Seolah luka sayatan di tetes cuka. Begitu lah seorang gadis bernama Sebria. Kekasih yang begitu dicintainya tidak sengaja membuat kesalahan besar yang mengantarkan hubungan mereka pada sebuah perpisahan. Bersamaan itu juga telah terungkap rahasia kenapa Sebria di besarkan di panti asuhan selama ini. Demi penyembuhan diri Sebria menarima tawaran mutasi dari kantornya sehingga mempertemukan dirinya dengan anak pemilik perusahaan. Hubungan mereka berlanjut sampai ke pernikahan tapi sayangnya. Istana yang di tempati Sebria tidak sehangat awal pernikahan. Semuanya berubah beku karena insiden yang terjadi menyebabkan kelumpuhan untuk Sebria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian
"Ini perjanjian pra nikah." Jehan menyodorkan kertas putih di atas meja. Disaksikan dua pasang orang tua. Bagaimana pun Jehan masih ingin bersama Sebria. "Kita menikah cuma satu tahun sampai bayi itu lahir dan tumbuh sengan baik. Aku nggak bisa menjanjikan apa-apa sama kamu karena aku masih belum bisa melepaskan Sebria. Aku menyetujui kemarin bukan berarti aku mau melepaskan dia sepenuhnya. Aku memberikannya waktu sejenak sebelum aku datang menyempurnakan penyembuhannya." Ucapnya percaya diri.
Ayusa mengangguk meski pun pernah mengakui kalau ia mencintai Jehan jauh sebelum Sebria. Tapi calon ibu itu tidak mau egois begitu saja. "Aku setuju." Ucapnya menandatangi. "Kita nggak perlu satu rumah tapi ketika kunjungan ke dokter kamu harus ikut."
Jehan mengangguk tanda setuju. Sementara para orang tua hanya pasrah atas keputusan itu. Memaksa pun percuma tidak akan menjadi baik. Biarkan mereka melangkah sesuai kemauan siapa tahu di pertengahan jalan menemukan kelemahan hati.
...----------------...
Sebria merasa lebih baik. Ia kembali bekerja seperti biasa. Setelah pembicaraan kemarin Sebria resmi menjauh dari Ayusa dan juga Jehan. Segala yang bersangkutan sudah ia singkirkan. Sebria tidak ingin lagi mendengar apa pun tetang mereka.
"Sebria, ada dua orang mau ketemu sama kamu. Perempuan sudah menunggu di bawah." Salah satu rekan kerja datang memberi tahu.
Sebria termenung sejenak memikirkan siapa yang bertamu. Tidak mungkin ibu Adelia datang tanpa mengabari. Ia bangkit dari kursi lalu melangkah untuk menemui orang yang dimaksud. Meski benaknya sibuk bertanya tapi langkah tetap terayun. Sebria merasakan kotak besi membawanya turun sampai tiba di lantai satu. Sebria menyeret langkah ke kafe kantor, manik matanya terpaku pada sosok yang cukup ia kenal. Sebria mendaratkan tubuh di salah satu kursi. Duduk sopan menyapa sekedarnya.
"Maaf meminta waktu kamu." Ibu Diana bicara pertama. Sorot matanya meredup tanpa senyum angkuh dan aura intimidasi seperti sebelumnya. Kali ini sosok yang dulu membenci Sebria bagai burung patah sayapnya. "Tante minta maaf apa yang sudah terjadi. Seandainya Tante nggak keras kepala menolak kamu. Kejadian seperti ini nggak akan ada. Tante malu ketemu sama kamu tapi rasa bersalah ini membuat Tante harus datang. Sekali lagi Tante minta maaf." Ia berucap sangat lembut.
Sebria menyimak tanpa menyela. Ia diam tanpa senyuman menunggu kalimat Ibu Diana selesai. Dulu wanita ini sangat menolaknya dan ia bisa memahami meskipun tidak tahu bagaimana rasanya memiliki orang tua.
"Semua sudah terjadi, Tante... menyesali hanya sedikit mengurangi rasa bersalah tapi nggak bisa mengembalikan semua seperti semula. Jehan mungkin bukan di tulis buat aku dan tugas ku sudah selesai menjaga dia untuk jodohnya."
"Sebria..." Ibu Kaila menggenggam tangan gadis itu. Tidak luput pula air mata mengalir dari sudut matanya. Sebenarnya ia tidak memiliki wajah lagi untuk melihat gadis baik ini. "Atas nama Ayusa, Tante minta maaf, Nak..."
"Aku sudah memutuskan untuk melepaskan Jehan dan Ayusa. Di masa depan kalau kita bertemu mari menjadi asing kembali kalau tidak maka aku selalu merasa tersakiti." Sahut Sebria tidak memungkiri sakit hatinya menjalar ke seluruh anggota keluarga. "Sampaikan selamat ku untuk mereka ketika menikah nanti. Aku mendoakan yang terbaik pada rumah tangga mereka." Sambungnya langsung berdiri meninggalkan meja. Sebria tidak sanggup lama-lama disana karena sesak kembali menyerang dadanya. Ia tertatih sampai tiba ke dalam kotak besi. Disana Sebria menurunkan tubuhnya kembali menangis dalam diam.
"Are you oke?" Suara laki-laki menggema di dalam lift. Pintu itu terbuka menampilkan sosok lain.
