"Aku ingin menikah lagi, Diah!"
Ucapan Mas Ruli bagai petir yang menyambar Diah di siang bolong.
Berdalih bosan dan merasa kurang diperhatikan oleh Diah Apriani, Ruliansyah tiba-tiba minta izin untuk menikah lagi dengan seorang gadis yang lebih muda yang bernama Siska Maharani.
Hubungan pernikahan Diah dan Ruli yang sudah berjalan selama lima tahun serta kehadiran sepasang malaikat dalam pernikahan Diah dan Ruli, rupanya tetap tak menyurutkan niat Ruli untuk menikah lagi.
Bahtera rumah tangga Diah dan Ruli seakan terombang-ambing tak tentu arah setelah permintaan konyol Ruli tersebut.
"Aku janji akan berlaku adil," Janji Ruli pada Diah.
Apakah pada akhirnya Ruli benar-benar akan bersikap adil pada Diah dan Siska?
Lalu alasan apa yang menjadi pertimbangan Diah, hingga akhirnya ia rela membagi cinta Mas Ruli dan membiarkan sang suami menikah lagi dengan gadis pujaan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KURANG
Beberapa bulan berlalu.
Ruli pulang ke rumah Siska dengan wajah lesu karena persoalan di kantor yang sedikit rumit belakangan ini.
"Assalamualaikum!" Sapa Ruli seraya membuka pintu depan.
Hawa pengap langsung menyergap dan menusuk hidung Ruli. Piring dan gelas kotor seperti biasa bergelimpangan di meja depan. Entah sebenarnya Siska itu seharian di rumah ngapain sampai bersih-bersih rumah saja tidak kober.
"Walaikum salam!" Jawab Siska tanpa beranjak dari duduknya. Tangan istri Ruli itu juga masih sibuk men-scroll layar setan gepeng yang belakangan ini tak lepas dari genggaman Siska.
Bahkan kadang saat BAB, setan gepengnya juga dibawa. Nggak takut kesurupan memangnya?
"Sis, mbok piring dan gelas ini diberesi!" Ucap Ruli merasa jengah dengan sifat malas Siska yang perasaan semakin lama semakin menjadi.
"Iya, bentar, Mas! Siska masih capek ini!" Jawab Siska tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"Capek ngapain memangnya? Bukannya seharian kamu cuma leyeh-leyeh di kursi itu sampai bokong kamu tepos?" Tanya Ruli seraya membuka kancimg kemejanya dengan kasar.
"Ya kan Siska lagi hamil besar, Mas! Gampang capek! Makanya Siska harus banyak duduk dan berbaring!" Sergah Siska mencari alasan dan pembenaran.
"Alasan! Justru ibu hamil itu harus banyak gerak, biar kakinya nggak bengkak kayak punya kamu itu dan nanti lahiran juga gampang!" Decak Ruli yang sudah menghilang ke ruamg makan.
Suasana di dapur dan ruang makan ternyata juga sebelas dua belas dengan di ruang depan. Ruli membuka tudung saji dan hanya ada kardus bekas kaefci yang sudah dikerubuti semut.
Ruli ganti membuka mejikom, dan kali ini pemandangannya lebih mengenaskan. Nasi yang entah sudah dari jaman kapan tinggal seuprit dan sampai kering kerontang di dalam mejikom.
Ya Allah!
Sebenarnya istri Ruli itu kerjaannya ngapain saja di rumah!
"Sis, kamu nggak masak?" Seru Ruli dari ruang makan.
"Siska masih mabuk kalau cium bau masakan, Mas!" Jawab Siska yang masih saja memakai alasan yang sama seperti jaman VOC dulu kala.
"Trus nggak beliin aku apa gitu buat makan malam? Suami pulang kerja udah capek, pikiran suntuk, malah rumah kayak kepala pecah begini!" Omel Ruli panjang lebar seraya berkacak pinggang pada Siska.
"Beli sendiri kan bisa, Mas! Siska itu lagi sibuk!"
Tok tok tok!
"Paket"
Seruan dari pintu depan menghentikan sejenak perdebatan Ruli dan Siska.
"Minta duit buat bayar paket, Mas!" Siska nenengadahkan tangannya ke arah Ruli yang masih berkacak pinggang.
"Pesan apa memangnya? Duit belanja yang aku kasih awal bulan kemarin kemana?" Tanya Ruli menyelidik.
Seumur-umur baru kali ini Ruli menanyakan tentang uang belanja yang ia kasihkan ke istri, karena memang ini baru tanggal sepuluh. Mustahil kalau uang tiga juta yang Ruli berikan pada Siska di awal bulan sudah ludes tak bersisa.
"Sudah habis lah, Mas! Mana duit cepat!" Jawab Siska galak masih menengadahkan tangannya pada Ruli.
"Ini baru tanggal sepuluh, Siska! Bagaimana ceritanya duit itu sudah habis?" Tanya Ruli tak habis pikir.
"Berisik, ah, Mas! Ngomelnya bisa nanti, nggak? Itu bayarin dulu paketannya Siska!" Perintah Siska galak.
"Males!" Ruli menyambar kemejanya dan memakainya dengan cepat, lalu menyambar kunci motornya dib atas meja.
"Mas!" Panggil Siska pada Ruli yang pergi begitu saja meninggalkan Siska dan kurir yang mengantar paket.
"Mbak, Paket, Mbak!" Ucap Mas Kurir pada Siska yang masih mencak-mencak.
"Lagi nggak ada duit! Udah bawa balik saja paketnya!"jawab Siska galak.
"Nggak bisa gitu, dong, Mbak!"
