Yang mau ngobrol shantuy dengan saya, bisa langsung follow instagram saya ya (@kangrebahan_03). Kebetulan saya baru aktif lagi di instagram, insya allah nanti saya infokan jadwal up di sana.
*******
"mari bermain"
Bagi siapa pun yang mendengar kalimat itu dari mulut seorang gadis cantik yang bernama Elza, lebih baik memilih untuk segera mengakhiri hidupnya dari pada mati di tangan gadis berhati iblis namun berwajah malaikat itu. Kecantikannya bisa menjadi daya pikat untuk memancing targetnya agar memasuki perangkap dalam jebakan maut yang sudah ia buat.
Ya itulah Elza, gadis mungil yang memiliki wajah super cantik membuat siapa pun akan tertipu dengan mudah. Di balik itu semua, ada iblis di dalam diri Elza yang siap bangkit kapan pun ketika ia lepas kendali.
***
Melvin Andrea Micheal.
Nama itu sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat, Melvin itu bisa di bilang suami idaman bagi kaum hawa. Dia tampan, kaya, seorang pengusaha sukses juga. Paket konplit bukan? Maka tidak heran jika Melvin menjadi rebutan cewek cewek.
****
Misi nya di New York membawa petaka bagi seorang Elza. Ciuman pertama nya di ambil paksa oleh bajingan tampan, bernama Melvin. Elza tidak terima dengan kelakuan Melvin yang secara tidak langsung sudah menodai bibirnya yang suci, maka dari itu Elza langsung memberikan pelajaran kepada Melvin berupa tendangan super kencangnya di area sensitif Melvin.
Harusnya Melvin marah dengan perlakuan gadis itu kepadanya, tapi melihat wajah kesal gadis itu membuat seringai muncul di wajahnya yang tampan.
"mine"ucapnya.
+++++
Hanya penulis pemula yang ingin menuangkan kehaluan nya😴. Berhubung ini karya pertama saya, mohon bantuannya untuk para senior yang sudah banyak pengalaman nya. 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vifinefianti_033, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Melza
Perlahan namun pasti kedua mata Elza mulai terbuka, ia mengerjap ngerjapkan kedua matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Elza mengedarkan pandangannya menatap keseluruh sudut kamar yang ia tempati saat ini, kasur empuk dengan ukuran besar menjadi tempat yang nyaman untuk tubuhnya agar tetap berbaring.
"Udah bangun? "
Pertanyaan itu sontak membuat Elza menoleh keasal suara, ia melihat seorang pria yang mengenakan pakaian santai berjalan kearahnya. Elza tahu siapa pria itu, Raka.
"Butuh sesuatu? Mau gue buatkan makanan? " tawnya Raka sudah berdiri di samping Elza yang sedang berbaring di tempat tidurnya.
"uqdah berapa lama gue nggak sadarkan diri? " Tanya Elza dengan suara seraknya.
Raka langsung ber inisiatif untuk membantu ketika Elza hendak bangun dari posisi berbaringnya, Raka menumpuk beberapa bantal ke kepala ranjang agar punggung Elza bisa bersandar disana. Dengan penuh hati hati Raka mulai melepaskan pegangannya di tubuh Elza, membiarkan Elza untuk bersandar disana.
"1 hari" Jawab Raka "ingawtan lo udah kembali? "
Elza mengangguk samar.
"Tuan Jasper yang akan menjelaskan semuanya "
"Papah dimana? "
"Tuan Jasper tinggal di Jerman setelah lo menghilang" jelqas Raka.
"Bang Remi sama Bang Lucas? "
"Mereka juga ikut tuan Jasper "
Elza menghembuskan napasnya kasar.
"Kalau ajah gue nggak kabur mungkin mereka nggak akan pergi ke Jerman" Keluh Elza memasang raut wajah bersalah nya.
Raka menggelengkan kepalanya cepat.
