Sebuah misi yang di emban oleh dua saudara kembar tak identik. Namun, mereka memegang misi yang berbeda-beda. Bahkan, mereka pun terpisah oleh sebuah tragedi yang menimpa mereka semasa kecil.
Lalu, akankah mereka kembali di pertemukan oleh takdir yang saling berkaitan?
Apa jadinya bila seorang kakak kandung mencintai kembarannya sendiri?
Semua itu akan tersaji dalam sebuah kisah 'Misi Rahasia Si Kembar'.
Selamat membaca!
Terima kasih atas idenya pembaca setiaku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Diana Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Melekat Dalam Ingatan
Usai menghabiskan waktu bersama keluarga Habib, Mi Kyong pun berpamitan. Berhubung hari sudah agak malam, ia meminta Do Hyun untuk menjemputnya.
“Auntie, Uncle and Habib. I'm going home first. It was also getting to be night,” ucap Mi Kyong sembari melihat jam di tangannya.
{Tante, Om dan Habib. Saya pamit pulang dulu. Hari juga sudah mulai malam.}
“Oh okay. Be careful on the way, ok! See you again!” balas Pauline.
{Oh, baiklah. Hati-hati di jalan, ya! Sampai jumpa lagi!}
“Yes, Auntie. See you later. Goodbye, Habib, Auntie!”
{Ya, Tante. Sampai jumpa. Selamat tinggal, Habib, Tante!}
Sebelum Mi Kyong berbalik badan, Pauline menyempatkan diri untuk memeluk sejenak tubuh gadis cantik itu.
“Mwo?! Ajumma waeyo? Gabjagi geuneun ileohge naleul an-ajueossda. Igeon jom isanghaji anh-a?” pikir Mi Kyong dalam benaknya.
{Heh?! Tante ini kenapa? Tiba-tiba saja dia memelukku seperti ini. Bukankah, ini sedikit aneh?}
Pauline perlahan melepaskan pelukannya. Lalu, ia pun tersenyum pada Mi Kyong. Tak tahu harus berbuat apa, Mi Kyong pun juga melakukan hal yang sama dengan yang Pauline lakukan. Gadis itu tersenyum dengan tampang kikuknya. Serta, ia juga melambaikan tangannya kala dirinya telah beranjak dari tempat itu.
...----------------...
“Aju isanghan il-i anieossseubnikka? A, wae geuleongeoya? A, molla! Naneun geugeos-e daehae saeng-gaghaneun eojileowo. Ij-jimaseyo!”
{Bukankah tadi itu sangat aneh? Aihhh, kenapa bisa seperti itu? Ahhh, entahlah! Aku pusing memikirkannya. Sudahlah, lupakan saja!}
“Agassi, gwaenchanh-euseyo?” tegur Do Hyun secara tiba-tiba.
{Nona, apa kau baik-baik saja?}
“Sesang-e! Dangsin-eun bang-geum naleul nollage haessda! Naneun gwaenchanh-a. Jib-e gaja!”
{Owh, ya Tuhan! Kau mengagetkan ku saja! Aku tidak apa-apa. Ayo, pulang!}
“Alasseo, Agassi.”
{Baik, Nona.}
...----------------...
Pauline dan Halim duduk di ruang televisi. Sementara itu, Habib tengah mencari sesuatu di dapur. Kondisinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Setelah menemukan apa yang dia cari, Habib lekas ingin kembali ke kamarnya lagi. Tapi, niatnya untuk di terlaksana dengan sebagai mana mestinya.
“Akhirnya, ketemu juga nih vitamin.” ujarnya yang langsung meminum vitamin itu.
Terdengar suara mamanya yang memanggil namanya.
“Habib, sedang apa kamu di dapur? Ayo, kemarilah, Nak! Mama mau bicara,” panggil Pauline yang menyeru putranya untuk segera menghadap padanya.
“Iya, Ma. Tunggu sebentar!” sahutnya yang buru-buru mengemas gelas bekas minumnya.
Habib datang menghadap mamanya. Ia sapa wanita paruh baya, yang masih terlihat awet muda itu dengan kelembutan dari bibirnya.
“Ma ... ada apa mencari ku?”
