Sebuah cinta terlarang.
Sebuah pengkhianatan dalam keluarga.
Zavier hanya ingin mencintai wanita yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama tiga tahun — namun takdir berkata lain ketika wanita itu kini bersanding sebagai istri sang ayah.
Di antara rasa bersalah, cinta, dan kehancuran, adakah kesempatan kedua untuk hati yang sudah hancur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB-19 Bayangan Rasa Bersalah
Veyra sedang menyeduh teh ketika ponselnya berdering. Nama “Mas Ardian” tertera di layar. Ia buru-buru mengangkat.
“Halo, Mas?”
“Sayang, udah makan siang belum? Jangan sampai telat makan, ya.”
Veyra tersenyum tipis, suara Ardian yang lembut selalu membuatnya merasa bersalah.
“Belum, ini lagi buat teh, Mas. Nanti aku makan, tenang aja.”
“Bagus. Jangan sampai sakit, ya. Aku butuh kamu fit terus di rumah. Dan ngomong-ngomong soal rumah…”
“Hmm?”
“Malam ini aku mau ajak Zavier dan Flora makan malam di sini. Sekalian merayakan Flora yang mulai kerja. Kamu bisa siapin masakan spesial kan, Vey?”
Mata Veyra melebar seketika. Suara Ardian di seberang terdengar santai, seolah itu hal biasa. Tapi bagi Veyra, itu jelas alarm bahaya.
“Makan malam... bareng mereka, Mas?”
“Iya. Aku tahu kamu masakannya enak. Aku ingin mereka merasakan juga. Boleh, ya?”
“Iya, Mas. Aku akan menyiapkannya.”
“Terima kasih, Sayan. Aku melakukan ini supaya kamu juga bisa kenal Flora. Aku ingin tahu juga bagaimana pandanganmu tentang Flora. Karena aku berencana ingin menjodohkan Zavier dan Flora,” kata Ardian yang terdengar begitu bersemangat. Tanpa ia tahu, jika Veyra sedang merasakan perasaan cemburu dan tidak suka dengan rencana Ardian. Tapi, Veyra juga tidak bisa mencegah Ardian melakukan hal itu.
“Iya, Mas. Apa yang menurutmu baik, aku akan mendukung. Hati-hati di jalan.”
“Iya, Veyra.”
Telepon ditutup. Veyra berdiri terpaku sambil menggenggam ponsel. Kali ini, makan malam tidak hanya akan terasa canggung… tapi bisa jadi bencana jika salah satu dari mereka terpancing emosi.
Verya menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia lalu menuju ruang tengah sambil membawa secangkir teh di tangannya. Wajahnya gelisah. Setelah menarik napas panjang, ia lalu mengirim pesan pada Zavier dan mulai mengetik.
Veyra: Zavier… Mas Ardian mengajak kamu dan Flora makan malam di rumah. Katanya untuk merayakan Flora yang mulai kerja.
Pesan terkirim. Beberapa detik kemudian, terlihat Zavier sedang mengetik balasan.
Zavier: Aku tau. Papa juga udah bilang pas makan siang tadi. Kamu tidak apa-apa? Oh ya, jangan pakai kata ‘Mas Ardian’ saat kamu ngobrol padaku termasuk lewat chat. Aku cemburu.”
Veyra menggigit bibir bawahnya sebelum membalas.
Veyra: Iya-iya. Zavier, aku sebenarnya juga tidak baik-baik saja. Karena aku harus masak buat kalian, pura-pura baik-baik saja. Apalagi tadi Ardian bilang ingin menjodohkan kalian berdua.
Zavier: Aku sudah menduga Papa akan melakukan itu. Aku akan jaga jarak. Aku tidak akan membiarkan ini lebih dari rekan kerja.
Veyra: Kamu yakin bisa? Di depan Papa?
Zavier: Yakin. Tapi kamu juga harus kuat. Aku di pihak kamu, Vey.
Veyra: Kadang aku ingin kabur saja dari semuanya.
Zavier: Jangan kabur. Kita cari jalan keluar bareng-bareng. Malam ini kita hadapi sama-sama. Setelah makan malam nanti, kita ngobrol berdua.
Veyra menatap layar ponselnya lama, lalu akhirnya membalas singkat.
