Pantas saja dia tidak mau menyentuhku, ternyata ada hati yang sedang dia jaga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan mama mertua
Beberapa hari kemudian.
Malam harinya, setelah makan malam, Rafa dan Alini yang sudah berbaikan dan memilih untuk tidak dulu membahas masalah kemarin pun sedang menonton televisi di ruang keluarga. Sedangkan Ayu memilih masuk ke dalam kamar dan meneruskan pekerjaannya.
Satpam yang ada di pos terlihat menguap berkali-kali karena menahan kantuk.
"Kok gue ngantuk, sih, kan gue udah cukup tidur. Tapi ini, hoaaammm, kok mata gue kayak ketarik ya." Satpam itu pun meregangkan otot tangannya, lalu membuatnya sebagai bantal kepalanya yang sudah tidak bisa menahan kantuk lagi. Ada segelas teh di sampingnya yang sudah habis diminumnya beberapa saat yang lalu.
"Pak, Pak satpam," ucap seorang wanita separuh baya yang baru saja memasuki gerbang rumah itu. Mobil sopir taksinya masih berada di luar karena gerbang tak bisa dibuka.
"Kok tidur, sih. Ya udah, Man, tunggu saya di sini, ya," ucap wanita itu kepada sopirnya yang masih berada di luar bersama mobilnya.
Wanita separuh baya itu pun langsung masuk ke dalam menuju ke rumah Rafa.
"Lho, kok nggak ditutup rapat, sih? Mereka kemana, ya?" gumamnya sambil membuka pintu itu dan masuk ke dalam.
Dari kejauhan, dia melihat sepasang suami istri yang sedang menonton TV bersama. Terlihat sang suami yang mengusap kepala istrinya. Karena ukuran sofa yang sangat besar, hanya ujung kepala Alini saja yang terlihat dari belakang. Wanita itu mengira bahwa Alini adalah Ayu.
"Ya ampun, mentang-mentang udah rumah sendiri mesra-mesraan di tempat ginian," ucap wanita itu sambil tersenyum kecil. Dia pun berjalan mendekati mereka bermaksud untuk mengejutkannya.
Namun, baru saja dia memasuki ruang keluarga, dia melihat sesuatu yang aneh pada kepala anaknya. Padahal rambut Ayu hanya sepunggung, kenapa sekarang jadi panjang sekali?
"Rafa," ucap wanita itu yang langsung membuat Rafa menoleh dan terkejut setengah mati.
"Mama!" ucapnya sambil berdiri dengan wajah pucat dan tegang.
Tak hanya Rafa, Alini pun juga ikut menoleh dan kini wanita yang dipanggil mama oleh Rafa mengetahui jika wanita berambut panjang itu bukanlah Ayu.
"Rafa, siapa dia? Saudaramu? Adikmu?" tanya wanita yang bernama Nuri itu.
"Emm, i-iya, Ma, dia sepupu jauh aku yang tinggal beberapa hari di sini karena…. Suaminya sedang keluar kota," ucap Rafa yang mencoba mencari alasan di saat genting seperti ini.
"Sepupu? Kok akrab banget sampai nonton televisi aja pake berdua dan usap rambut segala."
"Enggak, Kok, Ma. Tadi kebetulan rambutnya ada sampahnya jadi aku bantu bersihkan. Mama kok datang nggak bilang-bilang? Kalau bilang kan kami bisa menyediakan makanan buat Mama," ucap Rafa yang mencoba menutupi rasa gugupnya dan menghampiri sang ibu mertua.
"Tadi Mama kebetulan lewat aja dan kangen sama Ayu. Makanya Mama kemari nggak bilang-bilang. Itu satpam kamu kayaknya sakit deh, dia tidur pas lagi jaga," ucap Nuri yang langsung membuat Rafa mengerti mengapa Ibu mertuanya bisa masuk begitu saja. Dalam hatinya dia bersumpah akan memecat satpamnya setelah ini.
"Iya, Ma, nanti aku suruh istirahat. Sekarang mama duduk dulu, biar aku panggilkan Ayu," ucap Rafa sambil meninggalkan Alini dan Nuri berdua di ruang tamu.
