Selama tiga tahun, Anisa menjadi istri pengganti Galang Gondokusumo—menggantikan posisi cinta pertamanya yang menghilang. Tiga tahun melayani, tiga tahun diabaikan, tiga tahun diperlakukan seperti bayangan orang lain.
Sampai akhirnya, Galang melemparkan surat cerai ke wajahnya.
"Tanda tangani. Sherly sudah kembali."
Malam itu, Anisa ditabrak mobil yang dikirim oleh Sherly Permata—perempuan yang merebut suaminya. Darah membasahi aspal. Galang melintas di lokasi kecelakaan tanpa menoleh.
Dia pikir Anisa sudah mati.
Tapi yang mati malam itu bukan Anisa.
Yang mati adalah **kebohongan**.
Karena benturan itu mengembalikan seluruh ingatannya. Nama aslinya bukan Anisa.
**Namanya Keira Hartono.**
Pewaris tunggal Hartono Group—konglomerat terbesar di Indonesia. Nona besar yang diculik empat tahun lalu dan dianggap hilang selamanya. Perempuan yang dicari oleh sepuluh kakak laki-laki, kakek yang menguasai setengah Jakarta, dan seorang pria misterius yang sudah menunggunya sejak dia berusia satu tahun.
Pria itu bukan Galang.
Pria itu adalah **Rayhan Tanuwijaya**—kepala keluarga Tanuwijaya, penguasa empat keluarga besar Jakarta. Dingin kepada semua orang. Kecuali kepada Keira.
Sekarang Keira kembali. Dengan ingatan yang utuh, identitas yang sesungguhnya, dan daftar panjang orang-orang yang harus membayar.
Sherly Permata? Akan kehilangan segalanya.
Galang Gondokusumo? Akan berlutut memohon.
Dan dunia yang pernah menginjak-injaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18: Anisa Sudah Mati
"Anisa..." Suara Galang hampir bergetar. "Kamu Anisa, kan?"
Koridor di luar ruang konferensi mendadak terasa lebih panjang dari seharusnya. Beberapa peserta rapat sudah berjalan menuju lift, tetapi langkah mereka melambat ketika mendengar panggilan itu. Bryan berdiri tidak jauh dari pintu, wajahnya mengeras. Aqil tetap setengah langkah di belakang Keira, siap bergerak jika Galang melewati batas.
Keira menatap pria di depannya.
Galang tampak berbeda dari hari ia meletakkan surat cerai di meja. Waktu itu, ia dingin, rapi, dan yakin. Sekarang dasinya sedikit miring, wajahnya pucat, matanya mencari sesuatu yang sudah lama ia buang.
"Nama saya Keira Hartono," ucap Keira.
Setiap kata jelas.
Tidak ada kemarahan yang meledak. Justru karena itu, Galang merasa lebih sakit.
"Tapi kamu..." Ia menelan napas. "Kamu Anisa."
"Anisa sudah mati di hari kau membuangnya."
Galang mundur setengah langkah.
Kalimat itu tidak keras, tetapi menghantam lebih dalam daripada tamparan. Di belakangnya, seorang pengusaha yang masih berada di koridor menahan napas, lalu cepat-cepat menjauh. Namun Engkong Gondokusumo, yang baru keluar dari lift khusus di ujung koridor setelah menerima kabar rapat, berhenti di tempatnya.
Ia melihat Galang.
Ia melihat Keira.
Dan wajah tua itu perlahan berubah.
Galang tidak menyadarinya.
Ia hanya menatap Keira.
"Aku tidak tahu," katanya. "Aku tidak tahu kamu..."
"Tidak tahu aku siapa?" Keira memotong pelan. "Atau tidak tahu aku manusia?"
Galang seperti kehilangan kata.
Keira melangkah satu langkah mendekat. Aqil ikut bergerak, tetapi ia kembali mengangkat tangan kecil. Cukup. Ini miliknya.
"Tiga tahun aku tinggal di rumahmu," kata Keira. "Aku menyiapkan sarapanmu. Aku menunggu kamu pulang. Aku mengingat obatmu. Aku menahan setiap tatapan yang menganggapku tidak pantas berdiri di sana."
Setiap kalimat membuka pintu yang Galang kunci rapat.
Ia melihat Anisa di dapur, mengaduk bubur saat pagi masih gelap. Ia melihat Anisa berdiri di ruang makan dengan apron sederhana, berkata pelan bahwa makanan sudah siap. Ia ingat dirinya hanya mengambil jas dan pergi tanpa menoleh.
"Aku..." Galang menutup mata sebentar. "Aku pikir kamu baik-baik saja."
Keira hampir tersenyum. "Karena aku tidak berteriak?"
Galang tidak mampu menjawab.