Veyra: Oke. Aku masak yang spesial malam ini. Tapi bukan buat Flora.
Zavier: Aku ngerti. Buat aku, kan?
Veyra: :')
********
Setelah menghabiskan secangkir tehnya, Veyra lantas pergi menuju supermarket untuk membeli bahan makanan untuk makan malam nanti.
Veyra sedang mendorong troli sambil memilih daging sapi. Wajahnya tampak serius, memikirkan menu makan malam nanti. Tiba-tiba, sebuah suara familiar menyapanya dari belakang.
“Veyra?! Astaga… kamu beneran Veyra?!”
Veyra menoleh cepat, kaget sekaligus senang.
“Fara?! Ya ampun! Seriusan ini kamu?”
Mereka langsung berpelukan erat. Fara tersenyum lebar, tapi matanya menyiratkan banyak pertanyaan.
“Kamu kemana aja, hah?! Udah berbulan-bulan hilang. Chat nggak dibales, telpon gak aktif, aku ke rumah juga kamu nggak ada! Terakhir malah orang tuamu bilang kamu udah married sama duda kaya raya!”
Veyra tertawa canggung, jelas tidak nyaman.
“Maaf banget, Far… Aku bener-bener lagi ribet. Banyak hal yang harus aku urus, semuanya berubah begitu cepat.”
“Ya, kelihatan banget berubah. Look at you! Kelihatan makin glowing tapi juga kayak ada beban berat di mata kamu. Eh tapi bukannya waktu itu kamu lagi LDRan sama Zavier si ganteng itu ya? Kok tiba-tiba nikah sama duda. Apa Zavier selingkuh dan kalian putus?” Fara memberondong Veyra dengan banyak pertanyaan.
Veyra terdiam sejenak lalu berusaha tersenyum. “Aku cerita nanti ya, ngga enak kalau di tempat rame begini. Sekarang lagi belanja buat makan malam karena akan ada tamu suami yang datang.”
“Wah… kamu beneran nikah sama duda itu? Gimana rasanya?”
Veyra pura-pura sibuk memilih bawang merah, lalu menjawab pelan. “Rasanya… rumit.”
Fara memiringkan kepala, memperhatikan wajah sahabatnya itu dengan sorot prihatin. “Oke. Kamu harus cerita. Aku nggak akan maksa sekarang. Tapi please, jangan hilang lagi. Aku kangen sahabatku yang dulu.”
Veyra mengangguk, senyum tipis di bibirnya. “Aku juga kangen kamu, Far. Nanti aku kabarin, kita ketemuan ya? Aku janji.”
“Deal. Aku tunggu.”
Setelah berpamitan dan saling bertukar nomor telpon baru, Veyra kembali melanjutkan belanjanya—dengan hati yang makin berat. Bertemu Nayla seperti membangunkan sisi dirinya yang lama, yang dulu bebas dan jujur.
Karena sejak orang tuanya mendesaknya untuk menerima pinangan Adrian, Veyra diminta untuk berhubungan dengan siapapun, termasuk Fara. Mereka khawatir jika Veyra berubah pikiran dan memilih mundur. Orang tua Veyra menganggap jika Ardian adalah tambang emas yang tidak boleh untuk dilewatkan.
Veyra membuka pintu rumah dengan kedua tangan penuh kantong belanjaan. Ia menghela napas dalam setelah menutup pintu, lalu berjalan menuju dapur. Sepanjang perjalanan, pikirannya masih tertinggal di supermarket—khususnya setelah pertemuannya dengan Fara.
Setelah menyimpan belanjaan, Veyra mengikat rambutnya, memakai apron, dan mulai menyiapkan bahan-bahan. Di atas meja dapur, terjejer daging sapi, ayam, sayur-sayuran segar, bumbu-bumbu, dan bahan pencuci mulut.
"Mas Ardian minta makan malam istimewa… dan Flora juga akan datang bersama Zavier.”
Tangan Veyra mulai bekerja, memotong sayur dan memarinasi daging. Tapi pikirannya tidak tenang. Bayangan Zavier dan Flora di kantor terus mengganggunya. Ditambah lagi, perasaan bersalah pada Ardian makin menyesakkan dada.
awal nya bagus, lanjut thor