NovelToon NovelToon
PEMURNIAN MUTLAK

PEMURNIAN MUTLAK

Status: tamat
Genre:Fantasi / Anak Genius / Action / Tamat
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Takindomaru

Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Jalan Keluar dan Bayangan Kota

Terowongan bawah tanah itu sempit, lembap, dan berbau tanah purba. Dinding-dindingnya terbuat dari batu alam yang dipahat kasar, dengan akar-akar pohon raksasa menembus masuk dari atas, menciptakan jaring-jaring alami yang menghalangi sebagian jalan.

Lin Fan berjalan di depan, memegang obor kecil yang ia buat dari kain berminyak. Di belakangnya, Xue Ying mengikuti dengan langkah gontai. Wajahnya masih pucat, tapi genggamannya pada gulungan jade Seni Cambuk Naga Es sangat erat, seolah-olah itu adalah tali penyelamat hidupnya.

"Berapa lama lagi?" tanya Xue Ying, suaranya bergema pelan di terowongan sempit.

"Peta menunjukkan sekitar dua kilometer," jawab Lin Fan tanpa menoleh. Matanya waspada terhadap setiap suara aneh. "Keluarannya ada di lereng utara pegunungan, jauh dari posisi Sekte Langit Merah."

Mereka berjalan dalam hening selama setengah jam. Hanya suara langkah kaki dan napas mereka yang terdengar. Ketegangan setelah lolos dari maut perlahan mereda, digantikan oleh kelelahan yang mendalam.

Tiba-tiba, Lin Fan berhenti. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat diam.

"Apa itu?" bisik Xue Ying.

Dari kejauhan, terdengar suara gemericik air. Bukan air sungai biasa, tapi aliran deras yang jatuh dari ketinggian. Angin dingin berhembus dari arah sana, membawa serta udara segar yang menusuk paru-paru.

"Kita hampir sampai," kata Lin Fan, mempercepat langkahnya.

Mereka berbelok di tikungan terakhir, dan pemandangan di hadapan mereka membuat mereka ternganga.

Terowongan itu bermuara di sebuah gua besar dengan langit-langit terbuka. Di tengah gua, terdapat kolam air jernih yang bersumber dari air terjun kecil yang mengalir dari celah tebing di atas. Cahaya bulan menerobos masuk melalui lubang di atap gua, memantulkan kilauan perak di permukaan air.

Ini adalah tempat yang indah dan tenang, kontras tajam dengan kekacauan dan kekerasan yang baru saja mereka alami.

Lin Fan menghela napas lega. Mereka selamat. Untuk saat ini.

Ia meletakkan tasnya di tepi kolam dan duduk, mengeluarkan botol air minum. Ia melemparkannya ke Xue Ying.

"Minumlah. Kita perlu memulihkan tenaga sebelum bergerak lagi."

Xue Ying menangkap botol itu, meminumnya dengan rakus, lalu duduk di samping Lin Fan. Dia menatap air kolam yang tenang, wajahnya tampak melamun.

"Lin Fan," katanya tiba-tiba. "Apa rencana selanjutnya?"

Lin Fan menatap api obor yang mulai mengecil. Pertanyaan itu sudah lama berputar di kepalanya.

"Kota Qingyun masih terlalu berbahaya," kata Lin Fan pelan. "Elder Mo tahu aku memiliki Manik Giok. Sekte Langit Merah sekarang juga memburuku. Jika aku kembali ke kota sekarang, aku akan menjadi target empuk bagi semua pihak."

"Lalu kita lari?" tanya Xue Ying, nada suaranya sedikit kecewa. "Selamanya?"

"Tidak," potong Lin Firm tegas. Matanya menyala dengan tekad dingin. "Kita tidak lari. Kita berlatih. Aku butuh waktu untuk menguasai Sutra Hati Es Murni dan memadatkan Level 7-ku ke puncak. Kau butuh waktu untuk mempelajari Seni Cambuk Naga Es dan menyembuhkan lukamu."

Dia menunjuk ke peta yang terbentang di lututnya.

"Peta ini menunjukkan bahwa di sebelah utara pegunungan ini, terdapat sebuah kota perdagangan kecil bernama Kota Perak (Silver City). Kota itu netral, dijaga oleh Guild Merchant Independen yang kuat. Tidak ada klan besar yang berkuasa di sana. Itu tempat yang sempurna untuk bersembunyi sementara, mendapatkan informasi, dan mengumpulkan sumber daya."

Xue Ying mengangguk perlahan. "Kota Perak... Aku pernah mendengarnya. Tempat para pemburu hadiah dan pedagang keliling berkumpul. Tapi itu juga sarang kriminal."

"Lebih baik berada di sarang kriminal daripada di kandang singa," jawab Lin Fan. "Di sana, kekuatan adalah hukum. Dan kita akan membangun kekuatan kita."

Dia berdiri, memadamkan obornya.

"Kita akan istirahat di sini selama dua hari. Gunakan waktu itu untuk bermeditasi. Baca gulungan jademu. Pahami dasarnya. Setelah itu, kita berangkat ke Kota Perak."

Xue Ying menatap Lin Fan. Ada rasa hormat baru di matanya. Pria muda ini bukan lagi sekadar korban yang beruntung. Dia adalah pemimpin yang memiliki visi.

"Baik," kata Xue Ying. Dia menutup matanya, mulai memasuki keadaan meditasi, mencoba merasakan aliran Qi baru dari gulungan jade di tangannya.

Lin Fan juga duduk bersila. Ia mengambil Manik Giok dari Dantian-nya secara mental, membiarkannya berputar di hadapannya dalam dunia batin.

