Selow Update
Dalam masa revisi.
Typo bertebaran.
Jangan lupa follow ig Author jika berkenan 😉
@kaniananov229
Rania Odelia, gadis cantik nan polos yang baru berusia 19 tahun. Ia harus rela bekerja di sebuah mansion milik seorang pengusaha muda yang terkenal dingin sekaligus kejam demi melunasi hutang yang di tinggalkan oleh kedua orang tuanya.
Tapi seiring berjalannya waktu, ia memiliki perasaan pada majikannya. Rania hanya bisa mencintai dalam diam, melihat statusnya yang bahkan tidak sederajat dengan majikannya.
Tapi suatu malam, semuanya berubah. Hal yang tak diinginkan terjadi, membuat Rania harus mengandung anak dari sang majikan.
***
Revan Argantara, CEO perusahaan ternama di Jakarta. Memiliki sifat yang dingin dan kejam, bisa melenyapkan siapapun yang mengganggunya.
Revan adalah pria yang selalu bergonta-ganti pasangan, sebelumnya dia adalah anak yang baik. Tapi kejadian masalalu membuat sifatnya menjadi dingin.
Hari di mana dirinya mabuk berat karena alkohol, membuat ia merenggut kesucian seorang wanita yang merupakan salah satu pelayan di mansionnya.
Ia bisa melupakan hal itu, tapi hal yang tidak ia inginkan terjadi. Wanita tersebut mengandung anaknya.
Kolaborasi dengan:@Chacha
Cover by pinterest
edit by Kan/Kaniana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjodohan
Rania menolehkan kepala saat mendengar seseorang memanggilnya, ia mengulum senyum mendapati Dave yang tengah melambaikan tangan ke arahnya.
Namun senyumnya seketika luntur saat mendapati tatapan tajam dari Revan. Seketika wanita itu berbalik meninggalkan ruang tamu.
Dave memiringkan kepala, merasa aneh dengan sikap Rania lalu tatapannya tertuju pada sahabatnya yang tengah memasang wajah garang sekarang ini.
'Pantesan, singa udah mau ngamuk ternyata,' batin Dave bermonolog, memutuskan untuk segera naik ke lantai atas.
Saat Dave memutuskan naik ke lantai dua, kini hanya tinggal Revan saja di ruang utama. Tangannya gemetar dengan rahang yang mengeras karena menahan emosinya. Lagi-lagi ia sulit mengendalikan diri.
'Sialan!' umpat Revan memutuskan untuk memasuki ruang makan.
Beberapa menit berlalu, kini Revan dan Dave tengah sarapan pagi di meja makan. Tidak ada yang mengucapkan atau membuka suara sejak tadi, membuat Dave sedikit canggung dengan atmosfer di sekitarnya.
Pria dengan iris mata berwarna hitam itu, memilih mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan, mencari sosok Rania yang mungkin bisa sedikit menghiburnya.
"Kenapa mengedarkan pandanganmu seperti itu?! Mencari siapa?" Tanya Revan ketus, berusaha menguyah roti di dalam mulutnya.
"Mencari pujaan hatiku," ucap Dave, membuat raut wajah Revan perlahan-lahan berubah.
"Dave," panggil Revan, mencoba meredam amarahnya.
Seketika Dave menatap ke arah Revan, "Iya?"
"Lain kali jangan menginap dan menginjakkan kaki di Mansionku tanpa persetujuan dariku! Jika kamu nekat melakukan hal itu, maka bersiaplah diusir dengan kasar oleh satpam!" Revan menekan setiap ucapannya, bangkit dari duduknya dan meninggalkan Dave yang terdiam di kursi.
Dave masih mencoba mencerna ucapan sahabatnya itu, tidak biasanya Revan pelit padanya. Hingga tiba-tiba kembali terdengar suara Revan dari luar.
"Jika sudah selesai makan, sebaiknya segera pergi dari Mansionku! Awas saja jika kamu berlama-lama di sini!"
"Aku ... salah apa padanya?" Tanya Dave sambil menunjuk dirinya sendiri. Sepertinya Revan benar-benar tengah pms saat ini. Emosinya tidak stabil, membuat Dave sedikit ngeri jika harus menjadi tempat pelampiasan amarah sahabat kejamnya itu.
Sekitar tiga puluh menit setelah sarapan paginya, Dave memutuskan untuk pulang sebelum mendapatkan telepon dari Revan yang entah sudah ke berapa kali.
Meski sedikit tidak rela, tapi Dave harus melakukannya. Ia akan mencoba meminta izin lain kali pada Revan untuk menginap.
Dave menginjakkan kakinya di ruang utama lantai dasar, menatap Rania yang begitu fokus pada pekerjaannya.
Dengan langkah pelan, Dave menghampiri Rania.
"Hay, cantik," sapa Dave tiba-tiba saat tiba di samping wanita itu.
Rania terkejut, tersentak hingga melompat selangkah menjauh dari Dave. Pria itu hanya tertawa kecil melihat raut wajah terkejut Rania.
"Anda mengagetkan saya," jujur Rania, mengusap pelan dadanya sambil menatap Dave.
"Maaf," ucap Dave sambil mengangkat satu tangannya ke samping kepala dengan hari telunjuk dan tengah yang berbentuk huruf V.
"Iya, tidak apa-apa. Tuan Dave sudah mau pulang?" Tanya Rania, sembari melihat paperbag di tangan pria itu, berisikan pakaian kotor.
