Info novel ada di ig syifa_sifana
Kelanjutan dari novel Terpaksa Menikahi Mantan
Niat kembali ke tanah air untuk melanjutkan kuliah, namun malah menguakkan sebuah rahasia besar.
Pertemuan yang tak disengaja membuat mereka saling memusuhi karena sebuah kejadian yang memalukan. Bersumpah tak ingin mengenal malah terjerat sebuah ikatan.
Inilah lika liku sepasang kekasih yang mejilat air ludahnya sendiri.
Bila cinta sudah berbicara, seberapa hebat dan sombongnya kamu maka akan tunduk pada orang yang kamu cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Candaan
Jam kuliah telah berakhir. Kini satu persatu dari mahasiswa keluar dari ruangan. Amel dan Kiara memasukkan buku kembali ke dalam tasnya. Sedangkan ketiga pria itu masih duduk tenang menunggu mereka selesai.
“Yuk kita lunch!” ajak Samuel menatap mereka penuh harap.
“Lo yang traktir ya,” sahut Doni spontan.
“Kok jadi gue yang traktir?” protesnya.
“Kan, lo yang ajak dodol.”
“Ya meskipun gue yang ajak, harusnya pasangan yang sedang berbahagia inilah yang mentraktir kita,” ujar Samuel melirik Amel dan Kiano.
“Lo mah maunya yang gratisan mulu. Dari lo, kapan?” ujar Amel.
“Bener banget. Aku setuju,” sahut Kiara.
“Hust... Diam! Jangan ikut-ikutan dukung mereka!” ucap Samuel menatap Kiara.
“Jangan marahin dia!” Doni membelanya.
“Hmm... sepertinya akan ada yang nyusul kita deh,” celetuk Amel menyeringai.
“Amel...” Kiara tersipu malu dan mencubit lengan Amel.
“Bro, kenapa lo gak pernah bilang ke kita-kita ini?” tanya Kiano merangkul pundaknya.
“Bilang apa sih? Aku gak ngerti,” jawab Doni gugup.
“Udah deh, jangan pura-pura gak ngerti! Kalau lo udah demen sama Kiara, langsung aja gas cuy,” celetuk Samuel menyeringai.
“Gas, gas, gas apaan? Kompor gas?” sahut Doni.
“Udah ah, malas lama-lama sama orang yang gak jujur,” ucap Amel hendak pergi.
“Eh, tapi serius, kita belum jadian,” ujar Doni membela dirinya.
“Sayang, tunggu!” Kiano beranjak pergi.
“Kalian tinggal aja berdua. Gue juga mau cabut,” ujar Samuel beranjak pergi.
“Hei, kalian percaya dong sama gue.” Doni hendak menjelaskan apa yang ada, tapi mereka sudah keluar dari ruangan.
“A−aku juga harus pergi,” pamit Kiara langsung pergi meninggalkan Doni.
“Kenapa semuanya pada pergi tinggalin gue?” gumam Doni mengacak rambut, lalu menyusul mereka.
Sampai di parkiran mereka kembali bertemu.
“Kenapa kalian tinggalin aku sama Doni?” protes Kiara menatap mereka semua.
“Kami hanya memberi kesempatan untuk kalian saja. Mana tau ada yang ingin kalian sampaikan secara personal dan gak mau diganggu sama kita-kita ini,” jawab Samuel menyeringai.
“Loh, eng−gak kok. Kita berdua gak ada hubungan apa-apa,” sahut Kiara gugup.
Kiano melihat Doni baru saja tiba di depannya. “Doni, lo yang traktir hari ini!” ucapnya membuat Doni kaget.
“Kenapa jadi gue?” Doni bingung.
“Karena lo udah jadian sama Kiara,” jawab kiano Spontan.
“Hah?” Doni semakin bingung dan Kiara pun mengernyit keningnya.
“Kiara bilang kalian udah jadian,” sambung Kiano kembali dengan mimik wajah yang dibuat seserius mungkin.
Semua orang dibuat terkejut dengan argumen Kiano, tapi mereka hanya mengikutinya saja.
“Eh, itu gak benar,” ucap Kiara membela dirinya.
“Jangan bohong! Tadi kami dengar dari mulu lo sendiri. Amel dan Samuel jadi saksinya.” Kiano menatap Amel dan Samuel dengan tatapan yang mengisyaratkan yang dikatakan ia benar.
“Oh, iya benar,” jawab Amel dan Samuel kompak sambil menganggukkan kepala.
“Nah, dengar sendiri, kan! Aku gak bohong.”
“Apa itu benar?” tanya Doni menatap Kiara dengan serius.
“Eng−gak, aku gak bilang kayak gitu,” Kiara berusaha menyakinkan Doni.
Doni kembali menatap teman-temannya. Wajah mereka seketika dibuat seserius mungkin, sehingga tidak ada celah bagi Doni untuk mencurigai mereka. Yah, benar. Mereka layak mendapat oscar.
“Udah ah, sebaiknya kita pergi aja,” ucap Kiara berdalih.
