🐣WARNING🐣
AREA DEWASA
JOMBLO DILARANG BACA!!!
Dapat menyebabkan baper berkepanjangan yang bisa membuat batin tersiksa.
Ini bukanlah cerita tentang Pernikahan CEO-CEO seperti di cerita lainnya, bukan pula cerita
perjodohan yang menyakitkan di awal pernikahan dan berakhir dengan manis.
Tapi ini adalah sebuah cerita
tentang hati yang salah memilih cinta, tentang
sebuah perjuangan, penantian, dan kesetiaan.
"Gue akan nantangin takdir! Kita liat siapa diantara kita yang akan menang." Kaisar
Hepi reading gengs... 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengakhiri sebelum memulai
Qiran begitu terkejut melihat video yang sedang diputar di laptop milik Rani. Dalam video itu terlihat sang kakak dengan raut wajah kesal menarik paksa Lovie masuk ke dalam kamar Rani. Video tanpa suara itu membuat Qiran bertanya-tanya apa kesalahan Lovie hingga membuat Sang Kakak yang jarang terlihat marah hingga memasang wajah kesalnya kepada sahabatnya itu.
"Kok lama amat Ran?" Qiran terlihat sangat tak sabaran menunggu keduanya keluar dari kamar Rani.
"Tunggu aja setengah jam lagi, ntar juga mereka keluar?" Jawab Rani enteng.
"What? Setengah jam? Ngapain aja mereka di kamar elu?"
Rani mengangkat kedua bahunya.
Sebelumnya Rani yang penasaran dengan kemana perginya Lovie yang tiba-tiba menghilang di pesta ulang tahun pernikahan orang tuanya. Tapi Rani sangat terkejut saat melihat video yang terekam lewat kamera CCTV yang terpasang di lantai 2.
"Kalo elu tau durasinya setengah jam lagi, kenapa ga lu cepetin?" Gadis berkaus dengan gambar kupu-kupu itu sewot.
"Elu jangan kaget ya! Siapin mental lu ya! Awas lu semaput di kamar gue!"
Qiran jadi semakin penasaran. "Emang si Soang ngapainin si Lope?"
"Gue cepetin nih. Elu baca bismillah ya!" Ucap Rani.
"Ada penampakan ya? Gue kagak mau liat ah, takut."
Qiran yang memang penakut langsung memikirkan hal gaib yang akan muncul di video tersebut. Dia tidak mengira jika tindakan Kakaknya lah yang akan membuatnya semaput.
Rani memulai memutar video itu beberapa detik sebelum Kaisar keluar dari dalam kamarnya.
"Bismillah Kir!"
Qiran yang masih berpikiran tentang hal gaib langsung menutup matanya dan mengintip di sela-sela jarinya. Video dimulai, tapi tak ada penampakan putih yang tiba-tiba muncul dan menghilang ataupun penampakan makhluk putih yang tidak pernah bisa berjalan dengan benar karena dia lebih senang melompat-lompat seperti kodok daripada berjalan seperti model.
Kaisar keluar dari kamar Rani dengan wajah sumringah, bahkan rentetan gigi putihnya terlihat jelas di dalam video. Tak lama si Cantik Lovie keluar dengan wajah yang berbanding terbalik dengan Kakaknya. Terlihat dia menghentakkan kakinya, membuat Kaisar berbalik ke arahnya. Entah apa yang Lovie katakan membuat Kaisar menghampirinya.
Jantung Qiran berdegup kencang melihat apa yang Kakaknya lakukan kepada Lovie. Karena terlihat jelas dengan senyum yang masih merekah Kaisar menarik tubuh bergaun biru muda itu ke arahnya dan menciumnya seperti yang Kaisar lakukan kepada Adele di Bioskop.
"SOAAAAAANG!!!" Qiran benar-benar terkejut melihat adegan yang membuatnya menahan nafas beberapa detik lalu.
"Jangan tereak-tereak Sengklek! Kalo Papah gue tau bisa masuk ruang BK mereka berdua."
"Ngapain mereka masuk BK? Kan cip*kannya juga di kamar elu bukan di sekolah. Lagian Kakak gue ngapain masuk BK? Dong-dong nih bocah." Qiran kembali sewot.
"Perhatiin gerak bibir Kak Kaisar sama lu Kir! Apa yang dia omongin ke si Lope?"
"Bo,,, nus?" Tanya Qiran saat mengikuti gerak bibir Kakaknya.
Rani mengangguk. "Apaan tuh maksudnya?"
"Mana gue tau. Gue harus minta penjelasan sama si Lope sekarang juga? Kok dia malah jadi pelakor sih?" Qiran menekan tombol hijau di layar datar handphonenya.
*****
Dering handphone Lovie menggema di dalam mobil Kaisar, tapi sepertinya Sang Pemilik handphone tak mendengar panggilan yang masuk karena saat ini Si Cantik tengah terlelap di kursi penumpang di mobil yang Kaisar kendarai.
