KARYA INI HANYA FIKSI BELAKA, APABILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA DAN TEMPAT ITU HANYA KEBETULAN SEMATA DAN TIDAK ADA UNSUR KESENGAJAAN.
DILARANG KERAS PLAGIAT!!! SEMUA ISI DARI NOVEL REAL DARI IDE DAN PEMIKIRAN SAYA SENDIRI.
SEGALA TINDAKAN YANG TIDAK BAIK DALAM CERITA TIDAK UNTUK DITIRU. AMBIL SISI POSITIFNYA SAJA!!!
Pemuda tampan,gagah dan kekar itu bernama Yusuf. Ia hidup berdua dengan kakeknya.Kehidupan yang ia jalani bisa dikatakan serba kekurangan dengan menjadi kuli cangkul ataupun serabutan disawah.
Rasa sayang pada kakenya, membuat ia mampu untuk tetap berdiri tegak dan mengesampingkan segala sesuatu yang tidak terlalu penting.
Dilema dengan dua pilihan yang sama-sama berarti dalam kehidupannya.Pergi atau tetap tinggal.
Kehidupan yang tak selalu mulus, meski berulang kali yang disebut kematian membuatnya seakan putus asa. Mencintai gadis yang sudah tiada adalah hal yang paling menyakitkan.
Hingga hampir mustahil untuk membuka kembali lembaran yang telah penuh dengan goresan tinta.
Bagaimana cara untuk menghapus???
Atau memberi lembaran baru untuk menghapus yang telah usang.
Bagaimana kisah Yusuf, Muluskah perjalanan cintanya? Bagaimana kisah hidupnya saat cinta yang baru telah tumbuh dihatinya?
Yukk.. Simak terus kisah perjalan hidup dan cinta Yusuf sampai selesai ya.Maaf update nya tidak menentu, jadi mohon bersabar untuk para reader. Tapi insyaa Allah author akan menyelesaikan hingga tamat.
Karya ini orisinil ya para readers..
Semoga bermanfaat dan banyak hikmah yang bisa diambil..
mohon dukungannya supaya author lebih gigih, dan lebih baik lagi dalam pembuatan naskah. 😍🙏
Selamat membaca para readers....... Dukunganmu, Semangatkuu...😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lailatul Zulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Hasan
"Hmm .. Hari Minggu yang cerah. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk kesana." Celetuk Hasan pada dirinya sendiri.
Sambil ia sibuk mempersiapkan apa saja yang ingin ia bawa saat nanti menginap dirumah yang dulu.
"Huhh.. Hampir saja lupa. Ini tidak boleh ketinggalan." Sambil mengambil headset yang berada diatas meja.
Dia memang suka sekali, melakukan kegiatan apapun sambil mendengar musik, termasuk saat ia belajar. Jadi sudah tidak asing lagi benda itu baginya.
Gayanya memang seperti superstar. Menjadi mahasiswa universitas ternama di Jogja. Memiliki tampang yang menawan, dengan postur tubuh yang lumayan,kaya pula, bagaimana tidak jika ia dengan mudah tebar pesona terhadap gadis manapun yang ia mau.
Siang itu ia putuskan untuk berangkat, tepat pukul 12.30, dari tempat dimana usaha itu didirikan.
Ya, tempat itu sudah seperti rumah kedua baginya. Dilengkapi dengan fasilitas dua kamar yang ada. Untuk ditinggali dirinya dan Pakdhe Sugi.
Sebenarnya orang tua mereka memiliki rumah yang lain di Jogja yang lebih megah dari rumah yang berada di dusun Kali Jati. Dengan arsitektur Jawanya yang lekat sekali. Namun Hasan lebih menyukai tinggal ditempat usahanya itu. Itung-itung jadi satpam kali ya.
Dan entah kenapa orang tua mereka kembali ke Dusun Kali Jati. Dusun dimana beliau sempat singgah walau hanya satu tahun. Tanah kelahiran anak-anak mereka ya di Jogja.
Dia berangkat dengan mengendarai mobil MPV nya. Kala itu mereka memang terkenal keluarga yang sangat berada.
"Pakdhe aku berangkat dulu ya," Hasan berpamitan dengan Pakdhe Sugi.