"Kamu sepupunya Rafa dari ayahnya atau ibunya?" tanya Nuri yang masih tak percaya jika hubungan mereka hanyalah sebatas sepupu saja.
"Dari papanya Mas Rafa, Tante."
"Oh, memangnya suami kamu kerja di mana?"
"Di luar kota, Tante. Dia baru aja dimutasi ke sana dan sedang mempersiapkan semuanya. Dia akan kembali dan menjemput aku di sini."
"Kalung kamu bagus," ucap Nuri dengan tatapan penuh rasa curiga.
Alini langsung menutup kalung yang teruntai di lehernya dengan tangannya. Jelas saja Nuri mengenalnya karena kalung itu adalah milik Ayu yang diminta Alini beberapa waktu lalu. Ayu yang sudah tidak mau berurusan dengan Rafa memberikan kalung itu begitu saja. Toh, kalung itu juga dari Rafa dan dia tidak menginginkannya lagi.
"Dari suami saya, Tante."
"Kayaknya wajah kamu sedih banget. Lagi ada masalah ya?"
"Iya, Tante, masalahnya lumayan rumit karena suami saya menikah lagi dengan wanita yang dijodohkan ayahnya."
Nuri sedikit terkejut mendengar ucapan Alini. Mendadak dia pun jadi kasihan pada wanita itu.
"Kamu yang sabar, ya, Tuhan pasti memiliki rencana lain."
"Makasih, Tante. Sebenarnya dia menikahi wanita itu dengan terpaksa dan gak ada cinta sama sekali. Dia cuma mau mengabulkan permintaan ayahnya aja."
"Kasihan sekali kalau begitu. Apakah wanita itu tahu kalau suamimu sudah punya istri?"
"Sebelumnya sih nggak tau, Tante. Tapi baru-baru ini dia tahu kalau suami saya nggak mencintai dia. Tapi demi mamanya, dia rela menjadi istri kedua dan memendam semuanya."
"Wah, dia pasti anak yang sangat berbakti pada orang tuanya. Tapi, kalian sedang berada di posisi yang cukup sulit. Sedikit rumit karena keadaan ini juga terpaksa. Kamu yang sabar, ya."
"Makasih, Tante. Kalau menurut Tante, yang harusnya mengalah siapa?"
"Kalau menurut Tante, yang harusnya mengalah itu adalah istri kedua suamimu. Dia tidak bisa mengambil kebahagiaan dari orang yang dicintai suaminya. Ya, meskipun ini permintaan ayahnya, tapi dia harusnya mengambil sikap untuk menentukan pilihannya sendiri."
"Tapi, ayahnya udah meninggal dan memberikan wasiat agar anaknya menikahi gadis itu, Tante. Saya sendiri bingung harus bagaimana."
"Ya ampun, rumit sekali, ya. Kamu yang sabar aja. Semoga suamimu tetap bisa bersikap adil kepada kalian."
"Makasih, Tante. Oh ya, saya dengar Rafa dan Ayu belum memiliki buku nikah, ya, Tante?"
"Iya, soalnya Rafa maunya nanti aja biar sekalian mengurus semuanya. Ya Tante pengennya cepat-cepat sih. Tapi katanya Rafa masih sibuk banget."
"Kalau gitu buat buku nikahnya melalui teman saya aja, Tante. Kalau teman saya pekerjaannya cepat dan beres. Saya ada contoh buku nikah jika Tante mau lihat."
Alini pun mengeluarkan buku nikahnya dari kantong. Nuri sedikit tertegun karena bisa-bisanya hal ini membawa buku nikah saat menonton televisi.
Nuri pun menerima buku nikah itu dan membuka isinya. Pertama dia melihat foto Alini di buku nikah berwarna hijau.
"Kamu cantik banget, ya. Pasti suami kamu juga ganteng."
"Iya, Tante lihat aja foto suami saya." Alini tersenyum licik ketika Nuri mulai memegang buku nikah berwarna merah maroon dan hendak membukanya.
walaupun singkat tapi mantap
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