Tiara nama panggilan yang cantik, secantik orang yang menyandangnya
Namun siapa sangkah ada terselip kisah kelam dibalik nama cantiknya.Kehilangan orang tua, suami dan adik nya membuatnya menjadi wanita tangguh demi sang anak dan keluarga barunya
Bram ayodya seorang pembisnis kenamaan yang menyamar jadi seorang pengajar disebuah sanggar seni.
Karna hoby nya melukis Dia bisa menghabiskan waktunya berlama-lama didepan kanvas
Dion mantan suami Tiara.
pemuda baik yang hanya menjadi korban kelicikan orang-orang terdekatnya. Kehilangan cinta sejatinya hanya karna sebuah kebohongan.
Willi dokter tampan nan rupawan. Dokter ternama yang tidak pernah sepi pasien.
Elisya seorang publick figure yang sedang naik daun.
Bertemu tanpa sengaja dan menjalin persahabatan dengan Tiara, namun siapa sangkah ada kisah dibalik ketenaran Elisya
Penasaran dengan kisah mereka?
Ikuti kisah mereka dalam kisah Tiara yang Serra buat, selamat menikmati dan semoga terhibur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serra R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serpihan masa lalu
Sepertinya boneka imut itu menyadari kehadiran Bram disana, dia mengoceh dan menjulurkan tangannya ke arah dimana Bram berada. Tiara yang awalnya tidak menyadari kedatangan Bram pun akhirnya menoleh setelah sadar sang anak tertawa dan mengulurkan tangan kearah lain.
" Lo mas, kok ada disini?"
Tiara bangkit menghampiri sang suami yang hanya berdiri berdandar di daun pintu. Camelia yang berada dalam gendongannya pun segera berpindah tangan dan terdiam dalam dekapan hangat sang papa.
" Kangen kalian" Jawab Bram sekenanya sambil mencium pipi gembul Camel. Tangan kanannya yang bebas menarik lembut sang istri untuk lebih mendekat dan menberi kecupan hangat dikening wanita itu.
" Tadi bilang mau ada rapat mas, kok tiba-tiba datang kesini?" Tiara melingkarkan tangannya pada pinggang sang suami. Hal yang sering Tiara lakukan semenjak hamil waktu itu
" Sudah ku bilang aku merindukan kalian" kembali Bram memberi kecupan kali ini dipuncak kepala sang istri. " Aku merindukanmu sayang" ulangnya lagi seraya mengecup lembut bibir mungil yang cerewet itu.
Bram semakin memeluk erat istrinya, mengecupnya semakin dalam, sebelum akhirnya kecupan itu terlepas oleh tendangan kaki mungil dan ocehan entah apa yang diomelkan boneka mereka.
Tertawa, mereka dibuat gemas.
Sementara didalam toko Dion pun gelisa entah mengapa, semenjak mengetahui kalau Lilia hamil. Dion sangat berusaha keras menahan perasaannya, bagaimanapun juga dia tidak ingin menyakiti hati Lilia. Walau pada kenyataannya dia sendiri yang tersiksa.
Cinta yang terpaksa itu menyesakkan
Waktu telah menunjukkan jam satu siang, sudah hampir satu jam Dion menemani istrinya.
" Kita bisa kembali lagi kalau ada waktu senggang" Bujuk Dion entah untuk keberapa kalinya
" Pasti bohong lagi kan, waktu itu juga bilang demikian. Tapi nyatanya saat aku mau kamu selalu saja direpot sama urusan pekerjaan" Rajuk Lilia
Bukan tanpa alasan dia bersikap seperti itu, semenjak menikah Dion seakan tidak punya waktu untuk sekedar makan malam bersama. Lilia harus selalu mencari alasan agar suaminya itu mau menemaninya walau sejenak, seperti saat ini.
" Aku janji, kita kesini lagi nanti kalau aku ada waktu senggang." Yakin Dion
" Baiklah, kali ini jangan bohong lagi ya" Dion hanya mengangguk.
Wanita yang sedang hamil muda itu bersorak senang, tersenyum bahagia menampilkan lesung pipinya yang indah.
Lilia bukanlah orang jahat, tabiatnya sebenarnya jauh dari sikapnya sekarang. Lilia hanya mengikuti sang mama, Nyonya Amel sangat ambisius dan nekat. Dia bisa melakukan cara apapun untuk mencapai tujuannya.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
" Mas, kamu sudah makan siang?" Tiara bertanya setelah berhasil menidurkan si kecil dan juga meligat gelagat kalau suaminya sepertinya tidak akan meninggalkan tokonya dalam waktu dekat.
" Belum sayang, tapi aku belum lapar."
Bram beranjak dari duduknya di ujung sofa, berjalan mendekati sang istri yang sedang berdiri memunggunginya didepan kulkas sana
" Mau bikin apa?" Ucapnya setelah berhasil mendekat dan melingkarkan lengannya pada perut sang istri
" Mau buat jus, mas mau?"
" Mau kamu apakah sudah boleh?" Ucap Bram sambil mengecup pundak Tiara pelan
Tiara sadar sejak pernikahannya beberapa bulan lalu dia belum melakukan tugasnya sebagai istri Bram sesungguhnya. Bram tidak pernah memaksanya selama ini.
" Mas, nggak kembali ke kantor memangnya?"
" Pengen disini bersama kalian sayang, apa boleh?" Tanya Bram ambigu
Tentu saja pertanyaan boleh yang Bram ajukan mempunyai makna ganda. Boleh tetap menghabiskan waktu bersama sang istri dan anak dan juga boleh meminta haknya sebagai suami.
