NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami Dicintai Pangeran Dubai

Dikhianati Suami Dicintai Pangeran Dubai

Status: tamat
Genre:Janda / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Crazy Rich/Konglomerat / Miliarder Timur Tengah / CEO / Tamat
Popularitas:986.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rere ernie

Alena Prameswari percaya bahwa cinta bisa mengubah segalanya.

Tapi setelah tiga tahun menikah dengan Arga Mahendra, ia sadar bahwa kesetiaan tak akan berarti bila hanya satu pihak yang berjuang.

Saat pengkhianatan terbongkar, Alena memilih pergi. Ia menerima proyek desain di Dubai... tempat baru, awal baru.

Tanpa disangka pertemuan profesional dengan seorang pangeran muda, Fadil Al-Rashid, membuka lembaran hidup yang tak pernah ia bayangkan.

Fadil bukan hanya pria miliarder yang memujanya dengan segala kemewahan,
tetapi juga sosok yang menghargai luka-luka kecil yang dulu diabaikan.

Namun cinta baru tak selalu mudah.
Ada jarak budaya, gengsi, dan masa lalu yang belum benar-benar selesai. Tapi kali ini, Alena tak lari. Ia berdiri untuk dirinya sendiri... dan untuk cinta yang lebih sehat.

Akankah akhirnya Alena bisa bahagia?

Kisah ini adalah journey untuk wanita yang tersakiti...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 5.

Malam itu Alena menunggu Arga pulang. Hujan deras baru saja reda, menyisakan udara lembap yang menempel di dinding rumah.

Di meja makan, sepiring ayam lada hitam sudah dingin sejak dua jam lalu. Pukul sudah lewat sebelas malam ketika suara mobil terdengar di garasi.

Arga masuk dengan wajah lelah, dasinya miring dan rambutnya sedikit berantakan.

“Maaf, lembur...” katanya singkat.

Alena menatap suaminya tanpa bicara.

Lalu dengan tenang, ia mendorong piring di depannya sedikit ke arah Arga.

“Makan dulu, aku masak sejak sore.”

Arga melihat jam. “Udah malam, Len. Aku nggak lapar.”

“Lembur di restoran?” Nada suara Alena tenang, tapi tatapan matanya menusuk.

Arga mendongak cepat. “Maksud kamu apa?”

Alena tersenyum tipis. “Aku cuma nanya, soalnya aku nemu nota restoran di saku jas kamu. Dua orang, atas nama Nadine.”

Hening.

Udara di antara mereka mendadak padat.

Arga menarik napas panjang. “Len, jangan mikir yang enggak-enggak. Itu urusan kantor...”

“Urusan kantor sampai malam? Di restoran bintang lima?” Alena masih bicara lembut, tapi ada getir yang menetes di setiap katanya.

“Len, aku capek. Bisa nggak sih jangan bahas beginian malam-malam?”

“Bisa... kalau kamu jujur.”

Arga melempar dasinya ke sofa dengan kasar, lalu berjalan ke arah kamar. “Kamu tuh selalu nyari masalah, Len! Aku kerja juga buat kamu!”

Kata “buat kamu” itu menusuk.

Karena kalau benar untuknya, kenapa rasanya justru seperti dibayar dengan kesepian?

Alena berdiri, menatap punggung suaminya.

“Kamu tahu, Mas. Selama ini aku nggak pernah minta banyak, aku cuma mau didengar. Diperhatikan sedikit aja... tapi, bahkan itu saja kamu nggak bisa kasih.”

Arga berhenti sejenak, lalu menoleh dengan wajah datar. “Mungkin kamu yang terlalu sensitif.”

Dan di titik itu, sesuatu di dalam diri Alena patah. Ia tidak berteriak, dan tidak menangis. Ia hanya berbisik pelan, “Mungkin juga... karena kamu yang sudah berhenti mencintaiku.”

Tanpa menunggu balasan suaminya, Alena berjalan ke kamar lain lalu menutup pintu. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan, mereka tidur di ruangan yang berbeda.