Sutra Hati Es Murni.

Teknik ini berbeda dari Sutra Nafas Embun Beku. Jika sebelumnya ia hanya menggunakan es sebagai alat serangan dan pertahanan, teknik ini mengajarkan cara menjadi es. Menjadi kosong, dingin, dan murni. Menghilangkan segala kotoran emosi dan pikiran yang mengganggu aliran Qi.

Lin Fan menarik napas dalam-dalam. Udara dingin gua masuk ke paru-parunya, disaring oleh Manik Giok, dan diubah menjadi energi Yin murni yang mengalir ke seluruh tubuhnya.

Rasa sakit dari luka-lukanya berkurang. Pikirannya menjadi jernih seperti kaca.

Untuk pertama kalinya sejak kabur dari Kota Qingyun, Lin Fan merasa damai.

Tapi kedamaian itu tidak berlangsung lama.

Di kejauhan, di luar gua, terdengar suara sayap burung elang yang khas. Bukan elang biasa. Itu adalah Elang Mata-Mata, hewan peliharaan khusus yang digunakan oleh pengintai tingkat tinggi.

Lin Fan membuka matanya, kewaspadaannya kembali penuh.

"Mereka menemukan jejak kita lebih cepat dari perkiraan," gumamnya.

Siapa yang mengirim elang itu? Sekte Langit Merah? Atau mungkin Elder Mo telah memperkirakan jalur kabur mereka?

Lin Fan tidak panik. Dia tersenyum tipis.

"Biarkan mereka mencari," bisiknya. "Saat mereka tiba di sini, kita akan sudah menjadi orang yang berbeda."

Ia bangkit, membantu Xue Ying berdiri.

"Kita pindah ke bagian dalam gua yang lebih gelap. Sekarang."

Mereka menghilang ke dalam kegelapan gua, meninggalkan jejak panas tubuh mereka yang perlahan mendingin, tersamar oleh suhu dingin alam sekitar.

Permainan kucing dan tikus belum berakhir. Tapi kali ini, tikus tersebut telah tumbuh gigi taring.

Dua hari kemudian.

Lin Fan dan Xue Ying keluar dari sisi lain pegunungan, mengenakan jubah lusuh yang mereka temukan di gudang tua dekat mulut terowongan. Wajah mereka ditutupi topeng kayu sederhana yang mereka ukir sendiri.

Di hadapan mereka, terbentang lembah luas yang dihiasi oleh bangunan-bangunan kayu dan batu yang padat. Kota Perak.

Suara keramaian, deru roda kereta, dan teriakan pedagang terdengar jelas bahkan dari jarak jauh. Bendera-bendera berbagai guild berkibar di angin. Ini adalah kota yang hidup, kacau, dan penuh peluang.

Lin Fan menyesuaikan topengnya.

"Ingat aturan pertama," katanya pada Xue Ying. "Jangan tunjukkan identitas asli. Jangan pamerkan kekuatan. Dan jangan percaya pada siapa pun kecuali satu sama lain."

Xue Ying mengangguk, tangan kanannya secara refleks menyentuh gagang cambuk yang tersembunyi di balik jubahnya.

"Mari kita masuk," kata Lin Fan.

Mereka melangkah menuju gerbang Kota Perak, di mana dua penjaga bertubuh kekar sedang memeriksa setiap orang yang masuk.

"Nama?" tanya penjaga pertama, suaranya datar.

Lin Fan berpikir sejenak. Nama 'Lin Fan' sudah terlalu terkenal sebagai buronan. Dia butuh nama baru. Nama yang mencerminkan sifat barunya.

"Nama saya Han Bing," kata Lin Fan. Han berarti dingin, Bing berarti es.

"Dan dia?" tanya penjaga, menunjuk Xue Ying.

Xue Ying menelan ludah. "Saya... Luo Shuang. Shuang berarti embun beku."

Penjaga itu mengangguk, tidak tertarik pada makna nama-nama itu. Dia melemparkan dua koin tembaga murah kepada mereka.

"Selamat datang di Kota Perak. Jangan buat masalah, atau kalian akan diusir. Atau dibunuh."

Lin Fan menangkap koin-koin itu. Senyuman tipis terbentuk di balik topengnya.

"Diterima," katanya.

Mereka melangkah melewati gerbang, memasuki kerumunan orang asing. Kota Perak menyambut mereka dengan kebisingan, bau rempah-rempah, dan janji bahaya yang tak terlihat.

Babak baru dalam perjalanan kultivasi mereka telah dimulai.

1
Aman Wijaya
mantab Lin Fan lanjutkan perjalananmu
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor
Aman Wijaya
lanjut terus Thor semangat semangat semangat
Aman Wijaya
lanjut terus Thor 🔥🔥🔥🔥
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor 💪💪💪
Aman Wijaya
mantull . ditunggu updatenya Thor 💪💪💪
Aman Wijaya
akhirnya punya sekutu bahkan jadi pendamping nantinya
Aman Wijaya
jooooz Lin Fan lanjutkan aksimu
Aman Wijaya
gaaas njeduk terus Thor
Aman Wijaya
markotop top top lanjut
Aman Wijaya
gaaas terus Thor
Aman Wijaya
gaaas njeduk terus Thor
Aman Wijaya
rencana yang menarik Lin Fan
Aman Wijaya
gaaas terus Thor lanjut
Aman Wijaya
semangat Lin Fang
Aman Wijaya
top top markotop lanjut
Jade Meamoure
koq manik giok bisa ketahuan sama elser Mo ya
Bakpau
Kerenn☺️
Bakpau
menurut aku bagus😍
Jojo Shua
🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!