Bagaimana jika kamu menjalankan kehidupan yang sama tapi semuanya tidak serupa lagi?
Ini adalah kisah dari Gill, wanita muda yang mengalami jatuh bangun di kehidupannya saat harus memilih antara jujur atau menyembunyikan identitasnya sebagai ibu muda dari seorang anak di luar nikah.
Apakah semua ini sudah digariskan oleh takdir?
Saat Gill harus terpuruk kembali oleh perbuatan sang mantan, dia mendapatkan pertolongan dari pria bernama Vince, orang yang memiliki latar belakang yang kuat dan ternyata juga telah memiliki seorang anak.
Vince menghadapi permasalahan yang melilitnya dan tepat disaat itu, dia juga membutuhkan wanita yang bisa membantunya.
Apakah Vince hanya mengambil keuntungan dari Gill dengan mendekatinya? Atau adakah yang Vince inginkan lebih dari itu?
Kisah keduanya seperti anggrek dan mawar. Yang satu bertahan hidup untuk tumbuh di berbagai medan sulit dan berusaha untuk mekar, dan yang satunya lagi terlihat cantik mempesona, tapi durinya yang tajam bisa melukaimu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jiel Ruu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 Alasan untuk itu bagian (4)
Aku sedikit merasa penasaran dengan Vince ini. Dia sangat tenang, tapi di sisi lain kepribadiannya sangat misterius. Aku juga sudah bertemu dengannya beberapa kali, tapi informasi yang ku tau hanya namanya saja. Apakah orang ini berbahaya apa tidak ya?
"Bagaimana dengan luka anda? Apa sudah sembuh semua?" tanya Vince kepadaku sembari kami berjalan ke rumahku.
"Ah iya. Sudah mendingan kok. Tapi apakah anda ada mengirim obat ke rumah saya?" tanyaku. Tentu saja aku bertanya, rasanya akan aneh bukan kalau tiba-tiba dia mengirim itu ke rumahku sedangkan kami tidak saling mengenal.
Vince mendiamkan aku. Wajahnya datar dan terlihat dia sedang memikirkan sesuatu.
Orang ini, bisa-bisanya cuma diam pas ditanya. Tuan! Anda dengar tidak sih?!
Aku menatapnya sekilas dengan ekspresi kesal. Aku sungguh berpikir apakah pertolongannya selama ini ada maksud tersembunyi apa tidak, karena dia sering membuatku kesal sendiri walaupun nyatanya dia tidak melakukan apa-apa!
"Oh, apa tadi anda bertanya pada saya?"
Kampret! Telat sadarnya woi! Tapi sabar Gill, orang ini udah tolongin kamu dua kali lho, sabar saja.
"Saya hanya bertanya soal obat yang anda kirim beberapa waktu lalu kok,"
Vince menatapku dan masih dengan ekspresi datarnya. Sepertinya dia benar-benar sedang memikirkan sesuatu.
"Apa obatnya kurang banyak?" ngak nyambung hei!
"Aha ha ha... . Tidak, bukan apa-apa kok. Lupakan saja."
Aku menyerah untuk menanyakannya. Dia beneran ngak nyambung apa pura-pura bolot sih. Dan tolong ya, jangan pandang aku begitu, aku jadi ngak enak sama orang sekeliling yang melihat kita.
Aku menghela nafas dan pasrah berjalan terus. Sepertinya lebih bagus kalau kami sampai lebih cepat dan aku mengembalikan jaketnya. Habis itu tidak usah ketemu lagi deh.
Vince melirik ke arah Gill. Dia memperhatikan Gill secara mendetail. Vince menyadari kalau wanita di sampingnya ini benar-benar tidak peduli ataupun berusaha mencari informasi apapun darinya.
Aneh, kemarin aku sengaja ngantar dia pakai mobil mewahku dan dia cuma bahas obat doang? Kalau cewek yang biasanya aku tes, ketika ketemu lagi pasti lengket banget pingin kenalan atau cari informasi tentangku karena berpikir aku cowok kaya. Yang ini lihat aku saja kayaknya terpaksa banget, ucap Vince dalam hatinya.
Sesampainya di rumahku, aku mempersilakan Vince untuk masuk. Aku meletakan barang-barang yang aku beli tadi di atas meja. Rasanya sedikit aneh mengajak seseorang yang tidak teralu di kenal ke rumah, malah cowok lagi.
"Anda boleh duduk dulu, saya akan membuatkan teh. Nanti saya akan mengambilkan jaket anda."
"Hm. Iya, baiklah."
Gill kamu ngak salahkan ajak orang ini masuk?! Dari tadi dia ngak ngomong dan sekarang jawabannya singkat banget lho; ucapku dalam hati sambil berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman. Bagaimanapun dia adalah tamu sekarang.
Vince melihat sekeliling. Perabot yang sederhana, kebersihan yang terjaga, wangi ruangan yang membuat nyaman. Suasananya terasa sepi, apakah dia tinggal sendirian di sini? Pikirnya.
