Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.
Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.
SALAM DARI AUTHOR 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 13 : DI BAWAH REMBULAN DAN SENYUM SANG REKTOR
Malam semakin larut merayap memeluk kota Jakarta. Jarum jam tangan milik Kalea Azzahra Putri sudah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit malam. Suasana jalanan protokol yang biasanya padat merayap kini mulai tampak lengang, menyisakan deru angin malam yang berembus menusuk hingga ke tulang.
Kalea menarik tuas gas sepeda motor Honda Scoopy merah marunnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Tubuhnya rasanya sudah sangat remuk dan kelelahan setelah seharian penuh menghadapi drama perselingkuhan menjijikkan antara Fandi dan Shinta di lobi hotel, belum lagi tumpukan dokumen audit kuartal yang memaksanya harus lembur hingga larut malam.
Brebet... brebet... pfff.
Tiba-tiba, mesin motor Scoopy merah kesayangannya mengeluarkan suara tersedak yang aneh. Tarikan gasnya mendadak terasa kosong, dan dalam hitungan detik, mesin motor itu mati total secara mendadak tepat di tepi jalan yang cukup sepi dan temaram.
Kalea terkejut. Ia segera menepikan motornya ke atas trotoar dengan sisa momentum yang ada. Ia menurunkan standar samping, lalu membuka tangki bensin di bawah joknya. Begitu menengok ke dalam, matanya yang biru jernih langsung terbelalak pasrah melihat tangki bensinnya sudah kering kerontang tanpa menyisakan sepeser cairan pun. Indikator bensin di stang motornya rupanya sudah rusak sejak beberapa hari lalu dan ia lupa memperbaikinya.
"Ya Allah...! Kenapa harus habis bensin di jam begini dan di tempat sepi seperti ini sih?!" jerit Kalea frustrasi, memukul stang motor Scoopy-nya dengan gemas. Ia melepaskan helm pelindungnya, menatap sekeliling jalanan yang sunyi dengan pandangan nanar.
Kalea merogoh saku blazer hitamnya, mengambil ponsel pintarnya untuk mencari bantuan. "Mau minta tolong sama siapa jam segini? Zaskia? Ah, tidak mungkin. Ini sudah larut malam sekali, jam segini Zaskia pasti sudah tidur pulas di rumahnya setelah lelah mengurus konferensi pers hotel tadi sore. Malas aku mendengar suara omelannya yang absurd kalau dia kubangunkan," gumam Kalea pada dirinya sendiri, mengurungkan niat menghubungi sahabatnya.
"Mau telpon Bi Minah? Malah makin tidak mungkin. Kasihan Bibi sudah tua, kalau dia tahu aku terlantar di pinggir jalan jam dua belas malam begini, yang ada beliau malah panik serangan jantung di rumah," desah Kalea dengan helaan napas kasar yang sangat berat. Ia menyandarkan tubuh mungilnya pada jok motor, memegangi kepalanya yang kembali terasa berdenyut pening akibat perban di dahinya yang belum sempat diganti. "Benar-benar takdir sialan. Fisikku lelah, batin hancur melihat kelakuan bejat Shinta, sekarang malah harus menuntun motor di tengah malam. Sempurna sekali penderitaanku ini!"
Crrrkkk...
Di tengah keputusasaan Kalea yang sedang meratapi nasibnya di bawah rembulan malam, sebuah suara decitan ban mobil mewah mendadak memecah kesunyian jalan. Sebuah mobil sedan BMW hitam mengilat yang sangat mewah perlahan-lahan memperlambat lajunya, lalu berhenti tepat di samping sepeda motor Scoopy merah milik Kalea.
Kalea langsung memasang sikap waspada. Sifat tegas dan bar-barnya seketika bangkit. Tangan kanannya refleks meraih sebuah kunci pas besi kecil dari dalam bagasi depan motornya, bersiap untuk membela diri jika orang di dalam mobil mewah itu berniat jahat kepadanya di tempat sepi ini.
