NovelToon NovelToon
High School Bad Boy

High School Bad Boy

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Contest / Badboy / Berondong / Tamat
Popularitas:417.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Magnifica

Paris, 2021.

Tepat lima tahun Wulandari Laksana, 32 tahun, tinggal di kota yang dijuluki La Ville Des Lumiéres (kota cahaya) ini.

Dan tepat di tahun ke lima ini, pernikahannya dengan pria Perancis bernama Pierre, berakhir.

Hancur, tentu saja. Hidupnya seperti berada di titik nadir.

Namun, dia berusaha untuk mengumpulkan kepingan - kepingan hatinya yang hancur, dan mencoba bangkit kembali.

Berbekal kelulusannya dari Universitas Sorbonne, dia melamar menjadi guru Bahasa Inggris di sebuah SMA di pinggiran Paris.

Di sanalah dia bertemu dengan seorang murid bengal, 16 tahun, Maximilian Guillaume, yang membuat hidupnya kembali kacau.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Magnifica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. You Little Rascal (Dasar Kau Anak Nakal).

"Sebuah pelukan."

Max menundukkan kepala sembari mengusap rambutnya. Ia terlihat malu - malu. Namun sejurus kemudian ia membuka kedua tangannya, dan dengan wajah memelas meminta Wulan untuk segera memeluknya.

"Dalam mimpimu!" hardik Wulan seraya memukul ujung kepala Max. Lalu menekan luka di pelipis pemuda itu dengan keras.

"Auchh, sakit sekali, Miss." Max mengaduh sembari memegangi pelipisnya.

"You little rascal (dasar kau anak nakal)!" maki Wulan kesal. Namun kemudian ia menarik sudut bibirnya. Tersenyum tipis. Ekspresi wajah kesakitan anak bengal itu terlihat lucu. "Pulang sana!" usirnya.

"Boleh aku menginap di sini, Miss? Kepalaku sedikit pusing," pinta Max sembari memijit kepalanya.

"Kau bercanda, Max. Kau tidak boleh menginap di sini."

"Kenapa?"

"Karena ...." Wulan berusaha mencari - cari alasan untuk menolak permintaan Max. "Tidak enak dengan tetangga," lanjutnya asal.

Max terbahak. "Tidak masuk akal."

"Pokoknya kau harus pulang. Jangan membuat Ayahmu khawatir."

Max terbahak sekali lagi. "Ayahku tidak akan peduli," ujarnya. "S'il te plait (kumohon), Miss, aku janji tidak akan merepotkanmu." Max menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, memohon pada Wulan.

Wulan menghela nafas dalam - dalam. Entah kenapa, sepasang mata biru itu membuatnya luluh. "Aku cuma punya satu kamar. Kau bisa tidur di sini." Ia menepuk - nepuk sofa yang sedang mereka duduki.

"Tidak apa - apa, Miss. Yang penting aku bisa dekat denganmu."

Dada Wulan berdesir mendengar ucapan Max. Ada semacam perasaan aneh bergelanyut dalam dadanya. Namun segera saja ia menepisnya.

"Aku akan mengambil bantal dan selimut untukmu."

Wulan beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya. Mengambil satu selimut yang tak terlalu tebal, dan satu bantal. Lalu memberikannya pada Max.

"Merci, Miss."

Wulan hanya mengangguk. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam.

"Aku harus tidur, Max," ujarnya. Ia pun menguap beberapa kali. Entah dibuat - buat atau tidak, yang jelas, ia tidak ingin lama - lama berdekatan dengan anak itu. "Kalau kau merasa lapar, kau bisa menghangatkan makanan yang ada di kulkas."

"Okay."

"Bonne nuit (selamat malam), Max."

Max memandangi punggung Wulan yang beberapa saat kemudian menghilang di balik pintu kamarnya. Sesaat sebelum wanita itu mematikan lampu ruangan.

.

.

Wulan merasa tenggorokannya begitu kering. Ia pun beranjak dari ranjangnya dan memeriksa jam di ponselnya. Pukul dua dini hari. Ia berniat pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Sekalian saja mengecek keadaan Max yang tidur di ruang tamu.

Ia membuka pintu kamarnya perlahan. Sayup - sayup terdengar suara isak tangis yang tertahan dari arah sofa. Tangan Wulan meraih saklar lampu yang ada di sebelah pintu kamarnya.

Begitu lampu menyala, ia melihat Max yang sedang duduk di lantai menelungkupkan wajahnya ke lutut dan menyandarkan punggungnya di kaki sofa.

"Max? Ça va toi (kau baik - baik saja)?" tanya Wulan. Ia mendekat dan mengguncang punggung Max pelan.

Wulan mendecak sembari menggelengkan kepalanya begitu melihat dua botol anggur yang telah kosong tergeletak di atas meja.

"Anak ini!" ujarnya.

"Miss ...."

Max mengangkat kepalanya. Wajahnya yang kacau tampak basah oleh air mata. Kedua matanya sembab. Ia merangkak ke arah Wulan dan memeluk lutut Ibu Gurunya itu dengan erat.

"Max?" Ragu - ragu Wulan menyentuh rambut pemuda itu dan mengelusnya dengan lembut. Entah karena pengaruh alkohol atau apa, Max tampak begitu rapuh.

"Je suis fatigué (aku lelah), Miss," isaknya.

"Max, jangan begini. Kau mabuk."

"J'ai besoin de toi (aku membutuhkanmu)." Max kembali mengangkat kepalanya. Lalu beranjak dari lantai dan duduk di sebelah Wulan. Ia melingkarkan lengannya ke leher Wulan dan menelusupkan kepalanya di sana.

