Pada suatu ketika, terlihat seorang pemuda dengan pakaian yang tak layak pakai sedang berjalan. Pemuda tersebut terlihat keletihan, entah mengapa pemuda itu seperti seorang yang belum makan berhari-hari. Karena dari tubuhnya, sudah terlihat sangat kurus kering, membuat siapa saja yang melihatnya merasa kasihan.
"mah, pah. Aku telah dewasa, ternyata benar apa yang kalian katakan dulu. Dewasa sangat tidak menyenangkan, banyak masalah yang ku pendam sendiri, dan aku sangat kesepian sekarang, tak ada teman maupun keluarga yang mau membantuku disaat susah kini," ucap pemuda tersebut didalam hati.
Berjalan tidak tentu arah, pemuda bernama asli Rifki Edrea kini singgah sebentar, dia berhenti sejenak untuk melepaskan rasa lelah habis perjalanan jauh. Walaupun dia tidak memiliki uang sekarang, tetapi rifki masih memiliki persediaan air dikantung celana nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RST, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tomi Dengan Kenakalannya.
"Selamat malam tuan-tuan! Saya Riska dan mereka teman-teman saya, dan kami di minta untuk datang melayani tuan-tuan!" ucap wanita muda dengan pakaian terbuka.
"Malam," ucap Tomi sambil tersenyum.
"Baik, mari duduk!" ucap Fraswa dingin.
Rifki pun terdiam. Ia kebingungan dengan 5 orang wanita tersebut, padahal ketika tadi itu memesan, mereka hanya meminta 1 wanita saja untuk datang.
Namun akan tetapi, saat ini yang hadir dalam ruangan mereka ialah 5 orang wanita. Dimana dari ke 5 wanita tersebut, mereka sungguh sangat cantik, walau berprofesi menjijikan.
Kala semua wanita tersebut sudah duduk, ia semua lantas terdiam sebelum melanjutkan obrolan kembali.
"Ya, memang sulit bang! Apalagi bisnis kini menjadi pekerjaan utama di kota lotas untuk masyarakat kota!" ucap Rifki jujur.
"SDM mereka meningkat rif, maka dari itu kita perlu menaikkan kreatifitas agar tidak jatuh tenggelam dalam lautan pemula," ucap Fraswa dalam keadaan sadar.
"Tok! Tok!"
"Masuk!" ucap Fraswa teriak.
"Clek!"
"Permisi tuan. Saya membawa pesanan anda ini," ucap pelayan sambil menaruh 3 botol latiffe di hadapan Fraswa.
"Terimakasih. Tolong ambilkan 7 botol lagi dan sekalian makanan ringan," ucap Fraswa.
"Baik tuan, maaf sekali mohon di tunggu tuan!" ucap pelayan dengan hormat.
Setelah selesai bicara, pelayan lalu keluar lagi dari ruangan Fraswa tempati. Kini Fraswa dan Rifki mencoba membuka botol latiffe di meja mereka dengan tenang sambil tersenyum.
Walau awal mula bergetar seluruh tubuhnya ketika memegang botol minuman mahal. Ia pun menjadi tenang, kala mendapatkan tatap mata dari Fraswa yang mengajaknya santai.
"Bersulang kawan-kawan!" ucap Fraswa sambil tersenyum.
Ketika gelas sudah berputar. Mereka lalu meminum latiffe tersebut bersama-sama. Fraswa sangat senang, akhirnya bisa ajak sahabat-sahabatnya untuk menikmati apa yang di nikmati nya selama ini.
"Bang! Apa lu memiliki tempat seperti ini?" ucap Rifki bertanya.
"Tidak! Ini bisnis besar dan membutuhkan kekuatan rif, lagi pula membangun kekuatan tidak mudah," ucap Fraswa jujur.
"Begini, mari di jelaskan biar lu paham!" ucap Fraswa.
"Oke, baiklah mari jelaskan bang!" ucap Rifki dengan antusias.
Ya, Rifki ingin mengetahui banyak hal. Dari pada ia harus mengikuti langkah Tomi, dan tidak jelas mengajak ke 5 wanita tersebut itu sedikit duduk menjauh dari mereka berdua.