“Eh, kok kamu malah berdiri di situ? Ayo, sini duduk di samping Mama!” Habib pun mematuhi seruan mamanya.
“Jadi, bagaimana dengan kuliah mu, hmm? Apakah semuanya baik-baik saja?” ujar Pauline yang mulai mencari tahu tentang anaknya.
“Iya, Bib. Papa juga ingin tau. Apakah kamu betah tinggal di sini, Bib?” sambung Halim yang tak kalah kepo-nya.
“Pa, Ma. Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja, kok. Jadi, Papa sama Mama gak perlu khawatir soal itu, ya? Habib nyaman dan kerasan kok tinggal di sini, Pa, Ma.” terang Habib dengan menyunggingkan senyuman di akhir kalimatnya.
Pauline mendekap erat tubuh sang anak. Lalu berkata, “Sayang, Mama akan selalu mendoakan kamu. Jadi, Mama percaya bahwa semua doa-doa Mama untuk kamu didengar oleh-Nya. Tapi, Sayang ... Mama jadi penasaran tentang temen kamu yang tadi itu,” tutur Pauline yang membuat Habib penasaran.
“Maksud, Mama apa, Ma?” tanya Habib dengan mimik muka penasarannya.
“Emmm, ketika tadi Mama masak di dapur bersamanya. Mama jadi memikirkan tentang Habibah, Bib. Seperti ada sesuatu pada diri gadis itu yang membuat Mama tertarik padanya. Ada perasaan aneh yang tidak bisa Mama jelaskan, Bib. Mama juga bingung kenapa Mama bisa merasakan hal seperti itu padanya? Mama juga tidak tau alasannya apa, Bib,” papar Pauline panjang lebar.
“Mungkin, itu karena Mama terlalu merindukan Habibah, Ma. Jadi, Mama merasa seperti itu pada Mi Kyong. Dan lagi ... usia mereka juga sama. Jadi, wajar bila Mama merasa demikian. Ya, udah. Kalau begitu Habib tidur duluan, ya, Ma. Pa, Habib pamit ke kamar mau istirahat,” terang Habib pada kedua orang tuanya.
“Ya, sudah sana pergilah tidur! Mama sama Papa juga akan tidur.” Habib pun pergi setelah mendapat titah dari sang mama.
Sepeninggalan Habib, Halim mendekati istrinya. Lalu, mendekap tubuh rapuh sang istri ke dalam pelukannya.
“Mas ....” ucap Pauline lirih.
“Syuuuttt! Sudah tidak apa-apa! Mas mengerti, kamu pasti masih berharap akan Habibah. Semuanya akan baik-baik saja, ya?!”
“Hiks, bagaimana aku bisa melupakan kejadian na'as yang menimpa putri kita, Mas? Bertahun-tahun lamanya aku masih tetap terus mengingat peristiwa tragis itu, Mas ...!” ucap Pauline dengan rintihan tangisnya.
“Iya, Sayang! Mas, paham! Tapi, kamu juga harus kuat demi Habib anak kita, ya?!” seru Halim menatap dalam bola mata sang istri.
“Iya, Mas. Hiks ....” jawabnya dengan air mata yang masih lagi tercurah.
...----------------...
“Migyeong, yeogi anj-euseyo! Yeogi appaleul ttalawa. Mudgo sip-eun geos-i issseubnida.” titah Lee Joon Woo sembari menepuk-nepuk sofa di sampingnya.
{Mi Kyong, duduk di sini! Temani Ayah di sini. Ada yang ingin Ayah tanyakan padamu.}
“Na-ege mueos-eul mudgo sipni?”
{Apa yang ingin Ayah tanyakan padaku?}
“Oneul halu jal bonaesyeossnayo?”
{Apa hari mu menyenangkan hari ini, hmm?}
“Ne, jaemiissseubnida. Wae, Appaneun gabjagi na-ege geuleon jilmun-eul haess-eo?”
{Ya, menyenangkan. Mengapa, Ayah tiba-tiba bertanya seperti itu padaku?}
Lee Joon Woo merangkul pundak sang putri lalu berkata, “Appa, geogjeongman haseyo, Adeul.”