Tiara berbalik tersenyum dan mengangguk memberi jawaban pada Bram. Bram memeluk erat sang istri melepaskan semua kecemasan yang melandanya beberapa waktu lalu. Dia tau, dari sikap polos dan penyabar istrinya terselip banyak luka. Bram hanya berharap dia mampu menutup luka itu dengan cinta dan kasih sayangnya.
Setelah Tiara setuju akan ajakan menikah olehnya, Bram bertekat akan membawa Tiara ke dalam kabahagiaan. Sudah cukup baginya mengetahui banyak fakta menyakitkan yang harus istrinya itu alami.
Namun tanpa Bram ketahui, sosok yang terlihat lemah itu memendam amarah yang sangat besar dalam hatinya. Ya Tiara sudah mengetahui semua kisah masa lalunya dan juga kisah sang ibu hingga dia harus rela kehilangan ibu tercinta juga harus mencari keberadaan sang adik yang sejak lahir sampai sekarang belum dia ketahui laki-laki atau perempuan itu.
Bagi Tiara menemukan sang adik adalah prioritasnya sekarang, setelah itu barulah dia akan memikirkan cara selanjutkan untuk mengembalikan keutuhan keluarganya. Walau pun itu dengan ayah sambung dan adik tirinya. Tiara akan mewujudkan cita-citanya memiliki keluarga besar yang harmonis tidak tercerai berai seperti sekarang.
...🌹🌹🌹🌹...
" Permisi, boleh saya bertanya sedikit pada kalian?"
Andrew yang sedikit bosan dirumah besar Bram terlihat menuruni tangga dan memilih mendekat ke arah Lena dan Serli yang sedang berbincang di ruang samping yang menghubungkan dengan kolam renang.
" Silakan tuan besar, seandainya kami bisa membantu menjawabnya." Lena berucap seraya menggeser duduknya agar Andrew bisa duduk di sofa tempatnya tadi terduduk.
" Tidak usah, tetaplah kalian duduk sisana. Biar aku duduk disini saja."
Andrew memilih mendudukkan durinya di kursi kecil yang ada disana juga.
" Tapi tuan.." Ucapan Lena terpotong karna Andrew mengangkat tangannya sambil tersenyum
"Tidak apa-apa saya disini, dan juga bolehkah jika kalian memanggil Om atau Pak, jangan tuan besar sungguh saya tidak terbiasa."
Andrew berujar seraya menatap dan tersenyum ke arah Lena dan Serli yang masih terpaku.
" Saya bosan berada dalam kamar seharian,sudah berkeliling melihat galeri lukisan Bram yang ada dirumah ini. Jadi saya bingung mau ngapain lagi untuk menghilangkan kebosanan ini." Andrew menjedah kalimatnya menarik nafas panjang sebelum kembali bersuara.
" Saya perhatikan kalian sedang asyik bercerita, jadi saya putuskan untuk bergabung. Apakah boleh?" Ucap Andrew penuh harap
Sengaja Andrew melakukan kedekatan dengan orang-orang yang tinggal di rumah Bram, dia hanya ingin memastikan keselamatan dan kenyamanan anak yang baru dia temukan.
Andrew tidak ingin kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali, dimana Melan yang memang memiliki hati terlalu baik pulang membawa teman yang katanya tersesat sewaktu di pasar. Membawanya tinggal bersamanya, awalnya tidak ada hal yang mencurigakan dari gelagat mencurigakan dari sang teman. Namun pada akhirnya teman itulah yang menjadi penghancur rumah tangganya.
Bukannya Andrew tidak mengetahui segala perbuatan Amel terhadap rumah, perusahaan dan semua hartanya. Andrew memilih membiarkan semua itu menjadi milik Amel sebagai dispensasi atas segala kesalahan nya pada wanita itu dulu.
Bahkan, bukan tidak mungkin kalau Lilia adalah juga darah dangingnya bersama Amel. Mengingat kejadian itu membuat Andrew meringis ngiluh
Andrew mengusap wajahnya kasar, dia sadar terlalu banyak kesalahan yang telah dia lakukan dimasa lalu. Sekarang waktunya buat Andrew menebus semua kesalahan itu.
Masih teringat jelas dalam benaknya serpihan memori yang pernah hilang itu menunjukkan ketidak berdayaannya melawan takdir.
Malam itu, tepat dihari ke dua kepergian Melan kerumah orang tuanya menjenguk Tiara kecil. Andrew pulang dari kantornya lewat tengah malam, sesampainya dirumah tanpa ada rasa curiga sedikitpun Dia menyantap makanan dan minuman yang biasa ada dimeja makan. Sudah menjadi kebiasaan nya kalau lembur, memanaskan masakan sendiri. Andrew tidak mau mengganggu waktu istirahat sang istri yang waktu itu sedang hamil besar.
Dia melupakan fakta jika Melan sedang tidak ada dirumahnya melainkan berada di rumah orang tuanya.
Hinga pada akhirnya dipagi buta dia menyadari ada yang salah pada dirinya.
TO BE CONTINUE
Ehh semua bahagia pokoknya 😚😁
Mark siap2 puasa nih kata Abang, tak apa ya Mark puasa juga demi istri tercinta dan si twins buah hati kalian 😁😚
Nah, papah Bram jangan bicara sembarangan didepan Qee dia pasti keppo apa yang papahnya ucapkan😁
Semangat berkarya dan sukses selalu Thor 💪😚