"Iya Le, hati-hati dijalan. Sesampainya disana tolong sampaikan salam pakdhe ke Bapak Ibumu ya." Pakdhe Sugi memang sangat menyayangi kemenakannya itu.
"Iya Pakdhe, pasti nanti aku sampaikan." Sambil mencium punggung tangan Pakdhe Sugi.
Lalu ia bergegas membuka pintu mobil Jgleekkk... Masuk dan...
Brrmm.. Brrmm.. Brrmm..
Mobilnya segera melaju dengan kencang meninggalkan tempat itu. Seraya ia menghidupkan musik dan mendengarkannya lewat *headset.
'Hmm.. Aku sudah tidak sabar ingin sampai dirumah Bapak yang disana. Kira-kira ada gadis yang wow tidak ya*?' Gumam Hasan dalam hatinya.
Dua jam kemudian ia sampai di Dusun Kali Jati. Seketika tetangga di dusun Kali Jati itu menjadi heboh. Mereka keluar rumah melihat laki-laki tampan yang keluar dari mobil itu.
Maklum dijaman itu orang pasti akan merasa sangat penasaran melihat tetangganya yang notabene kaya raya itu.
Dari jauh terdengar riuh.
"Wahh... Apa itu Hasan ya? Sekarang dia keren sekali ya." Ucap Sulis tetangga dekat Riri.
"Iya ya.. Wah bisa jadi idola di dusun ini nih.." Ucap satunya lagi bernama Laras.
"Wiihh... cakep bener ..." Ada ibu-ibu yang sedang berjalan melewati rumah Ajeng ikut nimbrung.
Ketika Hasan melihat mereka, ia hanya tersenyum dan mangangguk saja.
Tok tok tok...
"Assalamu'alaikum.." Terdengar salam Hasan dari luar.
"Wa'alaikumsalam.." Jawab Bu Halimah dari balik pintu. Beliau membukakan pintu untuk anaknya itu.
Lalu Hasan mencium punggung tangan ibunya.
"Lho Bapak kemana Bu??? Kok nggak keliatan?"
"Bapakmu sedang keluar sebentar Le, ada urusan." Jawab Bu Halimah.
"Ayo sini masuk Le, Kakakmu sedang tidur. Mungkin dia sedang kecapekan." Ucap Bu Halimah.
"Memangnya Kak Ajeng disini kerja apa sih Bu, kuli bangunan ya??? Haha.." Ejek Hasan.
"Sssstttt.. Kamu itu selalu aja nyelelek. Tertawamu itu Le, bisa membangunkan kakakmu bahkan satu RT bisa mendengarnya." Sahut Bu Halimah. Nyelelek artinya suka bercanda dan tidak serius.
"Ah biarin aja Buk, biar tau kalau aku sudah sampai." Sambil cengengas-cengenges.
'Dasar anak itu, dari dulu nggak berubah.' Gumam Ajeng dalam hatinya.
Ia sebenarnya terbangun bukan karena suara adiknya yang sangat berisik itu.Tertawanya dan celotehnya. Namun terbangun karena hari ini ada jadwal untuk latihan menari seperti biasa.
Dia sudah telat setengah jam. Mungkin Riri sudah duluan ke balai. Dia tidak berani memanggil Ajeng, karena tau didepan rumahnya melihat mobil yang terparkir. Mungkin dia mengira sedang ada tamu.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Cklleekkkk...
Dan Ajeng pun keluar dari kamarnya.
"Kakak... Iiihhhh itu ilernya tolong dong dikondisikan kak! Hahaha.. " Baru saja keluar Hasan sudah berulah dengan ejekannya itu.
"Apa? Dasarrr kau ini, dari dulu emang nggak berubah. Hiiihh, sini ku jitak jidatmu yang lebar itu." Sambil Ajeng menghampiri Ibu dan adiknya diruang tamu. Tangannya sudah mendekat dan ingin menjitak adiknya itu.
"Iiihh Kakak... " Hasan menghindar agar tidak terkena serangan dari Ajeng.
"Pules sekali Kak tidurnya, habis nguli bangunan ya??? Haha.." Lagi-lagi Hasan bertanya dengan nada ngebanyol.
"Sebaiknya memang kau tidak disini Has, lama-lama telingaku ini sakit mendengar suara tertawamu itu." Ajeng membalas ejekan Hasan sambil melirik ke arahnya.