"Karena aku tidak menghancurkan barang? Karena aku tidak menangis di depan keluargamu? Karena aku tidak meminta apa pun?" Suara Keira tetap tenang, tetapi setiap kata membuat wajah Galang makin pucat. "Kau menyebut diamku sebagai baik-baik saja. Padahal itu hanya cara terakhirku bertahan."
Galang teringat malam ketika Anisa demam.
Ia menerima pesan dari pelayan bahwa istrinya sakit. Pada malam yang sama, Sherly menelepon sambil menangis, mengatakan ia merasa sendirian. Galang memilih pergi ke apartemen Sherly. Esok paginya, Anisa tetap menyiapkan kopi untuknya dengan wajah pucat.
Waktu itu ia bahkan tidak bertanya apakah demamnya turun.
"Keira..." Nama itu keluar canggung, seolah lidahnya belum berhak memakai nama tersebut. "Aku salah."
"Ya."
Jawaban itu terlalu cepat. Terlalu pasti.
Galang mengangkat wajah. "Aku benar-benar salah. Tapi aku tidak tahu Sherly melakukan semua itu. Aku tidak tahu tentang kecelakaan. Aku tidak tahu kamu korban malam hotel itu."
Untuk pertama kalinya, mata Keira berubah. Bukan menjadi lembut, melainkan lebih dingin.
"Menarik," katanya. "Setiap kali seorang pria melukai perempuan, kalimat pertamanya selalu `aku tidak tahu`."
Galang terdiam.
"Kamu tidak tahu karena kamu tidak mau tahu." Keira menatapnya tanpa berkedip. "Aku bilang aku dibius. Kamu memilih tidak percaya. Aku bilang aku korban. Kamu memilih jijik. Aku keluar dari rumahmu malam hujan, dan saat ada kecelakaan di jalan, kamu memilih tetap duduk di mobil."
Wajah Galang hancur sedikit demi sedikit.
"Kalau aku tahu itu kamu..."
"Apa?" Keira memiringkan kepala. "Kamu akan turun? Kamu akan mengangkatku? Kamu akan merasa menjadi orang baik karena akhirnya menolong perempuan yang baru kamu buang?"
"Jangan," bisik Galang.
"Kenapa? Terlalu sakit didengar?"
Galang menggenggam ujung jasnya. "Aku melihat kerumunan. Aku tidak tahu."
"Aku tahu." Keira mengangguk. "Dan itu masalahnya. Dalam hidupmu, aku selalu cukup jauh untuk tidak perlu kau lihat."
Galang menunduk.
Di koridor yang dingin itu, ingatan datang tanpa ampun. Anisa memperbaiki kancing jasnya. Anisa menyimpan dokumen yang ia tinggalkan. Anisa menatapnya dari meja makan, menunggu satu kalimat terima kasih yang tidak pernah keluar.
Lalu darah di foto pernikahan.
Tetes merah kecil di atas gaun putih.
Ia dulu hanya berkata lukanya kecil.
Ingatan lain menyusul, lebih tajam.
Pagi pertama setelah mereka menikah, Anisa berdiri di depan dapur dengan tangan dibalut kecil karena terkena pisau. Ia tetap menyiapkan sarapan karena tidak tahu apa yang disukai Galang. Galang hanya melihat sekilas, lalu berkata bahwa ia tidak sarapan di rumah.
Malam ulang tahunnya, Anisa menunggu dengan kue kecil di meja makan. Galang pulang lewat tengah malam setelah mengantar Sherly menghadiri acara lain. Ia melihat lilin yang sudah meleleh, tetapi tidak bertanya apa pun. Esoknya, kue itu sudah tidak ada.
Hari ketika Anisa mencoba menghubunginya berkali-kali karena demam tinggi, ia mematikan ponsel. Saat pulang, ia menemukan obat dan air hangat di meja kamarnya. Anisa yang sakit tetap menyiapkan semuanya.
Semua hal itu dulu tampak kecil.
Sekarang, setiap hal kecil berubah menjadi pisau.
"Aku tidak pernah..." Galang tersedak. "Aku tidak pernah memberimu kesempatan untuk bicara."
"Tidak." Keira mengangguk pelan. "Kau tidak pernah memberiku kesempatan untuk menjadi apa pun selain pengganti."
"Aku bisa menebusnya."
"Dengan apa?"
Galang membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang cukup besar.
Uang? Keira adalah Hartono.
Status? Ia sudah membuang status istri itu seperti kertas.
Perlindungan? Ia bahkan tidak turun dari mobil saat tubuhnya tergeletak di jalan.
Galang baru menyadari betapa miskinnya ia di depan perempuan yang dulu ia anggap tidak punya apa-apa.
