Hati sejatinya tak bisa terbagi...
Cinta tak seharusnya menyakiti...
Tapi ... Kenapa aku berani membagi hati?
Kenapa aku menyakiti dua lelaki yang mencintaiku? Bahkan dengan gila-nya aku mencintai sama rata mereka berdua!
__Simak aja yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Kembali.
Di pagi hari senyuman putra dan menantunya membuat Ameera curiga, wajah keduanya berbinar terlalu mencolok.
"Kalian berdua--"
"Apa? Apa Mah? Kami enggak ngelakuin apa-apa," Issac tiba-tiba memotong perkataan Mamanya.
"Mama cuma mau bilang, kalian berdua harus periksa anak kalian ke Dokter secara rutin," Ameera tersenyum jahil.
"Issac,sebentar lagi kamu akan merasakan apa yang kami rasakan. Saat ingin meng--"
Ameera memasukkan roti ke dalam mulut suaminya, putrinya ada di meja kenapa Kendrick tak tahu tempat jika bicara.
"Dinda bentar lagi jadi Tante muda, yeeyyy!"
"Issac jadi Pahmud, ya ampun kasihan anakku nanti punya Papa yang masih kekanakan," canda Alexandra.
"Oeeekkkkk...." Issac lari ke toilet, sejak bangun dia terus saja muntah.
"Kamu nggak mual lagi, sayang?" tanya Ameera pada mantunya.
"Anehnya nggak, Mah. Mungkin anak ini pengen Papa nya yang mual gantiin aku, karena Papa-nya yang nakal. Mhuehhe..."
Semua orang tertawa, bukannya kasihan pada Issac mereka malah merasa lucu.
3 tahun kemudian...
Setelah lulus dari kampus, Devara melamar ke Perusahaan di Jakarta tapi rezeki belum berpihak padanya. Dia kembali ke Jogja ke rumah Ibunya dan akan mulai mencari pekerjaan disana.
Untuk sementara dia mengambil pekerjaan sampingan di sebuah kafe, tak ingin terburu-buru dengan hidupnya dan sedang menikmati hidup.
Saat ia mencatat pesanan seorang pelanggan, pintu kafe terdorong terbuka dari arah luar. Ia menoleh, itu adalah mantan kekasihnya Issac yang memangku seorang anak kecil laki-laki sepertinya berusia 2 tahun.
Issac juga menoleh padanya, lelaki itu juga sedang menggengam tangan istrinya, Alexandra. Ia tersenyum lebih dahulu lalu berjalan menghampiri mereka. "Hai, Isaac. Hai Alexandra. Lama gak ketemu, ya. Ini anak kalian, siapa namanya?"
Alexandra tersenyum, "Namanya Damian, bagaimana kabarmu Deva?"
"Aku baik, kalian sekarang tinggal di Jogja?" tanyanya lagi.
"Lagi tinggal disini, Damian selalu diperebutkan kakek-neneknya. Jadi kami sering bergantian tinggal di Jogja dan Makassar." Jelas Alexandra.
"Ah, maaf. Ayo duduk. Mau minum apa?"
Setelah Issac dan istrinya duduk, Devara lalu mencatat pesanan mereka berdua lalu pamit ke belakang.
"Sayang, bukankah Erza selama ini masih mencari Devara?" ujar Issac pada istrinya.
"Hm, aku akan berikan alamat kafe ini biarkan mereka bertemu secara alami tanpa bantuan kita."
"Ide bagus."
"Issac, bagaimana perasaanmu saat bertemu lagi setelah sekian lama dengan mantanmu?" tanya jahil Alexandra.
"Kamu sebulan lalu bertemu dengan Jefri, bagaimana perasaanmu?" Issac sengaja membalikkan pertanyaan.
"Kok malah bahas Jefri?" Alexandra mendecak kesal.
"Nah, kan! Makanya jangan bahas-bahas mantan kita, sayang. Anggap saja Deva adalah temanku," ujar Issac.
Alexandra terdiam, ia memang salah tak seharusnya membicarakan hubungan yang sudah lama tutup buku. "Aku salah, maaf."
"Gak papa, aku tau akhir-akhir ini kamu sering marah-marah gak jelas. Apa kamu masih cemburu pada Leni sekertarisku? Mau aku memecatnya?"
"Cih! Perempuan gatal! Tapi kinerjanya memang tak diragukan lagi, tidak usah kamu pecat. Jika kamu memecatnya, aku akan terlihat seperti istri pecemburu."
"Seorang istri memang harus cemburu, Alexandra." Ujar Devara seraya menaruh cangkir kopi satu persatu ke atas meja.
"Benar kata Deva, kalau kamu nggak cemburu lagi berarti kamu nggak cinta sama aku lagi," timpal Issac.
"Mhuheeee," Alexandra terkikik.
"Boleh gendong putra kalian?" pinta Devara.
"Tentu saja boleh," Issac memberikan putranya dari pangkuannya.
Devara menggendong baby Damian seraya menggoda anak itu, gelak tawa anak kecil itu terdengar. Setelah puas bermain dan juga harus melayani pelanggan yang baru datang, Devara memberikan lagi baby Damian pada Issac.
"Boleh minta nomermu, Deva? Ah, tapi kenapa bekerja di kafe? Apa kamu nggak kuliah?" tanya Alexandra penasaran.
"Aku melanjutkan kuliah di Jakarta setelah pertemuan terakhir kita waktu itu, setelah lulus melamar di perusahaan-perusahan disana tapi belum rezekiku. Aku baru beberapa minggu ini kembali kesini, sambil menunggu panggilan kerja."
"Melamar ke Perusahaan Issac aja, ya kan sayang?" ujar Alexandra.
"Boleh, masukan aja lamaranmu." Issac mengiyakan.
"Tidak usah, nggak enak sama kamu nantinya Alexandra. Aku nggak mau ada kesalahpahaman lagi," tolak Devara.
"Ngga bakal, aku percaya sama kalian berdua." Jawab Alexandra.
"Aku pikirin dulu, ya."
Devara menatap Issac, beruntung sekali mantan kekasihnya itu mendapatkan wanita sebaik Alexandra. Kerugian besar bagi lelaki itu jika kehilangan wanita sebaik Alexandra.