Yvaine adalah mahasiswa jurusan Manajemen yang gemar membaca novel. Dia adalah anak haram dari keluarga ternama yang berkecimpung dalam dunia bisnis. Bertahun-tahun dia dicaci dan diperlakukan tidak baik oleh keluarga itu, tapi Yvaine adalah orang yang sangat cuek, dia tidak perduli apa yang dikatakan orang lain.
Sampai suatu kejadian tiba, temannya memberikan sebuah rekomendasi novel, novel itu berjudul "Lulana bintang pemandu". Namun siapa sangka Yvaine yang kelelahan karena dihukum oleh ayahnya untuk membersihkan seluruh rumah besar itu sendirian tertidur, saat dia bangun seluruh pemandangan di depannya berbeda.
Dia memasuki novel itu sebagai antagonis pendukung yang akan mati di pertengahan cerita!
Dalam kecemasan menjalankan misi agar tidak mati, Yvaine mendapatkan sistem perdagangan antar dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prychines, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Keesokan harinya, seperti yang sudah Yvaine duga, rumor mulai menyebar di kalangan bangsawan dan pedagang.
"Lady Yvaine membeli barang dari penyelundup!"
"Perdagangannya tidak sah, dan cepat atau lambat, kerajaan akan menutup bisnisnya!"
Namun, sebelum rumor itu bisa berkembang lebih jauh, Yvaine telah menyiapkan langkah balasan.
Ia mengirim utusan ke beberapa pedagang terpercaya dan memberikan dokumen resmi yang membuktikan bahwa setiap barang yang ia jual telah melalui jalur yang sah. Dokumen-dokumen ini dengan cepat tersebar, membungkam sebagian besar tuduhan terhadapnya.
Selain itu, ia menggunakan koneksi Marchioness Clarisse untuk menyebarkan rumor lain:
"Lady Yvaine mendapatkan barang-barangnya langsung dari sumber terbaik. Hanya mereka yang iri yang mencoba menjatuhkannya."
Sebagai pukulan terakhir, Yvaine mengatur agar beberapa pedagang yang masih berpihak padanya menaikkan harga barang-barang tertentu yang juga dijual oleh Lord Gavin. Hasilnya? Konsumen mulai beralih ke jalur Yvaine karena harga yang lebih kompetitif.
...----------------...
Di dalam kantornya, Lord Gavin Lancaster membaca laporan yang diberikan bawahannya, wajahnya semakin gelap.
"Jadi… dia lebih pintar dari yang kuduga," gumamnya.
Pria di hadapannya menelan ludah. "Tuan, jika kita tidak melakukan sesuatu, Lady Yvaine akan semakin kuat."
Lord Gavin tersenyum dingin. "Kalau begitu, mari kita buat langkah berikutnya."
...----------------...
Langit masih kelabu ketika Yvaine duduk di ruang kerjanya, jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja kayu mahoni yang dingin. Suara ketukan itu berirama, mengikuti pikirannya yang tengah berputar cepat, menelusuri setiap kemungkinan yang ada di hadapannya.
Di sudut ruangan, perapian menyala dengan tenang, api kecil yang menari lembut, memberikan kehangatan di tengah udara yang mulai dingin. Tirai jendela sedikit terbuka, membiarkan sinar matahari pagi yang redup menyelinap masuk, memantulkan bayangan samar di lantai marmer yang mengilap.
Tumpukan dokumen tersusun rapi di atas meja, sebagian besar berisi laporan tentang perdagangannya yang terus berkembang. Namun, di antara kertas-kertas itu, ada satu surat yang berbeda. Sepucuk surat dengan tinta hitam yang telah mengering, kalimat singkat yang tertulis di dalamnya masih terngiang di benaknya.
Kau mungkin berhasil sekali, Lady Yvaine. Tapi perang ini baru saja dimulai.
Yvaine menatap surat itu dalam diam, membiarkan ujung jarinya menyusuri tepi kertasnya. Kata-kata itu bukan sekadar peringatan, melainkan tantangan. Seseorang di luar sana sedang mengawasinya, menunggu langkah berikutnya.
Udara di ruangan terasa lebih berat dari biasanya. Tidak ada suara selain bunyi kayu yang retak perlahan di dalam perapian dan detak jarum jam yang berdetak pelan di dinding. Waktu terus berjalan, tetapi Yvaine tetap diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Kemudian, suara ketukan di pintu memecah keheningan. Pelan, tetapi tegas.
Yvaine tidak segera menjawab. Ia membiarkan beberapa detik berlalu, membiarkan ketukan itu bergema di ruangan sebelum akhirnya mengucapkan, "Masuk."
Pintu terbuka perlahan, dan seorang pelayan wanita masuk dengan langkah hati-hati. Wajahnya tunduk dalam penghormatan, tetapi ada sedikit kegelisahan di sorot matanya.
"Nona," katanya dengan suara pelan, seolah takut mengganggu ketenangan di dalam ruangan. "Ada surat lain yang baru saja tiba."
Yvaine mengangkat alisnya sedikit. "Dari siapa?"
Pelayan itu menundukkan kepalanya lebih dalam. "Tidak ada nama pengirim, Nona. Sama seperti sebelumnya."
Untuk sesaat, Yvaine hanya menatap surat itu di tangan pelayannya. Kertasnya tampak sedikit kasar, berbeda dengan surat-surat resmi yang biasanya ia terima. Tidak ada cap keluarga, tidak ada tanda pengenal. Hanya lipatan rapi dan kesan misterius yang menyelimutinya.
Yvaine mengulurkan tangan, mengambil surat itu tanpa tergesa-gesa. Jemarinya merasakan tekstur kertas yang asing itu sebelum akhirnya ia membuka lipatannya perlahan.
Di dalamnya, hanya ada satu kalimat.
Kali ini, kau mungkin bisa mengendalikan situasi. Tapi sampai kapan kau bisa terus menang?
Suasana ruangan terasa semakin sunyi, seakan udara sendiri menahan napas. Yvaine membaca kalimat itu sekali lagi, kali ini lebih lambat, membiarkan maknanya meresap dalam pikirannya.
Ia tersenyum kecil.
Seseorang benar-benar ingin bermain dengannya.
Tetapi permainan ini baru saja dimulai.