ini cerita sedih tentang seorang istri yang tak di cintai suami nya, karena dia hanyalah istri yang di pilih keluarga nya bukan hatinya.
setelah perceraian terjadi, pria itu baru menyadari betapa pentingnya gadis itu untuknya.
perjuangannya untuk mendapatkan cintanya kembali akankah berhasil? menikahinya untuk kedua kalinya. atau malah cintanya tak terbalas karena si gadis mencintai pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Jessy kesal karena sudah hampir satu jam Adam belum kembali juga.
"beli makanan saja lama. kemana sih?" gerutunya kesal, perutnya sudah sangat lapar.
Dengan kaki di hentakan Jessy keluar kamar. melihat pintu kamar Reva yang terbuka membuatnya penasaran. mengintip sedikit, dan alangkah terkejutnya dia saat melihat Adam yang duduk di tepi ranjang sambil menatap foto Reva.
Karena Adam melamun ia tak sadar saat Jessy masuk.
"Adam.. apa kau dari tadi di sini?" tanya Jessy.
Tak mendapati respon dari adam, dia berteriak lebih keras.
"Adam..." sentak nya seraya mengguncang pundak suaminya itu. Adam tersentak dari lamunannya.
"ya, ad..ada apa Jessy?" seperti orang linglung Adam melihat Jessy dengan tatapan bingung.
"kau bilang ingin membeli kan ku makan. tapi kenapa malah di sini?" renggutnya tak suka.
Adam menghela napas berat. dia lupa dengan niatnya hanya karena sebuah pesan dari Reva. kenapa dia bisa seperti ini, apa dia tak rela dengan kepergian Reva. entah lah.
"maafkan aku sayang, aku hanya sedang memikirkan Reva saja...dia.."
"apa? dia kenapa?" potong Jessy tak suka saat menyinggung nama reva didepannya.
"tenang dulu dong, beib.." Adam meraih pinggang Jessy menariknya untuk duduk di pangkuan nya. "Reva pergi. dia meminta ku menceraikan nya?"
"ya bagus dong. jadi kita bisa hidup bahagia tanpa ada benalu itu."
"entah lah..."
"apa kau menyukai nya? jadi...."
"ah.. sudahlah. besok aku akan mengurus surat cerai kita." ujar Adam membuat Jessy tersenyum bahagia.
"kau lapar? maaf.. aku belum beli apapun. ku buatkan nasi goreng ya?"
Jessy mengecup bibir Adam sekilas. "karena hati ku lagi senang. malam ini aku yang masak."
Adam pun mengeratkan pelukannya pada pinggang Jessy, tapi saat tangannya tak sengaja menyentuh perut Jessy, Adam dengan refleks menarik nya. membuat Jessy bingung.
"ayo.. " ucap Adam, ekspresinya berubah dingin. pergi begitu saja tanpa mengajak Jessy.
"ada apa dengan nya..."
Jam menunjukkan pukul 6 pagi, semuanya terlihat sudah bangun. Reva merasa kalau keluarga Lexy sangat lah penuh dengan kasih sayang. sedari tadi dia terus memperhatikan Lexy yang tak lelahnya mondar-mandir ke dapur hanya untuk memenuhi permintaan adiknya. tak hanya itu saja, dia pun begitu mengutamakan ibunya.
"kenapa melihat ku seperti itu?" ucap Lexy saat matanya menangkap gelagat Reva yang terus menatap nya .
"kau.. tak lelah?" tanya Reva.
"lelah? kenapa?"
Reva tersenyum. "dari tadi kau menyiapkan sarapan untuk kami. dan sekarang kau mau mencuci baju?"
"oh.. Amel tak tahan dingin. dia akan gatal jika kena air terlalu pagi." jelas Adam.
"oh.. ya sudah. aku bantu sedikit." Reva mengambil sapu dan kain pel.
"tidak usah. kau tamu di sini." tolak Lexy.
"hei, aku menginap dan makan gratis di sini. ya.. anggap saja sebagai bayaran nya aku akan membantu pekerjaan rumahmu."
Lexy meremas keranjang pakaian yang di tentengnya. dia merasa tak enak hati, tapi dia juga sudah sangat lelah apalagi setengah jam lagi dia harus segera bersiap untuk berangkat kerja.
"baik lah." jawab Lexy akhirnya.