{Ayah, hanya mengkhawatirkan keadaan mu saja, Nak.}
“Uwa! Appa, na geogjeonghaeyo? Naneun geu mal-eul deudgo sangdanghi nollassda.”
{Wah! Ayah khawatir padaku? Aku cukup terkejut mendengarnya.}
“Appa, hangsang dangsin-eul geogjeonghabnida. Dangsin-eun geugeos-eul kkaedadji moshabnida. Ij-jimaseyo! Balo igeo ya. Yo myeochil isanghage haengdonghasyeossseubnida. Jeonghwaghi museun il-i il-eonan geobnikka?”
{Ayah, selalu mengkhawatirkan kamu. Kamu saja yang tidak menyadarinya. Sudahlah, lupakan saja! Oh, ya. Beberapa hari ini, kamu bersikap aneh. Apa yang sebenarnya telah terjadi padamu, hmm?}
“Isanghan? Aniyo, jeoneun jeongsang-ibnida. Appa, Appa saeng-gag-i isanghan geos gat-ayo. Sang-gwan-eobs-eoyo, syawohago jal junbileul hago sip-eoyo. Neodo jom swineun ge joh-eul geoya, alasseo! Annyeonghi gyeseyo, Appa!”
{Aneh? Tidak, aku biasa saja. Ayah, sepertinya pemikiran Ayah lah yang aneh. Sudahlah, aku ingin mandi dan siap-siap untuk tidur. Sebaiknya, Ayah juga istirahat, ya! Bye-bye, Ayah!}
“Eo, Migyeong ... Appaneun ajig mal ankkeutnass-eo...” jerit Joon Woo yang tak dihiraukan oleh Mi Kyong sama sekali.
{Eh, Mi Kyong ... Ayah belum selesai bicara...}
Ketika Mi Kyong sudah terlihat semakin dewasa dan semakin cantik. Lee Joon Woo baru menyadari betapa cepatnya waktu berlalu.
“Geuneun eotteohge geuleohge ppalli seongjanghal su iss-eossseubnikka? Sasil, naega geuege dosilag-eul mandeul-eojun geos-i balo eojgeuje gatda. Ije nae jag-eun ttal-eun yeojalo jalassseubnida. Naneun yeojeonhi geuga geunyang jalagileul wonhaji anhseubnida. Geuleona naneun yeojeonhi geuga yeong-wonhi nawa hamkke issgileul balabnida.”
{Bagaimana bisa dia tumbuh dewasa begitu cepatnya? Bahkan, rasanya baru kemarin aku membuatkannya kotak makan siang. Sekarang, gadis kecilku telah tumbuh menjadi wanita dewasa. Aku masih tidak rela dia tumbuh dewasa begitu saja. Bagaimanapun, aku tetap ingin dia bersama denganku selamanya.}
Meski terkadang, rasa takut kehilangan acap kali membayangi benaknya. Lee Joon Woo berusaha untuk tetap menjaga identitas Mi Kyong. Ia akan terus merahasiakan identitas Mi Kyong yang sebenarnya.
Bayang-bayang kenangan bersama Mi Kyong terus bergelayutan di benaknya. Masih teringat jelas dalam benaknya, bagaimana Mi Kyong bisa berada di sisinya kala itu.
“Modeun geos-i nae gieog-e nam-aissgehasibsio. Nae ttal-eun jasin-ui jinjja gajog-i nugu-inji al pil-yoga eobs-seubnida. I sesang-eseo geuga akkigo salanghaneun salam-eun na hanamyeon chungbunhada. Na malgoneun amudo eobs-eo! Geulae, naman!”
{Biarlah semua itu tetap melekat dalam ingatanku saja. Putriku tidak perlu tahu siapa keluarganya yang sebenarnya. Cukuplah aku saja yang menjadi satu-satunya yang ia sayangi dan cintai di dunia ini. Tidak ada yang lainnya selain aku saja! Ya, hanya aku!}
Joon Woo telah bertekad, ia tak akan pernah mengatakan kebenaran identitas sang putri. Ya, tekadnya telah bulat dan tak bisa di ganggu gugat.
...----------------...
yang terakhir adalah Aku Mencintaimu dan Menyukai Semua Bab Awal-Akhir 😍😘😘👌🏻
sama donk kitaa😅