Kisah seru sepasang sahabat dari Masa Sekolah, Kuliah, hingga bekerja saat ini, Tidak ada yang tau jodoh seseorang, hingga akhirnya mereka di satukan dalam ikatan perjodohan oleh kedua orang tuanya
Munculah kisah-kisah seru dan kocak di perjalanan hidup keduanya, setelah liku-liku percintaan yang kandas di tengah jalan, Teman dan sahabat yang saling mendukung dengan semua kehebohanya hingga akhirnya keduanya bersatu dalam sebuah ikatan
Percikan Asmara dan cinta akhirnya tumbuh diantara keduanya, namun mampukah mereka menghadapi badai ujian yang datang menghantam hubungan yang di jalaninya sampai ke pelaminan?
Yuk ikuti Cerita selanjutnya
Kisah ini merupakan lanjutan dari karya Author yang pertama yaitu "POWER OF WOMAN"
Salam dari Sinho
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 (Jalan Berdua)
Satria sangat terkejut ketika menoleh ke sumber suara yang sedang tertawa, sesaat kemudian Satria memutuskan pandanganya dengan melanjutkan makan bersama Imelda
"Kenapa Sat, kamu kenal ma mereka?"
"Hem, mereka sahabat ku, Ira sama Siska"
Imelda terdiam dan merasa tidak nyaman dengan kedatangan kedua sahabat Satria yang menggangu acara makannya, namun perasaan itu disembunyikan dalam-dalam oleh Imelda
"Kalau kamu mau gabung gak apa-apa, kita gabung aja Sat" ucap Imelda
"Gak perlu, kita juga hampir selesai makannya, lanjutkan saja"
Sementara itu Ira tetap bersikap cuek dengan keberadaan Satria, sampai sesaat kemudian terdengar suara handphone nya berbunyi, saat dilihat ternyata dari atasannya Agam Wijaya
"Halo pak Agam"
"Halo Ir, ingat ya, nanti malam kerumah, istriku sudah masak banyak untuk makan malam bareng nanti"
"Siap pak, saya akan datang tepat waktu" ucap Ira
Setelah menutup handphone nya dan meletakkan di atas meja, pesanan makanan datang, Siska sangat senang dan mencium bau Rawonnya dahulu sebelum makan
"Enak ini pasti, baunya wihh..seger banget" ucap Siska
Sedangkan Ira hanya tersenyum melihat tingkah ibu hamil yang ada di depannya, sejenak Ira terdiam melirik Satria yang sedang makan dan berbincang bersama dengan Imelda, di hatinya tiba-tiba saja ada rasa sesak yang tidak bisa dia jelaskan, hingga pertanyaan Siska menyadarkannya
"Siapa tadi yang telpon?"
"Pak bos, ngingetin nanti malam aku diundang makan malam ke rumahnya oleh istrinya"
"Datang kamu Ir?"
"Ya jelaslah, aku udah kangen"
Uhuk uhuk
Siska langsung tersedak mendengar perkataan Ira
"Eh gila, jangan jadi Pelakor kamu ya Ir"
"Pelakor apaan, asal aja bicaramu Sis"
"Itu tadi kamu bilang sendiri kangen ketemu bos kamu kan"
"Ish, mana ada, maksudnya kangen ketemu ma anaknya yang lucu"
"Oh, Alhamdulillah, kaget akunya, Sampek kamu jadi Pelakor, aku sleding beneran kepala kamu ya"
Sesaat kemudian tiba-tiba ada telpon masuk lagi, dan kali ini Ira mengerutkan alis saat tau siapa yang sedang menelepon nya
"Iya pak Ronald, ada apa?"
"Kamu dimana?"
