Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
#25
“Ma, tunggu—”
Panggilan Bagas menghentikan langkah Mama Juwita yang hendak masuk menyusul Dinda.
“Kenapa, Ma? Bukanlah dulu Mama langsung setuju ketika aku datang melamar Dinda di hari dia diwisuda?”
Mama Juwita masih diam, membiarkan Bagas menyelesaikan kalimat berikutnya.
“Aku sadar, aku adalah salah satu sumber utama luka hati Dinda, tapi— aku janji, Ma. Aku akan memperbaikinya, aku akan menebus kesalahanku di masa lalu. Aku—”
Kalimat Bagas terputus ketika Mama Juwita mengangkat kedua telapak tangannya. “Karena Mama masih sakit hati dengan keluargamu, kalian melamar dan meminta Dinda secara baik-baik, tapi adikmu yang bersalah hingga Abel menghilang! Tapi kalian masih keras kepala menganggap bahwa perbuatan Biandra masih layak mendapatkan pemakluman!”
“Dinda menangis sendiri, kalian sibuk sendiri, hingga Dinda lebih banyak pulang ke rumah Mama karena merasa di rumahmu dia hanya menjadi orang yang salah karena lalai menjaga Abel, begitu, kan?!”
“Nggak, Ma, Kami—”
Mama Juwita buru-buru menyela ucapan Bagas. “Pergilah, anggap saja sandiwara kalian ini sebagai bentuk balas budi kami, karena dulu keluargamu pun sangat menyayangi Dinda.”
Bagas tak bisa lagi mencegah kepergian Mama Juwita, sepertinya mengajak Dinda rujuk, jalannya tak akan semudah ketika Bagas melamar wanita itu untuk pertama kalinya. “Berusahalah lebih keras lagi, Bagas,” bisiknya memberi semangat untuk dirinya sendiri.
•••
Siang hari selepas makan siang, Dinda memanfaatkan waktu istirahatnya dengan keluar sejenak mendatangi play group milik Dinara sahabatnya. Wanita itu datang ingin ngobrol dan sedikit curhat tentang apa yang terjadi padanya dan Bagas belakangan ini.
“Duh, makin cucok, ye, pakai kalung yang ehem dari mas mantan lengkap dengan cincin berliannya,” ledek Dinara ketika menyambut Finda siang itu.
“Apaan, sih, ini cuma pinjaman, setelah sandiwara selesai aku akan kembalikan semua pada Mas Bagas,” elak Dinda, sambil meletakkan beberapa kudapan yang tadi ia beli saat perjalanan kemari.
“Yakin, cuma pinjam? Yakin, bahwa semuanya akan berakhir begitu saja, tanpa meninggalkan bekas apa-apa.” Dinara kembali memastikan, mencoba menyelam lebih jauh ke dalam relung sanubari Dinda.
“Memang apa yang aku harapkan, Dinar, Mas Bagas lebih dari layak mendapatkan wanita sempurna, sementara aku hany—”
“Cukup Dind! Bagas mencintaimu, apapun yang terjadi, jika tidak, mana mungkin ia bersusah payah datang menghampiriku hanya untuk bertanya dimana tempatmu berada beberapa minggu yang lalu.”
Dinda melirik sengit, memang, sih, Dinara yang membocorkan lokasi butiknya pada Bagas. Tapi mereka pertama bertemu adalah di mall, dan yang tidak diketahui oleh Dinda saat itu adalah, Bagas bertanya pada Dinara dengan wajah putus asa, ada sesal, bercampur harapan setelah beberapa tahun mencoba melupakan namun, berakhir dengan kegagalan.
Karena itulah, tempat terakhir yang Bagas datangi adalah dirinya, satu-satunya orang yang pasti tahu keberadaan Dinda.
Meski Dinara berusaha meyakinkan, tapi Dinda tetap merasa rendah diri karana kecelakaan tragis yang menimpanya beberapa tahun silam, twlahengubahnya menjadi sosok wanita yang tak lagi sempurna.
Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba Dinda melihat Alisha sedang duduk seorang diri sambil menunduk menatap objek yang ada di atas meja. “Itu, Alisha, kan?”
“Iya, Maminya gak bisa jemput tepat waktu, karena pengasuhnya sedang ada urusan di luar kota.”
Tiba-tiba Dinda merasakan kesedihan yang Alisha rasakan, apalagi ia sendirian sementara teman-teman lainnya sudah pulang. “Boleh aku menemuinya?” tanya Dinda.
Dinara mengerti, maka wanita itu pun mengangguk. Dinara sama seperti Dinda, sama-sama kehilangan anaknya karena takdir tak mengenakkan.
