Sebelum membaca cerita ini, di mohon untuk membaca cerita sebelumnya yang berjudul "King's Regrets" agar lebih memudahkan dan memahami alur saat membaca cerita ini. Terima kasih.
Jangan lupa untuk Subs, Like dan meninggalkan jejak kalian di kolom komentar ya 🙏😊😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xialin12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KRS² #19
Pagi-pagi Xia Lian An sudah membuat semua pelayan di dalam istana kebingungan, karena sudah lebih dari 3 kali Xia Lian An berlari ke kamar mandi, begitu juga dengan putra mahkota yang tidak tahu harus bagaimana.
Saat ini putra mahkota tengah menyeka keringat Xia Lian An yang duduk di atas tempat tidur.
"Dimana tabibnya, kenapa belum sampai juga?" Ucap putra mahkota Zhang dengan keras.
"Tabib sedang menuju kesini, yang mulia." Ucap Xiao Wei.
"Bertahanlah, sebentar lagi tabib datang."
Xia Lian An mengangguk, tubuhnya sangat lemas setelah berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan cairan dari mulutnya.
"Yang mulia, hamba sudah disini." Ucap tabib istana setelah dia masuk ke dalam kamar.
"Cepat periksa permaisuri."
"Baik yang mulia."
Tabib itu meletakkan kian tipis di atas pergelangan tangan Xia Lian An, lalu memeriksa denyut nadi Xia Lian An.
Setelah beberapa saat, tabib tersenyum dan mundur beberapa langkah.
"Ada apa dengan permaisuri?" Tanya putra mahkota Zhang yang melihat tabib telah selesai memeriksa Xia Lian An.
"Selamat yang mulia, yang mulia permaisuri sedang hamil. Perut yang terasa tidak enak adalah efek dari kehamilan pada awal-awal bulan."
Putra mahkota Zhang sangat terkejut mendapatkan kabar yang begitu bahagia.
"Permaisuri ku, kau dengar itu? Kau hamil, kita akan memiliki bayi." Putra mahkota Zhang menggenggam tangan Xia Lian An.
Xia Lian An yang lemas hanya bisa mengangguk seraya tersenyum bahagia.
"Hamba akan memberikan resep untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada perut permaisuri, dan juga akan memberikan ramuan agar bayi semakin kuat."
Tabib itu memberikan sebuah resep pada Xiao Wei.
"Iya, terima kasih tabib." Ucap putra mahkota Zhang.
Tabib membungkukan badannya sebelum dia keluar dari kamar putra mahkota Zhang.
"Selamat yang mulia putra mahkota, yang mulia permaisuri. Hamba turut senang mendengar kabar bahagia ini." Ucap Xiao Wei.
"Iya, terima kasih. Kau bantu aku siapkan obat yang tabib berikan." Ucap putra mahkota Zhang.
"Baik, hamba mengerti."
Xiao Wei pergi dari untuk membeli semua obat dan ramuan yang telah tabib tuliskan pada sebuah kertas. Lalu merebusnya untuk permaisurinya.
"Yang mulia, tuan dan nyoya muda Qing datang untuk bertemu dengan yang mulia." Ucap seorang pelayan yang ada di depan pintu kamar.
"Biarkan dia masuk." Ucap putra mahkota Zhang.
Setelah mendengar perintah putra mahkota Zhang, Min'er dan Xiao'er masuk ke dalam kamar.
"Salam pada kakak dan kakak ipar." Ucap Min'er dna Xiao'er seraya memberi hormat.
"Iya, berdirilah kalian."
"Kakak ipar, kami tadi melihat tabib istana keluar dari halaman istana ini. Apakah terjadi sesuatu pada kakak?"
"Iya, memang telah terjadi sesuatu pada kakakmu."
"Apa? Ada apa dengan kakak?"
Putra mahkota Zhang menatap Xia Lian An dan tersenyum.
"Kakakmu..... sedang membawa bayi di dalam perutnya."
Min'er diam, namun detik berikutnya dia tersenyum lebar.
"Maksud kakak ipar, kakak sedang...."
Putra mahkota Zhang mengangguk.
Min'er menatap istrinya dengan bahagia, akhirnya keponakan yang dia tunggu akan datang.
"Kita akan mempunyai keponakan." Ucap Min'er pada istrinya.
"Benar." Ucap Xiao'er yang ikut merasa senang.
"Kakak, selamat atas kehamilanmu." Ucap Min'er pada Xia Lian An.
Xia Lian Na mengangguk seraya tersenyum.
Putra mahkota Zhang berdiri dan berjalan ke samping Min'er, memberikan ruang untuk Yun Xiao duduk di samping Xia Lian An.