"Ah kakak, lihat aja nanti, pasti banyak gadis disini yang mengidolakanku." Hasan sangat percaya diri.
"Apa??? Kepedean sekali kamu Has. Mana ada gadis yang mau denganmu. Suaramu saat bicara saja tidak enak didengar." Ajeng kembali mengejek.
"Hiihhh sejak kapan Kak Ajeng memanggilku Has Hes Has Hes gitu..." Hasan mulai gemas dengan kakaknya itu.
"Lohhh terus mau ku panggil apa kamu? Dek gitu? Maaf aku kemarin khilaf, bagusan Has gitu. Apa ku panggil Has Has aja?" Kini Ajeng mulai tertawa. Melihat adiknya seperti orang yang kalah.
"Sudah-sudah, kalian ini, kalau jadi satu pasti begitu. Oh iya Ajeng, katanya kamu hari ini ada latihan menari?" Tanya Bu Halimah sambil melerai candaan mereka.
"Hahaha... " Seketika Hasan kembali tertawa.
"Hiihhhhh... tutup mulut kamu Has.." Sambil membungkam mulut Hasan.
"Umm.. Umm.. " Sambil melepas tangan Ajeng.
"Ibu... Jahat sekali kakak." Hasan mengadu seperti anak kecil saja.
"Sudah Bu, aku siap-siap dulu, anak ini memang.. Hiihhh" Sambil mengepalkan tangan Ajeng dan mengarah ke Hasan.
"Yasudah sana..Ibu lihat Riri sudah duluan." Jawab Ibunya.
Lalu Ajeng bergegas keluar, ia terlihat sangat buru-buru.Setelah kakaknya pergi, sekarang Hasan hanya berdua dengan ibunya.Ngobrol dengan hangat.
"Hihi sekarang Kak Ajeng nglatih nari Bu?"
"Iyaa dia mencari kesibukan dengan cara melatih nari disini.Biarkan saja, sepertinya dia sangat menikmatinya." Bu Halimah sangat mendukung apapun yang dilakukan anak-anaknya selagi itu adalah hal yang positif.
"Hmm... tapi ngomong-ngomong kakak kok betah sekali ya Bu tinggal disini.Jangan-jangan dia punya pacar disini."Sambil cengengas-cengenges.
"Setahu Ibu tidak ada,kakakmu tidak pernah cerita tentang hal itu."
"Yaahhh siapa tau diam-diam punya pacar orang sini Bu..Hihi" Memang Hasan orangnya banyak bicara dan suka sekali bercanda.
"Ahh kamu ini Has.. Bagaimana dengan kuliahmu itu???" Tanya Bu Halimah.
"Iya Ibu, kuliahku berjalan dengan lancar.Tidak satupun tugas yang terlewatkan.Sekarang sudah masuk libur semester.Jadi bolehkan aku menginap disini beberapa saat Bu???"
"Ummbb... tapi kasian Pakdhe Sugi.Beliau sendirian ngehandle kerjaanmu Le."
"Yahhhh Ibu... Kan juga ada karyawan." Sambil cemberut dan melirik ke Ibunya.
"Iyaa-iyaa boleh..Kamu ini.."Melirik ke arah Hasan.
Jadi disini Hasan dituntut untuk menjadi laki-laki yang mandiri.Menjadi mahasiswa semester tua,dan membantu usaha milik orang tua mereka memang tidak mudah.Toh suatu saat pada akhirnya merekalah yang menjadi generasi penerus silsilah darah biru itu.
"Oh iya,aku jadi ingat Bu, tadi Pakdhe Sugi kirim salam buat Bapak sama Ibu."
"Oalah iya, 'Alaika Wa'alaihissalam." Jawab Bu Halimah.
Sore itu mereka bercengkrama hingga tidak terasa Pak Cokro dan Ajeng satu persatu sudah pulang dari urusan mereka masing-masing.
Seketika rumah itu menjadi ramai.Iya se-ramai pasar malam sesaat setelah kedatangan Hasan.
sekarang anak2 lebih Suka main hp ,fb atau game online, disuruh ikut latihan beladiri aja di kelurahan gak mau😔😔
Nampaknya Ajeng nih yg mulai jatuh hati
Tentang realita kehidupan yg sebenarnya
gak halu
😘😘😘😘
semangat terus...
😍😍