"Aku cantik, lo mau apa??" (Evelyn Radistya)
"Lo emang cantik daripada gue, tapi lo gak akan bisa merebut Tristan dari gue." (Atalia Prameswari)
"Aku laki-laki mapan, masih muda dan tampan, kenala harus memilih barang bekas kalau yang ori bisa didapat." (Tristan Wijaya Ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VIDEO
Aku menghembuskan nafas pendek lalu menarik handle pintu ruangan Tristan, aku tak perlu mengetuk pintu karena Tristan tadi bilang langsung masuk saja karena hanya ada Arik. Ah...kesempatan bagus menggali informasi tentang Evelyn, masih terngiang jelas ucapan Bu Tika tadi, salah satu saksi kunci perbuatan Evelyn.
Aku sudah duduk di dekat Tristan, ia masih serius membahas kerja sama dengan Arik, aku pura-pura saja mengabaikan, namun otakku sedang menyusun pertanyaaan yang menjurus pada perempuan penggoda itu.
Begitu Arik dan Tristan diam, hanya mengecek dokumen, aku memberanikan diri untuk bertanya pada Arik, "PaK Arik....mau tanya sesuatu."
"Tanya apa?" bukan Arik tapi pacarku yang bertanya, resiko punya kekasih pencemburu akut ya gini, aku tak boleh banyak interaksi dengan pria lain. Menyebalkan sih kadang-kadang.
"Chat aja, Ta, biar gak ada yang tahu obrolan kita," Lah Arik malah gencar menggoda Tristan, apalagi gelagat playboynya tampak dengan menaik turunkan alis, aku cuma melongo. Berani juga nih orang bersikap seperti itu di depan Tristan.
"Gak usah macem-macem lo," sentak Tristan sambil melempar bolpoin.
"Udah deh, jangan kaya' anak kecil, aku cuma mau tanya tentang Evelyn."
"Kenapa dengan dia?" Hufh...lagi-lagi bukan Arik yang bertanya, tapi si bos ganteng itu. Bahkan kelihatan antusias sekali.
"Kok kamu yang antusias sih?" wajar dong aku curiga. Arik yang pernah terlibat dengan Evelyn saja santai, kenapa calon suaminya jadi kepo gini?
"Tanda-tanda mau jalan sama si Evelyn tuh, Ta?: emang dasar kompor meleduk ya, pinter banget disuruh manasin hubungin orang.
"Sembarangan kalau ngomong, jangan dengerin dia , Yang."
"Bentar deh, kenapa sekarang kamu jadi gelagapan jawabnya?" aku menangkap ada gelagat aneh dari mata Tristan, ia seperti memberi kode pada Arik tapi entah apa.
"Wajarlah, Ta, takut ketahuan," kelakar Arik sambil menahan tawa, gemas sekali melihat bos gantengnya itu takluk pada pertanyaanku.
"Breng*ek lo, Rik. Keluar sana!"
"Eh bentar aku mau tanya penting sama Pak Arik, ..dan kamu plis dengerin aja."
Kutatap sinis Tristan yang akan bersuara, namun langsung dilipat bibirnya, sedangkan Arik menutup bibirnya menahan tawa karena bos cerewet itu begitu tunduk padaku, heran mungkin galaknya bos itu dengan karyawan tak berlaku padaku, bisa dibilang Tristan bakal menjadi calon suami takut istri nantinya.
"Pak Arik..."
"Jangan panggil saya Pak dong, Ta. Mas aja, biar gak kaku," nah kan bakat palyboy muncul.
"Mau neh bogem mentah ke pipi lo," ancam Tristan sambil melotot. Andai saja aku tidak punya misi khusus akan keselamatan hati rakyat mungkin aku akan berbunga-bunga mendapat perlakukan posesif dari Tristan seperti ini, sangat menjagaku dari buaian buaya darat, salash satunya pesona Arik ini. Aish....menghambat saja.
