Awal dari sebuah kejadian misterius yang membawa seorang Edgar Stewart, menjelajahi dunia baru yang belum pernah di pijaki oleh siapapun.
Namun bagaimana jadinya, jika pria berusia dua puluh tiga tahun itu malah tersesat dalam pikirannya sendiri karena kejadian-kejadian masa lalunya yang suram.
Akankah Edgar bisa kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sulfan Kirstail, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Kembali Berasumsi
Matahari sudah kembali hampir tenggelam di arah barat, menandakan mal akan segera datang. Cahaya jingga yang terlukis dengan jelas diantara sinar sang Surya yang perlahan mulai memudar, merosot seolah berpamitan dari balik atap bangunan-bangunan Ortania yang berdiri disekitar Edgar.
Pria itu mempercepat langkahnya setelah hampir seharian berada diluar Guild tanpa sepengetahuan orang-orang disana.
Didalam hatinya, ia menyimpan rasa khawatir dan ketakutan. Ia tidak berani kembali sebetulnya, namun jika tidak mungkin saja akan muncul masalah yang lebih serius.
Maka mau tidak mau ia harus mengumpulkan keberanian supaya tak terjadi semua itu. Dalam kepalanya, Edgar merangkai kata-kata untuk menjadi sebuah alasan yang tepat supaya orang-orang di Guild tak banyak bertanya. Terutama pada Dryzell.
Ia juga sangat penasaran dengan kondisi Juildith saat ini. Terakhir kali Edgar melihat pria itu masih berbaring diatas kasur jerami ketika dirinya kembali ke Guild setelah pergi membeli obat untuk pria berbadan besar yang masih terkulai lemah.
"Juildith harus sembuh. Apapun caranya karena demi nama Red Raven!" Tukas Edgar yang tiba-tiba saja mengepalkan kedua tinjunya kuat-kuat.
Pandangannya masih menghadap lurus sembari berlari diantara keadaan pusat kota yang ramai dari banyaknya pejalan kaki yang berlalu lalang disekitar tempat itu. Belum lagi ada beberapa kereta barang yang terlihat bergerak, membawa banyak muatan diantara keadaan yang terasa lumayan sesak.
Edgar berlari menerobos keramaian itu demi bisa sampai di Guild sebelum matahari benar-benar tenggelam. Ia berusaha untuk tidak menabrak atau menghalau siapapun, karena ia sendiri juga sudah tahu bagaimana dan apa yang terjadi jika ia sampai bertindak ceroboh ditempat itu.
Orang dikota sangat membenci para komplotan perampok. Maka Edgar harus menerima banyak makian jika ia melakukan kesalahan ditempat umum seperti ini. Red Raven sudah sangat terkenal di Ortania.
Kedua kakinya terus bergerak sejak ia turun dari sebuah kereta Vlatsh yang tak sengaja ia berhentikan ketika dirinya baru keluar dari hutan Seina. Itu adalah nasib baik daripada harus mati-matian berjalan kaki menuju kota ini.
Langkahnya akhirnya telah tiba didepan sebuah pintu besar yang sudah sangat akrab. Edgar langsung masuk tanpa memikirkan apapun yang ada dibalik pintu itu lagi.
Ia melihat ada banyak orang yang berkumpul di Guild. Namun tak ada satu pun orang yang menyadari keberadaannya. Dirinya jauh merasa lega dan tanpa berpikir panjang, pria itu lekas buru-buru melangkah menuju kamarnya.
Baru saja tiba didepan anak tangga, seseorang tanpa sengaja menghadang langkahnya, yang membuat pria itu sangat terkejut, sampai nyaris terjungkal.
"Fyon?! Kenapa kau muncul seperti ini, sialan!" Makinya seraya mengusap dadanya. Sedangkan orang yang masih berdiri dihadapannya, tak terkejut sedikitpun.
"Kau?" Ucap Fyon mengangkat satu alisnya begitu tahu bahwa orang yang baru saja berpapasan dengan nya ini adalah rekan satu regunya. "Darimana saja kau, bodoh?!" Balasnya. Entah kenapa ucapan temannya ini terdengar begitu menakutkan jika dibanding pada saat mereka berdua sedang mengobrol.