"Bisa aja! Ribet amat, sih! Pergi sana!" Usir Siska pada kurir seraya membanting pintu depan.
****
"Assalamualaikum!" Salam Ruli dengan wajah merah padam menahan amarah.
"Walaikum salam," jawab Diah yang sedang menyuapi si kembar. Istri pertama Ruli itu tanpak terkejut melihat kedatangan Ruli ke rumahnya di hari Selasa.
Amnesia apa,ya?
"Mas, ini masih Selasa. Kok pulang kesini?" Tanya Diah bingung.
"Suka-suka aku mau pulang ke mana!" Jawab Ruli ketus. Ruli langsung pergi ke dapur untuk meluapkan amarahnya. Salah satu sifat positif Ruli adalah tak pernah menunjukkan kemarahannya ataupun mencak-mencak di depan anak-anaknya.
"Udah males juga pulang ke rumah Siska," omel Ruli lagi yang kini sedang mondar-mandir di dapur seperti sedang banyak pikiran. Diah yang sudah menyusul Ruli ke dapur sedikit bingung dengan tingkah polah sang suami.
"Memang ada masalah apa, Mas? Ada masalah di kerjaan?" Tebak Diah yang sepertinya memang selalu bisa memahami Ruli.
"Banyak, Diah! Mumet aku ngurusin beberapa laporan yang kisruh," curhat Ruli merasa frustasi.
Pria itu akhirnya berhenti mondar-mandir dan kini ganti duduk di kursi plastik yang ada di dapur.
"Udah kerjaan di kantor bikin mumet. Pulang ke rumah, malah bentuk rumahnya kayak kandang ayam tak karuan. Mau makan juga nggak ada makanan. Apa uang belanja tiga juta sebulan itu kurang banyak, to, Diah?" Curhat Ruli panjang lebar seolah sedang mengeluarkan uneg-uneg dalam hatinya. Diah tentu saja langsung paham kalau yang dimaksud Ruli disinj adalah Siska yang entah kenapa boros sekali hidupnya.
"Mas Ruli makan dulu, ya! Diah masak soto ayam tadi," ucap Diah yang enggan menanggapi curhatan sang suami tadi.
Mendengar Diah yang menyebut soto ayam, wajah Ruli langsung berbinar senang.
"Nasinya panas?" Tanya Ruli yang memang kurang suka makan nasi langsung dari mejikom.
"Diah dinginkan dulu, Mas Ruli bisa mandi dulu," jawab Diah yang langsung membuat Ruli mengangguk.
Ruli bersiul senang dan langsung mengambil handuk lalu pergi mandi.
Sedangkan Diah lanjut mengambilkan nasi untuk Ruli.
"Aduh!" Ringis Diah seraya memegangi perutnya bagian bawah yang belakangan ini sering sakit dan kumat-kumatan. Diah duduk sebentar di kursi plastik yang tadi di duduki Mas Ruli agar rasa sakitnya sedikit berkurang. Paling enak kalau dibawa berbaring sebenarnya. Tapi pekerjaan Diah masih banyak. Nanti saja Diah berbaringnya.
"Bund, ayah mana?" Tanya Naufal yang sudah menyusul ke dapur.
"Masih mandi. Ada apa?" Diah balik bertanya pada sang putra.
"Naik odong-odong sama Ayah boleh?" Tanya Naufal seraya memasang ekspresi wajah manis pada Diah.
"Nanti bunda tanyakan dulu, ya! Ayah belum makan juga dan kelihatan capek," jawab Diah yang tak mau berjanji pada Naufal.
"Baiklah!"
"Naufal mau beli susu boleh, Bund?" Tanya Naufal lagi yang belakangan ini memang suka jajan susu UHT. Lebih baik daripada jajan kinderjoy.
"Ambilin dompetnya Bunda dulu di kamar," titah Diah pada sang putra yang langsung berlari masuk ke dalam kamar Diah.
Tak berselang lama, Naufal sudah kembali membawa dompet Diah.
"Ini, sekalian belikan untuk Naura, ya!" ucap Diah seraya menyodorkan uang sepuluh ribuan pada Naufal.
"Baik, Bund!" Jawab Naufal yang langsung berlari ke pintu depan.
"Naufal minta apa?" Tanya Ruli yang tiba-tiba sudah merangkul Diah dari belakang. Aroma sabun langsung menguar memenuhi indera penciuman Diah.
Duh, perasaan Diah langsung tak enak.
"Beli susu, Mas!" Diah langsung bangkit dari duduknya dan menghindari Ruli.
"Nasinya udah dingin itu, Mas!" Ucap Diah selanjutnya.
"Aku pakai baju dulu," jawab Ruli seraya berlalu dan masuk ke dalam kamar.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
kasian Diah berakhir
tapi gk gitu mereka berdua gak akan sadar dengan kesalahan masing²
sudah cukup dia selama ini menderita dari sejak kecil sampai rumah tangganya kandas
mungkin dengan dia meninggal dia bisa tersenyum 🥺
kenapa Diah gk minta² uang dia punya penghasilan sampingan hanya andalkan kamu mana cukup
sedangkan Siska gk kerja mikir jadi laki emang gk ada akhlaknya
Diah saja beban saja lebih berat masih waras 🤭
kok betah e ta 😂
mama mu Gimana kabarnya katanya punya istri baru hidupnya terurus yang ada tamah mumett.... 😂😂😂
setia dengan satu wanita istri pertama .setelah istri meninggal pun disuruh menikahi felli jangan dibandingkan² gak cocok 🤣🤣🤣