Reva langsung melakukan tugasnya menyapu lantai. dia senang karena di hari yang buruk dia bertemu dengan keluarga yang begitu hangat. meskipun kesan pertama yang dia dapat soal pemuda itu adalah kesan yang buruk. tapi setelah melihat semuanya sekarang, Reva yakin kalau Lexy adalah pria baik dan seorang pekerja keras.
"loh.. kok kak Reva yang nyapu?" Amel baru pulang dari pasar, membeli beberapa keperluan dapur.
"mm.. kasian kakak mu. bukankah dia juga harus berangkat kerja." ucap Reva. Amel mengangguk paham.
"oh.. ya. ibu sedang di kamar. seperti nya perutnya sakit. tapi dia tak mau Lexy tahu." bisik Reva. Amel langsung berlari menuju kamar ibunya dengan khawatir.
Sudah jam 7.24 sekarang. Lexy sudah siap dengan jas hitam melekat di tubuhnya. dia terlihat berbeda dengan kemarin, tubuhnya menjadi terlihat tegap, wajahnya pun sangat tampan karena rambut yang di disibakan kebelakang. Reva sempat tercengang di buatnya.
"kau mau berangkat?" tanya Reva.
"iya.. "
"kerja dimana?"
"aku.. karyawan Adm corp." jawab Lexy membuat Reva terkejut.
"adm corp?" ulang nya memastikan.
"iya,.ada apa?"
"ah.. tidak." Reva cepat menggeleng kan kepalanya. sebaiknya dia tak mengatakan apapun.
Lexy mengendikkan bahunya. "ya sudah aku berangkat. jika kau ingin mencari kontrakan minta Amel untuk mengantarkan mu"
"tidak usah. lagi pula aku sudah menelpon bos ku tadi malam. dia memberikan ku mess di tempat kerja" jelas Reva. dia memang sudah menelepon Arnold, karena hanya dia sekarang satu-satunya orang yang bisa menolong nya.
"ya, sudah." Lexy pergi. dia tak menggunakan kendaraan apapun.
Amel memberitahu kan semuanya pada Reva. soal Lexy yang selalu jalan kaki menuju kantornya hanya demi menghemat uang yang dia dapat. tapi Amel tidak bilang kalau ternyata Lexy bekerja di Adm corp.
Adm corp adalah perusahaan milik Adam, yang di wariskan ayahnya setelah bercerai dengan venty. reva mengetahui semuanya karena Venty sering menceritakan jalan hidupnya seperti apa. tidak ada yang mertuanya itu tutupi. dunia sungguh kecil rupanya, dia baru bertemu Lexy tapi ternyata masih saja ada hubungannya dengan Adam. dia karyawan suaminya.
Lexy melangkahkan kakinya dengan cepat begitu sampai di kantor. dia melihat ke samping saat Calvin memanggil nya.
"Lexy, kau memang hebat." puji Calvin. Lexy mengeryit, bingung dengan maksud kata-kata Calvin.
"hebat?"
"iya, ku dengar kau kemarin memenangkan tender proyek yang baru?"
Lexy mengerti sekarang maksud pujian Calvin. "oh.. aku hanya sedang beruntung saja."
"kau memang arsitek muda yang berbakat. aku ikut bangga pada mu."
Lexy sedikit tersanjung. dia rasa tak sehebat itu, hanya sebagai arsitek muda yang baru menggeluti bidangnya selama setahun ini dia rasa ini belum ada apa-apanya. bahkan gajinya saja belum cukup besar, dia masih keryawan kontrak yang kapan saja akan keluar jika kontrak kerjanya sudah habis.
"selamat pagi pak.." Lexy langsung memasang wajah hormat saat melihat Adam berjalan melewati mereka.
"pagi pak.." Calvin ikut menyapa.
Adam hanya mengangkat tangannya sebagai jawaban. Lexy menyipitkan matanya, jantungnya selalu berdesir tak karuan setiap kali melihat atasannya itu.
"ada apa?" Calvin menepuk punggung Lexy.
"ah.. tidak."
"aku pergi ya " Calvin menepuk pundak Lexy lalu pergi mengikuti Adam. di kantor ini hanya Calvin lah yang selalu bersikap ramah pada nya.
Lexy menghela napas mencoba menghilangkan rasa sesak yang tiba-tiba saja datang.
"apa karena aku pernah bermain di belakang nya dengan Jessy, jadi hati ku sedikit merasa bersalah." tebak Lexy soal debaran di dadanya yang setiap kali akan bertambah cepat jika melihat Adam.