"Selamat kakak ipar, saya turut bahagia mendengar berita ini." Ucap Min'er pada putra mahkota Zhang.
"Aku bahkan merasa ini adalah sebuah mimpi."
"Kakak ipar."
Yun Xiao duduk di sisi tempat tidur dan menggenggam tangan Xia Lian An.
"Selamat atas kehamilanmu Lian'er, aku sungguh bahagia mengetahui kabar ini." Ucap Yun Xiao.
"Terima kasih Xiao'er." Ucap Xia Lian An dengan suara lemah.
"Jika kau ingin sesuatu, katakan saja. Aku dengar tidak baik jika menahan sesuatu saat sedang hamil."
"Iya, aku mengerti."
Yun Xiao tersenyum bahagia karena akhirnya teman baiknya ini akan segera memiliki seorang anak.
***
Siang hari saat Xiao Wei membawakan bubur jamur untuk Xia Lian An, Xiao Wei keluar dengan membawa kembali bubur jamur itu.
"Apa itu makanan untuk permaisuri Jing?"
"Hamba memberi hormat kepada yang mulia ratu." Ucap Xiao Wei seraya membungkukan badannya.
"Bangunlah, kenapa kau membawa kembali bubur itu?"
"Yang mulia permaisuri tidak ingin memakan bubur ini, permaisuri juga berkata, jika dia ingin makan udang saus asam manis."
"Udang saus asam manis?"
"Benar yang mulia."
"Kalau begitu kau buatkan untuk permaisuri."
"Ampuni hamba yang mulia, hamba tidak tahu makanan itu. Hanya permaisuri yang mengetahuinya."
Sang ratu mengerutkan keningnya.
"Baiklah, kau bawakan saja makanan yang lainnya."
"Baik yang mulia."
Xiao Wei lalu membungkukan badannya, sebelum dia pergi meninggalkan ratu yang akan pergi menemui Xia Lian An.
Ratu berjalan masuk ke dalam kamar Xia Lian An, dan melihat jika Xia Lian An sedang memakan manisan.
"Permaisuri."
Xia Lian An menoleh, dia langsung berdiri "Yang mulia ibu ratu."
"Duduk saja, kau tidak perlu berdiri." Ucap ratu sambil memegangi kedua lengan Xia Lian An.
"Terima kasih ibu ratu."
"Saat aku mendengar kau hamil, aku sangat bahagia dan langsung datang kesini sendirian."
"Saya juga sangat bahagia, ibu ratu."
"Kau harus menjaga baik-baik tubuhmu, katakan saja apa yang kau ingin makan."
"Baik ibu ratu, saya mengerti."
"Akhirnya aku akan menjadi seorang nenek, terima kasih permaisuri."
"Saya yang harus berterima kasih kepada ibu ratu dan ayah kaisar, jika bukan karena ayah kaisar dan ibu ratu menyetujui pernikahan saya dengan putra mahkota, mungkin kehidupan saya dan adik saya tidak akan seperti ini."
Ratu menyentuh pipi kiri Xia Lian An "Kau adalah wanita yang baik, dan juga jujur. Kerajaan ini mempunyai permaisuri Jing disini adalah sebuah berkah bagi negara ini."
"Terima kasih ibu ratu."
Ratu menganggukan kepalanya seraya tersenyum.
"Aku mendengar dari pelayan mu, kau ingin makan udang.... asam manis?"
Xia Lian An mengangguk "Benar ibu ratu, tapi disini tidak ada yang tahu bagaimana cara membuatnya."
"Kau tahu bagaimana cara membuatnya?"
"Iya saya tahu. Hanya saja... putra mahkota tidak mengizinkan saya masuk kedalam dapur istana."
"Jika kau bisa membuat makanan yang kau inginkan, aku akan meminta para pelayan untuk menyiapkan semua bahan-bahannya, dan kau hanya tinggal memasaknya saja."
"Apakah ibu ratu mengizinkan saya untuk ke dapur istana?"
Ratu mengangguk.
"Tidak, kau tidak boleh masuk ke dapur istana."
Xia Lian An dan ratu menoleh, mereka melihat putra mahkota Zhang berdiri di depan pintu kamar.
"Yang mulia." Gumam Xia Lian An.
"Aku tidak mengizinmu untuk pergi ke dapur istana." Ucap putra mahkota Zhang lagi.
Xia Lian An diam, dia terlihat begitu muram karena keinginannya untuk makan udang saus asam manis tidak akan bisa terpenuhi.
Ratu yang melihat itu menggelengkan kepalanya.
"Putra mahkota, biarkan permaisuri membuat makanan yang dia inginkan. Ini juga demi kebaikan dia dan anak kalian berdua."
"Tidak ibu ratu, aku tidak ingin terjadi apa-apa pada Lian'er. Dia sedang hamil dan baru saja pulih."