Waktu itu dia bilang kalau sudah punya anak, tapi tanda-tanda ada anak kecil di sini tidak ada. Aku juga sudah memperhatikan rumahnya sejak beberapa hari lalu, ngak ada orang yang keluar masuk kecuali teman ceweknya yang saat itu. Apa anaknya di titipkan di tempat lain?
"Vince, ini tehnya, silahkan diminum dulu. Oh ya, jaket anda juga sudah saya lipat dan di masukan ke dalam paper bag ini. Terimakasih lagi sudah banyak menolong saya."
Aku menyeduhkan teh untuknya dan duduk di kursi yang berhadapan. Dia hanya mengangguk dan menyeruput teh itu. Suasananya benar-benar terasa aneh dengan segala kesunyian ini.
"Apa anda tinggal sendirian?"
"Ah? Iya. Saya tinggal sendirian di sini, apa ada sesuatu?"
"Tidak. Soalnya anda pernah bilang kalau anda punya anak?"
Buset dah! Kok dia tanyain soal Leon?! Apa jangan-jangan dia ini mata-mata?!
"Emm, putraku tinggal bersama orang tuaku di kota lain," jadi ngak enak perasaanku.
"Oh. Begitu," jawab Vince dengan singkat sambil mengangguk.
Ada apa dengan orang ini?! Pertanyaannya mencurigakan banget. Aku mesti lebih hati-hati nih.
Suasananya menjadi aneh lagi karena setelah itu Vince hanya terdiam. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak mungkin aku mengusirnya dari sini.
Aku mendengar ada suara mobil berhenti di depan rumahku. Sepertinya ada yang berkunjung ke sini. Di pikiranku pasti itu Renata, karena biasanya yang datang itu adalah dia.
"Sepertinya di depan ada orang," ucap Vince.
"Iya. Maaf saya lihat dulu ya,"
Aku mengintip dari jendela untuk memastikan mobil siapa yang berhenti itu.
"Oh, itu teman saya Renata yang kemarin itu."
"Baiklah, kalau begitu saya juga undur diri dulu. Terimakasih sudah membersihkan jaket saya juga," jawab Vince sambil beranjak dari kursinya.
"Tidak masalah, kalau begi- Uahh!!! Tante Emila?!!"
Aku sangat kaget! Ternyata Renata kemari bersama Tante Emila. Bisa habis aku kalau tante tau ada cowok di rumahku dan kami hanya berdua. Selama ini Tante Emila juga sering menyudutkan aku untuk menikah, kalau dia cerita ke ayah dan ibu soal di rumah aku bersama cowok, bisa mati aku!
"Tidak!! Anda tidak boleh keluar Vince!"
Aku menghadang Vince yang mau keluar dari pintu. Ini ngak boleh di biarkan! Tante Emila bisa salah paham kalau lihat Vince di sini, apalagi Renata sering kerjain aku! Boro-boro ngebantu, tambah masalah iya!
"Y-Ya?"
"Maaf Vince, saat ini anda tidak boleh keluar!"
"Kenapa begitu?" tanya Vince sedikit kebingungan.
"Pokoknya tidak boleh!" Tuan, aku ngak ada waktu untuk menjelaskan sekarang! Mereka udah turun dari mobil!
"Intinya anda tidak boleh ketemu dengan orang di luar itu!"
"Tapi dia teman anda bukan?"
"Kalau cuma Renata sih ngak apa-apa!"
"Tapi kenapa?"
"Rena, kamu ngak telpon Gill dulu? Kita datang tiba-tiba begini, siapa tau dia masih tidur," terdengar suara dari luar yang semakin dekat.
Sial! Harus cepat! Ayo Gill harus bergerak!
"Pokoknya anda harus sembunyi dulu! Nanti saya baru jelaskan!"
Aku langsung menarik Vince ke dalam untuk bersembunyi. Sebelum mereka menyadari ada keributan di dalam rumah, aku harus menyembunyikan pria ini.
"Tolong sembunyi di dapur! Tidak! Di sini pasti ketauan! Dalam kamar mandi saja! Tapi nanti pasti ada yang pakai kamar mandi!"
Gila! Aku bingung suruh orang ini sembunyi di mana! Tubuhnya lumayan besar jadi pastinya ketauan!
Ting Tong~
Waaah!! Mereka sudah memencet bell! Sekarang harus bagaimana?! Aku panik banget!
"Aaa... Anda tidak apa-apa? Anda kelihatan pucat lho?" tanya Vince yang masih kebingungan.
"Tidak! Saya ngak apa-apa! Anda masuk ke sini saja!"
Aku mendorong masuk Vince kedalam kamarku. Ini satu-satunya tempat yang tidak akan dicurigai.
"Maaf! Tolong anda jangan bersuara! Setelah semuanya selesai saya akan mengeluarkan anda, jadi di mohon untuk tetap di sini sampai saya kembali!"
BLAM!!!
Gill menutup pintu dengan kencang. Vince sampai tidak bisa berkata apa-apa dan terdiam di sana.