Keesokan paginya, rumah itu terasa lebih dingin dari biasanya. Arga sudah berangkat tanpa berpamitan, meninggalkan aroma parfum baru di udara.

Alena berdiri di ambang pintu, menatap sekeliling. Ruang tamu yang rapi, vas bunga di meja dan cangkir kopi bekas semalam. Semuanya tampak sama, tapi rasanya sudah tak lagi rumah.

Tak lama ia duduk di tepi ranjang, menatap koper kecil yang baru saja ia isi. Beberapa potong pakaian, dokumen-dokumen penting, laptop, dan satu album foto pernikahan yang sudah mulai menguning di pinggirnya.

Foto di halaman pertama memperlihatkan mereka tersenyum bahagia saat menikah.

Alena menyentuh wajahnya di foto itu, lalu tersenyum tipis. “Lucu, ya. Ternyata... aku pernah sebahagia itu.”

Ia tak tahu akan pergi ke mana, tapi ia tahu satu hal jika ia tak bisa terus tinggal di rumah yang membuatnya kehilangan dirinya sendiri.

Pukul sembilan pagi, ia meninggalkan rumah dengan langkah pelan.

Tak ada air mata, tak ada drama. Hanya keheningan yang menandakan akhir dari sesuatu yang sudah lama retak.

Saat mobil taksinya berbelok di ujung jalan, ponselnya bergetar.

Pesan dari Arga : [Kamu ke mana? Kenapa pergi tanpa bilang?]

Kenapa dia tau aku pergi? Apa dia ngecek Cctv?

Alena membalas pesan Arga: [Aku cuma mau cari udara segar, rumah itu terlalu sesak oleh hal yang tak lagi ada.]

Lalu ia mematikan ponselnya.

Untuk sementara, dunianya boleh diam. Ia hanya ingin menenangkan jiwanya yang lelah.

Alena menyewa kamar kecil di apartemen sederhana dekat tempat ia biasa nongkrong dulu sebelum menikah. Tempat itu tidak mewah, tapi punya jendela besar yang menghadap kota.

Setiap malam, lampu-lampu gedung menjadi penenang. Mengingatkannya bahwa dunia masih luas, dan hidupnya belum berakhir hanya karena cinta yang gagal.

Hari-hari pertama terasa sepi, tapi bukan sepi yang menakutkan. Justru di kesendirian itu, ia mulai menemukan dirinya lagi. Ia bekerja lebih fokus dari sebelumnya, ia belajar memasak hanya untuk dirinya sendiri dan rasanya entah kenapa lebih nikmat.

Namun, rasa sakit itu belum hilang sepenuhnya. Terkadang di tengah malam, ia masih teringat wajah Arga.

Bagaimana pria itu dulu tertawa, memeluknya, berjanji akan selalu melindungi. Janji yang kini... hanya tinggal kata di udara.

Suatu malam ia membuka akun media sosial tanpa sengaja, dan menemukan foto Arga bersama rekan-rekannya di acara perusahaan.

Di sebelah Arga, Nadine berdiri terlalu dekat dengan senyum manis yang tak butuh banyak tafsir.

Alena menatap foto itu lama, lalu menutup layar. Bukan untuk menyangkal, tapi untuk menegaskan pada dirinya sendiri. Ia tidak akan membiarkan foto itu menjadi alasan untuk dirinya hancur.

“Dikhianati bukan akhir dunia,” bisiknya pada diri sendiri. “Kadang, justru itu cara Tuhan membebaskan kita dari tempat yang salah.”

Pagi itu, Alena menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya masih sama, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya... keteguhan.

Bukan ketegasan yang dingin, tapi ketenangan yang lahir dari penerimaan. Ia duduk di meja kecil apartemennya, sudah lama ia punya rencana. Sekarang dia akan menapaki hidup baru, tanpa Arga.

Malamnya, ia membuka laptop dan mencari tiket. Jari-jarinya berhenti di satu kalimat di layar.

Jakarta – Dubai, One Way.

Ia menatapnya lama, lalu mengklik tombol book now. Tak ada keraguan, hanya ketenangan yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.

