DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keheningan yang ganjal
##BAB 32 - Keheningan yang Ganjil
Entah mengapa, malam itu terasa begitu sunyi dan berbeda dari biasanya. Desis angin berembus sangat pelan, hanya cukup menyentuh dedaunan kering di pinggir jalan tanpa menimbulkan suara gemerisik yang biasa terdengar. Di atas sana, rembulan bersinar terang memancarkan cahaya keperakan yang menyebar ke segenap penjuru, seolah ingin menidurkan seluruh alam semesta dalam ketenangan. Namun di balik keindahan dan ketenangan itu, terselip sebuah atmosfer yang terasa ganjil, berat, dan perlahan mulai menekan dada hingga terasa sesak.
Di balik kemudi, Rahmat terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah kabut malam yang makin lama makin tebal menyelimuti permukaan aspal. Sepanjang jalan yang ia lalui, pemandangan terasa sangat asing: tempat yang biasanya selalu ramai dilalui kendaraan dan warga, kini tampak lengang, sepi, dan nyaris tak berpenghuni seolah ditinggalkan penduduknya.
"Tumben sekali malam ini sepi luar biasa. Biasanya jam segini masih banyak orang yang lewat. Ada apa gerangan?" gumam Rahmat dalam hati, diliputi rasa heran sekaligus waspada. Matanya tak berkedip mengamati setiap sudut jalan yang diterangi cahaya lampu mobilnya.
Tak lama kemudian, ia tiba di area kios utamanya. Tanpa menduga hal buruk, ia memarkirkan kendaraannya di tempat biasa, lalu turun dan melangkah masuk ke dalam ruangan usaha itu. Begitu melewati pintu, ia langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan hatinya seketika terasa perih melihat kenyataan yang ada.
Di balik kaca etalase, tumpukan bakso, mi, dan segala bahan dagangan masih tampak utuh dan penuh, nyaris tidak berkurang sama sekali. Suasana di dalam kios terasa mati, pengap, dan terasa lebih dingin dari suhu udara malam di luar.
Langkah kakinya terasa berat saat salah satu karyawan kepercayaannya mendekat dengan wajah pucat dan kepala tertunduk lemas. Saat laporan harian disampaikan, jantung Rahmat seakan berhenti berdetak sejenak. Sejak pagi kios dibuka hingga menjelang malam itu, dagangannya hanya laku sebanyak lima mangkuk saja.
Keanehan demi keanehan itu ternyata baru permulaan. Dampak kemarahan Mbah Cahyo tidak hanya berhenti pada penurunan pendapatan, melainkan telah berubah menjadi kutukan yang mengerikan dan menyebar ke mana-mana.
Dari lima orang karyawan yang seharusnya bertugas, hanya tiga orang yang hadir. Dengan suara bergetar menahan rasa takut, salah satu karyawan itu menyampaikan kabar yang membuat darah Rahmat seketika terasa dingin membeku.
"Dua rekan kami yang absen, Pak... sejak siang tadi mendadak jatuh sakit dengan gejala yang sangat aneh dan menakutkan. Belum lagi kabar yang beredar di sekitar sini, lima orang pelanggan yang sempat makan bakso di kios ini pagi tadi juga mengalami hal yang persis sama," ujarnya dengan suara nyaris terputus.
Menurut penuturannya, mereka semua tiba-tiba terserang penyakit yang tak masuk akal. Tubuh yang tadinya sehat dan bugar, dalam waktu singkat menyusut drastis menjadi kurus kering hanya tersisa tulang yang terbalut kulit. Mata mereka melotot lebar seolah ingin keluar dari rongganya, dan dari seluruh pori-pori tubuh keluar bau busuk yang sangat menyengat hingga sulit didekati.
Mendengar keterangan itu, Rahmat hanya bisa berdiri membeku dengan wajah seputih kapas. Ia sadar betul, ini bukan sekadar sakit biasa atau wabah dari alam. Ini adalah balasan keras yang ditimbulkan karena ia memutuskan ikatan pesugihan itu—racikan yang dulu menjadi sumber rezeki, kini berubah menjadi racun yang mematikan bagi siapa saja yang mengonsumsinya.
"Ini benar-benar melampaui dugaan. Bukan hanya aku yang menanggung akibatnya, tapi orang-orang di sekitarku pun turut terseret dalam bencana ini," batin Rahmat, merasakan rasa bersalah dan penyesalan yang menyiksa hatinya.
Ia menarik napas panjang, berusaha mengendalikan kepanikan agar tidak terlihat jelas di hadapan anak buahnya.
"Baiklah, kalau begitu kalian bertiga boleh pulang lebih awal malam ini. Kita tutup saja dulu kiosnya. Besok kita lihat situasinya lagi," ujarnya dengan nada berusaha tetap tegas.
Namun mendengar perintah itu, dua karyawan yang berdiri di sampingnya saling bertukar pandang dengan wajah penuh ketakutan. Dengan langkah gontai, salah satu dari mereka memberanikan diri bicara.
"Maaf, Pak... Sebenarnya kami ingin menyampaikan, kami berdua memutuskan untuk mengundurkan diri. Kami takut hal yang sama bisa menimpa kami juga," ucapnya lirih dengan nada memohon pengertian.
Rahmat hanya mengangguk pasrah. Ia tidak bisa menyalahkan rasa takut mereka. "Aku mengerti. Kalau itu keputusan terbaik untuk kalian, aku tidak akan melarang. Lalu bagaimana dengan kamu?" tanyanya sambil menoleh ke karyawan yang masih berdiri diam di sudut ruangan.
"Saya tidak akan pergi, Pak. Saya masih butuh pekerjaan ini, dan saya percaya Bapak adalah orang yang baik," jawab karyawan itu dengan suara gugup namun tetap tegas.
Rahmat tertegun. Di tengah situasi yang porak-poranda ini, ternyata masih ada satu orang yang setia berdiri di sisinya. Saat diperhatikan lebih saksama, barulah ia sadar—orang itu adalah karyawan yang sama yang pernah dengan tulus membantu Ratna saat istrinya itu merasa lemas dan pusing beberapa waktu lalu.
Setelah beres membereskan barang dan mengunci seluruh pintu serta jendela, kedua karyawan yang mengundurkan diri itu segera melangkah pergi dengan tergesa. Tinggallah Rahmat sendirian di dalam ruangan yang mulai gelap dan sunyi. Di tengah keheningan malam yang makin terasa mencekam, ia hanya bisa berdiri mematung, menelan rasa kecewa, gundah, dan penyesalan yang teramat dalam di dalam hatinya.
Bersambung
jangan lupa like back ke ceritaku 😁