Pintu kemudi BMW hitam itu terbuka. Seorang pria muda bertubuh tinggi, tegap, dan berwajah sangat tampan melangkah turun. Pria itu mengenakan kemeja kasual polos berwarna abu-abu yang lengannya digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan celana kain hitam. Begitu melangkah mendekati Kalea, sebuah senyuman yang sangat ramah, hangat, dan menawan langsung terukir di wajah tampannya. Pria itu tidak lain adalah Dimas Narendra Baskara (27 tahun). Namun malam itu, Dimas sedang tidak mengenakan setelan formal rektornya, melainkan hanya berpenampilan santai.
"Malam, Nona. Maaf mengganggu," sapa Dimas dengan nada suara yang sangat lembut, bersahabat, dan menenangkan, sangat kontras dengan gaya bicara abangnya yang selalu ketus dan mengintimidasi. "Saya tadi kebetulan lewat dan melihat Anda sepertinya sedang kesusahan dengan motornya. Ada yang bisa saya bantu? Apakah motor Anda mogok?"
Kalea menatap pria di depannya dari atas sampai bawah dengan pandangan penuh selidik dari sepasang mata birunya. Melihat pembawaan pria itu yang sangat sopan dan sama sekali tidak memancarkan aura mesum seperti Fandi atau keangkuhan seperti Radit, Kalea perlahan menurunkan kunci pas besi di tangannya.
"Malam, Tuan," jawab Kalea dengan nada suara yang diusahakan tetap tegas dan formal sebagai seorang manajer hotel. "Motor saya tidak mogok, cuma... kehabisan bensin. Saya baru sadar sekarang saat jalanan sudah sepi dan tidak ada pom bensin yang buka di dekat sini."
Dimas melihat ke arah tangki motor, lalu beralih menatap wajah Kalea. Di bawah siraman lampu jalan yang remang-remang, manik mata elang Dimas sempat terpaku sedetik melihat keindahan warna biru alami di mata Kalea serta perban kasa yang menempel di dahi cantiknya. Namun, dengan cepat Dimas menguasai diri dan kembali tersenyum ramah.
"Ah, pantas saja. Di area jalur ini memang pom bensin terdekat jaraknya cukup jauh, Nona," ucap Dimas sambil terkekeh ringan, sebuah kekehan hangat yang membuat suasana malam yang mencekam itu mendadak terasa mencair. "Perkenalkan, nama saya Dimas. Dimas Narendra Baskara." Dimas mengulurkan tangan kanannya dengan sangat sopan untuk berkenalan.
Kalea ragu sejenak sebelum akhirnya menyambut uluran tangan tersebut dengan genggaman singkat. "Kalea. Kalea Azzahra Putri Wijaya."
"Salam kenal, Nona Kalea," ujar Dimas dengan binar mata yang ramah. "Ini sudah hampir jam dua belas malam. Sangat bahaya untuk wanita sendirian menuntun motor di kawasan sepi ini. Bagaimana kalau motor Anda kita titipkan di pos sekuriti gedung depan itu, lalu Anda pulang saya antar menggunakan mobil saya?"
Mendengar tawaran dari pria yang baru dikenalnya, sifat mandiri dan tegas Kalea langsung menolak dengan cepat. "Eh, tidak usah, Tuan Dimas. Terima kasih banyak atas kebaikan Anda. Saya bisa menuntun motor ini sendiri mencari bengkel atau menunggu sampai pagi di minimarket depan. Saya tidak ingin merepotkan orang asing yang baru saja saya kenal namanya."
Dimas justru tertawa renyah, sebuah tawa lepas yang sangat tulus tanpa ada kedok manipulasi di dalamnya. Sifat Dimas memang seratus delapan puluh derajat sangat berbeda dengan Radit. Jika Radit adalah sosok pria yang dingin, kaku, sarkastik, dan selalu menjaga jarak dengan aura mengintimidasi, maka Dimas adalah sosok pria yang sangat hangat, supel, ramah, mudah bergaul, dan memiliki empati sosial yang sangat tinggi kepada siapa pun.
"Nona Kalea, dengarkan saya," ucap Dimas dengan nada membujuk yang sangat lembut namun penuh ketegasan yang sopan. "Saya ini bukan orang jahat, saya tidak akan menculik Anda. Justru kalau saya meninggalkan Anda sendirian di sini dengan kondisi dahi diperban dan kelelahan seperti itu, saya yang tidak akan bisa tidur tenang karena merasa bersalah. Anggap saja ini aksi solidaritas sesama pengguna jalan. Ayo, saya paksa Anda untuk menerima tumpangan ini demi keselamatan Anda sendiri."
