Rania gadis manja yang dipaksa masuk ke sebuah pesantren karena kelakuannya yang tidak bisa diatur oleh kedua orang tuanya dan selalu membuat masalah.
Namun, Rania menolak mentah-mentah perintah orang tuanya lebih tepatnya perintah sang Mama.
Nikmati kisahnya hanya di NOVELTOON
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umul khaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
HAPPY READING!!!!!!!🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹✨✨✨
Selesai makan malam, Rania dan Salman masuk ke dalam kamar mereka, Rania tidak mengusir Salman lagi tapi dia bingung harus tidur dimana. Meskipun, Ummi Aisyah telah menjelaskan semua padanya. Namun, Rania masih enggan untuk melakukan hal yang satu ini, dia tidak mau hamil di usianya yang masih sangat muda. Rania memang masih polos dan tidak mengerti apapun, tapi dia tau apa yang akan terjadi jika keduanya melakukan itu.
Rania tidak akan siap, apalagi dia juga masih sekolah. Sebelum tidur Rania masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu dan mengusir kecanggungan.
Ingin rasanya Rania mengusir Salman seperti yang dia lakukan tadi siang tapi tidak mungkin mengingat nasehat dari Ummi Aisyah kepadanya. Begitu membersihkan wajahnya Rania keluar dari kamar mandi, dan melihat Salman yang sudah duduk di atas sofa.
" Saya akan tidur di sini kalau kamu merasa tidak nyaman dengan kehadiran saya," ucap Salman mengerti apa yang di rasakan Rania.
Rania tidak menjawab ia ataupun tidak, dia hanya diam saja. Salman yang tidak mendapatkan jawaban dari Rania masuk ke dalam kamar mandi untuk menyikat giginya dan mengganti pakaian.
Rania masih bingung apa yang harus dia lakukan sekarang membiarkan Salman tidur di kasur atau membiarkan Salman tidur di atas sofa. Rania merasa kasian dengan Salman kalau harus tidur di atas sofa, mengingat tubuh Salman yang tinggi. Rania melihat ke arah sofa yang hanya setengah dari tubuh Salman.
" Apa yang harus aku lakukan, kasian juga kalau ustadz menyebalkan itu tidur di atas sofa," lirih Rania.
Ceklek!
Rania terkejut ketika mendengar suara pintu terbuka, Rania menoleh ke sumber suara dan melihat Salman yang terlihat lebih fresh. Salman berjalan ke arah sofa tanpa mengatakan apapun kepada Rania.
" Apa dia memang tidak banyak bicara seperti itu, rasanya aku sedang bersama kulkas tujuh pintu." batin Rania memperhatikan langkah Salman yang tidak mengeluarkan sepatah katapun, bahkan untuk tersenyum saja tidak.
Dalam pernikahan ini seperti Salman yang terpaksa bukan Rania kalau dilihat dari sikap dingin Salman.
" Dasar ustadz kulkas tujuh pintu," lirih Rania kesal melihat sifat Salman yang terlalu dingin padanya.
" Apa ustadz sungguh akan tidur di situ? Apa akan nyaman?" Tanya Rania membuka suara, kalau menunggu Salman yang membuka suara harus menunggu Rania berbuat ulah terlebih dahulu barulah Salman akan membuka suaranya.
" Tidak apa-apa, saya tau kamu tidak akan nyaman kalau saya tidur di situ," balas Salman.
" Ustadz bisa tidur di sini tapi awas kalau ustadz macam-macam," ucap Rania tidak punya pilihan lain. Selaku orang baru, Rania juga sadar diri tidak akan membiarkan pemilik rumah tidur di atas sofa.
"Sungguh, kalau kamu tidak nyaman saya tidur di sini saja," balas Salman.
"Ustadz ini selain menyebalkan ternyata keras kepala juga, terserah ustadz saja kalau begitu," ucap Rania masuk ke dalam selimut. Tidak peduli lagi dengan Salman mau tidur dimana.
Sebelum Salman bangun dari sofa, Salman tersenyum simpul lalu berjalan menuju tempat tidur dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan Rania. Rania yang belum tidur membuka matanya melihat Salman yang sudah ada disampingnya.