"Iya, nih. Padahal aku masih pengen lama-lama di mansion ini, biar bisa kenal kamu lebih jauh lagi," ucap Dave jujur.
Rania menunduk dengan wajah merona, membuat Dave tersenyum sambil mengulurkan tangannya menyentuh rambut wanita di hadapannya itu.
Tanpa mereka sedari, interaksi mereka sejak tadi dilihat oleh satu orang yang berdiri tidak jauh dari sana. Terlihat mengepalkan tangan dengan mata tersirat dendam dan kekesalan pada Rania.
'Apasih bagusnya dia?! Enggak Tuan Muda, Tuan Dave pun diembat juga! Dasar j*l*ng!' kesal Vina dalam hati, berbalik dengan perasaan benci yang kian membesar pada Rania.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit pulang dulu, ya. Kapan-kapan aku akan berkunjung lagi, sampai jumpa, Rania."
Dave melenggang pergi dari hadapan Rania, bergegas keluar dari mansion untuk segera pulang ke Apartemennya.
Rania hanya menatap dalam diam punggung Dave yang perlahan-lahan menghilang dari balik pintu. Ia cukup senang, lantaran memiliki kenalan baru.
Rania memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, mengabaikan beberapa tatapan sinis yang mengarah padanya.
***
Pukul setengah dua tepat, Revan masih setia duduk di dalam ruangan kebesarannya. Berusaha fokus pada berkas-berkas penting di hadapannya, mencoba mengalihkan pikiran dari sosok Rania yang terus membayanginya sejak tadi.
"Argh! Sialan!" Umpat Revan, membuang dokumen penting di tangannya ke lantai, hingga beberapa lembar kertas putih dalam map itu berceceran.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" Teriak Revan, memijit pelan keningnya yang terasa begitu berat.
Perlahan pintu terbuka, menampilkan Bian yang memasuki ruangan dengan beberapa lembar dokumen penting di tangannya.
Pria yang menyandang status sebagai sekertaris dan orang kepercayaan Revan itu, hanya mampu diam melihat dokumen penting di lantai. Dan dapat Bian tebak, jika bosnya yang melemparkan hal itu.
"Anda baik-baik saja, Tuan?" Tanya Bian, sembari meletakkan dokumen penting di tangannya ke atas meja.
Revan membuka matanya yang terpejam, menatap Bian dengan tatapan sulit diartikan.
"Tidak apa-apa, Bian. Aku baik-baik saja, tolong atur ulang jadwalku hari ini! Sepertinya aku tidak enak badan, butuh istirahat."
Bian mengangukkan kepalanya mengerti, tanpa dijelaskan pun ia sudah tahu. Melihat ekspresi wajah sang bos yang cukup suram, membuat Bian mengerti jika ada sesuatu yang menganggu ketenangan hati bosnya.
"Kalau begitu, saya permisi, Tuan." ucap Bian, sembari membungkukkan setengah badannya ke arah Revan.
Revan hanya menganggukkan kepala, mengerakkan tangannya di udara seolah memberi isyarat pada Bian untuk segera keluar dari ruangannya.
Sepeninggal Bian, kini hanya tinggal Revan di dalam ruangan itu. Berusaha untuk menenangkan diri sebelum pergi ke kediaman orang tuanya nanti.
***
Tepat pukul delapan malam, Revan tiba di kediaman Keluarganya. Segera ia melangkahkan kakinya keluar dari mobil saat Bian membuka pintu untuknya.
Ia melangkahkan kakinya memasuki Mansion, mendapat kedua orang tua beserta adiknya berada di ruang tamu. Dengan tiga orang asing yang tidak ia kenal.
"Selamat malam, maaf membuat kalian menunggu." ucap Revan dengan wajah datar, tanpa ada sedikitpun ekspresi bersalah di sana.
Sang ibu mengeleng pelan melihat tingkah putra pertamanya yang kini mendudukkan diri di sofa tunggal, sedang ayah Revan hanya diam lalu tersenyum pada pria paruh baya yang duduk di hadapannya.
"Maafkan putra saya, perkenalkan dia Revan. Anak pertama kami dan satu-satunya laki-laki," ucap Ravendra, ayah Revan.
Revan hanya diam, memilih acuh meski mendapat tatapan memuja dari wanita muda yang duduk bersama pasangan paruh baya itu. Yang dapat Revan tebak adalah putri dari pasangan paruh baya tersebut.
"Salam kenal nak Revan."
"Salam kenal," balas Revan acuh tak acuh. Mengalihkan pandangannya ke arah lain hingga mendapati tatapan penuh kebencian dari dua saudarinya.
"Haha, sepertinya Putri kami sangat menyukai putra Anda, Tuan Ravendra. Mungkin perjodohan ini akan berjalan lancar nantinya," ucap Tuan Joshwa, rekan bisnis Ravendra.
Seketika Revan menoleh dengan raut wajah tak percayanya.
"Apa?! Perjodohan?!" Ucap Revan yang begitu terkejut, tapi sepertinya bukan hanya dia saja, kedua adik perempuannya pun ikut terkejut mendengar hal itu.
Semoga dgn komen trus2.. suatu saat bisa mengetuk hati Thor nya untuk lanjut, hehe
😉
Makasih 😉
Thor sayang tolong 2 novel yang baru dilanjut lagi yah..
Sambil nunggu dengan manis saya ulang baca ini dulu