Kisah cinta rumit si gadis culun yang berusaha mengambil hati seorang direktur tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEKACAUAN YANG KACAU
Pelangi bergeming, begitu juga dengan Gilang yang terlihat tidak siap menghadapi siapa pun untuk saat ini. Apalagi kondisinya sangat tidak pantas untuk dilihat oleh orang lain, terutama oleh orang yang tidak dikenalnya.
“Pelangi, aku sungguh tidak menyangka,” desis Popy, sambil menyentuh dadanya seolah ia benar-benar terkejut pada apa yang Pelangi lakukan, lalu melanjutkan, “Seharusnya kunci pintumu saat kamu sedang melayani tamu.” Popy berkedip genit ke arah Gilang yang hanya mengenakan ****** *****.
Menyadari tatapan mata Popy yang seperti predator menatap mangsanya, Pelangi segera beranjak ke tempat tidur, menarik selimut bermotif bunga yang sudah usang dan melemparkan selimut itu ke arah Gilang.
Gilang dengan sigap menangkap selimut tersebut dan melilitkannya di seputaran pinggang. “Siapa mereka? Kenapa lancang sekali masuk ke kamarmu tanpa mengetuk?” tanya Gilang, ketika kembali memperoleh kesadarannya.
Pelangi tidak menjawab, gadis itu hanya mengibaskan tangan ke arah Gilang, lalu berjalan dengan cepat ke arah Popy dan kedua rentenir bertubuh besar yang berdiri di belakang Popy.
“Ayo kita bicara di luar,” bisik Pelangi, kemudian menarik tangan Popy menuju ruang tamu.
Popy melambai ke arah Gilang, dan melemparkan kecupan jauh sebelum mengikuti langkah Pelangi. Gilang bergidik ngeri melihat tingkah dari tamu tidak diundang itu. Baginya, Popy terlihat seperti komplotan penjahat atau germo. Tubuh sintal wanita itu berbalut dress selutut yang super ketat, membuat lipatan-lipatan di perutnya terlihat jelas, belum lagi dandanannya yang terlalu menor dan warna rambutnya yang berwarna merah menyala membuatnya terlihat seperti tante-tante ‘kelaparan'
Gilang melangkah ke tengah kamar, memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai kemudian menutup pintu kamar rapat-rapat. Jika dilihat dari letak pakaian-pakaian yang tak beraturan, sepertinya memang dirinyalah yang melepas pakaian-pakaian itu dengan tidak sabaran dan menarik Pelangi ke atas ranjang. Namun, jika memang benar begitu, kenapa ia tidak mengingat apa pun?
Gilang menggelengkan kepalanya yang berdenyut karena memikirkan semua kejadian semalam, kejadian yang sama sekali tidak diingatnya. Kemudian ia mengenakan pakaian dan memilih duduk di tepi ranjang, menanti kembalinya Pelangi yang sekarang entah berada di mana.
Detik demi detik berlalu dalam keheningan, tidak ada suara Pelangi ataupun tamu tidak sopan itu yang merayap masuk ke dalam kamar. Karena lelah, Gilang memilih untuk berbaring.
Berbaring di ranjang milik Pelangi membuat Gilang kembali mengingat bagaimana hangatnya tubuh Pelangi dalam pelukannya beberapa waktu lalu. Tubuh gadis itu yang mungil seolah dapat ia rengkuh seluruhnya, membuat gadis itu bergelung nyaman dalam pelukannya, dan ia juga masih mengingat bagaimana rasanya menyentuh kulit Pelangi yang begitu lembut, murni, seperti tak pernah tersentuh. Belum lagi bibirnya yang tebal dan penuh, begitu mengundang untuk dikecup.
Pintu mendadak terbuka, membuat lamunan nakal Gilang segera buyar. Seorang pria berdiri di ambang pintu, menatap Gilang sembari menggelengkan kepala.
“Tito!” seru Gilang, segera bangkit dan menghampiri asisten ayahnya itu. “Baguslah kamu datang, ayo kita kembali ke kantor, sebelum keadaan semakin kacau.” Gilang melewati Tito dan terkejut saat mendapati sang Ayah telah duduk dengan kaku di kursi rotan yang ada di ruang tamu.
Rumah Pelangi memang terbilang kecil, begitu Gilang keluar dari kamar, maka Gilang akan langsung berada di ruang tamu, sehingga Gilang dapat dengan jelas melihat siapa saja yang ada di sana, begitu juga sebaliknya.
Gilang menatap satu per satu mereka yang tengah duduk di ruang tamu. Ada Ayahnya, Andrew, Toni, Pelangi, dan ketiga tamu Pelangi yang bertampang seperti penjahat, lalu seorang pria tua yang berwajah kalem.
“Kamulah yang membuat kekacauan, Gilang, kenapa pula kamu yang ingin berburu-buru untuk pergi.” Tito menepuk pundak Gilang, lalu kemudian pria itu berjalan menghampiri Farhan, dan berdiri di sampingnya.