Pfftt!!! Benar-benar wanita yang menarik. Sejak kapan dia punya energi dan bisa segesit itu. Dan lihat~ ternyata ini kamarnya ya.
Aku mengemaskan cangkir dan menyembunyikan sepatu Vince agar tidak ada jejak. Tentu saja sampai berlari dengan berjingkrak-jingkrak tidak jelas karena tidak mau membuat suara berisik!
Gila! Rasanya aku udah kayak nyembunyiin selingkuhan saja! Padahal kan ngak ada apa-apa!
Bell pintu berbunyi lagi dan aku hampir selesai mengemaskan semuanya.
"Kayanya Gill masih tidur deh Rena, ayo jangan ganggu dia,"
"Ayolah ma, aku tau Gill itu ngak mungkin tidur sesiang begini. Pasti ada sesuatu deh,"
"Ya sudah, coba tekan bellnya sekali lagi,"
BRAAKK!!!
"Iya! Aku sudah bangun!"
Tampa sadar aku membuka pintu dengan sangat kencang dan berteriak. Nafasku ngos-ngosan dan tampangku berantakan sekarang. Tante Emila dan Renata memandangiku dengan terkejut dan kebingungan. Habislah aku kali ini!
"Buset! Kamu habis ngapain sampai begitu?!!" tanya Renata.
"Gill, kamu ngak apa-apa..?" lanjut Tante Emila.
"Aahahaha! Aku ngak apa-apa kok. Tadi pagi aku habis lari pagi, pulang terus ketiduran sebentar, jadi aku kaget pas dengar ada suara bell," maafkan aku yang harus bohong!
"Bhahaha!!! Gila, kamu beneran kacau banget Gill. Aku sempat ngira kamu habis kena gempa dimana lho!"
"Kamu bagaimana sih Rena, coba kamu telpon dulu, jadi Gill kan ngak akan terkejut,"
"Sudah ngak apa-apa kok Tante. Mari masuk dulu," tapi jangan ke kamarku, tolong!
Tante Emila dan Renata pun masuk kedalam. Bagi Renata, rumahku sudah seperti rumahnya sendiri jadi dia tidak segan-segan lagi. Kami duduk di meja makan dapur dan aku sendiri merapikan diriku yang sangat kacau ini.
"Kamu masih betah tinggal sendiri ya Gill,"
"Iya tante, bagiku ini sudah nyaman kok,"
Aku membuatkan minuman untuk mereka dan meletakannya di atas meja makan. Aku ngak yakin apakah Vince di dalam situ bisa tenang apa tidak, semoga saja tidak ketahuan dan dia tidak melihat yang aneh-aneh di kamarku!
*Selama Vince berada di kamar Gill*
Pffft! Maaf, aku ngak niat apa-apa. Cuma ini tergantung di sampingku, Nona Gill ternyata atasan dalam kamu pakai ukuran 38 ya?
Vince menahan tawanya sekuat mungkin sampai cekikikan. Dia tidak sengaja melihat atasan dalam milik Gill yang tergantung tepat di sampingnya. Kemudian di sebelahnya lagi, ada sebuah meja yang biasa di gunakan Gill untuk melakukan hobinya. Terdapat banyak buku novel dan komik yang tersusun rapi di rak. Berbagai alat tulis dan mewarnai, kemudian sebuah buku sketsa yang menarik perhatian Vince saat itu.
Oh? Apa ini dia buat sendiri?
*Kembali ke dapur*
"Seandainya Rena-ku bisa semandiri kamu Gill, tante pasti ngak bakal khawatir pas dia menikah nanti,"
"Ma! Plis deh, jangan bahas nikah terus!"
"Kamu harusnya banyak belajar sama Gill! Lihat tuh, dia tinggal sendiri tapi masak sama bersih-bersihnya ngak ketinggalan. Suaminya nanti pasti bakal sayang banget,"
"Aha ha haa, tante aku belum mau nikah kok,"
Benarkan! Kalau saja tadi aku ngak sembunyikan Vince, kali ini Tante Emila pasti langsung menyeretku ke kantor catatan sipil!
"Tapi Gill, kamu ngak kepikiran sama Leon mu itu, upps!"
Tante Emila langsung tersentak, dia lupa kalau Renata berada di sini dan dia sedikit keceplosan. Aku tau selama ini dia sudah sangat berusaha untuk membantuku menutupi soal identitas Leon.
"Tidak apa-apa kok tante. Renata sudah tau," kataku padanya.
Kami sudah seperti saudara dan anda juga sangat menyayangi aku. Jadi kenyataan ini juga tidak perlu lagi di sembunyikan diantara kita bertiga.
"Gill, maksud kamu..."
"Tenang saja ma. Aku sudah tau kalau Leon anak kandung Gill,"
•
•
•
Jika berkenan, novel saya menunggu kehadiran author untuk mampir sejenak. Aleesya: My Hubby, My KetBok datang memberi bintang 5 untuk kakak. Semangat ya, GBU😇🙏🏻
salken dari GADIS TIGA KARAKTER