10 tahun lamanya, Melody Alexandria kembali dipertemukan dengan sahabat masa kecilnya, yaitu Glan Algalasta. Mereka bertemu di sekolah yang sama dan kebetulan satu kelas. Kini, benih benih cinta mulai tumbuh diantara keduanya. Namun perjalanan cinta mereka tak selamanya mulus. ada beberapa konflik yang harus mereka hadapi
bagaimanakah kisah selanjutnya? mungkinkah mereka akan terus bersama?
simak ceritanya, terima kasih😊
insyaallah up setiap hari😊
Follow IG: @yeniaisah191
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Bahagia mereka lebih penting
Setelah kemarin membuat Melody cukup Stres, dia mengawali paginya dengan pasrah saat kedua manusia itu sudah menunggunya diteras. Yah, siapa lagi kalau bukan Glan dan Aril. Keduanya nampak terlihat perang dingin dari mata ke mata.
Melody sengaja belum keluar dan menyapa. Dia berfikir keras untuk cari aman saja. Kesempatan yang diberikan Angelica dan Resya harus dia gunakan dengan baik.
TRING!
sepeeti ada bola lampu diatas kepalanya, Melody segera merogoh ponselnya ditas dan mengirim pesan pada Resya lewat ponselnya. Untung saja dia mencuri nomornya dari ponsel Glan waktu itu. Melody meminta agar Resya dan Angelica datang bersama ke rumahnya.
setelah beberapa saat, akhirnya merekapun datang.
"Kalian? kenapa kalian datang kesini?" tanya Aril.
"kenapa? kami juga temannya Alexa, jadi boleh dong kami mengajaknya berangkat bersama!" sewot Resya.
saat sedang cekcok begitu, Melody langsung saja menemui Sandy di dapur, dia sedang membuat kopi hitam dan menghisap rokoknya.
"paman, teman temanku sedang menungguku diluar, tolong katakan pada mereka kalau aku sudah pergi dari tadi!" pintanya sambil memasang wajah memelas agar Sandy menurutinya.
"baiklah, tapi nanti malam kau jangan kemana mana, ada tugas untukmu dihotel X dengan kamar nomor 147 ya!"
Melody hanya tersenyum dan tak menjawab, lalu dia pergi lewat pintu belakang. Berjalan melewati semak semak dan menggiring sepedanya dengan susah payah. Begitu keluar dari gang gang sempit, akhirnya dia tiba ditepi jalan raya.
"huh dengan begini aku bisa mengulur waktu sebelum semuanya terbongkar, kadang mereka cukup egois untuk melindungi seseorang yang mereka cintai" gumamnya sambil mengayuh sepeda.
Mengayuh dan terus mengayuh sampai akhirnya tiba disekolah. "haduh, belum juga masuk kelas seragamku sudah basah keringat!" celotehnya lalu menyimpan sepedanya dan berjalan menuju kelas.
"Alexa? bukannya kau datang dari tadi?" tanya Aril begitu terkejut melihat kedatangan Melody.
Melody nyengir kuda, lalu duduk disamping Aril. "aku ke toko buku dulu tadi!"
"padahal kau tau kalau aku menunggumu" ucap Aril kesal.
"ahaha maaf, aku lewat pintu belakang" cengirnya lagi lagi memasang tampang polos.
lalu dia melirik kearah Glan yang sudah menatapnya tajam. "haii!" senyumnya seakan tak berdosa.
...****************...
Jam istirahat, sebelum para pria mengajaknya makan bareng dikantin, Melody segera menarik tangan Resya dan membawanya ke kantin.
"huh, karna kalian berdua aku jadi repot" ucapnya sambil menggandeng tangan Resya.
"bukan urusanku, ingat ya, kau jangan menganggapku jahat karna orang jahat tidak memberimu kesempatan seperti itu"
"iyaiya aku mengakuinya" jawabnya sambil memutar bola matanya malas. Namun, mendadak dia mengingat sesuatu. "apa Angelica yang memberitahumu semuanya?"
"tentu saja, karna aku berteman baik dengannya"
"sejak kapan?"
"saat kau dikunci digudang!"
Melody menghentikan langkahnya dan menatap Resya dengan tatapan tidak suka. "itu namanya jahat!"
Mendengar itu, Resya hanya tersenyum puas dan kembali menggandeng tangan Melody.
"heey kalian!!!!" teriak Angelica saat di lapangan basket. Dia melambaikan tangannya agar mereka mendekat dan ikut bermain.
Bukan hal yang buruk bukan jika mereka melupakan masalah sejenak. Para gadis itu begitu bersemangat melempar bola ke keranjang.
PLUK!
permainan terhenti saat kotoran burung jatuh ke kepala Melody. Tentu saja mereka tergelak dan tak henti hentinya
"ayo lari, jangan dekati si bau itu..." Teriak Angelica sambil menarik tangan Resya yang juga ikut berlari.
"iwh menjijikan!" ucapnya saat dia menyentuh kepalanya dan mendapati kotoran burung itu.
"si bau...si bau...si bau!" ucap mereka meledeknya.
Melody tak terima hal itu, dia langsung mengejar mereka untuk menularkannya. Dan dengan diiringi tawa, mereka berlarian dilapangan seperti anak kecil..Bahkan Melody dapat melihat, jika tak ada tatapan kebencian diantara mereka. Mereka terlihat damai dan bersenang senang. Yah, sebelum semuanya berakhir, biarkan dia mendapatkan kenangan. Kenangan yang tak bisa ia lupakan dengan mereka.
"hahahaha!" Aril yang melihat hal itu tergelak dari kejauhan. Tak terkecuali Glan yang diam diam tersenyum memperhatikan mereka.
"aku senang melihat mereka akrab!" ucapnya merasa terharu. Lalu mereka mendekat dan ikut bermain.