"ngqgak, ini bukan salah lo. Naluri manusia emang gitu, kalau dia berada di tempat yang asing atau aneh pasti mereka akan langsung kabur dan mencari orang lain" Jelas Raka berusaha menenangkan Elza "Lagian situasi saat lo kabur, lo nggak ingat apa pun selain nama lo doang"
Elza hanya diam.
"Sialnya otak jenius lo yang bikin kita kesel, bisa bisanya lo keluar dari tempat yang sudah gue desain dengan susah payah" Kesal Raka.
Elza tersenyum tipis.
"Gue udah hubungi Papah sama dua abang laknat lo, mereka bakal langsung otw kesini setelah pekerjaan mereka selesai " Jelas Raka.
"Kenapa lo hubungi mereka si" Kesal Elza.
"Kenapa? Lo nggak kangen sama keluarga lo?"
"Bukan"
"Lalu? "
" Ada urusan"
"uruwsan? Urusan apa? Berbahaya lagi? Nggak, gue nggak izinin lo" Kesal Raka menatap Elza tajam "Gue bakalan kurung lo didalam sini kalau lo tetep nekad"
Elza memutarkan bola matanya malas.
"Gue mau ke makam Mamah sama Elsa"
Tubuh Raka seketika kaku ketika dua nama itu keluar dari mulut Elza, padahal Raka berusaha menghindari topik sensitif itu.
"Elza! " Raka menatap wajah Elza dengan tatapan khawatir nya. Ia sangat tahu Elza sangat terpukul karena kehilangan dua orang tersebut, Raka tidak ingin Elza terpukul lagi karena mengingat mereka kembali.
"Gue nggak apa apa" Elza menampilkan senyum tipis, berusaha menujukan kalau dia baik baik saja.
*****
Setelah melalui perdebatan yang panjang dengan Raka, akhirnya Elza bisa meyakinkan Raka bahwa dirinya hanya mengunjungi makam saja. Akhirnya Raka mengizinkan Elza untuk pergi sendirian, tetapi Elza harus memberi kabar jika terjadi sesuatu kepadanya.
Di sinilah sekarang Elza, berdiri dan menatap lekat kearah nisa yang bertulisan Risa Gilberth dan Elzabel Gilberth Nicholas.
"apwa kabar? "Hanya kata itulah yang keluar dari mulut Elza setelah lama memandangi dua gunukan tanah yang sudah di tumbuhi oleh rumput hijau yang terawat.
Elza menghembuskan napasnya kasar, ia mengusap air mata yang hendak jatuh di pelupuk matanya.
"Aku udah berusaha nggak nangis, tapi tetep ajah air matanya keluar. Kayanya kalian mengandung bawang merah ya" Elza terkekeh pelan.
"Harusnya aku yang mati, kenapa kalian harus mengorbankan nyawa kalian si. Dan kamu... " Elza menujuk makam yang bertulisan Elzabel Gilberth Nicholas "Kenapa kamu harus pura pura jadi aku si, gara gara kamu aku di kira matikan" Kesalnya.
Elsa, memang saudara kembar sekaligus kakak yang sangat baik kepadanya. Dia selalu melindungi Elza, dan selalu memaksa Elza untuk ikut bermain dengan teman temannya.
Dan satu lagi, Elsa itu selalu memakai namanya ketika Elsa memperkenalkan dirinya kepada teman barunya. Katanya si, Elsa menyukai namanya karena ada huruf 'Z' nya. Elza si tidak peduli.
"Kayanya ini gambaran makam masa depan aku ya" Elza terkekeh pelan "Berati aku harus hidup sebagai Elsabel gitu? Cewek pecicilan yang otaknya kurang 1 ons"
Elza menoleh ketika merasakan ada seseorang yang datang dari arah belakang tubuhnya, raut wajah nya langsung datar ketika melihat seorang pria yang berdiri tidak jauh dari nya sambil memegang sebuket bunga terbelalak kaget ketika melihat dirinya.
"Elza"
Melvin langsung mendekat kepada Elza lalu berdiri di samping gadis yang sudah lama tidak bertemu, Melvin langsung meletakan sebuket bunga dimakam Elsa.