"Halo?" Kaisar memilih menjawab panggilan telepon yang ternyata dari adiknya.
"Kok handphone Lovie ada di Kakak?"
"Si Lope lagi molor."
"APAAAAAA? Elu tidur sapa si Lope?" Teriakan Qiran membuat Kaisar menjauhkan handphone itu dari telinganya.
"Otak lu kenapa jadi mesum begini sih Dek? Si Lope tidur di mobil gue, mau gue anterin pulang. Ceritanya panjang, elu tanya aja sama si Lope nanti."
"Bawa ke rumah ya Kak!"
Kaisar menatap wajah lelah dari perempuan yang tadi siang hampir dia renggut kesuciannya. Wajah cantik dengan berjuta masalah hidup di usia yang masih belianya. Dia seperti telah mendaki gunung lewati lembah untuk sampai ke titik ini.
Tak banyak orang yang bisa dengan pasrah menerima takdir pahit ini dengan ikhlas, bahkan Kaisar pun belum tentu bisa melewati hal itu dengan mudah.
Si Soang kembali memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Sebuah kecupan mendarat kembali mendarat di bibir Lovie saat ia berusaha membangunkan gadis yang terlelap itu.
Kali ini Lovie tak lagi bertanya "Kakak lagi ngapain?", tapi ia hanya bisa pasrah menikmati sentuhan lembut Kaisar.
"Kita dimana?"
"Perpustakaan." Jawab Kaisar sambil melepaskan sabuk pengaman Lovie.
"Ini kan restoran Kak." Jawab Lovie sambil melirik sekeliling tempat parkiran restoran tersebut.
Jam tangan bermerek yang dikenakan Kaisar menunjukan pukul 7 malam saat mereka menginjakkan kaki mereka di restoran tersebut.
Menu makanan laut menjadi menu yang Kaisar pilih untuk mereka.
Mereka makan seperti sepasang kekasih, berkali-kali Kaisar mengusap saos yang belepotan di sudut bibir Lovie saat Sang gadis dengan lahapnya menyantap kepiting bumbu saus Padang yang sangat Kaisar sukai tapi menjadi menu favorit Lovie setelah mencobanya.
Perasaan yang dulu terasa menggelitik dada Kaisar perlahan berubah menjadi perasaan hangat yang terus membuatnya tersenyum saat memandang wajah cantik berkulit putih di hadapannya.
"Kak, aku kayaknya mau berenti sampe disini aja." Ucap Lovie saat mereka kembali ke dalam mobil Kaisar.
Ucapan Lovie yang tidak jelas maksudnya itu membuat Kaisar melirik ke arah wanita yang kini tengah menikmati jalanan malam ibu kota di balik pintu kaca mobil. "Maksud lu?"
"Aku takut aku berharap lebih dari ini. Aku takut aku jatuh cinta sama Kakak , aku ga mau jadi perusak hubungan Kakak sama Kak Adele."
Lovie memang polos tapi dia tahu jika yang mereka lakukan itu salah, dan jika sampai Adele mengetahui kelakuan mereka, akan ada hati yang hancur karenanya.
Kaisar meminggirkan mobilnya. Dia begitu terkejut dengan ucapan gadis yang berhasil mengisi setiap relung hatinya.
"Lop!" Kaisar menggenggam jemari lentik kuat. Menatap lekat-lekat wajah yang sepertinya enggan membalas tatapan matanya.
"Kita akhiri sampe disini aja ya Kak. Aku ga mau Kak Adele patah hati, tapi aku juga mikirin perasaan aku kalo aku terus berharap sama Kakak nanti, pastinya akan sulit untuk aku berpisah dari Kakak. Jujur aku seneng banget setiap deket sama Kakak, entah sejak kapan aku ga tau. Tapi untuk nerusin hubungan ga jelas ini aku ga sanggup. Penderitaan hidup aku udah cukup bikin aku sedih setiap harinya, aku ga mau aku harus terlibat cinta rumit yang akan ngancurin hidup aku." Ucap Lovie sambil berusaha menatap sepasang mata yang terlihat menegang.
"Maafin gue Lop!"
Kaisar memeluk erat gadis yang sedang berusaha menahan air matanya.
"Maaf gue udah egois sama lu, gue ga mikirin perasaan elu." Usapan lembut dari Kaisar membuat Lovie semakin sulit melepaskan pelukan mereka. Lovie pun menyambut pelukan pria pelukable yang selalu menghangatkan tubuh dan hatinya.
Pada akhirnya pertahanan air mata gadis yang tadi siang hampir merelakan kesuciannya untuk pria yang kini tengah memeluk erat tubuh rampingnya tak terbendung lagi, tak apa menangisi rasa yang memang tak seharusnya berkembang ini, daripada harus merasakan sakitnya perpisahan jika dia harus meneruskan rasa cinta yang mungkin akan berakhir tragis.
Terkadang kita memang harus memadamkan api asmara yang tak seharusnya berkobar agar melindungi hati dari sakitnya patah hati.
haiiiiii Kaisar🩷