Galang mengangkat tangan, seolah ingin menyentuh Keira, tetapi Aqil langsung maju satu langkah. Keira tidak bergerak.
Tangan Galang jatuh lagi.
"Maaf," katanya. Suaranya pecah. "Aku tahu kata itu tidak cukup. Tapi aku benar-benar..."
"Terlambat."
Satu kata itu memotong semuanya.
Galang menatapnya dengan mata merah.
Keira berkata, "Tiga tahun aku melayanimu seperti pembantu. Kau tidak pernah melihatku. Sekarang kau mau melihat? Sudah terlambat."
Galang seperti ditampar di depan semua orang, tetapi tidak ada yang menyentuhnya.
"Aku bisa memperbaikinya," katanya cepat, putus asa mulai masuk ke suaranya. "Aku akan jelaskan pada semua orang. Aku akan mencabut semuanya. Aku akan..."
"Apa yang mau kau perbaiki?" Keira bertanya. "Pernikahan yang sudah kau bunuh? Kepercayaan yang tidak pernah kau bangun? Malam ketika aku hampir mati?"
"Aku akan menghukum Sherly."
Keira menatapnya lama.
Lalu ia berkata pelan, "Kau masih mengira ini tugasmu."
Galang membeku.
"Sherly akan menerima bagiannya. Tapi bukan karena kau ingin menebus rasa bersalah." Keira merapikan manset jas putihnya. "Aku tidak membutuhkan penyesalanmu untuk mendapatkan keadilan."
Di ujung koridor, Engkong Gondokusumo mendengar semuanya.
Wajahnya kaku. Tangannya menggenggam tongkat sampai buku jarinya memutih. Ia menatap Galang seolah baru pertama kali melihat cucunya sebagai pria yang asing.
Galang akhirnya menyadari kehadiran kakeknya.
"Engkong..."
Namun Engkong Gondokusumo tidak bicara. Matanya berpindah pada Keira, lalu pada Aqil, lalu kembali ke Galang. Ada terlalu banyak hal di wajah tua itu: terkejut, malu, marah, dan sesuatu yang hampir seperti takut.
Keira tidak menunggu.
Ia berbalik.
"Keira!" Galang memanggil.
Langkah Keira berhenti, tetapi ia tidak menoleh.
"Apa tidak ada satu kesempatan pun?" Suara Galang nyaris tidak terdengar. "Aku tahu aku tidak pantas. Tapi... satu kesempatan untuk meminta maaf dengan benar."
Keira menatap lantai marmer di depannya. Untuk sesaat, bayangan Anisa yang dulu berdiri di depan gerbang Gondokusumo muncul di pikirannya. Basah, lapar, sendirian, masih menunggu mungkin Galang akan memanggil.
Tidak ada panggilan waktu itu.
Jadi Keira juga tidak memberi panggilan sekarang.
"Sampaikan maafmu pada Anisa," katanya tanpa menoleh. "Kalau kau bisa menemukannya."
Galang tidak mengerti selama satu detik.
Lalu ia mengerti.
Anisa sudah mati.
Yang berjalan pergi di depannya adalah Keira Hartono.
Aqil mengikuti Keira. Bryan melewati Galang tanpa senyum, bahunya sengaja menyenggol ringan lengan Galang.
"Sudah kubilang," ucap Bryan pelan, cukup untuk didengar Galang saja. "Kamu bahkan tidak tahu apa yang kamu buang."
Koridor perlahan kosong.
Galang tetap berdiri di tempatnya, kedua tangan jatuh di sisi tubuh. Ia ingin mengejar, tetapi kakinya seperti dipaku.
Engkong Gondokusumo akhirnya mendekat.
Tongkatnya mengetuk lantai sekali.
"Galang," katanya, suara tuanya berat.
Galang menoleh dengan wajah hancur.
Engkong menatap pintu lift yang baru saja tertutup membawa Keira pergi.
Sebagai orang tua yang membesarkan Galang, ia pernah mengira cucunya hanya keras kepala dalam urusan cinta. Ia tahu Galang tidak mencintai Anisa, tetapi ia tidak pernah membayangkan ketidakpedulian itu sampai membuat seorang perempuan terusir, terluka, lalu kembali sebagai ahli waris keluarga yang bahkan Gondokusumo tidak berani singgung sembarangan.
Lebih buruk lagi, gadis itu pernah berada di rumah mereka selama tiga tahun.
Di bawah atap mereka.
Dan mereka semua gagal melihatnya.
Kegagalan itu tiba-tiba terasa lebih memalukan daripada kerugian bisnis sebesar apa pun.
Tidak ada angka yang bisa menutupinya lagi malam itu, selamanya.
"Apa yang sudah kau lakukan?"