Ozaki Rika atau dulunya Ozaki Ryu adalah manusia buatan dari era moderen dan secara tiba-tiba muncul di abad pertengahan yang menjadi wilayah iblis, ia ada di sana karena upacara pemanggilan yang dilakukan oleh Zarathos sang raja Iblis kecil di wilayah itu, Rika dinikahi karena sang Raja Iblis tidak ingin manusia itu disakiti bawahannya, ia memikirkan kegunaan gadis yang terpanggil olehnya karena ia tidak pernah menyangka akan memanggil manusia, karena dalam upacara itu harusnya yang terpanggil adalah monster kuat dari dimensi lain untuk membantunya perang melawan manusia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azai Nagamasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 : Hati yang mulai terbuka
Suamiku adalah Raja Iblis
Malam hari pun tiba, Rika dan Zarathos yang awalnya tidur di kamar yang berbeda sekarang mereka berada di satu kamar yang sama, ya sebenarnya kamarnya masih beda, hanya saja Rika yang datang ke kamar Zarathos dan ingin tidur bareng.
"Rika, kudengar dari Kabuki, kemampuan berpedangmu sangat hebat. Apakah dulu kau adalah seorang ksatria?"
Mendengar pertanyaan dari suaminya, Rika langsung menatap ke arah Zarathos dengan tatapan tenang dan datar lalu menjawab dengan pelan.
"Aku bukan ksatria, aku hanyalah penjahat yang bernaung di dalam idealisme Bushido, meskipun kami mengikuti jalan Ksatria, bukan berarti kami adalah ksatria. Yakuza pada dasarnya adalah penjahat, kami akan melakukan apa saja untuk kebaikan kelompok kami, termasuk menciptakanku sebagai senjata Biologis terkuat dan mudah dikendalikan."
"Senjata Biologis? Lagi-lagi aku mendengar itu darimu, sebenarnya apa artinya?"
"Ya semacam mayat hidup berjalan atau makhluk-makhluk buatan yang sangat buas dan ganas dan bisa digunakan sebagai senjata yang bisa digunakan atau dikendalikan untuk menyerang musuh. Intinya kami adalah senjata yang dibuat dari makhluk hidup, bisa virus, bakteri, jamur atau bahkan manusia sepertiku, yang genetiknya dimodif dan dilatih sejak kecil."
Zarathos hanya diam mendengarkan semua perkataan Rika mengenai senjata Biologis.
"Aku adalah satu-satunya manusia yang bertahan dan tidak menjadi zombie setelah disuntikkan berbagaimacam virus, maka dari itu kekuatan fisik dan regenerasiku jauh lebih kuat dan cepat ketimbang manusia lain."
"Lalu bagaimana dengan yang lain?"
"Subjek gagal yang berubah menjadi Zombie atau mayat hidup dimusnahkan pada saat itu juga dengan cara dibakar hidup-hidup."
Rika menjawab pertanyaan itu dengan wajah murung tanpa sadar air matanya menetes.
"Sahabat baikku dibakar hidup-hidup di depan mataku sendiri. Itu terjadi saat usiaku masih 5 tahun."
"Maaf aku tidak bermaksud membuatmu mengingat sesuatu yang menyedihkan."
"Tak apa-apa. Terkadang pertanyaan mengenai masalalu akan ada satu kenangan menyedihkan yang akan muncul, tapi itu semua sudah berlalu. Aku tidak akan pernah bisa atau bisa dibilang aku tidak punya waktu untuk menangis dan bersedih, karena yang harus aku hadapi adalah masa depan bukan masa lalu."
Oh iya, mereka berdua saling berkomonikasi dalam keadaan berbaring di kasur Zarathos yang cukup mewah.
"Oh iya, aku penasaran kenapa kau malah datang ke kamarku untuk tidur bareng?"
Tiba-tiba wajah Rika langsung bersemu merah dan ia membalikkan badannya ke arah kanan agar tidak saling bertatapan dengan Zarathos.
"Aku tidak tahu!"
"Eh? Maksudnya?"
"A-aku ... pokoknya aku tidak tahu!"