"Lo kenapa ada di makam Elza? " Tanya Melvin menatap Elza curiga.
"Dia saudara kembar gue" Jawab Elza acuh.
"saudara kembar? Jadi lo Elsabel Gilberth Nichola"
Elza menggelengkan kepalanya cepat.
"dia Elsa, dan gue Elza"
Kerutan langsung muncul di kening Melvin pada saat itu juga, lalu matanya langsung menatap nama yang tercantum dalam batu nisan itu.
"Jelas jelas namanya Elza, lo gimana si? "
Elza memutar bola matanya malas, ia langsung berjongkok di samping makam Elsa. Lalu tangannya terulur untuk menyentuh nisan Elsa, dan Elza bisa merasakan sesuatu yang aneh di makam itu. Hingga dengan gerakan cepat Elza langsung melepaskan huruf 'Z' di nisan itu hingga terpangpang lah huruf 'S' disana.
Mata Melvin seketika membulat ketika nama nisan itu kini berubah jadi Elsabel Gilberth Nicholas.
"Dia memang sering pake nama gue" Elza berkata dengan acuh seolah olah nama itu bukan apa apa baginya.
"Bagaimana bisa? " Melvin langsung terduduk lemas di hadapan makan, kedua matanya masih menatap lekat tulisan itu. Demi apa pun Melvin tidak mengerti situasi apa yang sedang ia hadapai saat ini "Berati cewek yang selama ini yang gue kenal itu Elsa, bukan Elza? "Tanya Melvin menatap wanita yang masih berdiri di sampingnya.
"Dia selalu pake nama gue kalau kenalan sama orang lain" Jawab Elza acuh.
"Kalau ini Elsa, berati lo Elza? "
Elza membalas dengan anggukan.
"Berati lo cewek es yang sering di bicarain Elza, eh maksud gue Elsa? "
"Gue nggak tahu"
Melvin masih belum percaya dengan ucapan wanita ini, apa dia berusaha menipu dirinya.
"Dia nggak pernah bilang kalau dia punya saudara kembar, tapi dia bilang kalau dia punya adik cewek" Ungkap Melvin jujur.
"Gue emang adik sekaligus saudara kembarnya "
Elza menghembuskan napasnya kasar, ia tidak menyangka kalau akan bertemu dengan Melvin di sini. Padahal ia tidak berniat untuk menjelaskan kekacauan yang di buat oleh Elsa, kalau saja Elsa masih hidup. Mungkin Elza sudah menendang kaki Elsa dengan kuat, karena kelakuannya membuat semua orang bingung dan sialnya Elza harus menjelaskan semuanya.
"Lo mau kemana? " Tanya Melvin ketika melihat Elza membalikan badannya dan hendak pergi "Za" Melvin langsung mencekal tangan Elza ketika cewek tidak mempedulikan pertanyaannya.
"Bukan urusan lo! "Ketus Elza langsung menarik tangannya kasar.
Melvin menghela napas kasar.
"Elsa cerita banyak tentang lo"
Langkah Elza seketika terhenti saat mendengar itu.
"Walau sikap lo cuek, dan sok nggak peduli. Tapi Elsa bilang kalau lo orangnya baik"
"Dan gue percaya"
Elza membalikan badannya hingga ia berhadapan dengan Melvin, walau jarak membatasi tapi mereka masih bisa melihat wajah satu sama lain.
"Lalu? "
"Pokoknya Elsa cerita banyak tentang lo, dan gue selalu mendengar dengan baik ketika Elsa cerita tentang lo"
"Lalu? "
"Saat kita udah jadi orang dewasa nanti, Elsa mau mempertemukan kita berdua"
"Ya? "
"Dia mau memperkenalkan kita berdua"
Melvin dan Elza sama sama terdiam, udara berhamburan dengan kencang menerpa tubuh mereka yang saling berhadapan satu sama lain. Tidak ada lagi suara yang keluar dari mulut mereka, hanya mata mereka yang saling menatap satu sama lain.