"Ti- Tidak ada." Jawab Edgar singkat. Dia pun lekas untuk melanjutkan langkahnya, menghalau Fyon yang masih terlihat belum puas dengan apa yang diucapkan Edgar padanya. Justru pria dengan kedua Vulcan Drusser-Nya itu malah mengabaikan dirinya seperti memang tak ingin menjawab pertanyaannya.
"Dryzell mencari mu tadi, hei!" Panggil Fyon yang terdengar sedikit sewot, namun tampaknya Edgar sama sekali tak menoleh kebelakang sedikit pun setelah dia berjalan menaiki anak tangga, melalui Fyon yang bergeming dengan keheranan diwajahnya.
Edgar sudah tak mendengar celotehan apapun lagi setelah dirinya tiba didepan pintu kamarnya yang sudah tak tertutup rapat ini.
Dia masuk kedalam kemudian langsung menutup kembali pintu kamarnya rapat-rapat. Dia membenahi semua barangnya kembali, termasuk senjata yang masih ia kenakan pada kedua tangganya.
Untuk saat ini, ia merasa tenang- sedikit karena keadaan belum gelap setelah ia sudah tiba ditempat ini. Dia juga sebetulnya tak sengaja melihat keberadaan Dryzell diantara kerumunan orang yang sedang berkumpul diruang utama tadi.
Hanya saja memang tak ada yang menyadari kehadirannya, kecuali laki-laki menyebalkan tadi. Fyon bukan termasuk orang yang pandai menjaga rahasia. Mulutnya jauh lebih menyeramkan jika dibandingkan dengan cibiran yang sering ia dengar di kota.
Banyak yang bilang kalau Edgar dengan Fyon tak pernah akur, dan Dryzell malah menyatukan mereka berdua dalam sebuah regu ini. Mungkin itulah alasan kenapa Edgar tak terlalu berharap bisa dekat dengan pria berambut hitam seperti Fyon.
Edgar duduk ditepi kasurnya, memikirkan kembali semua yang telah ia bahas bersama Eldred yang hampir seharian ini. Sepeti sebuah cuplikan dalam teater, Edgar memberitahukan pada Elfair itu soal apa yang telah ia lihat dalam kepalanya, soal mimpi tersebut.
Keanehan lainnya pun mulai terukir lagi disitu. Ia sudah mengusulkan pada Elfair berambut albino tadi untuk menggali informasi lagi tentang apa yang telah dijelaskan padanya.
Dengan begitu, Edgar menjadi tak harus memikirkan banyak soal gambaran dalam mimpinya tersebut jika apa yang telah dikatakan dirinya pada Eldred telah salah.
Karena ia tak ingin pergi kemanapun dari kota ini. Ia tak ingin melangkah meskipun siapa saja memaksa dirinya. Ada hal yang lebih menakutkan jika ia pergi, bisa saja semua gambaran dalam mimpinya itu benar jika ia harus membuktikannya.
"Mengerikan sekali." Lirihnya pelan. Ia teringat bagaimana sebelumnya ia telah seperti masuk kembali dalam dunia yang sedang menampakkan sebuah kehancuran.
Semua sangat membingungkan setelah itu. Ia menjadi sulit untuk menebak mana sebetulnya yang menjadi sebuah kebenaran.
Jika apa yang tadi telah ia lihat itu bukan sebuah bayangan, berarti Edgar sedang berada di dunia yang berbeda, dan dia tertidur disana.
Edgar menampar wajahnya dengan kasar, dan itu terasa sangat menyakitkan. Pria itu berdecik pelan dengan sesuatu yang secara tidak sadar dilakukannya.
"Ini bukan mimpi." Katanya pelan seraya mengusap wajahnya yang terasanya berdenyut.
Sesuatu mengalihkan pikirannya. Seseorang dari balik pintu kamarnya datang tanpa mengetuk atau mengatakan apapun sebelum masuk kedalam.
"Edgar." Panggil orang itu. Seorang gadis dengan rambut kuncir kuda yang sudah setiap hari Edgar lihat.
Pria itu mendadak diam setelah tahu ada sosok Liza yang tiba-tiba datang menghampirinya.
......................