" Katanya nggak mau tidur di sini" sindir Rania.
" Saya tidak bilang tidak mau tapi saya hanya menjaga kenyamanan kamu," balas Salman.
" Memang capek bicara sama ustadz," ucap Rania berbalik arah. Yang tadinya menghadap ke atas jadi tidur dengan posisi miring.
" Apa kamu akan terus memanggil saya dengan sebutan itu?" Tanya Salman melihat Rania yang membelakanginya.
" Terus saya harus memanggil apa kalau bukan ustadz? Ustadz kan memang ustadz saya!" balas Rania berbalik arah dan menatap Salman yang juga sedang menatapnya.
" Tapi kita ini suami istri, kalau di pondok kamu bisa memanggil saya seperti itu, lagian juga semua santri sudah tau kalau kita sudah menikah," jelas Salman membuat Rania membulatkan matanya tidak percaya bahwa semua santri sudah tau kalau dia sudah menikah.
" Jadi semua santri sudah tau kalau saya sudah menikah? Dari mana mereka tau?" Tanya Rania bangun dari tidurnya menjadi duduk. Salman juga ikut duduk menghadap Rania yang terlihat masih tidak percaya dengan apa yang dia katakan.
" Abah sudah mengumumkan pernikahan kita di pondok tadi siang, Abah tidak mau nanti mereka salah paham dan membuat mereka berprasangka buruk. Jatuhnya kita yang berdosa karena telah membuat mereka berpikir seperti itu. Karena saya dan Abah tidak mungkin menjelaskan satu persatu," jelas Salman kepada Rania.
" Pasti mereka akan membuly saya besok," ucap Rania.
" Tenang saja, mereka tidak akan membuly kamu." balas Salman menenangkan Rania.
" Bagaimana ustadz begitu yakin. Ustadz tau mereka itu sangat mengidolakan ustadz" sahut Rania.
" Jangan pedulikan mereka, sekarang saya ini suami kamu. Dan jangan memanggil saya ustadz lagi, panggil Abi saja" balas Salman.
" Abi...memangnya ustadz Papa saya," ucap Rania tertawa saat mendengar Salman memintanya memanggil dengan sebutan Abi.
" Saya akan menjadi Papa dari anak-anak kita kelak," ucap Salman membuat Rania mematung.
Inilah yang Rania takutkan, Salman akan meminta anak kepadanya seperti apa yang dikatakan Ummi Aisyah kepadanya. Rania tidak lagi membalas ucapan Salman dan merebahkan tubuhnya lagi di atas tempat tidur.
Salman tersenyum saat melihat Rania yang terdiam karena kata-katanya. Salman juga ikut merebahkan tubuhnya di samping Rania yang tidur membelakanginya. Salman mendekati Rania dan memeluk tubuh Rania dari belakang, saat melakukan itu Salman merasa sangat deg-degan tapi dia mencoba memberanikan diri.
Rania yang mendapat pelukan mendadak dari Salman merasa sangat terkejut dan membulatkan matanya, tubuh Rania juga menegang saat Salman memeluknya.
"Apa kamu tidak mau mengandung anak-anak saya?" Tanya Salman membuat bulu kuduk Rania berdiri.
Rania tidak berani menjawab, bahkan Rania tidak berani untuk bergerak. Rania semakin takut apa yang dikatakan Ummi Aisyah terjadi, dia belum siap untuk memiliki anak di umurnya yang masih muda itu yang ada di dalam pikiran Rania.
" Kenapa? Apa kamu tidak mau memiliki anak dari saya?" Tanya Salman semakin mendekati Rania.
" Apa yang ustadz lakukan!" Ucap Rania memejamkan matanya dan masih tidak berani bergerak.
" Saya tau kamu menerima pernikahan ini dengan setengah hati, tapi saya tidak! Saya menyukai kamu sejak pertama melihat kamu datang ke pondok ini." jelas Salman masih memeluk Rania dari belakang.
" Bisakah ustadz melepaskan saya," ucap Rania. Rania merasa jantungnya hampir lepas dari tempatnya karena berdekatan dengan Salman.
" Kenapa? Saya tidak bisa berdekatan dengan istri saya sendiri seperti ini?" Tanya Salman.