Hingga, kedua mata Elza langsung membulat ketika melihat seseorang yang bersembunyi di balik pohon tepat di belakang Melvin tengah mengarahkan moncong pistol kearah Melvin.
"TIARAP!!" Teriak Elza kencang sambil berlari kearah Melvin.
Brukkkkkk..
Elza langsung menerjang tubuh Melvin hingga tubuh mereka saling tumpang tindih, mungkin karena terjangan Elza yang kuat atau Melvin yang belum siap untuk menerima tubrukan Elza.
Cukup lama mereka dalam posisi itu, posisi dimana Melvin berada di bawah dan Elza berada tepat diatas tubuh besar Melvin. Melvin tidak bisa mengalihkan tatapannya dari wajah cantik Elza dari bawah ini, sementara Elza tampak sibuk mencari orang yang hendak menembak Melvin.
"kayawnya kita di kepung" Hanya kata itulah yang Elza ucapkan ketika melihat situasinya sekarang, Elza melihat ada banyak pria yang siap menembak kearah mereka.
"jqadi kita bakalan terus di posisi kaya gini? "Tanya Melvin jahil sambil menatap wajah Elza lekat.
Elza menundukkan kepalanya lalu menatap wajah Melvin yang sedang tersenyum seperti orang gila di bawahnya.
"Ya"
Melvin terkekeh melihat wajah Elza yang terlihat kesal, ia langsung menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan untuk kepalanya. Katakan saja Melvin gila, masih sempet sempetnya Melvin menggoda Elza ketika situasi sedang genting.
"Elza! Jangan gerak gerak" Kedua mata Melvin melotot ke wajah Elza, demi apa pun Melvin juga pria yang normal. Jika Elza terus bergerak gerak diatas tubuhnya, jangan salahkan Melvin jika dia akan khilaf.
Elza menghentikan tubuhnya yang sedang bergerak gerak itu, padahal Elza sedang mencari peluang agar mereka bisa kabur. Tapi ada sesuatu yang menonjol menyentuh perutnya sehingga Elza merasa tidak nyaman sekaligus was was dengan pria yang ada di bawahnya.
"Please " Wajah Melvin sudah memelas, memohon kepada Elza agar berhenti bergerak gerak.
Elza memutar bola matanya jengah, sialan. Kenapa ia selalu mendapatkan masalah jika berhubungan dengan pria ini si.
Elza mulai mengambil pistol di balik celananya, lalu melihat isi magasin.
"Shitt" Umpat Elza.
"Kenapa? Apa kita akan mati? "
Hanya ada satu peluru di dalam magasin, dan Elza harus berpikir dengan keras agar ia bisa keluar dari sini.
"Gue punya rencana "
Mendengar kata rencana yang keluar dari mulut Elza, membuat perasaan Melvin mendadak tidak enak. Sebenarnya Melvin tidak mau mempercayai rencana gila Elza, tapi kegilaan itu bisa membuat mereka selamat. Jadi Melvin tidak punya pilihan lain selain ikut dalam rencana gila Elza.
Elza langsung berguling dari atas tubuh Melvin.
"Lo pura pura nyerah" Bisik Elza pelan.
"Jadi gue di jadiin tumbal?"
Elza menganggukan kepalanya "Gue nggak akan biarin lo mati"
Akhirnya Melvin langsung beranjak dari posisi nya, Melvin langsung menujukan kedua tangannya ke udara pertanda jika Melvin menyerah.
Melihat Melvin sudah melakukan tugasnya, kini giliran Elza melihat situasinya. Mereka tampak percaya dengan Melvin yang menyerah, kini Elza lah yang muncul dan berdiri tepat di belakang Melvin.
Melvin merasakan sesuatu menyentuh pinggangnya.
"Lo mau ngapain? "Bisik Melvin pelan.
Elza tidak menjawab pertanyaan Melvin, tubuh Melvin berhasil menutupi tubuh Elza. Elza mengarahkan moncong pistol kearah tangki mobil yang kebetulan terparkir di dekatnya, dan ada seorang pria yang memegang rokok tepat di dekat mobil yang ia incar.