"Putra mahkota..."
"Tidak, aku akan meminta koki di dapur istana untuk membuatkannya."
Ratu mengerti dengan kekhawatiran putranya terhadap Xia Lian An, namun keinginan Xia Lian An itu adalah bukan keinginan wanita biasa, melainkan keinginan wanita yang sedang hamil.
Putra mahkota Zhang melihat Xia Lian An, dia sebenarnya tidak tega melihat permaisurinya seperti itu. Terlebih putra mahkota Zhang tahu, jika Xia Lian An tidak mau makan bubur yang di bawakan oleh Xiao Wei tadi, tapi dia tidak ingin istrinya yang sedang hamil itu terluka walaupun hanya terkena percikan sedikit minyak saat memasak.
"Sayang, aku akan meminta koki istana membuatkan semua makanan yang kau mau. Aku tidak mau kau terluka." Ucap putra mahkota Zhang dengan lembut sambil berjongkok.
Xia Lian An terkejut melihat putra mahkota Zhang yang berjongkok di depannya.
"Kau jangan seperti ini, aku tidak apa-apa. Maaf karena aku tidak mendengarkan perkataan yang mulia." Ucap Xia Lian An membantu putra mahkota Zhang berdiri.
"Aku tidak apa-apa, aku akan melakukan apapun selama itu untukmu."
"Yang mulia."
Putra mahkota Zhang menatap Xia Lian An dengan lembut dan penuh cinta.
Ratu yang melihat itu senang, karena putranya benar-benar bersikap lembut pada Xia Lian An. Jauh berbeda dengan perlakuannya kepada wanita lainnya.
"Kau pergi dan mintalah koki istana membuatkan beberapa makanan untuk permaisuri." Ucap ratu kepada putra mahkota Zhang.
"Baik ibu ratu."
Putra mahkota Zhang lalu pergi meninggalkan ratu dan Xia Lian An di kamar.
"Maaf ibu ratu, anda harus melihat putra mahkota...."
"Tidak apa-apa, aku justru senang melihat dia seperti itu padamu. Dia jadi jauh lebih baik dan mengerti."
"Putra mahkota memang seorang laki-laki yang paling baik, yang belum pernah saya temui selama ini."
"Baguslah jika kau dan putra mahkota bersama, aku berharap calon cucuku ini akan seperti kalian berdua."
"Iya, ibu ratu."
Ratu dan Xia Lian An tersenyum bersama.
***
Sore harinya pelayan membawakan beberapa makanan untuk Xia Lian An, mereka meletakan semua makanan itu di atas meja yang ada di dalam kamar.
"Yang mulia, semua makanan sudah siap." Ucap Xiao Wei pada Xia Lian An.
"Iya, aku mengerti."
Xiao Wei membantu Xia Lian An berdiri dari tempat tidur, lalu mereka berjalan ke arah meja.
Dengan pelan Xiao Wei membantu Xia Lian An duduk di kursi, dan memberikan sumpit kepada Xia Lian An.
"Silahkan yang mulia."
Xia Lian An mengangguk, dia lalu menyumpit salah satu makanan yang ada di depannya dan memasukan ke dalam mulut. Namun baru beberapa kunyahan, perutnya bergejolak. Xia Lian An mencoba untuk menahannya, tapi pada akhirnya dia berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan makanan itu, bukan hanya makanan itu saja yang keluar, tetapi apa yang ada di dalam perut Xia Lian An juga.
"Yang mulia, yang mulia. Apa terjadi dengn anda? Yang mulia." Ucap Xiao Wei yang membantu Xia Lian An berdiri.
"Aku tidak bisa memakan makanan itu, tolong katakan pada pelayan untuk membawanya keluar."
"Baik, akan saya lakukan."
Xiao Wei memapah Xia Lian An masuk ke dalam kamarnya, dan mendudukan Xia Lian An di atas tempat tidur.
"Yang mulia, jika anda tidak makan bagaimana dengan bayi yang ada di dalm perut anda?" Ucap Xiao Wei seraya menyeka keringat yang keluar di kening Xia Lian An.
"Ambilkan aku manisan buah plum itu."
"Tapi yang mulia belum makan sama sekali."
"Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja."
Xiao Wei mengangguk, dia lalu berjalan dan mengambilkan manisan buah plum untuk Xia Lian An.
"Ini yang mulia." Xiao Wei memberikan piring yang berisi manisan buah plum itu.
Xia Lian An menerima piring itu "Terima kasih."
Xiao Wei sangat mengkhawatirkan kondisi permaisurinya, itu karena sejak pagi dia tidak makan apapun selain kue bulan dan beberapa jenis manisan yang dia beli.
😭😭😭