kemana dia akan pergi, dia hanya ingin pergi sejauh-jauhnya dari hadapan Sean.
~
Laura berada di sebuah penginapan, meskipun penginapan itu kecil tetapi setidaknya dia berada jauh dari sean, dia berjalan cukup jauh hingga meninggalkan batas kota Cambridges. Dia duduk di tepi tempat tidur yang kecil menatap seluruh kamar yang berbau apek.
Suasananya begitu sepi, hanya segelintir orang yang menginap di penginapan itu. Aku mengintip dari balik jendela yang berdebu menatap orang-orang yang berlalu lalang, tiba-tiba aku menundukkan kepalaku ketika aku melihat Sean dan beberapa awak kapalnya sedang berjalan di depan tempatku menginap, aku begitu terkejut, tiba-tiba saja air mataku mengalir, aku akan memastikan kau tidak akan bisa menemukanku sean.
GK suka juga sosok Sean klo kasar dng Laura ..dan gak suka dng kelakuannya yg setiap saat memakan Laura..hanya nafsu yg dikedepankan,apakah Krn dia laki2 pelaut Krn kalau pelaut rata2 wataknya kasar dan libidonya kuat harus ada pelepasan setia waktu
padahal cintanya buat Sean
seharusnya dia meronta jng terlena hampir sja si mut2 melancarkan rudalnya.
alah Laura kurang percaya pada cinta sendiri..sdh ditidurin Sean berkali2 masih sja mau dibuai si mut2..
seharusnya pastikan dulu klo Sean benar2. TDK mencintainya juga baru cari cinta yg lain.