Dorrr..
Dalam sekali bidik Elza berhasil membuat tangki bersin itu berlubang, isinya langsung tumpah dan muncrat mengenai seorang pria yang kebetulan sedang memegang rokok. Api pun langsung tercipta, membakar si perokok sekaligus mobil malang itu.
Duarrrrr...
Ledakan kencang itu berhasil mengalihkan semua orang yang sejak tadi mengarahkan pistol kearah mereka.
"RUN!!" Teriak Elza kencang.
Elza langsung memgambil langkah seribu begitu pun dengan Melvin yang setia mengikuti dirinya dari belakang.
Peluru langsung menghujanji mereka ketika sang target melarikan diri.
"JANGAN BERHENTI!! "Teriak Elza.
Elza dan Melvin terus berlari dengan kencang melewati kuburan disana, sesekali mereka akan melompat ketika ada kuburan di depannya atau menginjak secara tidak sengaja. Mereka tidak punya pilihan lain selain melakukan itu, mungkin mereka akan meminta maaf kepada penghuni makam yang mereka injak atau di langkahi.
Melvin bisa menembak jika rencana Elza selalu gila, tapi rencananya selalu berhasil membuat mereka melarikan diri dari kematian.
Elza langsung masuk kedalam semak semak, begitu pun dengan Melvin yang selalu mengikuti Elza yang berada di depannya.
Kemungkinan besar mereka akan mengalami gatal gatal dan kulit mereka akan merah setelah keluar dari semak semak ini.
Ada banyak serangga penghuni semak semak membuat Melvin sesekali meringis takut, bahkan Melvn langsung menghindar ketika di depannya ada sarang laba laba.
Mereka masih terus berlari walau suara tembakan tidak lagi terdengar sejak mereka masuk kedalam semak semak, tapi mereka tidak punya pilihan lain selain terus berlari untuk memastikan nyawa mereka tetap berada di tubuhnya.
"Akhhtt" Pekik Elza.
Tubuhnya tiba tiba terperosok, Elza langsung menggapai akar pohon disana sehingga Elza tidak jatuh ke bawah. Tubuhnya bergelantung di udara, ia menundukkan kepalanya di bawah sehingga ia melihat aliran sungai di bawahnya.
Melvin langsung menghentikan larinya secara mendadak sehingga Melvin hampir jatuh, untungnya ia bisa menghentikan kakinya tepat di pinggir tebing, Melvin menundukkan kepalanya ketika mendengar suara ringisan di bawahnya. Kedua mata Melvin melotot saat melihat Elza ada di bawah sana sedang memegangi akar pohon.
"Elza" Gumam Melvin panik.
"Bertahanlah, gue cari sesuatu untuk narik lo keatas sini"
Elza hanya membalas dengan anggukan.
Melvin dengan cepat beranjak dari sana, ia harus menemukan sesuatu yang bisa menarik Elza dari bawah sana. Melvin celingak celinguk kesana kemari, Melvin benar benar panik sehingga Melvin tidak bisa menemukan apa pun yang ia cari. Melvn menghentikan langkahnya, ia berusaha tetap tenang agar Melvin bisa menggunakan otaknya untuk menemukan sesuatu yang bisa menarik Elza.
Sebuah ide muncul di otak Melvin, ia langsung kembali ke lokasi Elza berada.
"Lo mau ngapain? "Teriak Elza.
Kerutan muncul di kening Elza saat melihat Melvin mulai melepaskan satu persatu baju yang di kenakan olehnya, Elza langsung memalingkan wajahnya ketika ia tidak sengaja melihat bagian tubuh atas Melvin.
Elza mengumpat didalam hatinya, bagaimana bisa Elsa memperkenalkan dirinya kepada pria ini. Sialan, mata Elza bisa ternodai kalau melihat roti sobek milik Melvin yang begitu indah.
