NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Dan Rasa

Belenggu Janji Dan Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: "Emy"

seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Ternyata, di balik layar, ada seorang informan rahasia yang langsung menghubungi Tuan Ganesha. Informan itu melaporkan detik-detik penyekapan Rara oleh komplotan Jesika di gudang tua sekolah.

"Tuan Besar, posisi Rara saat ini sedang dalam bahaya di gudang belakang sekolah. Bagaimana Tuan... apakah saya harus bergerak masuk untuk membantunya?" tanya sang informan dari balik telepon rahasia.

Seseorang di sebrang telephone terdiam sesaat di ruang kerjanya yang mewah. Mata elangnya menatap lurus ke depan, menguji sejauh mana kesiapan Athur. "Jangan dulu. Aku ingin tahu bagaimana Athur berusaha menyelamatkannya dengan tangannya sendiri. Tapi... jika situasi di dalam sana sudah benar-benar tidak kondusif dan nyawa Rara terancam, kamu harus segera melangkah masuk dan membantunya tanpa ragu."

"Baik, Bos. Perintah dimengerti," sahut informan itu tegas, tetap bersiaga di sudut tersembunyi dekat laboratorium sekolah.

Sementara itu, di dalam mobil MPV hitam yang melaju kencang mengiringi motor Athur, ponsel Evan mendadak bergetar hebat. Sebuah nomor baru yang tidak dikenal berkedip di layar. Evan segera menggeser tombol hijau.

"Halo, siapa nih?" tanya Evan dengan nada mendesak.

"Hai, Van! Ini gue, Daren!" suara di seberang sana terdengar akrab namun sedikit terengah-engah.

"Kalian semua di mana? Gue baru aja mendarat dan sampai di markas pusat nih setelah lolos dari perbatasan Kota S!"

Mendengar suara Daren yang menghilang selama tiga minggu, Evan langsung mengembuskan napas lega. Tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun bahwa hilangnya kontak Daren berkaitan dengan jebakan internal musuh, Evan langsung membeberkan posisi mereka saat ini.

 "Gila lu, Ren! Ke mana aja lu?! Sekarang posisi kita lagi darurat tingkat tinggi, Bos Athur sedang melaju kencang menuju kawasan SMA Garuda! Bidadari kontrakan diculik sama Jesika!"

Di seberang telepon, Daren terdiam sesaat. Sebuah seringai licik yang sangat tipis terukir di bibirnya yang tersembunyi. "SMA Garuda... oke, gue paham. Gue segera susul kalian ke sana," ucap Daren sebelum memutus sambungan telepon dengan penuh teka-teki.

BUMMM!!!

Suara raungan mesin motor sport ber-cc besar milik Athur membelah keheningan area belakang sekolah yang sepi. Motor itu direm mendadak hingga menciptakan suara decitan ban yang memilukan di atas tanah berpasir depan gudang tua.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Athur melompat turun dari motornya. Aura membunuh dari Pria itu keluar sepenuhnya, matanya merah padam menahan amarah yang sudah di ubun-ubun. Dengan seluruh kekuatan fisiknya, Athur melayangkan tendangan maut tepat ke arah pintu besi gudang yang terkunci dari luar oleh Tasya.

BRAAAAKKKKK!!!

Engsel pintu besi itu jebol seketika, hancur berkeping-keping menghantam lantai semen gudang yang berdebu. Pintu terbuka lebar, menampilkan pemandangan mengerikan di dalam keremangan ruangan yang langsung membuat jantung Athur serasa berhenti berdetak sesaat.

Di dalam gudang, Jesika sudah berdiri tepat di depan Rara yang terisak lemas dengan potongan rambut kesayangannya yang berserakan di lantai. Tangan Jesika sudah memegang sebuah pisau lipat tajam yang berkilat, siap untuk menggoreskan luka permanen di atas pipi mulus Rara yang sudah lebam.

Jesika, Tasya, dan Nisa langsung terkejut setengah mati mendengarkan hancurnya pintu besi tersebut. Saat melihat sosok tegap Athur melangkah masuk dengan jaket kulit hitam dan masker yang menyembunyikan wajah bengisnya, tubuh Tasya dan Nisa langsung gemetar hebat ketakutan. Mereka tahu, singa dunia bawah tanah telah tiba di wilayah mereka.

"Bangsat kalian!"

"A-Athur?!" pekik Jesika histeris, langkahnya mundur seketika.

Namun, kegilaan dendam di kepala Jesika membuatnya bertindak nekat. Sebelum Athur sempat meraih tubuh Rara, Jesika dengan cepat menarik paksa kerah seragam Rara yang terkoyak, memosisikan tubuh mungil Rara di depan dadanya sebagai tameng hidup. Ujung pisau lipat yang tajam itu kini ditudingkan tepat di urat leher Rara.

"Jangan mendekat, Athur!! Satu langkah lagi kamu maju, aku pastikan leher pelayan sialan ini robek di depan matamu!" ancam Jesika dengan suara melengking gila, tangannya gemetar namun pisaunya tetap menempel ketat di kulit leher Rara.