Zarathos pun terdiam mendengar jawaban dari istrinya, lalu tersenyum kecil.
"Benarkah?"
Zarathos menarik tubuh Istrinya agar bisa membuatnya berhadapan dengan dirinya, Rika yang sudah berhadapan pandang dengan suaminya, hanya bisa mengalihkan pandangannya.
"Ya."
Zarathos makin menyeringai, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga istrinya sembari berbisik.
"Lalu apa maksud ajakanmu waktu itu? Jangan bilang kau mempermainkan atau mencoba membohongiku yah hm..."
"Tidak! Aku tidak bermaksud mempermainkan perasaanmu!"
Seru Rika yang secara tiba-tiba bangun dan duduk di kasur sembari menatap tajam ke arah Zarathos.
"Aku selalu serius dan menepati semua janji dan perkataanku kau tahu!"
"Terus ... kenapa kita tidak langsung melakukannya saja?"
Zarathos langsung ikut duduk dan mendekatkan wajahnya ke arah Rika sembari memiringkannya kekanan untuk mengecup bibir istrinya. Namun, sebelum berhasil mencium bibir ranum Rika, tangan Rika sudah menghalangi wajah Zarathos.
"Maaf, bukannya aku tidak mau. Hanya saja aku sedang ..."
Rika nampak kebingungan untuk menjelaskan situasinya pada suaminya ini. Sebenarnya ia juga ingin melakukannya. Namun, seperti yang ia katakan, ia sedang berhalangan. Dengan kata lain ia sedang menstruasi.
Zarathos hanya diam dan menatap istrinya lalu bertanya. "Apakah kau gugup dalam hari pertama kita melakukannya?"
Kedua pipi Rika bersemu merah arah tatapan Rika pun mengarahkan tatapannya ke arah samping, ia seperti malu menatap Zarathos, sang Raja Iblis agung yang telah menjadi suaminya.
"Bukan itu Kanda Prabu, hanya saja ... hari ini aku tidak dalam keadaan yang memungkinkan untuk melakukannya, aku juga tidak tahu mengapa, tapi. Tak lama setelah aku mengajakmu untuk melakukan itu, bagian ************ dan perutku terasa sakit dan nyeri ketika aku periksa bagian bawahku mengeluarkan darah. Saat aku bertanya pada tabib, mereka bilang aku sedang menstruasi, mereka menyarankan agar aku tidak melakukan hubungan intim denganmu karena itu hanya akan menambah rasa sakitnya."
Zarathos terdiam mendengar penjelasan Rika, semnetara itu Rika bingung mau berkata apa lagi hanya bisa meminta maaf karena tidak bisa memenuhi janji dan ajakannya sendiri kepada suaminya.
"Maaf karena memberikan harapan palsu padamu, meskipun aku tidak bermaksud, tapi jika kau masih ingin melanjutkannya silahkan, aku hanya ingin memberitahumu itu, sisanya terserah padamu Kakang."
Zarathos hanya tersenyum kecil dan mencubit pipi Rika.
"A-au hentikan, itu rasanya sangat sakit Kanda Prabu!"
Rika langsung menepis tangan Zarathos dan mengelus pipinya yang memerah karena dicubit oleh suaminya.
"Lalu bagaimana denganmu, apakah kau tidak masalah jika aku memaksakan kehendakku padamu?"
"Tidak, karena jika diingat-ingat kembali, akulah yang mengajakmu melakukannya bukan, ini sudah janjiku sudah kewajibanku untuk memenuhinya. Aku hanya memberitahumu kalau aku sedang Datang bulan, tapi bukan berarti aku melarangmu untuk melakukannya, semuanya kuserahkan pada keinginan dari Kanda Prabu."
Mendengar tanggapan dari istrinya, Zarathos hanya bisa tersenyum kecil dan mendorong pelan Rika agar Rika berbaring kembali di kasur, ia pun mulai memposisikan diri untuk berada di atas Rika, sementara itu Rika hanya bisa diam pasrah melihat apa yang akan dilakukan suaminya setelahnya.
Bersambung