Kalea tertegun menatap ketulusan di mata Dimas. Rasa lelah yang teramat sangat di tubuhnya akhirnya membuat benteng pertahanannya runtuh. Pikirannya juga menolak untuk menuntun motor berkilo-kilometer malam ini.
"Ya sudah... kalau begitu motor saya dititipkan di pos sekuriti depan itu saja, Tuan Dimas. Saya ikut menumpang sampai depan kompleks rumah saya," mengalah Kalea akhirnya dengan helaan napas pasrah.
"Keputusan yang sangat cerdas, Nona Kalea," puji Dimas dengan senyuman lebar yang menawan.
Dengan bantuan petugas sekuriti gedung terdekat, motor Scoopy merah milik Kalea akhirnya berhasil dititipkan dengan aman. Setelah itu, Kalea melangkah masuk dan mendudukkan tubuh mungilnya di kursi penumpang depan mobil BMW hitam milik Dimas. Aroma ruangan mobil yang wangi maskulin menenangkan langsung menyambut indra penciumannya.
Mobil bergerak membelah malam yang sunyi. Di dalam kabin mobil yang ber-AC sejuk, suasana awal yang kaku mendadak berubah menjadi sangat hidup karena kemampuan komunikasi Dimas yang luar biasa ramah.
"Nona Kalea bekerja di daerah sekitar sini ya? Sampai larut malam begini baru pulang?" tanya Dimas membuka percakapan sambil fokus menatap jalanan di depan.
"Iya, Tuan Dimas. Kebetulan hari ini di tempat kerja saya ada banyak dokumen audit yang harus diselesaikan, makanya terpaksa lembur," jawab Kalea dengan nada yang mulai melembut, tidak sekaku tadi. "Kalau Tuan Dimas sendiri, kenapa jam segini masih berkeliaran di jalanan sepi?"
Dimas terkekeh, melirik Kalea sekilas. "Ah, panggil Dimas saja, tidak usah pakai 'Tuan', rasanya saya seperti mandor bangunan kalau dipanggil begitu, hahaha. Saya tadi habis menghadiri pertemuan makan malam dengan jajaran kolega kerja di hotel daerah pusat, makanya baru bisa pulang jam segini. Kebetulan jalur rumah kita searah sepertinya."
"Oh, begitu ya, Dimas," ucap Kalea, merasa agak lucu dengan selera humor pria hangat di sampingnya ini.
"Omong-omong, Kalea... kalau boleh aku tahu, dahi kamu itu kenapa diperban begitu? Apa habis jatuh dari motor?" tanya Dimas dengan raut wajah penuh rasa prihatin yang tulus, melirik perban di dahi Kalea.
Kalea terdiam sejenak, memalingkan wajahnya menatap keluar jendela kaca mobil yang gelap. Senyuman pahit kembali muncul di wajah cantiknya saat ingatan tentang tamparan Hermawan dan kebusukan Shinta kembali merayap di benaknya. "Bukan karena jatuh dari motor, Dimas. Anggap saja ini... bekas luka akibat benturan keras dengan kenyataan hidup yang pahit."
Dimas menangkap nada kepedihan yang mendalam di balik suara tegas Kalea. Sebagai pria yang cerdas dan peka, ia tahu bahwa wanita bermata biru di sampingnya ini sedang memikul beban masalah yang sangat berat dalam hidupnya. Dimas memilih untuk tidak mendesak lebih jauh demi menjaga kenyamanan Kalea.
"Kenyataan hidup memang kadang suka bercanda ya," sahut Dimas dengan nada suara yang sengaja dilembutkan untuk menghibur. "Tapi dari pandangan mata biru kamu yang sangat indah itu, aku tahu kamu adalah wanita yang sangat kuat, Kalea. Masalah apa pun yang sedang menghantammu saat ini, aku yakin kamu pasti bisa melewatinya dengan kepala tegak."
Mendengar pujian tulus dan kalimat penyemangat dari pria yang baru dikenalnya beberapa menit lalu, jantung Kalea mendadak berdesir aneh. Ada rasa hangat yang asing merayap di dalam dadanya. Di rumah Wijaya, ia selalu dicaci sebagai anak haram dan pembawa sial, namun malam ini, seorang asing justru menyebutnya sebagai wanita yang kuat dan memuji mata birunya yang selama ini dibenci oleh ibunya sendiri.