"Disini pak"
PLAK
Siska langsung memukul Ira biar jelas jawab telponnya, sementara sang penelepon hanya terkekeh mendengar jawaban konyol Ira
"Maaf pak, maksud saya, lagi keluar cari makan siang"
"Aku ikut, lapar juga ni, share lok ya, aku tunggu"
"Eh pak, tunggu, pak Ronald, tunggu!" Teriak Ira saat tiba-tiba saja Ronald memutuskan sambungan teleponnya, teriakan Ira rupanya terdengar oleh Satria dan membuatnya merasa tidak tenang, setelah mengirim lokasi ke Ronald tak berapa lama datanglah seseorang yang ingin ikut gabung makan siang bersama Ira
"Kok cepet Pak?" Tanya Ira
"Aku pas ada di dekat sini tadi, lagi servis laptop"
"Oh, kenalkan ini sahabat saya pak, Siska"
Keduanya saling berjabat tangan dan akhirnya berbincang hingga pesanan makanan Ronald akhirnya datang, beberapa menit kemudian datanglah Iwan menjemput Siska, Iwan juga terkejut mendapati Satria sedang ada disana bersama dengan wanita lain
"Maaf ya Ir, kita pulang duluan, soalnya ada orang tua yang perjalanan mau ke rumah ini" ucap Iwan
"Nggak apa-apa, kalian duluan aja" jawab Ira
"Biar nanti Ira pulang Bareng saya" sahut Ronald sambil tersenyum
"Baiklah, saya nitip Ira ya pak Ronald, tolong di jaga jangan sampai kabur" ucap Siska
"kabur gundul mu, memangnya aku buronan pakek acara ngilang"
"Kabur dari kenyataan maksudnya, hehe" jawab Siska sambil tertawa
"Sudah, yok kita pulang sayang" ucap Iwan
Iwan dan Siska segera melangkah pergi dengan sebelumnya juga menyapa Satria dan Imelda yang sedang berada tak jauh dari mereka, di saat itu Ronald baru tersadar kalau di sana ada Satria bersama dengan wanita lain, Ronald melanjutkan makan sambil sesekali menatap Ira
"Itu Satria?"
"Hem"
"Dari tadi disana?"
"Iya sebelum aku datang"
"Tau juga kalau dia sama wanita?"
"Aku yang nyuruh, kemaren mantannya minta tolong"
"Ow, jadi itu mantannya, kamu gak khawatir?"
"Nggak tau juga, sampai detik ini aku gak lihat mereka ngapa-ngapain"
"Em, gitu, jadi nunggu mereka ngapa-ngapain dulu, baru kamu khawatir gitu?"
"Sudahlah, bisa nggak pak Ronald gak ngasih pertanyaan yang buat beban pikiran, saya ingin menjalani semuanya dengan santai saja pak"
"Hehehe, oke oke, sorry, nanti malam jadi ikutan makan malam di rumah kakak ku kan?"
"Jadi, memang kenapa pak?"
"Aku jemput ya, aku juga mau ikutan gabung, kangen sama dua ponakan lucu itu"
"Em, boleh"
"Jam tujuh malam aku jemput, pulang aku antar kan"
"Siap pak"
"Bisa nggak manggil aku Ronald saja, berasa tua banget aku kamu panggil bapak melulu"
"Hehehe, iya pak, eh maksudnya Ronald"
Keduanya melanjutkan makan dan berbincang, sementara itu Satria sedang gelisah saat menyadari kini Ira hanya berdua dengan Ira, gelagat itu terbaca jelas oleh Imelda hingga beberapa kali Imelda berusaha mengalihkan pandangan Satria yang sering mengawasi Ira dan Ronald
"Kalau kamu gak tenang, kamu bisa ke sana saja Sat, aku gak apa-apa pulang duluan, naik taksi online, lagian rumahku kan udah dekat kalau dari sini" ucap Imelda
"Gak usah, aku yang jemput kamu tadi, sudah tanggung jawabku mengantar kamu juga pulang ke rumah"
"Makasih, gimana kalau kita pulang sekarang, kita sudah selesai makan kan?"
"Oke, yok kita pulang"
Satria langsung beranjak dari tempat duduknya begitu juga dengan Imelda, kini meeka sedang berjalan berdampingan menuju kasir dan pintu keluar yang kebetulan melewati meja Ira, Satria berhenti dan menuju ke arah Tunangannya, Imelda pun mengikuti Satria dari belakang
"Halo pak Ronald,Ira"
"Oh, Halo, kalian sudah mau pulang?" Tanya Ronald ke Satria
"Iya pak, aku pulang duluan Ir, nanti aku ke tempatmu" ucap Satria
"Ira hanya tersenyum saja tanpa menjawab"
Satria menatap Ira tajam, namun Ira hanya mengaduk minumannya santai sambil menikmatinya, Satria langsung berlalu pergi bersama dengan Imelda, setelah kepergian Mereka, Ira menghela nafas panjang yang terlihat oleh Ronald
"Kenapa, nyesek lihat Tunangan mu jalan ma perempuan laen?"