Gilang berdeham, tidak tahu harus mengatakan apa, sementara matanya menatap Pelangi dengan penuh harap. Berharap gadis itu mengatakan sesuatu untuk membelanya, atau menyangkal bahwa mereka telah tidur bersama.
Namun, saat melihat Pelangi terus menundukkan kepala sejak tadi, Gilang menjadi kecewa. Ia kemudian menatap Farhan dengan tatapan memelas. “Ini tidak seperti yang terlihat, Ayah. Aku tidak melakukan apa-apa padanya. Aku bahkan tidak ingat bagaimana bisa aku tidur di atas tempat tidurnya.”
“Tapi kamu menyentuhnya, ‘kan, benar?” Tito yang bertanya, pria itu memang semacam tangan kanan Farhan, juru bicara, pengawal dan lainnya yang mengurusi hal-hal penting untuk Farhan.
Gilang terdiam, pria itu meletakkan sebelah tangannya di pinggang, sebelah lagi mengusap rambutnya dengan kasar. “Ya, tapi ... aku pikir dia adalah Gisel. Mana aku tahu jika yang berbaring di sebelahku adalah dia,” ujar Gilang, ia terlihat frustrasi sekali.
“Pelangi, kamu ini seorang yatim piatu dan tinggal sendirian di rumahmu ini. Seharusnya kamu tidak membawa laki-laki masuk ke dalam rumahmu, apalagi di malam hari. Hal itu tidak benar, Nak, perbuatanmu ini sama saja merusak nama baikmu sendiri dan kepercayaan warga di sini padamu pasti akan luntur saat mereka tahu apa yang terjadi, malahan bisa-bisa kamu diusir dari sini,” ujar Nurdin, pria tua berwajah kalem yang merupakan seorang RT di pemukiman tempat Pelangi tinggal.
Pelangi menangis sesenggukan mendengar ucapan Nurdin. Ia malu sekali, karena Nurdin mengetahui apa yang sedang terjadi di rumahnya. Seandainnya saja tidak ada Farhan di hadapannya, ia pasti akan mengatakan pada Nurdin bahwa semua hanya Sandiwara, ia tidak melakukan apa pun pada Gilang.
Namun, semua itu tidak mungkin ia katakan, sementara komplotan yang bersekongkol semua duduk di hadapannya.
Sebenarnya kehadiran Nurdin tidak ada dalam skenario yang dirancang Andrew dan Toni, sama halnya dengan kehadiran Popy dan kedua anak buahnya. Semua terjadi begitu saja.
Popy berniat hendak menagih utang pada Pelangi, sehingga tanpa sengaja melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilihatnya, yaitu Pelangi dan Gilang berada dalam satu kamar berduaan. Kemudian, Popy yang sok tahu itu memuji Pelangi di teras rumah, mengatakan bahwa Pelangi memiliki bakat terpendam yang sama seperti ibunya. Perkataan Popy itu terdengar oleh Pak RT yang kebetulan sedang melintas. Siapa, sih, yang tidak kenal dengan Ibu Pelangi dan profesinya, sehingga ucapan Popy menarik perhatian Nurdin.
Itulah sebabnya kekacauan yang telah Farhan rencanakan menjadi benar-benar kacau. Walaupun sebenarnya ada untungnya juga. Kemunculan Nurdin dan Popy akan memperkeruh suasana, sehingga pernikahan Gilang dan Pelangi pasti akan segera terwujud.
Pelangi semakin terisak saat mendengar kata ‘usir’ keluar dari mulut Nurdin. “Jangan sampai warga tahu, Pak, jika warga sampai tahu, bisa-bisa mereka semua mengusirku, dan aku harus tinggal di mana jika semua itu terjadi.”
Gilang tidak tahan mendengar tangisan gadis itu. Bagaimanapun juga, sejak awal Pelangi memang menarik perhatiannya, ada sesuatu di dalam diri Pelangi yang membuat hatinya terenyuh setiap kali memandang gadis itu. Wajahnya yang lugu, tingkahnya yang polos, dan kecantikannya yang alami membuat Gilang terpengaruh.
Gilang berdeham-deham, mencoba menarik perhatian orang-orang yang ada di ruangan itu. Saat semua tatapan tertuju kepadanya, ia pun berkata, “Aku akan membawa Pelangi ke rumahku. Untuk saat ini dia akan tinggal denganku. Lagi pula ada yang harus kupastikan dan kutanyakan padanya.”
Bersambung ....
dan ending yang menyedihkan untuk Gisel and the Genk..
btw..
soal visualnya mereka ,aku liat² wajah mereka pada serupa yaa sama para pasangan nya..
jangan ² mereka beneran jodoh di dunia nyata 🖤🖤
rasa nya kok sedih yaa..
Selamat ber bahagia Gilang pelangi dan semua nya🤗🖤
gemes sama Toni ..
satu demi satu
kebahagiaan mu akan trcapai
terlebih Gilang harapan saya kpd outhor smoga Gilang sembuh seperti sedia kala
supaya pelangi semakin bahagia 🙏❤️