Bukan karena ia tak lagi mencintai Arga, tapi karena akhirnya ia memilih mencintai dirinya sendiri lebih dulu.

Alena tersenyum bukan karena seseorang, melainkan karena... dirinya sendiri.

1
Sandisalbiah
manusia yg terlalu berambisi, menyangka bisa menggenggam semuanya tp justru tdk dapat memiliki apapun.. Layla terlalu percaya diri hingga menyepelekan lainya dan masih belum sadar kalau dia sudah kehilangan segalanya krn arogansinya...
Sandisalbiah
jika Fadil naik jd kandidat putra mahkota jelas Alena akan tersingkir... krn dewan istana pasti akan menolaknya
Elwin Hanner
aku juga kalau suami kaya gitu dah tinggalin aja biar tau rasa
Sandisalbiah
kau itu terlalu sombong akan dirimu sendiri Nadine.. krn dulu kau mampu mengalihkan dunia Arga SESAAT, kau jd merasa jumawah akan selalu bisa mengalahkan Alana.. jgn lupa kau hanya mengalihkan perhatian Arga tp tetap kau tdk pernah jd seseorang yg dia pilih yg artinya.. kau tdk begitu penting dan tdk juga berharga..
Sandisalbiah
Nadine dan layla bila di gabungkan bakal jd duet maut ini... para perempuan dgn obsesi tinggi dan bonus sgn sifat iri dengki.. lengkap sudah peran antagonis yg mematikan
Sandisalbiah
inilah yg sedari awal di khawatirkan dr hubungan mereka berdua... di tentang oleh pihak istana, setatus sosial yg berbeda dan parahnya munculnya seseorang dgn obsesi dan ambisi gilanya dan nanti ujungnya keselamatan dan hati Alana yg bakal jd taruhannya..
Sandisalbiah
perempuan kalau udah terobsesi bakal menghalalkan segala cara buat dapetin apa yg dia mau...
Sandisalbiah
Fadil tipe pria yg lembut dan tdk menggebu, justru itu nilai lebihnya perhatian tulus tp tdk memaksa terkesan seperti malu malu tapi pasti dan perempuan dgn perasa yg lembut sangat faham dan nyaman dgn sinyal seperti ini.. TETAPI.. apakah akhirnya akan bahagia..?
Sandisalbiah
lumrahnya perempuan mendapat perhatian lebih pasti hatinya akan tercetak tp.. Fadil itu beneran jauh dr jangkauan, statusnya sebagai Pangeran dan setatus Alana yg rajel.. bakal ada luka baru nantinya diantara keduanya, bahkan dulu tunangan Fadil juga di celakai keluarganya kan... ini bakal mengancam keselamatan Alana juga kan.. harusnya Fadil tau resiko itu
Sandisalbiah
takutnya Alena akan terluka lagi dan mu GKIN makin dalam.. Fadil sosok yg sulit buat di gapai..
Siti Saodah
kalo saudara sepupu itu memang boleh nikah,,apalagi di timur tengah itu kebanyakan menikah sama sepupu nya,,itu gak lumrah di sana
Siti Saodah
kok Amina gak kaya ibu nya yang bar bar dan pemberani
Siti Saodah
pada akhir nya putri Layla tidak akan mendapatkan siapa pun karena ke egoisan nya sendiri,,akhir nya dia hanya gigit jari
Siti Saodah
🤣🤣🤣 saya malah ngakak duluan thor baca komenan nya teh Maya 🙏
Siti Saodah
sama sama membenci Alena tanpa alasan yang jelas,,dua manusia yang tak punya akhlak
Siti Saodah
dasar Mak lampir,,dari niat nya aja bukan mau kerja tapi pingin menyingkirkan Alena,,pelakor gak tau diri
Siti Saodah
harus nya gugat cerai dulu
Siti Saodah
katanya kalo pagi nya gitu lagi mau cari tau tapi kenyataan nya diam aja
Lesmana
wow ternyt itu motif nya toh😄😄
Lesmana
aziz bunuh humaira ada motif nya.. tp bunuh ayahnya fadil , motifnya apa yah ?? apa krn tkt ayahnya fadil jd raja kah ??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!