Hai aku Aram, pekerja kantoran bergaji standar UMR di pinggiran ibukota. Wanita umur 30-an yang sudah dikejar deadline “kapan menikah?” dari orangtuanya.
Orang yang hanya melihat kehidupan romasa orang lain dari balik kursi penonton. Ketika sudah siap menyambut kematian, aku malah diberi kesempatan kedua menjadi Arabella, calon putri mahkota di novel yang kubaca dulu. Klise!
Tentu saja, Arabella adalah antagonis! Double klise!
Mau mengubah takdir? Ngga dulu deh…
Lagipula, aku sudah terjebak dengan skenario takdir yang mendukung peranku jadi antagonis. Jadi, Mmari kita serius menjalani peran antagonis dan mengakhirnya dengan tragis seperti yang sudah ditentukan dalam cerita!
Hip Hip Hore untuk jadi jahat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ESOK., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penutup Pesta Teh
‘WHUSS!’ ‘PATS!’
Sebuah panah menancap sempurna di tengah papan sasaran sejauh 70 meter. Segera riuh tepuk tangan dari para nona bangsawan dan kesatria memenuhi halaman tempat latihan. Aku menyunggingkan senyum, menikmati perhatian yang kudapatkan setelah tiga kali berturut-turut menargetkan poin sempurna.
“Kemampuan Nona semakin berkembang! Padahal baru dua tahun belajar memanah.” Salah satu kesatria wanita yang ada memujiku dengan bangga.
Sore itu, sebagai bagian dari acara menginap di Istana Beryl, aku mengajak para nona itu melihat para kesatria wanita latihan memanah. Tak mau kalah, aku juga menunjukkan kemampuanku.
“Aku memang cepat belajar dari kesalahan.” Jawabku tak mau merendah.
Arabella mungkin hanya hobi memanah, tapi, aku sudah mahir sejak usia belasan tahun. Bahkan, semasa muda aku ikut beberapa lomba bergengsi. Memanah dengan jarak standar seperti ini bukanlah hal sulit.
“Kalau begitu, bagaimana kita lanjutkan acara dengan menaiki perahu berkeliling danau? Kudengar ada anak angsa yang akan menetas.”
Aku melanjutkan jadwal yang masih tersisa sore itu, para nona mengikutiku dengan senyum kesenangan. Perjalanan dengan dilakukan dengan memecah rombongan menjadi dua perahu. Aku bersikap ramah sebaik mungkin dengan tidak menurunkan standarku sebagai perempuan dengan kharisma yang dingin. Lalu, aku mendengar beberapa dari mereka berbisik-bisik merencanakan sesuatu.
Sayangnya, waktuku menunjukkan kehebatanku dan Istana Beryl harus berakhir saat perahu kami kembali berlabuh. Kereta para nona bangsawan sudah terpakir rapi di halaman depan, menunggu pemiliknya pulang.
“Saya harap Nona Arabella akan sering mengadakan acara seperti ini. Atau yang lebih baik, menambah hari menginap jadi lebih lama.”
“Karena keindahannya, saya jadi tidak ingin cepat-cepat pergi dari Istana Beryl.”
Nona-nona itu berpamitan satu persatu mengucap kesannya. Walau kalimat yang diucapkan masing-masing nona hanya berputar di kata-kata yang sama.
Dasar para bangsawan penjilat yang tidak kreatif. Memangnya aku tidak tahu kalau kalian berbisik-bisik ingin mencicipi makanan di festival bunga.
Meskipun kesal karena merasa dikhianati, aku hanya menanggapi semuanya dengan wajah seramah mungkin. Jangan sampai kesan baik yang kubangun dua hari ini runtuh lagi.
“Elise, apa ada acara untukku malam ini?”Aku bertanya pada Elise yang berjalan di sebelahku menuju sayap kiri.
“Tidak ada Nona.” Jawab Elise cepat.
“Kalau untuk besok?” Tanyaku lagi.
“Tidak ada juga Nona.”
“Ah, lalu, apa Lanna mendapatkan pai buah yang aku minta?”
“Kalau itu juga tidak ada Nona. Toko itu libur karena festival bunga.”
Sial. Jadi aku harus melewati waktu satu setengah hari menahan godaan festival tanpa hiburan sama sekali.
“Kalau pesan dari Thierry?”
“Itu juga..tidak ada Nona.”
Haha tentu saja tidak ada. Inilah hubungan Arabella dan Thierry yang sebenarnya.
Sesampainya di kamar dan berganti pakaian musim semi dengan chemis tipis, aku memberi pesan pada Elise. “Apapun yang terjadi, aku tidak akan keluar ruangan ini sampai hari esok berakhir. Jadi, jangan mengangguku.”
“Baik Nona.” Elise lalu pergi dan menutup pintu.
Meskipun sedikit bodoh, ternyata aku lebih suka Lanna yang bisa menjawab dengan kalimat bervariasi. Bersama Elise yang patuh jadi terasa membosankan. Lalu, sepertinya semenjak beberapa hari terakhir pelayanku berkurang satu, tapi, aku lupa namanya.
Ah sudahlah, urusan lain kupikirkan nanti. Aku melompat ke kasur berselimut sutraku dengan perasaan rindu. Akhirnya, aku akan menghabiskan waktu, hanya dengan TIDUR!