"Terima kasih banyak, Dimas... kata-katamu sangat berarti untukku malam ini," ucap Kalea tulus, sebuah senyuman manis yang tanpa beban untuk pertama kalinya muncul menghiasi bibir cantiknya.
"Sama-sama, Kalea. Nah, kita sudah sampai di depan gerbang kompleks Anda. Rumah kamu yang sebelah mana?" tanya Dimas saat mobil BMW-nya perlahan berhenti di depan gerbang perumahan mewah keluarga Wijaya.
"Turunkan aku di depan gerbang ini saja, Dimas. Rumah aku tidak jauh dari sini, aku bisa jalan kaki masuk," jawab Kalea, sengaja menolak diantar sampai depan pintu rumah karena takut jika ada anggota keluarganya atau Shinta yang melihat dan membuat fitnah baru lagi.
"Baiklah kalau itu mau kamu," ucap Dimas sambil menghentikan mobilnya dengan sempurna.
Kalea membuka sabuk pengamannya, lalu membuka pintu mobil. Sebelum turun, ia membalikkan tubuhnya menatap Dimas dengan pandangan penuh rasa hormat. "Dimas, terima kasih banyak atas tumpangan dan kebaikanmu malam ini. Aku benar-benar berterima kasih karena sudah diselamatkan dari jalanan sepi."
"Sama-sama, Kalea Azzahra. Semoga luka di dahimu cepat sembuh ya. Sampai bertemu lagi di lain kesempatan," balas Dimas dengan senyuman hangatnya yang paling menawan.
Kalea turun dari mobil, menutup pintu perlahan, lalu melangkah masuk melewati gerbang kompleks. Dari balik kemudi, Dimas Narendra Baskara memandangi kepergian wanita bermata biru itu dengan binar mata penuh ketertarikan yang misterius.
...****************...
Suasana di dalam kediaman megah keluarga Baskara sudah sangat sunyi ketika mobil sedan BMW hitam milik Dimas Narendra Baskara memasuki pelataran parkir. Jarum jam dinding besar di lorong utama rumah telah bergeser menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit malam. Seluruh lampu utama di lantai bawah telah diredupkan, menyisakan pendar keremangan yang tenang dan damai.
Dimas melangkah masuk melewati pintu samping digital setelah menekan kode aksesnya. Langkah kakinya terasa sangat ringan. Pria berusia 27 tahun itu berjalan menuju area dapur bersih bernuansa marmer putih dengan perasaan yang sangat riang. Seulas senyuman manis tidak pernah lepas dari wajah tampannya sejak ia menurunkan Kalea di depan gerbang kompleks perumahan tadi.
Dimas mulai bersiul kecil, sebuah nada lagu romantis yang acak, seraya mengambil sebuah gelas kristal dari rak gantung. Ia menyalakan keran dispenser air pintar, mengisinya dengan air dingin, lalu meneguknya perlahan hingga tersisa setengah. Ia menyandarkan punggung tegapnya pada konter marmer dapur, matanya menatap kosong ke arah depan sambil kembali tersenyum-senyum sendiri mengingat binar mata biru jernih dan ketegasan sikap wanita yang baru saja ditolongnya.
Puk!
Sebuah tepukan tangan yang cukup berat dan mendadak mendarat di bahu kanan Dimas, memecah keheningan dapur seketika.
"Uhuk! Uhuk!" Dimas langsung tersedak air minumnya sendiri. Ia terlonjak kaget, membalikkan tubuhnya dengan cepat sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang akibat terkejut.
Di hadapannya, berdiri Raditya Evan Baskara. Sang abang sulung berdiri menjulang setinggi 185 sentimeter dengan mengenakan kaus oblong hitam santai dan celana training panjang abu-abu. Rambut hitam Radit tampak sedikit acak-acakan, menunjukkan bahwa ia sebenarnya sudah sempat berbaring di kamarnya namun belum bisa tertidur. Sepasang mata elang Radit menatap adiknya dengan pandangan menyelidik yang sangat tajam dan dingin.
