Dara Respati, gadis cantik dan seksi. Gadis yang menjadi impian Dicky. Dicky yang sejak awal tahu bahwa mereka memang bukan saudara kandung, memendam cinta pada adiknya tersebut.
Dicky selalu menemani Dara disaat Dara susah maupun senang. Apalagi disaat Dara terpuruk, dikhianati oleh kekasihnya, Dicky yang selalu menemaninya.
Akankah Dara membalas cinta sang kakak, ataukah dia akan menikah dengan pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eni pua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Perjanjian pertunangan
Suasana cafe tampak ramai ketika Dara masih berbasa-basi pada Juna. Entah kenapa, semakin lama berbicara pada Juna, Dara merasa semakin akrab dengannya. Mereka mulai merasa bisa menjadi teman baik.
"Dara, sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Juna sambil membenarkan duduknya.
"Oh, begini. Semalam aku merasa jika kamu juga terpaksa bertunangan denganku?" tanya Dara sambil menatap tajam Juna
"Bagaimana kamu bisa tahu jika aku terpaksa?"
"Gampang saja, wajah kamu terlihat muram dan tidak ada senyum sedikitpun. Sama seperti aku. Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?"
"Kesepakatan, maksud kamu apa?" tanya Juna penasaran.
"Kita berpura-pura setuju bertunangan. Toh belum tentu kita akan menikah. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti," ucap Dara sempat membuat Juna tertegun.
"Baik. Sesuai keinginan kamu saja."
"Satu lagi. Kamu masih boleh berhubungan dengan kekasih kamu. Tapi, jangan sampai orangtua kita tahu. Kamu harus bisa menyembunyikan dari mereka," tambah Dara.
"Bagaimana kamu tahu aku memiliki kekasih?" tanya Juna heran.
"Loh, kan memang seperti itu. Biasanya mereka tidak ingin dijodohkan karena mereka sudah memiliki orang yang dicintai. Aku tidak salah, 'kan? Karena aku juga seperti itu," ucap Dara terus terang.
"Oh, kamu terlalu sering nonton drama. Jadi apa yang kamu lihat, seolah seperti drama yang kamu tonton," jawab Juna sambil tersenyum.
"Tapi kebanyakan memang seperti itu. Bagaimana, ada yang ingin kamu tambahkan?" tanya Dara penuh semangat.
"Apa ya?" gumam Juna. "Nanti saja aku pikirkan."
"Oke, kita sepakat. Aku sudah siapkan perjanjian diatas kertas. Kamu bisa menambahkan kekurangannya nanti. Silahkan tanda tangan," ucap Dara sambil menyodorkan dua lembar kertas berisi perjanjian kesepakatan bersama.
Juna mengambil kertas dari tangan Dara dan membacanya sekilas. Lalu dia segera menandatangani surat perjanjian tersebut. Tidak terlihat keberatan atau protes darinya.
Dara tersenyum melihat usahanya begitu mudah tanpa kesulitan yang berarti. Dara menyerahkan selembar pada Juna dan selembar lagi untuk dirinya. Dengan begini, kakaknya bisa segera bebas dan setelah itu, Dara dan Juna bisa menjalankan rencana lainnya untuk berpisah.
Setelah mendapatkan surat perjanjian, Dara mulai merasa tenang. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Apa yang pernah Dara paksa untuk bisa melupakan semuanya, kini kembali terbayang di pelupuk matanya.
"Dara, apa kabar?" sapa Raka saat berdiri di depan Dara.
Dara sangat terkejut dan tidak menyangka jika Raka ada di tempat yang sama dengannya. Bayangan perselingkuhan Raka dan sahabat baiknya kembali terlintas.
"Baik. Seperti yang kamu lihat, aku masih hidup dan masih bisa tersenyum," jawab Dara sinis.
"Boleh duduk?" tanya Raka sambil menatap Dara dan Juna bergantian.
"Boleh, silahkan," ucap Juna sedikit curiga dengan Raka.
"Terima kasih. Kamu temannya Dara?" tanya Raka penasaran.
"Bukan. Tapi dia adalah calon tunangan aku," jawab Dara cepat, sebelum Juna menjawab.
"Apa, kalian akan bertunangan?" tanya Raka panik.
"Benar. Kenapa kamu kaget. Ini tidak ada hubungannya dengan kamu," jawab Dara kesal.
"Dara, bisa kita bicara berdua saja?" tanya Raka penuh harap.
"Kenapa. Jika mau katakan saja di sini di depan dia. Kalau kamu keberatan, tidak perlu kau katakan. Aku tidak masalah," jawab Dara seenaknya.
"Baiklah. Dara, berilah aku kesempatan sekali lagi. Aku tidak akan membuat kesalahan untuk kedua kalinya. Aku sudah berusaha melupakan kamu, tetapi aku sungguh tidak bisa. Kamu masih yang aku cintai hingga kini," kata Raka terus terang.
Dara melihat ke arah Juna yang terdiam, saat mengetahui sebuah kenyataan. Kenyataan bahwa pria yang saat ini ada di depannya, adalah pria yang pernah membuat Dara putus asa dua tahun lalu. Lalu terlihat senyum Juna membalas tatapan Dara padanya.
Dara bingung dengan senyuman Juna. Apakah Juna saat ini sedang mengejeknya? Dara kemudian menarik napas berat dan melihat ke arah Raka yang sedang menunggu jawaban Dari.
"Kak Raka, semua sudah berakhir dari dua tahun lalu. Bukanya Kaka Raka sudah memiliki Meri?" jawab Dara sambil bertanya.
"Ra, aku tidak bisa bersamanya. Karena aku hanya mencintai kamu. Dara, aku akan menemui orangtuamu dan meminta izin untuk menikahi kamu," jawab Raka serius.
Dara dan Juna saling berpandangan mendengar ungkapan kata dari Raka. Perasaaan Dara campur aduk antara terharu dan marah. Terharu karena Raka, yang merupakan cinta pertamanya mengungkapkan perasaan yang seharusnya dia ucapkan saat mereka masih menjadi sepasang kekasih. Dara marah karena, apa yang Raka ucapkan saat ini, malah akan membuat masalah baru baginya.
Sungguh sangat terlambat bagi Raka karena cinta Dara bukan lagi untuknya. Tetapi sudah menjadi milik kakaknya, Dicky.
Bersambung
Yuk, sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen Author. Di jamin ceritanya seru abis. Di kepoin ya ... judulnya Takdir karya Nazwatalita jangan lupa ya...