"Max, Max .. please, jangan begini." Wulan berusaha melepaskan pelukan Max dengan mendorong dada pemuda itu pelan. Namun rengkuhan Max cukup kuat. Ia sama sekali tak berniat melepaskan Wulan.

"Tolonglah, Miss .. peluk aku," pintanya setengah merintih. Ia semakin erat mendekap Wulan sembari mendusalkan wajah ke leher jenjangnya.

Ragu - ragu Wulan akhirnya meraih punggung Max dan mengelusnya lembut. Pikirnya, anak ini mungkin benar - benar butuh pelukan. Butuh seseorang untuk menampung apa pun yang sedang ia rasakan. Lagi pula, bukankah ini yang Wulan inginkan, dekat dengan Max, atau murid - muridnya yang lain.

"Wulan ...." Max menarik wajahnya dari leher Wulan. Pelan namun pasti, ia melepaskan jaket hoodienya, kemudian kaosnya, lalu melemparnya ke atas meja. Wulan terperangah menyaksikan pemandangan aneh di depan matanya itu. Sesaat otaknya berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.

Max bertelanjang dada, menampakkan otot - otot dada dan perutnya yang mulai kokoh.

"Max .. apa .. yang .. kau .. lakukan?" Tenggorokannya seakan tercekat. Ia merasa seakan jantungnya tidak lagi berdetak dengan normal.

"Miss, aku belum pernah melakukannya dengan wanita mana pun."

A - apa?"

Max meraih dagu Wulan dan mendekatkan bibir padanya. Wulan terperangah. Untuk sekian detik lamanya ia seakan tak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia hampir saja menerima pasrah perlakuan tak terduga murid bengalnya itu. Bahkan ia sempat memejamkan matanya. Menunggu ada sentuhan lembut di bibirnya. Mungkin.

Wulan terkesiap dan tersadar dari lamunannya. Seketika di dorongnya tubuh Max dengan kencang.

"Jangan kurang ajar, Max!" hardiknya seraya berdiri dan menyambar jaket serta kaos milik Max dan melemparkannya tepat di wajah pemuda itu.

"Keluar!" Wulan menunjuk ke arah pintu dengan muka yang telah merah padam.

"Miss .. aku ...."

"Pakai bajumu dan keluar, Max. Sekarang!" teriak Wulan.

"Miss, maafkan aku .. aku terbawa suasana. Aku ...," ucap Max terbata sembari memakai kaos dan jaketnya.

Wulan berjalan cepat ke arah pintu dan membukanya lebar - lebar. Lalu dengan gerakan kepalanya ia memberi titah pada Max untuk segera pergi.

Max berjalan mendekat ke arah Wulan dan berusaha untuk meraih lengannya. Namun dengan cepat Wulan menepisnya.

"Maafkan aku," ucap Max memelas.

Bahkan Wulan tak mampu memandang ke arah Max. Ia mendorong tubuh pemuda itu keluar dan menutup pintu rapat - rapat.

Ia menyandarkan punggungnya pada pintu sembari menarik nafasnya dalam - dalam. Menggeleng, membenturkan kepalanya ke belakang pelan, lalu menangkup keningnya dengan kedua telapak tangan.

Badannya pelan merangsek turun. Kini ia terduduk menyandarkan kepalanya ke pintu. Mendongak, berusaha mencegah buliran embun yang muncul dari sudut matanya.

Entah perasaan macam apa ini.

***

***

***

1
Fardiana Hamsah
Luar biasa
Qin one
reaksi alami masyarakat indo klo liat bule, pasti pada heran,gemes, pingin foto🤣
Qin one
Kecewa
Qin one
Buruk
Qin one
wanita klo sedang marah bisa lebih liar dari singa🤣
Qin one
anak kecil ini bikin candu😜
Kham Diyah
slh satu autor kesayangn 😍😍kak septia
Dewa Qin
fiuuuuuh...akhirnya max-wulan menikah,happy ending meski rintangannya juga gak gampang.
sunggu max bikin duniaq jungkir balik kak thor...q bener2 merasa max sosok yg nyata yg ingin q temui setiap menit.
karymu sunggu luar biasa ❤️❤️
tapi dr 2 novel (ben-laras,max-wulan)q merik kesimpulan bahwa kak lady menyukai laki2 bermata biru.🤭
Dewa Qin
max,semakin kesini q semakin mencintaimu❤️❤️
Dewa Qin
kasian kamu max
Dewa Qin
kereeeen👍👍👍👍👍
Dewa Qin
oalah...jadi max udah tau kelakuan damien,makanya dia pura2 menanyakan sesuatu pada wulan agar wulan tak terjerat bujuk rayu damien yg jelas2 masih berhubungan dengan nadya.adik angkatnya
Dewa Qin
wiiih ngadepi murid kayak mereka bisa2 sebulan langsung serangan jantung
Dewa Qin
baru bab awal,tp udah ada magnetnya buat baca lebih jauh.thanks kak,udah rekom novel ini,ben-mia tamat magrib td.sekarang lanjut ke wulandari.let's start the advanture
Rafa Retha
samawa ya...Max + Wulan
Rafa Retha
max....😘
Rafa Retha
kuapok koen Joelene...
modyaaarrrrr😡😡😡
Elly Prianti
aku sangat suka karya dari lady magnifica
bahsanya tidak monoton dan mudah dimengerti serta ceritanya juga menarik..semangat terus kak lady😍
Cicik Iswanto
aku pembaca baru untuk novelmu....aku mencoba menyelami nya ...
Elya Dewi
👌👌👌👌👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!