"Kamu ini hobi sekali pulang larut malam lalu bersiul-siul tidak jelas seperti orang kurang waras, Dimas," tegur Radit dengan suara baritonnya yang berat, dalam, dan kaku seperti biasanya.
Dimas dengan cepat mengelap sisa air di dagunya, lalu berdeham beberapa kali untuk menguasai rasa keterkejutannya serta menghilangkan rasa salah tingkahnya. "Ehem... Ehem... Kam-kamu ini kebiasaan ya, Mas! Datang tiba-tiba seperti hantu laboratorium! Kalau aku punya riwayat penyakit jantung, malam ini juga aku pasti sudah menjadi pasien darurat di rumah sakit milikmu itu!"
Radit tidak membalas candaan adiknya. Ia melangkah menuju meja makan panjang berbahan kayu jati yang terletak di samping dapur bersih, lalu menarik sebuah kursi dan mendudukkan tubuh kekarnya di sana. Meskipun jam sudah menunjukkan lewat tengah malam, hawa malam yang dingin tampaknya membuat kedua bersaudara ini memilih untuk tidak langsung kembali ke kamar masing-masing.
"Duduk kamu," perintah Radit pendek, mengedikkan dagunya ke arah kursi kosong di hadapannya.
Dimas mendengus pelan, namun tetap melangkah membawa gelas minumnya dan duduk di hadapan kakaknya. "Kamu sendiri kenapa belum tidur, Mas? Biasanya Direktur Utama yang perfeksionis sepertimu jam sepuluh malam sudah mengunci diri di kamar untuk membaca jurnal medis."
Radit menyandarkan punggungnya, melipat kedua tangannya di depan dada lurus menatap Dimas. "Pikiranku sedang sedikit terganggu karena ancaman Mommy soal Natasha kemarin malam. Kamu tahu sendiri bagaimana keras kepalanya Mommy kalau sudah menyangkut urusan perjodohan gila itu." Radit terdiam sejenak, lalu matanya menyipit tajam meneliti ekspresi wajah adiknya. "Tapi... sepertinya pikiranmu justru sedang berada di tempat lain. Kenapa kamu tersenyum-senyum sendiri sejak masuk pintu tadi, Dimas? Wajahmu kelihatan sangat aneh."
Dimas tertegun, lalu sebuah senyuman lebar yang sangat tulus kembali merekah di wajah tampannya. Ia memajukan tubuhnya, menopang kedua siku di atas meja makan, menatap kakaknya dengan binar mata yang penuh dengan letupan kebahagiaan yang mendalam.
"Mas Radit... sepertinya malam ini aku baru saja mengalami sebuah keajaiban," bisik Dimas dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat hangat dan penuh rahasia.
"Keajaiban apa maksudmu?" tanya Radit dengan kening berkerut dalam, merasa asing dengan pembawaan adiknya yang mendadak puitis.
"Aku... sepertinya aku baru saja jatuh cinta kepada seseorang, Mas," aku Dimas jujur tanpa ragu-ragu sepeser pun. "Malam ini, di pinggir jalan yang sepi saat aku perjalanan pulang, aku tidak sengaja menolong seorang gadis yang motornya kehabisan bensin. Dan saat pertama kali aku melihat matanya dan mendengar cara bicaranya... jantungku rasanya berdegup dengan ritme yang sangat aneh. Aku merasa jatuh hati kepadanya pada pandangan pertama."
Mendengar pengakuan cinta dari mulut adiknya, Radit sempat tertegun selama beberapa detik. Sifat kaku dan ketidaktahuannya tentang dunia romansa membuat ia menatap Dimas dengan pandangan datar yang sedikit meremehkan. Maklum saja, sepanjang 29 tahun hidupnya, Raditya Evan Baskara sama sekali tidak pernah berpacaran! Jangankan berpacaran, merasakan getaran jatuh cinta yang tulus saja belum pernah ia rasakan, kecuali desiran aneh yang sempat mengusiknya saat menatap mata biru Kalea di kafe tadi siang.
"Jatuh cinta pada pandangan pertama di pinggir jalan dengan orang asing yang baru dikenal dalam waktu beberapa menit?" tanya Radit dengan nada suara sarkastik yang sangat menyebalkan. "Dimas, kamu itu seorang rektor muda yang cerdas, kapasitas otakmu tinggi. Kenapa logika berpikirmu mendadak menjadi sangat dangkal dan tidak masuk akal hanya karena urusan bensin habis?"