"Elza"
Panggilan itu sukses membuat Elza mendongakkan kepalanya, Elza menelan ludahnya kasar dan memasang wajah datarnya ketika melihat Melvin mulai mengulurkan tali yang di buat dari bajunya. Ya, Melvin merelakan baju nya di jadikan tali untuk membantu Elza agar bisa mencapai permukaan.
"Lo yakin ini nggak bakalan bikin gue mati? "Tanya Elza menyentuh ujung tali yang di sodorkan oleh Melvin.
"Gini gini juga gue anak pramuka, gue tahu teknik sampul meyamul ikatan biar kuat" Jelas Melvin "Cepetan, pegangan nanti gue tarik"
Elza menghembuskan napanya kasar, akhirnya dengan perasaan ragunya Elza menggapai ujung baju yang di sodorkan oleh Melvin.
"Yakin nggak bakal sobek? "
"Baju gue bukan baju murahan, jadi nggak akan sobek"
Elza berdecak kesal, langsung saja Elza melepaskan pegangan nya di akar.
Elza mencengkeram kuat ujung baju yang ia pegang.
Melvin langsung menarik ujung yang ia pegang agar Elza bisa naik keatas, urat urat di tangannya langsung terlihat jelas ketika Melvin mencengkeram kuat ujung baju yang di jadikan tali olehnya.
"Sedikit lagi" Gumam Melvin.
Melvin langsung menarik tangan Elza ketika Melvin bisa menggapai Elza menggunakan tangannya.
Tubuh Elza kembali terjatuh diatas dada Melvin yang telanjang, membuat wajah Elza langsung memerah. Ia langsung beranjak dari sana lalu menatap Melvin tajam.
"Lo sengaja cari kesempatan dalam kesempitan "Kesal Elza.
Melvin tertawa, ia langsung mengganti posisi berbaring nya menjadi duduk.
Begitu pun dengan Elza yang langsung duduk di samping Melvin.
"Makasih" Ucap Elza pelan.
Melvin langsung menoleh sehingga ia bisa melihat wajah Elza dari sisi.
"Terimakasih kembali "Kekeh Melvin.
"Ck" Decak Elza sebelum akhirnya ia ikut terkekeh bersama Melvin.
Melvin diam diam memandangi wajah Elza dari samping, wajah Elza begitu mirip dengan Elsa. Pantas saja Melvin merasa kaget dan mengira jika Elsa masih hidup ketika pertemuan pertama mereka.
"Elza, kaki lo" Pekik Melvin khawatir.
Ia langsung meraih kaki Elza yang penuh darah, dan menatapnya lama.
"Pasti sakit banget" Ringis Melvin.
Elza hanya diam, ia tidak tahu kalau kaki nya berdarah. Mungkin karena tadi pahanya tidak sengaja tergores berbatuan yang tajam.
"Lo mau ngapain? "Tanya Elza heran.
Elza hanya bisa melihat apa yang akan di lakukan Melvin kepada pahanya.
Melvin langsung menyobek kemeja putihnya yang sudah agak kotor, ia langsung membalut luka Elza dengan kain putih ini dengan kuat. Kalau Melvin tidak menutup luka Elza, ia khawatir jika luka Elza bisa infeksi.
"Kita harus segera pergi "
"Tapi kaki lo?"
"Gue baik baik ajah"
Elza hendak melanjutkan langkahnya, tapi ia hampir terjatuh kalau saja Melvin tidak menangkap tubuhnya. Elza terdiam, ketika tangannya tidak sengaja menyentuh dada bidang Melvin. Elza langsung mendorong Melvin kasar ketika ia sadar dengan apa yang ia lakukan tadi, sialan!.
"Jangan keras kepala! "Bentak Melvin.
Tanpa meminta izin kepada Elza lebih dulu, Melvin langsung membopong tubuh Elza dalam gendongannya.
Elza memekik kaget sehingga ia langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Melvin.
"Turunin gue Melvin! "Bentak Elza
"Kaki lo bakalan bikin perjalanan kita jadi lamban"
Elza berdecak kesal, akhirnya ia hanya bisa pasrah ketika Melvin membawa tubuhnya didalam gendongan ala bridal stayle.
