"Menikahlah denganku!" ulang Nasya untuk ketiga kalinya.
Perselingkuhan sang kekasih membuatnya terpaksa menyeret pria asing untuk menikah dengannya. Perjanjian di buat di malam pernikahan mereka.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Simak disini ya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neerja_A-Roh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Siapa yang memakai mobilku?!"
Wajah penuh kemarahan sudah sangat jelas terlihat, hingga saat langkah dengan setiap 1 langkahnya di penuhi amarah teringat pada sosok yang masih terbaring tak sadarkan diri.
"Nasya," ucap Arka, amarah semakin meredam perasaannya.
"Siapa yang menggunakan mobilku?" tanya Arka, ketika melihat supir keluarga masuk ke garasi.
Pria yang sudah mengabdi belasan tahun lamanya pada keluarga Arka itu menunduk dalam, matanya penuh penyesalan.
"Jawab!" bentak Arka, keras dan tidak akan mengampuni siapapun. "Atau semua fasilitas dan kenyamanan dari pekerjaanmu aku hentikan!"
"Tu-tuan, ... Nona Chyra yang menggunakkannya!" meski gemetar, tetap saja pria berambut putih itu mengatakannya.
Tanpa mengatakan apapun lagi, melangkah memasuki ruang utama yang terhubung dengan pintu garasi. Arka membelalakan matanya, ketika keadaan rumah sudah sangat kacau. Pecahan kaca bertebaran di mana-mana, bahkan kain-kain sisa terbakar.
"Arka!" seruan sang ibu dengan kepanikan yang sangat jelas terdengar.
"Ka, Chy-Chyra, dia mengamuk! Rumah kita hancur!"
Tak meladeni kepanikan ibunya, bergegas ke atas menemui Chyra yang sedang mengamuk di dalam kamarnya, Arka membuka pintu, membantingnya membuat wanita berambut pendek sebahu langsung terdiam.
"Chyra Anastasya! Sudah aku peringatkan, jangan berani—"
"Kau datang, Arka!" memotong kalimat Arka, memeluknya dengan sangat erat di ikuti tangisan histeris.
Bruk...
Gadis berparas cantik itu terjatuh membentur lantai yang dingin dan keras, seperti sifat pria yang sengaja mendorong tubuhnya.
"Ka,"
"Kau menggunakan mobilku?"
"Arka, kenapa—"
"Kau menggunakan mobilku untuk mencelakakan Nasya?"
"Aku menggunakkan mobilmu, tapi tidak untuk—"
"Jawab!" bentak Arka, tentu saja mengundang keterkejutan dalam diri Chyra. "Katakan Ya atau Tidak! Apakah kau menggunakkan mobilku untuk mencelakai Nasya?!"
Sekali lagi, Arka mengulang pertanyaannya. Terdiam, menunduk, kemudian bersujud di kaki Arka.
"Ya,"
"Beraninya kau!"
"Memangnya dia siapa, Ka?! Hanya karena kecelakaan ringan kau melupakan hari pertunangan kita!" sepenggal kalimat memancing amarah Arka lebih jauh, meraih sebuah guci yang terbuat dari keramik, ia sudah melayangkan guci itu. Chyra memejamkan mata, berdoa agar guci itu tidak mengenai dirinya.
"Arka! Stop, Arka!" Ananda menghampiri Arka, mencoba menghentikan putra satu-satunya itu. "Jangan sampai kau berbuat melewati batas!"
Brak...
Chyra membuka matanya, merasakan serpihan keramik ternyata tidak mengenai tubuhnya. Guci itu terpecah belah hingga remuk tak berbentuk di atas lantai.
"Ka, kenapa kau berubah? Bukankah dulu kau sangat mencintaiku? Tapi kenapa kau acuh dengan pertunangan yang sudah kita harapkan sejak dulu?" ucap Chyra, memulai sandiwara dengan wajah memelas.
Terdiam sebentar, Arka kemudian mengangkat jari telunjuk, sasarannya wajah Chyra.
"Kau—"
"Cukup!" bentak Aisha, diikuti Ananda menarik tangan Arka. Membawanya ke dalam kamar lainnya.
Semua hening, Chyra sudah tidak mengamuk melainkan diam membisu. Aisha segera meninggalkan Chyra, takut dengan amarah gadis itu yang bisa melebihi batas.
"Ka, ikuti apa maunya. Mungkin dengan begitu dia bisa cepat mengingat lagi semuanya, kamu juga akan terbebas."
"Tidak!"
Pembicaraan terjadi di ruang kamar tamu, pintu terkunci rapat. Dengan penuh tekanan Ananda mengutarakan pendapatnya, tentu saja yang tidak akan pernah Arka setujui.
Mengambil alih kunci, Arka hendak membukanya. Namun terhalang ketika Ananda menghadangnya di tengah-tengah jalan.
"Apa kamu akan biarkan pernikahanmu hancur dengan Nasya? Apa yang akan kamu katakan pada keluarganya? Apalagi saat ini mereka belum tahu bahwa mantan kekasihmu penyebab kecelakaan itu!"
Deg—
Nama gadis yang sedang tak sadarkan diri itu seakan telah menjadi kelemahannya.
"Kita bicarakan ini lagi nanti, saat Nasya sudah kembali sehat!"
"Papa tunggu keputusanmu nanti sore, jika tidak menjawab silahkan angkat kaki dari rumah ini, jangan pernah kembali!"
"Baik,"
......................
dan ingat mau balas dendam