Dimas langsung tertawa renyah, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat respon kaku abangnya yang buta akan cinta. "Hahaha! Kamu ini memang benar-benar kanebo kering ya, Mas! Mana paham kamu tentang urusan getaran di dalam dada begini. Kamu kan jomblo legendaris yang seumur hidup belum pernah pacaran, jangankan pacaran, mendekati perempuan saja kamu selalu ketus!"
"Aku menjaga batas profesional, itu berbeda dengan ketus," bela Radit dengan rahang yang mengeras kaku karena tidak terima diledek masalah statusnya yang tidak pernah pacaran.
"Sama saja, Mas! Kamu itu terlalu perfeksionis!" sahut Dimas sambil memutar-mutar gelas kristalnya di atas meja. "Tapi serius, Mas... rasanya ini sangat berbeda. Aku sudah lama sekali tidak merasakan perasaan mendebarkan seperti ini lagi sejak putus dengan mantan pacarku satu tahun yang lalu. Selama satu tahun ini hatiku rasanya sangat datar, fokusku cuma pada urusan kampus dan mahasiswa. Tapi malam ini, gadis itu... dia benar-benar berbeda dari wanita mana pun yang pernah aku temui."
Radit menopang dagunya dengan tangan kanan, matanya yang tajam menatap adiknya dengan rasa penasaran yang samar. "Memangnya apa yang membuat dia berbeda? Siapa namanya? Anak dari keluarga mana?"
Dimas tersenyum misterius, menggelengkan kepalanya perlahan karena ia sengaja memilih untuk tidak menyebutkan nama Kalea atau detail identitas aslinya kepada Radit malam ini. "Namanya rahasia, Mas. Belum saatnya kamu tahu. Yang jelas, dia bukan tipe wanita manja atau sosialita seksi yang sering datang ke butik Amanda. Dia wanita yang sangat mandiri, tegas, berani, namun di balik ketegasannya itu... aku bisa melihat ada sebuah luka batin yang sangat dalam di matanya. Pembawaannya yang kuat justru membuatku merasa sangat ingin melindunginya dari kerasnya dunia ini."
Mendengar deskripsi tentang wanita 'tegas, mandiri, dan memiliki luka di matanya', ingatan Radit secara refleks kembali melayang pada dahi perban dan bibir sobek milik Kalea di kafe tadi siang. Namun, Radit segera menepis pikiran gila tersebut dari kepalanya. Di dunia ini ada jutaan wanita dengan karakter tegas, tidak mungkin gadis yang ditolong adiknya di pinggir jalan malam-malam adalah manajer hotel yang bar-bar itu.
"Terserah kamu saja, Dimas," ucap Radit akhirnya sambil berdiri dari kursi makan dengan gerakan yang kaku, menyudahi pembicaraan tengah malam itu. "Urus saja perasaan jatuh cintamu itu dengan baik. Tapi ingat, pastikan dia wanita yang jelas latar belakangnya agar tidak membuat Mommy kembali mengamuk dan menambah sakit kepala di rumah ini."
Dimas ikut berdiri sambil tersenyum hangat, menepuk pundak kakaknya dengan akrab. "Tenang saja, Mas Radit sayang. Gadis pilihanku ini adalah wanita terhormat, aku bisa menjaminnya. Justru kamu yang harus bersiap-siap. Batas waktu dari Mommy tinggal dua minggu lagi, loh. Jangan sampai bualan bidadari bermata birumu itu terbongkar dan kamu terpaksa menikah dengan Natasha, hahaha!"
Radit memberikan tatapan elangnya yang paling dingin dan mematikan ke arah Dimas. "Urus saja kampusmu sebelum aku benar-benar memotong jatah liburan semestermu tahun ini, Dimas Narendra Baskara!" ancam Radit dengan suara bariton yang berat, lalu berbalik dan melangkah lebar menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai atas dengan perasaan yang mendadak kembali dipenuhi oleh rasa antisipasi yang besar atas berjalannya taruhan waktu satu minggu bersama Kalea. Sementara Dimas hanya bisa tertawa puas di bawah sana.