Melvin langsung melangkahkan kedua kakinya menyusuri aliran sungai yang berada si bawahnya. Melvin tidak bisa membayangkan kalau Elza sampai jatuh kesana, mungkin Elza akan hanyut di bawa oleh arus sungai yang kencang.
"Maaf, gue belum bisa tepati janji gue untuk makan malam bersama "
Mendengar itu membuat langkah Melvin sedikit terhenti, tapi buru buru Melvin melanjutkan langkahnya kembali.
"No problem "
Elza menghembuskan napasnya lega ketika ia sudah mengungkapkan itu, ia merasa tidak enak karena Elza belum sempat menempati janji kepada Melvin. Sebenarnya Elza bukan tifekal orang yang mengingkari janji, jadi Elza akan memastikan jika ia akan menempati janjinya kepada Melvin.
"Mungkin Elsa bahagia melihat kita sekarang" Celetuk Melvin.
Elza bisa mendengar begitu jelas dari nada bicara Melvin bahwa Melvin sangat merindukan Elsa, saudara kembarnya.
"Impian dia untuk mempertemukan kita, akhirnya terwujud "Kekeh Melvin "Ya walau pun pertemuan kita nggak ada manis mansinya"
"Elsa beruntung punya seseorang yang mencintai dirinya dengan tulus" Hanya kata itulah yang keluar dari mulut Elza "Dia beruntung punya cowok sebaik lo"
Melvin tersenyum tipis.
"Tapi Elsa nggak pernah bales cintanya gue" Melvin menghela napas kasar, ada perasaan sesak ketika Elsa menolak perasaannya "Padahal gue mau nikah sama dia, tapi Elsa selalu bilang kalau gue lebih cocok sama adiknya "
"Dia emang gitu" Elza tersenyum tipis "Lo nggak perlu nurutin apa yang dia mau"
Melvin tersenyum miris.
"Sekarang gue sadar jika ucapan dia memang ada benernya, gue emang cocok sama lo. Elza"
"Hah? "Kaget Elza.
Melvin tersenyum lebar.
"Nanti juga lo paham, untuk saat ini gue bakalan bikin lo jatuh cinta, gimana? "
"Otak lo nggak kebentur sesuatu kan? "
"Nggak kok" Melvin tersenyum jahil "Gue nggak bisa dapetin Elsa, maka gue bakalan dapetin adiknya"
"Lo emang gila"
Melvin tertawa jenaka.
"Kayanya lo cocok jadi pendamping gue, gimana kalau kita nikah ajah? "
"Melvin!! "
Melvin kembali tertawa.
"Kenapa? Lo nggak mau nikah sama gue? Padahal itu permintaan terakhir Elsa loh, masa lo nggak mau mewujudkannya "
Elza memutar bola matanya malas.
"Lo ngajakin gue nikah kaya orang yang lagi ngajak ribut ya"
"Jadi lo mau suasana yang romantis gitu? Gue pikir cewek bar bar kaya lo nggak bakal suka sesuatu yang berbau romantis " Melvin tersenyum mengejek.
"Lo becanda hah! "
"Iya, kenapa? Lo udah keburu baper ya"
Wajah Melvin benar benar sangat menyebalkan sekarang, rasanya Elza ingin menghajar wajah Melvin yang sedang mengejeknya sekarang.
"Cieee mukanya merah" Melvin menatap Elza jahil "Ketahuan udah baperkan"
"Nggak! Gue nggak akan baper sama cowok brengsek kaya lo"
Melvin tersenyum tipis.
"Jadi lo masih dendam sama ciuman di New York itu"Kekeh Melvin "gue kan... "
"STOP MELVIN, NGGAK USAH DI BAHAS" teriak Elza.
Melvin tertawa ngakak melihat Elza yang sedang menahan kesal kepadanya.
Terimakasih Elsa, sudah menceritakan banyak hal tentang Elza. Sekarang aku yakin pilihan kamu tentang pendamping aku, emang tepat.