"Aku bukan anak haram.. hiks.. hiks''
teriak seorang gadis kecil seraya mengusap air matanya yang terus mengalir.
" Tata anak haram..anaak haram.. gak punya ayah.''
ledek beberapa anak-anak terus meneriaki gadis kecil itu dengan kata-kata anak haram.
'' aku punya ayah..hiks..hiks,'' gadis kecil itu terus menangis.
" Dimana coba ? kau itu tak punya ayah, ibu kamu kan pe*l**r,"
teriak seorang gadis memakai baju berwarna biru.
Tata Dwi Lestari seorang gadis yang harus mengalami kehidupan yang pahit akibat profesi ibunya sebagai wanita penghibur. Dimana hal itu membuat dirinya dicap anak haram oleh orang-orang disekitarnya dan mengalami kehidupan pahit serta psikis yang tidak mudah percaya pada orang lain.
Bagaimana perjuangan Tata dalam menghadapi semua cobaan hidupnya ??
apa dia akan ikut masuk dunia gelap seperti ibunya, atau dia akan mengubah pandangan setiap orang tentang dirinya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Orang yang Datang
Wajahnya masih terlihat pucat. Ratih masih terbaring lemah diranjang rumah sakit itu dengan selang infus yang menempel pada tangannya.
Tata masih setia menemani Ratih disampingnya. kedua tangannya memegang tangan Ratih dengan lembut.
" ibu harus cepat sadar ya buk! ." Ucapnya dengan penuh harap.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar dari arah luar. Tata beranjak dari kursihnya untuk membuka pintu, tapi rasanya hal itu tidak perlu ia lakukan karena pintu telah tebuka dan memperlihatkan sosok sahabatnya Lisa dan seorang pria dibelakangnya.
" Lisa kamu kesini? Dan dibelakangmu...?" Dan muncullah sosok Chandra bos cafe tempatnya bekerja dulu.
" B..bos juga kesini?" Tata terbata-bata pasalnya dia merasa malu pada Chandra yang sangat baik padanya itu. Dan Adhit justru memeberikan surat pengunduran dirinya tanpa seizin darinya.
" Ta.. Boleh gue masuk ke dalam?" Tanya Chandra dengan lembut."
"Eh, iya bos silahkan." Tata membuka pintu itu lebar dan membiarkan keduanya masuk.
" Ini buah sama nasi Ta." Lisa menyulurkan sekeranjang buah dan kotak nasi pada Tata.
" Makasih Lis."
" Itu dari bos, gue mana ada duit buat beli parcel mahal kayak gitu, gue cuma beli nasinya doank." Ucap Lisa yang membuat Tata tersenyum bahagia.
" Makasih banyak bos atas pemberiannya." Kedua telapak tangan Tata disatukan sebagai tanda terimakasih pada keduanya. Sedangkan Ucapan Tata hanya di angguki oleh Chandra dan seulas senyum manis dari bibirnya. Yang membuat Tata merah merona dan mengagumi ketampanan mantan bosnya itu.
Jika ditanya bagaimana perasaan Tata. Maka jawabannya ia juga memiliki rasa kagum pada Chandra. Namun ia sadar diri siapa dia dan siapa Chandra.
" Oiya! Bos sama Lisa gimana bisa tahu kalo Tata lagi di rumah sakit?" Tanya Tata penasaran.
" Oh soal itu, tadi pagi tiba-tiba ada nomor gak dikenal nelpon gue Ta terus bilang kalo lo lagi di rumah sakit dan dia bilang gue suruh kesana buat nemenin lo." Ceritanya panjang lebar.
" Nomor gak dikenal? Dia pria apa wanita?" Selidik Tata.
" Pria Ta."
" Siapa ya? setahu gue orang yang tahu kondisi gue cuman Adhit sama temennya itu, atau jangan-jangan Adhit yang telah menghubungi Lisa." Tata masih berfikir dalam diamnya hingga panggilan Lisa tak didengarnya.
" Ta... Ta...Tata.." Teriak Lisa.
" Iya gue denger, ini rumah sakit Lisa lo gak lihat nyokap gue masih gak sadar." Hardik Tata dengan nada tegas. Dan hal itu langsung membuat Lisa menciut dan terdiam seketika.
" Kalo bos gimana bisa kesini?"
" Tadi gue gak sengaja denger Lisa nyebut nama lo Ta, jadi gue putuskan buat ikut." Jelas Chandra.
" Gak papa kan?" Tanya nya lagi.
" Eh iya gak papa kok bos, masak Tata ngelarang bos kesini, hehehehe." Tata tertawa kecil memperlihatkan jajaran giginya yang rapi.
*****
Chandra memutuskan untuk kembali ke cafe lebih awal. Dan Lisa tetap disana atas perintah Chandra agar tidak membiarkan Tata sendirian menemani Ratih yang masih tak sadarkan diri.
" Ta.."
" Hemmm, ada apa?" Ucap Tata.
" Sebenarnya apa yang udah terjadi sama lo? Lo beberapa hari gak masuk kerja, terus tiba-tiba ada orang yang datang bawa surat pengunduran diri lo, dan sekarang nyokap lo dirawat di rumah sakit?"Dengan sedikit ragu Lisa bertanya pada Tata apa yang telah menimpa nya beberapa hari ini sehingga semua ini terjadi padanya.