Amel tersenyum kecil, lalu masuk ke dalam mobil Kiano.
“Eh, ini siapa yang traktir?” tanya Samuel menatap mereka semua.
“Aku yang traktir,” jawab Kiara spontan.
“Ok, kalau gitu kita berangkat,” ucap Samuel beranjak pergi.
Doni dan Kiara saling curi-curi pandang.
“Woi, cepat!” teriak Samuel membuyarkan pandangan mereka. Mereka pun beranjak pergi.
Samuel langsung duduk di kursi belakang. Dengan terpaksa Kiara pun duduk di kursi depan bersama dengan Doni.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Sambil memainkan gadget-nya Samuel melirik mereka dengan senyuman kecil.
“Sepertinya mereka sedang telepati,” batinnya mencurigai.
Kini mobil mereka tiba di sebuah cafe yang sudah menjadi tempat tongkrongan mereka. Mereka turun dari mobil, lalu masuk ke dalam cafe.
Sambil menunggu pesanan mereka tiba, Samuel mulai membuka topik pembicaraan. “Kalian berdua bicara apa aja?” tanya Doni menatap Kiara dan Doni.
“Lah, lo satu mobil sama kita, kenapa lo tanya lagi kita ngomong apa,” balas Doni.
“Gue gak denger kalian ngomong apa, kan kalian pakai telepati,” ujarnya polos.
Tak..
Doni langsung menjitak kepalanya. “Ini telepati.”
“Lo jahat banget sih sama gue,” keluhnya sambil menggosok kepalanya.
Mereka semua cengengesan melihat ke dua pria di depannya sedang bertengkar layaknya anak kecil.
“Bentar, aku mau tanya, kalian beneran serius?” tanya Amel menatap Kiara dan Doni dengan serius.
“Serius apanya?” tanya mereka kompak.
“Hubungan kalian dong. Kalian sudah saling mencintai, kan?”
“Enggak kok,” jawab mereka kembali kompak.
“Dua kali,” sahut Samuel melirik mereka.
“Dua kali apanya?”
“Kekompakkan kalian sudah terhitung dua kali. Satu kali lagi, kalian sudah dipastikan jodoh,” jawab Samuel dengan santai.
Kiara dan Doni tergeming dan tersipu malu.
“Oh ya, gimana pertemuan lo sama keluarga Kiano?” tanya Doni berdalih.
“Pertanyaan gue aja belum kalian jawab. Gimana bisa lo langsung berdalih.”
“Pertanyaan yang mana?” tanya Doni pura-pura lupa.
“Lo gak usah pura-pura *****. Mau gue ulangi lagi apa yang pacar gue tanyain tadi sama kalian?” sahut Kiano.
“Eh, itu privasi. Janganlah kalian ungkit disini.”
“Kalau gitu, pertemuan Amel dengan keluarga gue juga privasi. Lo gak boleh tau,” balasnya dengan santai.
“Eh, lo gak boleh gitu juga kali,” protes Doni.
“Masalah buat lo,” ketus Kiano.
“Ya ampun, kalian berdua bener-bener ngeselin,” protes Doni geram.
“Permisi!” ucap Pelayan sambil meletakkan makanan dan minuman pesanan mereka.
“Terimakasih,” ucap mereka.
“Sama-sama,” jawab Pelayan beranjak pergi.
“Tolong, jangan ada yang bermesraan disini! Gue mau menikmati makan siang gue yang enak ini,” pinta Samuel menatap mereka.
“Kalau mau makan, makan aja. Ribet amat,” sahut Kiano.
“Disini gue yang gak ada pasangan. Jadi, please kemurahan hari kalian!” ucap Samuel memasang wajah melas.
“Mau gue panggilkan Yesi?”
“Weh, janganlah. Jangan macam-macam. Selera makan gue bisa hilang kalau dia ada disini.”
“Kalau gitu, makanlah! Jangan banyak protes!”
“Gitu amat nasib jomblo,” gerutu Samuel sambil mencicipi makanannya.
Ketika pasang mata menatap mereka dengan penuh kesal. Namun senyuman licik terlihat di bibir mereka saat Amel meminum minumannya.
“Dia sudah masuk jebakan kita,” ucap Zira meringai.
“Kecilkan suara lo! atau kita bakalan ketahuan,” titah Farah dengan tatapan tajam.
“Iya maaf. Gue terbawa suasana,” ujarnya.
“Yang lo masukin ke dalam minuman dia itu aman, kan?” tanya Farah serius.
“Aman dong. Palingan dalam satu jam kemudian, tubuh dia akan bentol-bentol. Mereka semua pasti jijik banget lihat dia,” jawab Yesi tersenyum bahagia sambil membayangkan kesuksesan atas rencananya.
“Jenius.” Mereka tertawa bahagia sambil saling bertepuk tangan.
Itu bersaudara.
panggilan itu, aku tidak bisa melupakannya sampai sekarang.
jika aku merindukannya aku sangat berdosa, tp apa yg harus aku lakukan? maafkan aku tuhan, i really miss him:')