"Nggak kok Ron, kamu udah selesai kan, kita pulang ya?"
"Aku antar ya Ir?"
"Aku bawa mobil sendiri tadi, gak perlu di antar"
"Oh gitu, ya sudah, tadi makanan sudah aku bayar semua, kita tinggal pulang saja"
"Hah, makasih ya Ron, sorry, jadi merepotkan kamu yang bayari nih"
Ronald hanya tersenyum kemudian berjalan di samping Ira menuju ke pintu keluar, keduanya kini berpisah menaiki mobil masing-masing untuk kembali pulang, sampai rumah Ira nggak melihat handphone nya dan langsung merebahkan diri ke kasur untuk tidur, sementara pesan dan panggilan dari Satria sudah tidak di lihatnya lagi
*
Satria sampai di dalam Apartemen nya dan masuk ke kamar mandi setelah beberapa kali mencoba menghubungi Ira tapi tidak bisa, saat melewati cermin di kamar mandi, dia melihat pipinya ada lipstik bekas ciuman Imelda yang tiba-tiba saja tadi mendarat ke dirinya, dibersihkan ya mukanya sambil menggosok pelan pipinya, rasa berdebar di jantungnya masih dapat Satria rasakan saat mendapati ciuman itu
"Sh*it, apa mungkin aku masih mempunyai rasa untuk Imelda, aku akui dia begitu lembut dan perhatian seperti dulu" batin Satria, kemudian melanjutkan kegiatannya mandi dan segera beristirahat di tempat tidurnya, hingga tak terasa dia terbangun petang saat terdengar suara adzan Magrib
Sekitar pukul enam malam, Satria kembali melihat semua pesan WhatsApp yang dikirim belum ada yang dilihat oleh Ira, kemudian Satria langsung menelpon Ira kembali, hingga akhirnya diangkat
"Ada apa Sat?"
"Kamu dimana, lagi ngapain, dari sore di WA gak di bales, panggilan berkali-kali gak kamu angkat"
"Aku ketiduran tadi, baru bangun hampir Magrib, lanjut mandi dan bersiap ini, jadi gak sempat lihat handphone"
"Bersiap?, Memang mau kemana?"
"Ada undangan makan malam dari pak Bos, sudah lama juga aku gak ke rumahnya, kangen sama anaknya yang lucu-lucu itu"
"Bareng pak Ronald?"
"Iya, aku di jemput, kok kamu tau?"
"Gak usah, biar aku yang ngantar, pulang aku jemput, bilang ke Ronald"
"Telat, itu orangnya dah nyampek kayaknya, aku buka pintu sebentar"
Tut Tut Tut
Ira mematikan handphone nya
"Heh, Ira, Ir, Ira!" Suara Satria teriak memanggil Ira di dalam telepon
"Dasar, dimatikan gitu aja ini telpon" ucap Satria jengkel dan mencoba berkali-kali menelpon Ira kembali tapi tidak ada respon
Bersambung
Kisah ini kelanjutan dari Karya Author yang pertama "POWER OF WOMAN"
Masih bisa Up sekali sehari 1 Episode
Jangan lupa berikan dukungan Author
LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN
FAVORIT FAVORIT FAVORIT
HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
Imanmu setipis kulit bawang di belah 1000 bang Sat.. 🤦🏻♀️🤦🏻♀️
Pantes mereka cocok karena karakternya sama!
Sama2 ngga bisa tegas ke perempuan!
Satria yang paling fatal!
Ntar klo sampe kehilangan perusahaan n Ira baru nyesel..
Makanya jadi laki2 kudu punya sikap!
Katanya pemilik perusahaan tapi ngga ada bijak2nya! 🤦🏻♀️
Menurutku Satria ini kurang tegas sebagai laki2 apalagi laki2 yg sudah punya istri
Tapi dari awal sebelum nikah pun Satria ini terlalu baik hingga lupaa batasan dg mantan
Bahkan setelah nikah pun masih ajaa ngga tegas.. seolah masih ngasu harapan dan mauu ajaa di bego2in sama Imelda
Harusnya sebagai laki2 yg sudah punya istri bisa ngasi batasan tegas sama Imelda 😤🤦🏻♀️