" Lo beneran pengin tau Lis?" Dengan penuh keyakinan Lisa mengangguk cepat sebagai jawaban darinya.
" Huuft." Tata menghela napasnya dalam-dalam dan mulai menceritakan semuanya pada Lisa.
" Jadi lo selama ini sama pria yang waktu itu ke cafe?" Tanya Lisa terkejut.
" Iya, tadinya gue pikir dia pria aneh tapi entah apa alasannya dia baik banget sama gue Lis, sampai gue bingung gimana cara buat balas semuanya sama dia." Tata tertunduk dia merasa setelah dia dan Ratih terbebas dari Madam Laurent kini ia terjebak dalam lingkaran seorang Adhit.
" Tapi bukannya lo bilang kalo dia itu cuma fotografer kok bisa bayar hutang lo yang banya itu?"
" Lo benar Lis, makanya dari itu gue gak tahu harus berbuat apa buat bayar semua ini."
Lisa terdiam lama seperti sedang memikirkan sesuatu dan berkata." Ta gue punya cara supaya lo bisa lepas dari pria itu." Lisa tersenyum lebar.
" Apa?"
" Lo pinjam duit aja sama bos Chandra Ta pasti dikasih berapa pun itu, kan bos itu demen banget sama lo pasti bakal..."
Cletak
Suara jitakkan pada dahi Lisa terdengar keras dan meninggalkan bekas merah disana.
" Awww! Sakit Ta." Lisa merengek kesakitan memegang dahinya.
" Biar lo agak waras, apa lo gak ada cara lain yang gak ada hubungan sama bos." Ucap Tata kesal.
" Ya habisnya gak ada cara lain Ta." Tata mendengus kesal pada sahabatnya itu.
"Tapi ya Ta, saat lo gak masuk kerja bos nanya terus loh, dan saat ada orang yang dateng ngasih surat pengunduran diri lo bos kelihatan sedih bangett deh." Cerocos Lisa. Yang mana membuat Tata bersedih mendengarnya. Chandra dimata Tata adalah sosok pria yang sangat lembut dan perhatian padanya. Terkadang Tata bertanya dalam hatinya sebenarnya apa yang ia rasakan apa itu cinta atau hanya sebuah kekaguman semata pada Chandra.
" Ta lo sendirian disini?"
" Gak kok, itu sama ibu." Ucap Tata singkat.
" Bukan itu, maksud gue bukan nyokap lo Ta." Lisa menggelengkan kepalanya mendekatkan diri pada Tata.
" Oh tadi ada Adhit sama pria yang aku gak tau namanya, tapi sekarang mereka pergi katanya ada kerjaan." Jelas Tata pada Lisa yang diangguki oleh Lisa.
Lisa melihat sekeliling ruang rawat inap VVIP itu, ia terkagum akan kemewahan didalamnya.
" Ta gimana caranya lo bisa bawa nyokap lo nginep ditempat yang nyaman kayak gini?" Tanya Lisa yang matanya masih terus bergeriliya melihat sekeliling ruangan itu.
" Adhit yang bawa Lis, tadinya gue sempat nolak tapi Adhit gak hiraukan permintaan gue."
" Siapa sih Adhit itu baik banget dah." Tanya Lisa.
" Lisa... Lisa lo ini bener nyebelin ya!! Dari tadi gue cerita pria yang ke cafe dan menawarkan gue buat jadi model itu adalah Adhit." Ucap Tata gemas dan memainkan kedua pipi Lisa.
Lisa yang mendapatkan perlakuan itu hanya mendengus kesal dan berkata.
" Kayaknya lo sulit buat lepas dari pria yang namanya Adhit itu." Ucapan Lisa membuat Tata semakin buntu memikirkan cara untuk lepas dari Adhit dan membayar hutangnya pada Adhit juga sulit dibayangkan oleh Tata.
" Ta makan nasinya loh, lo pasti laper." Bujuk Lisa pada Tata dan membuat Tata tersenyum lalu membuka kotak nasi yang dibawa oleh Lisa. Walaupun Tata enggan memakan nasi itu namun perutnya terus berdemo meminta hak isi perutnya sehingga nasi kotak itu pun ludes olehnya.
Jari-jemarinya mulai bergerak pelan, kedua matanya mulai berkedut, detak jantungnya mulai normal, dan dengan pelan namun pasti Ratih mulai membuka kelopak matanya dan berkata denga suara lirihnya yang pelan.
" Ta..Ta.. Tata."
----------------
**to be continued
-------------------
Hay para readers yang budiman mohon dukungannya ya dengan komen, like, vote, dan beri rate pada novel ini.
Karena kalianlah yang bisa memotivasi semangat author.
Salam hangat dari author buat kalian semua...emmmuuaaahhh..💓😇**
mentang2 byk duit, seolah2..........
hehehe
bukannya Tata udah rau kalau Adit itu CEO dan juga kan Tata juga dah sempat jadi karyawannya Adit?
Kok jadi kesannya di bab ini Tata masih nyangka Adit fotografer?