Suatu malam Dinara pernah mengalami pelecehan, hingga membuat wanita itu hamil, tapi Dinara tak menghendaki hadirnya bayi di usianya yang baru menginjak 17 tahun. Selain itu ia tak siap dengan penghakiman masyarakat yang pastinya akan melabeli anaknya dengan julukan anak haram.
Maka dengan berat hati Dinara menyerahkan bayinya pada pria yang telah membuatnya hamil, untunglah orang tua pria itu tak keberatan.
Kini putra Dinara telah berusia 7 tahun, dan Dinara hanya bisa menyesal, karena hanya bisa menatap putranya dari jauh, tanpa berani mengatakan bahwa dirinya adalah ibu kandung yang melahirkannya ke dunia.
Setelah mendapatkan izin dari Dinara, Dinda pun mendekati Alisha yang sedang menggambar di temani Bu Kanaya, wali kelasnya.
“Aduh, bagus sekali, Tuan Putri pasti bahagia mendapatkan pakaian barunya.” puji Bu Kanaya, melihat hasil coretan Alisha yang kini berwujud sebuah pakaian yang indah untuk tuan putri.
Sementara Alisha nampak berseri-seri wajahnya ketika Bu Kanaya memuji hasil karyanya. “Sekarang gambarnya di gunting?”
“Betul, lalu kita hadiahkan ke Tuan Putri, pasti cantik sekali hasil akhirnya.”
Lagi-lagi, Alisha sangat bersemangat melakukan semua perkataan Bu Kanaya. “Permisi, Bu. Boleh bergabung?”
Bu Kanaya menoleh ketika Dinda meminta izin, “Ah, Bu Dinda, silahkan, apakah Alisha keberatan?”
Gadis kecil itu menggeleng, ia berlari ke pelukan Dinda dengan wajah berseri-seri. “Tante!”
Greb!
Samar-samar Dinda mencium aroma minyak telon bercampur dengan keringat yang menguar dari tubuh Alisha saat gadis kecil itu memeluknya. Perasaan ini datang lagi, rasa ingin terus memeluk dan mendekap Alisha, kenapa rasanya Dinda tak mau buru-buru melepaskannya.
“Tante nangis, ya?” tanya Alisha dengan polosnya.
Dinda melepas dekapannya, “Sedikit, mata Tante sedikit perih karena kelilipan debu.”
“Ayo, Tante. Temani Alisha menggambar.” Alisha langsung menarik tangan Dinda agar wanita itu mau duduk di sebelahnya.
Dinara mendekati Bu Kanaya, “Ayo, kita tinggalkan mereka, semoga Alisha bisa sedikit mengobati kerinduan Dinda pada putrinya.”
Bu Kanaya mengangguk setuju. Ia pun mengikuti Dinara beranjak pergi meninggalkan ruang kelas.
“Aku buat baju untuk Tuan Putri, bagus, nggak, Tante?”
Dengan bangga Alisha memamerkan hasil karyanya, “Bagus sekali, Alisha suka menggambar?”
“Iya, Tante, Mami bilang, bulan depan Chacha mau dimasukkan ke kelas menggambar seminggu sekali.”
Dinda tak berekspektasi apa-apa, ia hanya menikmati setiap waktu dan setiap detiknya yang amat berharga bersama Alisah. Kenapa?
Karena nyaman, tak ingin buru-buru menyudahi kebersamaan mereka. Semakin lama Dinda merasa semakin tenggelam dalam tawa bahagia, ia juga menyuapi Alisha dengan kudapan yang tadi dia bawa untuk Dinara.
Alisha menikmati setiap suapan Dinda, sementara tangannya sibuk menggambar dan memadupadankan warna dalam setiap goresan crayonnya.
“Jangan hijau, nanti nabrak warnanya!”
“Nggak papa, kan, kostum Tuan Badut harus berwarna cerah. Sudah, Tante fokus saja mewarnai pohonnya.”
Saking akrab keduanya hingga membuat sepasang mata meradang cemburu karenanya.
“Mama!” Seru Tiara dari depan pintu, setelah Dinda melihat keberadaannya, Putri Dokter Angga itu pun mendekat dengan wajah seratus persen cemburu, karena melihat mamanya asik bersenda gurau dengan orang lain.
“Tiara— kamu ke sini sama siapa, Sayang?” tanya Dinda lembut, sambil memberi pelukan ringan untuk Tiara, serta mengusap pipi gadis kecil itu.
“Sama Papa,” jawabnya ketus, kedua matanya tak melepas pandangan dari Alisha yang juga tak mau merubah mode manjanya pada Dinda.
ko ya ikut bahagia
apa lagi yang jemput orang bisa di percaya jadi gasss