Rara hanya bisa menangis sesenggukan dalam isakan kecil, menatap suaminya dengan pandangan ketakutan yang teramat sangat.

"M-Mas... tolong..." cicit Rara lirih.

Melihat pisau itu mengancam nyawa istri kecilnya, Athur mengamuk hebat di sana. Emosi Athur meledak melampaui batas kemanusiaannya. Ia mengepalkan kedua tangannya hingga urat-urat birunya menonjol sempurna di balik kulit, suaranya menggelegar laksana petir yang meruntuhkan seisi gudang tua.

"JESIKAAA!!! JANGAN BERANI-BERANI KAMU SENTUH DIA DETIK INI JUGA, ATAU SAYA PASTIKAN TIDAK AKAN ADA SATU PUN ANGGOTA KELUARGAMU YANG BISA MELIHAT MATAHARI BESOK PAGI!!!" raung Athur dengan tatapan mata elang yang memancarkan aura kematian mutlak, mengunci pergerakan Jesika di tengah ketegangan maut.

Informan Tuan Ganesha yang bersembunyi di balik bayang-bayang pilar laboratorium luar melihat situasi di dalam gudang sudah sangat kritis. Pisau di leher Rara membuat napasnya tertahan, dan ia sudah bersiap untuk menerobos masuk demi menjalankan perintah Tuan Besar. Namun, mata elangnya mendadak menangkap gerakan tangan Athur di balik punggung. Sebuah bahasa isyarat tak terlihat yang diarahkan khusus kepada Evan dan Bagas yang baru saja tiba di ambang pintu.

Bagas mengangguk faham. Sebagai asisten yang cerdas, ia langsung melangkah maju ke garis depan, menyejajarkan posisinya untuk menarik seluruh perhatian Jesika.

"Jesika, dengarkan saya!" seru Bagas dengan suara lantang, sengaja mengangkat kedua tangannya.

 "Aset keluargamu bisa dikembalikan dalam hitungan menit jika kamu menurunkan pisau itu sekarang! Jangan hancurkan masa depanmu demi dendam bodoh!"

Athur pun mulai mengambil alih perundingan, suaranya sengaja dibuat melunak namun tetap penuh perhitungan untuk menekan psikologis mantan tunangannya. "Kamu ingin uang, Jesika? Berapa yang kamu mau? Katakan. Saya akan berikan seluruh saham perusahaan desain saya asal kamu lepaskan Rara," umpan Athur, terus mengulur waktu.

Jesika yang telanjur gila karena dendam mulai goyah. Fokusnya terbagi mendengar tawaran menggiurkan tersebut. Di saat perhatian Jesika lengah sepenuhnya, Evan bergerak secepat kilat bagai bayangan dari sudut kiri gudang, langsung menerjang tangan Jesika yang memegang pisau.

Namun, Jesika yang sejak awal waspada ternyata memiliki refleks yang sangat gesit. Saat pisaunya terlepas dari genggaman karena hantaman Evan, tangan kirinya dengan cepat menyambar gunting tajam yang tergeletak di atas meja kayu dekat tubuh Rara. Dengan mata menyalang gila, ia mengayunkan gunting itu, berniat menusukkannya tepat ke arah perut Rara!

Rara yang jiwanya sudah tertempa kerasnya hidup tidak tinggal diam. Insting bertahannya meledak. Dengan gerakan yang tak kalah gesit, Rara menepis rasa takutnya dan langsung menangkap ujung gunting yang tajam itu menggunakan telapak tangan kirinya yang masih bersih!

Sret! Akh!

Ujung besi tajam itu menggores dalam telapak tangan Rara hingga darah segar kembali mengucur deras.

"Ra...!! "

Di saat bersamaan, Athur berteriak murka dan langsung berlari menerjang maju, sementara Evan akhirnya benar-benar mampu melumpuhkan kedua tangan Jesika, menguncinya ke lantai semen hingga wanita itu tidak bisa bergerak lagi.

Athur langsung merengkuh tubuh mungil Rara ke dalam dekapan hangatnya. Napas sang mafia memburu kencang, wajah datarnya runtuh digantikan oleh rasa cemas dan ketakutan luar biasa yang belum pernah ia tunjukkan seumur hidupnya.

"Rara! Tanganmu!" teriak Athur panik, suaranya bergetar hebat saat melihat darah mengalir dari telapak tangan istrinya.

1
Embhul82
bagus ceritanya q suka
Emy: makasih sudah mau mampir. Jangan lupa kritik dan saran
total 1 replies
Embhul82
up lagi kak 🤭
Brigita
kurang paham di ini sih
Emy: makasih bnyak kak sudah di koreksi. sebagai manusia pasti tetap ada kesalahan. Alhamdulillah kak sudah di perbaiki
total 1 replies
Brigita
lanjutt truss kakk😍👍💪
Emy: terimakasih kak
total 1 replies
Brigita
semangat kakkk💪💪💪👍😍
Emy: Makasih sudah hadia kak. kritik dan sarannya y kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!