"Iya." Sebria gegas bangkit dari posisinya sambil mengusap jejak air mata. Ia tidak menyangka kalau Kanaga akan masuk kotak besi itu.
"Lift saya dalam perbaikan." Ucap Kanaga tanpa menoleh. "Kalau misalkan kurang nyaman kamu boleh pulang."
"Nggak apa-apa saya masih bisa bekerja. Pulang ke rumah kemungkin memperburuk keadaan."
"Artis itu meneror saya setiap hari menanyakan alamat kamu."
"Keona ?"
Kanaga mengangguk. "Di beritahu atau enggak."
"Nggak usah Pak, saya nggak mau menambah masalah." Sebria tersenyum tipis.
...----------------...
Rona merah menghias kaki langit barat. Anginnya membelai lembut kulit para penikmat senja di bibir pantai. Tamparan ombak bagai senandung merdu di ruang rungu. Hamparan laut tak bertepi terukur oleh mata merampas segala penat merajai daksa. Sentuhan air asin membawa pasir halus menggelitik kulit kaki. Rasanya begitu ringan ketika angin sore menempuh menerbangkan seluruh keluh kesah pada lautan lepas.
"Nggak sia-sia, aku mengikuti sampai kesini."
Sebria tersentak ketika suara itu menembus pendengarannya. Ia cukup hafal aroma parfum yang masuk ke dalam hidung. "Kenapa kamu kesini?"
"Tentu saja ketemu kakak, satu jam aku nunggu kakak keluar dari kantor." Keona tampak tengil menjawab.
"Pulang lah." Usir Sebria
"Ayo kita pulang." Dengan manja nya pemuda itu mengaitkan tangan pada lengan Sebria. "Aku mau tahu rumah kakak."
"Maaf Keo, aku nggak bisa." Tolak Sebria menurunkan tangan si artis itu.
"Nggak mau, pokoknya mau pulang ke rumah kakak. Aku lapar, aku capek tadi sopir sudah aku suruh pulang." Bak anak kecil Keona merajuk.
Sebria merasa terhibur sendiri. Pemuda ini tanpa lelah meski di tolak selalu datang semau nya. Semakin dihindari semakin Keona mendekat. Tanpa bicara Sebria memasang kembali sepatu kerja nya lalu melangkah meninggalkan bibir pantai karena hari semakin menggelap.
"Pakai helm nya." Sebria menyodorkan helm hitam sepasang dengan milik nya.
Keona tersenyum senang. Pria terbungkus rapat itu sulit dikenali ketika berpakaian seperti itu. Ia duduk manis di belakang Sebria. Bibirnya tertarik lebar sambil merentangkan tangan merasakan angin menampar tubuhnya. Ada rasa bahagia yang membuncah di dada yang tidak dapat Keona jabarkan dengan kata-kata. Sepanjang jalan selain memanjakan mata dengan hamparan laut yang luas. Keona juga menikmati waktu bersama Sebria. Ia berharap menjadi salah satu obat untuk gadis mungil itu. Keona tidak pernah merasakan kedekatan seperti ini sebelumnya.
"Rumah kakak nyaman, boleh ya aku kesini kalau sedang suntuk." Keona melepas masker dan jaket. Ia mengitari tiap sudut rumah minimalis itu. "Ini buat kamar aku ya kak."
"Ngelunjak kamu ya." Cibir Sebria meletakan gelas berisi air dingin putih. "Minta seseorang menjemput kamu pulang."
"Nanti aja, aku belum puas disini. Besok aku bawa barang-barang kesini ya. Kaya nya disana di taruh lemari satu biji bisa deh." Keona penuh semangat merancang keinginannya.
"Kamu punya alergi makanan?" Tanya Sebria sambil mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas.
"Enggak ada, kakak mau masak ?"
"Iya, biar kamu cepat pulang." Bibirnya mungkin mengusir tapi hatinya mensyukuri kedatangan pemuda itu setelah seharian kurang baik.
"Aku nginap ya." Lihat lah pemuda itu merebahkan tubuh di sofa.
"Mau aku pesankan satu set pakaian? Aku risih melihat kamu memakai pakaian itu sudah waktu nya mandi. Nanti pulang dari sini kamu bisa langsung tidur."
Wajah Keona berbinar. "Oke ! Nggak lama, 'kan?"
"Enggak dekat sini kok toko nya tapi harganya standar ya... Aku nggak punya uang beli yang branded."
Keona tersenyum "Berapa pun harganya kalau itu dari kakak. Pasti ku pakai dan simpan dengan baik." Hati pemuda itu tersentuh. Gadis mungil ini sangat sederhana dan rapi tidak berlebihan tapi terlihat elegan. Berbeda dengan mama nya di rumah semua harus glamor dan dalam pengaturannya. Belum lagi sang papa yang mengaturnya dengan keras.
...----------------...
"Kenapa Keona belum pulang ?"
nyesek bnagettt..
masih mengutamakan shabat.
❤😍😍❤❤❤
ayusa pura2 baik2 saja..
padahal dia kan cinta ama jehan..
lama2 ya sakit2an gak terbalas cinta..
apalgipaaca melahirkan
😍😍😍❤❤❤
Next, lanjut Kak Ririn. 🥰