"Udah dong aku kapan tanyanya kalau kaya' gini," protesku kesal.
"Sok atuh mau tanya apa," akhirnya Arik setengah waras dan sadar aku ingin bertanya tentang Evelyn.
"Evelyn tuh kaya' gimana sih?" tak tahu lah kalimat yang bisa memancing informasi lebih detail seperti apa, otakku hanya menyimpan kalimat itu.
"Cantik, seksi, dan pengalaman banget," jawab Arik dengan menatap langit-langit sambil tersenyum kecil. Aku begidik ngeri, apa iya dirinya gak waras ? senyum kok sama langit-langit ruangan, please jangan bilang dia lagi membayangkan hal mesum bersama Evelyn. Duh Pak...tobatttt, jeritku.
"Dih pengalaman banget?" sindir Tristan jijik.
"Halah bos, kalau lo nyoba sekali sama Evelyn, beuh bikin kepala atas bawah samping kanan kiri kecanduan. SIPP POKOKNYA." Kini aku dibuat melongo, kupingku gak salah dengarkan, apa-apan Arik berani mengajak Tristan nyoba Evelyn, situ sehat gak sih.
"EHEMMMM," sengaja aku berdehem, menyadarkan Arik agar memiliki 'rem' dalam menjelaskan tentang Evelyn. Mau bagaimana pun kekasih lelaki normal yang bisa aja melampiaskannya ke aku. Eh.....
"Gak usah ngajarin Pak Tristan, karena nanti kita akan belajar bareng." Mendadak Tristan mendekatiku, signal bahaya terendus.
"Aku on nih," bisik Tristan sambil mencium telingaku. Wah bahaya nih kalau gak segera sadar. Aku pun melirik ke arah pangkal paha Tristan, memang menonjol dan wajahku panas seketika.
"Hadeh...ngamar sono," ucap Arik yang tahu gelgat manja Tristan, ia pun pamit balik ke ruangan.
"Eh tapi aku belum tanya,"
"Nanti deh aku jelaskan, urus dulu bayi gede loh yang lagi tegang tuh adiknya." Ah si playboy kenapa juga bahas itu sih, bikin Tristan gak mau berpaling dari pundakku.
Begitu pintu terkunci, Tristan langsung menyambat bibirku dengan rakus, tangannya menahan tengkukku, sungguh ciuman Tristan begitu lembut, aku hanya memegang tangannya yang menempel di pipiku, sungguh sangat memabukkan, ciuman pertamaku yang begitu menggelora, otakku ingin menghindari tapi tidak dengan respon tubuhku.
Decapan pertemuan bibir mendominasi ruangan itu, bahkan aku tak sadar aku sudah duduk dipangkuan Tristan dan merasakan adik Tristan yang mengeras.
"Besok nikah, yuk. Manggil ustadz aja dulu, sumpah Yang aku gak kuat," ucapnya tersengal dengan menyatukan kening kami.
"Aku memegang pipinya, kenapa sih kelihatan bergairah banget, selama ini kita berdua juga gak pernah seintim ini," cicitku sembari menjauhkan wajah dan hendak turun dari pangkuannya, namun ia tahan. Ia sekarang sudah menyenderkan kepalnya di sofa, jengkel dan pusing karena tidak mencapai hasratnya.
"Buka aja ponselku, chat dari Arik." Kutatap Tristan, kasihan juga karena menahan hasratnya tapi aku bisa apa, dia belum jadi muhrimku. Kami pun segera sadar atas ciuman baru saja. Sungguh melewati batas.
Aku membuka ponsel Tristan dan membuka room chat Arik, ada beberapa foto dan video. Aku melirik Tristan, lalu menekan salah satu video tersebut. Mataku melotot tak percaya, "Apaaaaaa ini," seruku secara reflek menjatuhkan ponsel Tristan di sofa.
"
yg jelas ditunggu kelanjutannya