Fraswa memberitahu hal-hal baik pada Rifki tentang mengawali bisnis. Dimana awalnya tersebut, mereka harus mencari orang-orang baik untuk mendukung mereka, agar nanti bisnis mereka tidak runtuh cepat.
Memang benar, selain modal yang banyak. Mereka harus memiliki kekuatan orang-orang kuat di belakang mereka, agar mendapatkan dukungan lebih luas, dan memiliki relasi baik secara bisnis maupun teman berbicara.
......................
"Benar sekali om, memang kami satu tempat kuliah dengan Sabrena!" ucap Frans sembari menepuk pundak temannya.
"Sakit bro," ucap pemuda di sebelah Frans.
"Jangan di tepuk lah pundak temanmu itu," ucap Tyron sambil geleng-geleng kepala.
"Bagaimana sab? Apa selama kami tinggal kamu membuat ulah?" tanya Tyron.
"Tidak dad. Aku hanya menjadi wanita baik di kota ini selama kalian pergi, jika memang kalian tidak percaya, tolong tanyakan saja pada mereka," ucap Sabrena sembari tersenyum.
"Benar om, Sabrena memang menjadi wanita baik selama om dan Tante tinggal," ucap felista mencoba membantu Sabrena.
"Baguslah, berarti kau sudah menjadi dewasa sab, kami senang mendengar penuturan itu," ucap Tyron sambil tersenyum.
"Bagaimana dengan adikmu sab? Apa dia itu pulang ke mansion selama kami tidak ada di mansion?" tanya Yura pada putri semata wayangnya.
"Tidak mom. Entah kemana anak itu, aku tidak tau berita apapun tentangnya!" ucap Sabrena jujur.
Kala sedang duduk, tidak lama kemudian kini terlihat pemuda tampan dan gagah datang sembari menenteng helm fullcash.
Ia adalah adik kandung Sabrena. Selama ini pemuda tersebut tinggal dan hidup di luar mansion, kala pernah terlibat cekcok dengan Tyron atas kenakalan pemuda itu di masa sekolah.
"Dari mana kamu?" tanya Tyron sembari menatap sang anak.
"Luar dad!" ucap pemuda tersebut, bernama Zidan.
"Bagus! Selama kami tidak ada di mansion, kamu tidak pulang ke mansion!" ucap Yura sambil tersenyum dan tatapan tajam.
"Kemana saja selama kamu tidak disini?" tanya Tyron.
"Aku berada di mansion teman dad, ia sendiri tinggal disana," ucap Zidan santai.
"Dengan cara meninggalkan kakakmu sendiri di mansion?" tanya Yura.
"Maafkan aku dad, mom. Memang sekarang aku sedang sibuk, lagi pula waktu aku berada disana itu memang ada kerjaan dad!" ucap Zidan jujur.
"Lalu, bagaimana skripsimu?" ucap Yura sambil mencoba mengalihkan pembicaraan.
Ya, ia sangat tau dengan kelakukan suami dan putranya. Mereka akan berbicara keras jika tidak sejalan dengan pikiran mereka, ia kemudian sebisa mungkin menyelesaikan ucapannya dan berganti obrolan.
"Biarlah dad. Dia sudah besar, mending jika kau menyalahkan terus menerus dia, lebih baik bantu dia berkembang!" ucap Sabrena sambil menatap sang adik.
"Benar apa yang di katakan Sabrena sayang!" ucap Yura sambil tersenyum pada Zidan.
"Yaudah, mending kita makan malam. Apa semua sudah makan malam? Tadi kami di jalan belum mampir atau makan malam," ucap Tyron sambil mengangguk.
"Belum om, kami dari tadi cuma di berikan makanan ringan saja oleh Sabrena om, dia sangat pelit akan makanan," ucap felista mengadu.
"Enak aja, kalian saja yang tidak memberitahu jika lapar!" ucap Sabrena dengan kesal.
Setelah bicara. Mereka semua kemudian di ajak oleh Tyron dan sang istri untuk pergi ke meja makan di dalam mansion.
lanjut thor